NovelToon NovelToon
Kala Bos Menggoda

Kala Bos Menggoda

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cerai / Balas Dendam / CEO / Romantis / Office Romance / Kehidupan di Kantor / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi wu

Kehadiran seorang anak adalah kebahagiaan bagi sepasang suami istri, dan hal itu pula-lah yang paling dinanti oleh Haura dan Theo. Tapi sayangnya setelah tiga tahun pernikahan mereka, tangisan bayi tak juga hadir di dalam rumah tangga keduanyanya.

Theo menyalahkan Haura karena wanita itu tidak bisa memberinya seorang anak. Hingga dia tega meninggalkan Haura, dan memilih menikahi wanita yang jauh lebih muda, yang ia anggap bisa memberinya keturunan.

Saat Haura terpuruk, dan ingin mengakhiri hidup dari atas jembatan pusat Kota Tadpole, sebuah tangan hangat seorang pria menyelamatkan dirinya dari ambang kematian.

Setelah perceraian itu, Haura bangkit dan bersumpah akan menuntut balas, pada Theo suaminya. Kemudian ia melamar pekerjaan sebagai Marketing di salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Negara ini. Saat Haura tahu siapa bosnya—wanita dua puluh enam tahun itu sangat terkejut.


"Apakah kau lupa, siapa aku?" tanya lelaki itu dengan ekspresi dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 29 • Seolah Seperti Sepasang Sejoli

Alden menelan ludah ketika matanya menangkap tubuh Haura hanya memakai baju tidur, Haura yang sadar jika Alden memerhatikan dirinya, dengan spontan menutup bagian tubuh yang sedikit terbuka dengan ke dua tangan.

"Apakah semalam kau pakai baju itu?" Wajah Alden memerah.

"I-iya. Kalau begitu aku akan ganti baju dengan yang lebih tertutup!" Haura berbalik badan, dan hendak masuk ke kamar mandi. Namun, dengan sigap Alden menarik tangan Haura, memeluk wanita itu dan menjatuhkan diri mereka ke atas kasurnya.

"Tidak ada waktu!" Alden menyibakkan selimut yang sudah rapi yang sebelumnya telah di tata oleh Haura, setelah wanita itu bangun pagi tadi, lalu menutup tubuh keduanya hingga sebatas dada. "Pura-puralah tidur di dalam pelukanku!" ucapnya gusar.

"Hah... A-aku tidur di dalam pelukanmu?"

"Ya, apa lagi. Nenekku pasti sebentar lagi akan masuk, ketika dia telah sampai di lobi bawah—tadi, Angeline mengirim pesan jika nenek akan ke sini." Suara Alden nampak memburu, dan terlihat gugup, karena berada di dalam satu tempat tidur dengan wanita yang ia cintai itu. "Kau harus tahu, jika nenekku punya akses di tempat ini, karena dulu ini adalah tempat tinggalku."

"Apa?!" Haura kembali terkejut. Bagaimana bisa nenek Alden memiliki akses ke sini, pantas saja pria itu datang pagi-pagi seperti orang yang tidak waras mengetuk pintu unit apartemennya.

Suara pintu perlahan terbuka, Alden langsung memeluk Haura dan memintanya untuk memejamkan mata. Keduanya benar-benar begitu dekat, hingga membuat Alden tidak tahan, wangi tubuh wanita ini seolah candu baginya, menggugah hasrat dalam dirinya yang memang belum pernah menyentuh wanita manapun.

Haura seolah menahan napas karena begitu gugup, dipeluk oleh bosnya sendiri. "Tetaplah diam dan tenang di dalam pelukanku!"

"Alden... Haura!" Suara tua itu memanggil keduanya. Namun, tidak ada sahutan dari Alden dan Haura yang memang sengaja pura-pura tidur, agar Callie tidak menaruh curiga.

Sementara Angeline memindai tempat ini dengan seksama. Wanita itu sedikit menyerngitkan kening ketika melihat dapur yang seolah berubah menjadi lebih feminim, dan terdapat beberapa bahan makanan di meja, seolah Alden memiliki hobi baru, yaitu memasak.

'Apakah benar mereka telah tinggal seatap? Bukankah mereka hanya kekasih kontrak?'

Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran Angeline, bahkan hatinya benar-benar resah dan tidak bisa menutupi kekecewaannya.

"Di mana mereka, An?" Wanita tua itu terus berjalan pelan, dengan menggunakan tongkat sebagai alat nantinya. "Apakah mungkin Alden sudah berangkat kerja?" tanyanya lagi.

"Tidak mungkin, Nek. Alden tidak pernah berangkat sepagi ini." Angeline mengelak. Tapi matanya melirik ke arah kamar utama yang terdapat di ujung lorong apartemen itu. "Apakah mungkin mereka masih tidur?" Angeline sebenarnya sangat tidak ingin berkata seperti itu, karena dia takut dengan kenyataan yang mungkin akan terjadi dan membuatnya sakit hati.

"Ya... Kau benar, pasti mereka sedang tidur dan tengah berpelukan."

"Kalau begitu kita jangan mengganggu mereka, Nek!"

"Tidak... Aku ingin melihatnya." Callie bersikukuh ingin melihat cucunya tidur dengan Haura.

Callie berjalan pelan mendekati pintu kamar berwarna putih itu. "Nenek jangan, akan sangat tidak sopan jika Nenek tiba-tiba masuk!" cegah Angeline, memegang tangan keriput Callie.

"Tenanglah, An! Aku tidak akan membangunkan mereka, aku hanya ingin mengintip saja, tidak lebih."

Angeline hanya bisa pasrah, karena dia tahu mencegah Callie untuk melakukan kemauannya sangat mustahil, karena wanita tua ini selalu berkeinginan kuat.

Callie meraih daun pintu, dan memutarnya perlahan, kemudian pintu terbuka. Angeline tak kuasa melihat apa pun di depannya, dan memilih memejamkan matanya.

Callie melihat sepasang sejoli itu tengah terlelap sembari saling berpelukan. Tentu saja hal itu membuat Callie terenyuh dan bergumam pelan, "Manis sekali mereka."

Angeline penasaran, perlahan ia membuka mata. Saat dia melihat dengan jelas apa yang ada di hadapannya, dadanya seperti terhantam benda berat. Dia menyaksikan Alden memeluk Haura dengan posisi yang sangat nyaman, seolah mereka berdua benar-benar seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.

'Apakah mereka benar-benar tinggal bersama?'

Angeline kembali bergumam di dalam hati, hatinya benar-benar hancur melihat pemandangan di depan matanya. Ingin rasanya dia mendatangi Haura dan menarik rambut wanita penggoda itu menjauhkan dia dari Alden. Angeline merasa seperti memergoki kekasihnya sedang tidur dengan wanita lain.

Haura benar-benar tidak tahan lagi, Alden memeluknya terlalu erat, hingga dia tidak bisa bergerak dan merasa sesak. Terpaksa dia pura-pura bangun, agar terlepas dari pelukan bosnya itu.

Perlahan Haura mengerjapkan mata, dan menangkap sosok wanita tua yang berdiri di depan pintu.

"Nenek!" serunya seolah terkejut, Haura langsung menyingkirkan tangan Alden dengan kasar dan menyibakkan selimut membungkus tubuhnya, menyisakan baju tidur tipis berenda berwarna hitam.

Angeline yang melihat hal itu langsung membelalakkan mata, karena menganggap drama yang dilakonkan Alden dan Haura sudah benar-benar di luar batas.

Berbanding terbalik dengan Callie saat melihat Haura, wanita tua itu tersenyum. "Cepatlah menikah! Agar aku segera menimang cucu."

Haura langsung terdiam, ia tidak bisa berkata apa pun kali ini, wanita itu berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil kimono tidur, kemudian mengenakannya dan menali rapi di bagian perutnya.

"Nenek sudah makan?" tanya Haura, saat berjalan mendekati Callie. "Jika belum aku akan membuatkan ravioli untukmu," pungkas Haura membawa wanita itu agar segera menjauh dari kamarnya.

"Kau bisa membuatnya?" Callie nampak antusias.

"Tentu, aku jagonya membuat pasta ravioli—nenek bisa mencicipinya," balas Haura, melirik ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka.

Ketika dua orang itu pergi ke dapur. Angeline masuk ke dalam kamar Haura, ia benar-benar marah pada Alden yang seolah benar-benar tidur bersama Haura.

"Apakah kau sudah tidak waras?!" dengus wanita cantik itu, meski dengan nada lirih tapi ada kemarahan yang tersirat di kalimatnya. "Apakah kau harus melakukan hal sejauh ini?!"

Alden bergerak duduk dan menyenderkan punggung di kepala tempat tidur. "Tidak ada pilihan lain," desah pria itu santai.

"Tapi kau menikmatinya, apakah kau benar-benar tinggal di sini?"

"Tidak... Aku tinggal di unit sebelah."

"Ah... kau memberi tempat ini untuknya, dan kau membeli tempat di sebelah wanita itu?"

"Ya, begitu lebih tepatnya."

"Untuk apa?" Angeline duduk di tepi ranjang dekat dengan kaki Alden yang sengaja di luruskan.

"Aku ingin melindunginya."

Geleyar panas dalam tubuh Angeline seketika merayap ke seluruh tubuhnya. Wanita itu benar-benar marah. Tapi ia tidak bisa mengungkapkannya, wanita itu beranjak dari tempat ia duduk, dan berjalan keluar.

"Kau akan mengakhiri ini sendiri, atau aku akan mengadukan drama ini pada kakek dan nenekmu?!" ancam Angeline pada Alden.

To be Continue~

1
Ira Widiyastuti
Terima kasih sudah membuat cerita yang bagus
IG __NoviWu: sama2 kakak cantik... Terima kasih.
total 1 replies
falea sezi
Josep bawahan terlalu ikut campur
desi
jangan terlalu baik haura karena kita baik belum tentu orang baik pada kita
Jade Meamoure
ya Tauhan akhir yg buruk buat Theo, jika ada kesempatan kedua jangan lagi kyk Theo yg dulu
Jade Meamoure
hayyah dah unboxing aja duh calon anak ng mga sulat
Jade Meamoure
aih Apok kapok deh
Patri Behel
luar biasa
Patri Behel
Buruk
Vien Habib
Luar biasa
Ahsin
dasar bangke sok TDK mau ujung2 mewek
Emy Chumii
Luar biasa
Emy Chumii
mampir kesini karena recommend dari mommy Ar 🙏😊
IG __NoviWu: Terima kasih, Kakak 😘
total 1 replies
Ran Aulia
terimakasih author👍👍👍👍😍😍
Suherni Erni
Sayangnya perempuan binalnya tetep hidup enak ya...ngga ikut mati secara tragis jg.
Surati Surati: iyaya thor kok alila nya ngk ikutan mati aj kaya theo sih ntar jadi penggu rmh tgga haura dan alvin lagi dan jngn sampai itu trjadi ya thorr
total 1 replies
Noor Laila Khairul Isma
Terbaik
.
💕febhy ajah💕
begitulah hasilnya kalau orang tua selalu ingin mencampuri urusan rumah tangga anaknya
💕febhy ajah💕
aku suka gayamu alden
I miss you so much ❤❤❤
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Surati Surati: sq jg suka gayau alden sok jutek, tapi perhatiyan banget /Heart/dan jg bertggung jwb,biarlah haura menyadari akan cintamu alden dan kau trudlah berusaha untk membahagiayakan hauraa lanjut thoorrrr
total 1 replies
💕febhy ajah💕
mampir setelah sekian purnama difavoritkan
IG __NoviWu: terima kasih, Sayangku.
total 1 replies
UTIEE
⭐⭐⭐⭐⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!