Warning!!! Terdapat banyak kata umpatan dan hinaan dalam cerita novel ini. Bagi kalian yang berhati lembut dan nggak tegaan, silahkan melipir. Ini bukan novel yang cocok untuk kalian baca.
——————
Namanya Arjuna Zaid Abdullah Al-Fatih. Ia merupakan pewaris Al-Fatih Group, perusahaan raksasa asal Timur Tengah yang mendunia. Akan tetapi bagi keluarga Adipura, Arjuna hanyalah sampah yang dipungut oleh Natasha Adipura.
Kotor, hina dan menjijikan.
Arjuna menerima diperlakukan sebagai suami dan menantu yang tak berguna dalam keluarga itu. Namun Arjuna mulai memperlihatkan kuasanya di saat ada yang mengusik Natasha.
-------
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu hanya kebetulan semata.
Selamat membaca ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kelicikan Joshua
Happy reading ....
*
Senja mulai menyapa. Arjuna masih terduduk di kursi kebesarannya sembari mengerutkan kening melihat semua laporan yang disodorkan Sani.
Berdasarkan informasi yang didapat dari Irwan, kini Arjuna mengetahui sepak terjang Joshua dan ibunya di belakang Adipura. Ayah mertuanya itu tentu tidak menyadari, bahwa istri dan anak tirinya menusuk dari belakang.
Tanpa sepengetahuan Adipura, sudah lebih dari lima tahun Joshua mendirikan sebuah perusahaan atas nama Adipura Land. Akan tetapi, perusahaan itu tidak termasuk anak perusahaan Adipura Land.
Joshua mengunakan nama itu untuk menarik investor tapi tanpa sepengetahuan Adipura. Perusahaan itu bergerak dalam pengembangan perumahan di pedesaan di beberapa kota besar.
"Jadi mereka tersandung kasus sengketa tanah di kota B?" tanya Arjuna.
"Benar, Tuan. Hampir 50% lahan yang akan mereka gunakan merupakan lahan sengketa. Warga yang mengklaim tanah itu milik mereka sudah mengirimkan surat pengaduan ke kantor pertanahan," papar Sani.
"Lalu, bagaimana Adipura Land gadungan itu menghadapinya?"
"Sepertinya mereka memilih 'jalan belakang'. Sebagian warga bersedia menyerahkan dengan bayaran yang cukup fantastis. Namun sebagian lagi bersikeras, mungkin karena tanah itu warisan dari leluhur mereka."
Arjuna berpikir sejenak. Kemudian berucap, "Sani, pastikan dulu bahwa sertifikat yang dimiliki warga itu benar yang asli. Setelah semuanya pasti, dekati mereka yang masih bertahan, lalu bujuk agar kasus ini sampai ke pengadilan dan tentunyanya naik ke permukaan. Aku ingin Joshua tidak bisa berkutik sama sekali. Sudah cukup dia bermain-main selama ini," seringai Arjuna.
"Tentu, Tuan Muda. Saya akan mengabari Anda secepatnya."
Arjuna mengangguk kecil saat Sani berpamitan. Ia yakin permasalahan ini akan membuka peluang baginya membersihkan nama baik Natasha di rapat dewan komisaris selanjutnya.
Lagi-lagi Natasha. Arjuna tersenyum tipis mengingat delikan mata Natasha di saat marah.
Arjuna menghela nafasnya dalam-dalam. Sebentar lagi malam akan menjelang. Ini malam kedua ia tidak bersama Natasha. Tidak cukup hanya memastikan keadaan istrinya baik-baik saja. Arjuna ingin melihat wajah cantik Natasha yang kesal. Juga pekikannya yang menggema di dalam kamar.
***
Natasha bergegas keluar dari ruangannya. Langkahnya tergesa-gesa menuju lift.
Natasha sudah menekan tombol untuk menutup pintu lift. Namun, tangan Joshua menghentikan pintu itu tertutup.
Kening Natasha berkerut melihat sikap Joshua yang tersenyum bodoh padanya. Terlihat jelas ketidaksukaan dari raut wajah Natasha.
"Tasha, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Mmm, aku boleh ikut mobilmu? Mobilku dibawa Kania, karena mobil Kania dibawa mama," jelas Joshua.
"Kau bisa naik taksi. Aku tidak sudi satu mobil denganmu. Kalau aku tidak sedang buru-buru, aku sudah keluar dari lift ini," sahut Natasha sinis.
Joshua menggigit bibir bawahnya menahan geram. Ia pun melangkah mendekati Natasha yang menatap tajam padanya sambil menyeringai.
"Sadarkah dirimu, Tasha? Daya tarikmu itu ada pada arogansi yang kau perlihatkan. Kau cantik saat sedang marah. Dan aku suka kau yang seperti itu." Ujarnya pelan sambil menekan sebelah tangannya ke dinding lift. Joshua mencoba mengungkung Natasha yang terlihat tenang dengan tatapannya yang nyalang.
"Menjauh dariku, pria menjijikkan." Decihnya.
"Jadi kau lebih memilih suami sampahmu dari pada aku?" tanya Joshua dengan senyum mengejek.
"Setidaknya dia lebih baik darimu. Arjuna bukan pengemis yang tidak tahu diri seperti kau, Kania, dan juga j*lang itu," ujar Natasha dengan seringaian tersirat disalah satu ujung bibirnya.
"Beraninya kau mengatakan itu pada ibuku," geram Joshua.
"Lalu apa namanya, heh? Wanita yang menggoda pria beristri dan merusak rumah tangga wanita lain hanya untuk uang, bukankah itu j*lang?"
Raut wajah Joshua sangat merah karena menahan amarah. Joshua meletakkan satu tangannya yang lain di dinding agar bisa mengungkung Natasha sepenuhnya. Bukan tanpa maksud tertentu, Joshua tahu pintu lift itu akan terbuka dan di luar pintu ....
Sesuai perkiraan Joshua, beberapa karyawan yang keluar masuk lift di samping lift eksekutif itu menatap langsung pada mereka berdua.
"Menyingkir dariku. Apa kau tidak punya rasa malu?" desis Natasha.
"Tentu, Tasha. Sebentar lagi saja, sampai mereka melihat ini lebih lama," sahut Joshua di dalam hatinya.
Joshua menyeringai mendengar ada karyawan yang mulai berbisik. Menurutnya itu sudah cukup untuk 'menyulut api' di perusahaan ini. Ia pun langsung menjauhkan tangannya ketika melihat gelagat Natasha yang akan melakukan sesuatu. Sambil tersenyum, Joshua melangkah keluar dan memperhatikan langkah Natasha yang tergesa-gesa.
***
"Arjuna!" seru Natasha ketika langkahnya mulai memasuki rumah.
Natasha berjalan cepat menuju tangga untuk kemudian ke kamarnya. Ia berharap bisa melihat wajah Arjuna dengan senyum bodohnya yang biasa.
"Arjuna!" serunya lagi.
Natasha mencari ke kamar mandi dan balkon kamarnya. Raut wajahnya terlihat kecewa setelah yakin bahwa Arjuna tidak ada di rumah ataupun di kamarnya.
Natasha menjatuhkan dirinya di sofa. Bayangan wajah Arjuna mengantung di pelupuk matanya.
"Oh MY God. Ada apa denganku?" lirihnya.
Natasha merasa tak nyaman dengan perasaannya. Kehadiran Arjuna dalam kehidupannya belumlah lama. Akan tetapi, kepergian Arjuna seakan membawa separuh dari jiwanya.
Natasha tidak menyangka, Arjuna akan serius menanggapi amarahnya. Kenapa? Bukankah selama ini Arjuna mampu bertahan di sisinya meski ia sering meminta berpisah?
"Apa karena dia sudah mendapatkan haknya? Apa selama ini dia bertahan hanya untuk hal itu?" Tiba-tiba saja Natasha tersentak. Apa benar Arjuna seperti itu?
Natasha merasa kesal dengan prasangka itu. Tapi jika itu benar, Natasha merasakan kekecawaan yang sangat dalam.
Natasha tidak akan pernah lupa saat pertama kali bertemu Arjuna di kantor Adipura Land. Ia yang saat itu merasa kesal dengan permintaan Ayahnya tentang perjodohan dan pernikahan, bertambah kesal dengan kehadiran seorang office boy yang tiba-tiba menghampiri dan bersikap sok kenal padanya.
Tidak hanya sampai di situ, entah disadari Arjuna atau tidak, Natasha mengetahui sikap Arjuna yang diam-diam sering memperhatikannya dari kejauhan. Natasha semula merasa terganggu dan takut, karena berpikir Arjuna berniat tak baik padanya. Namun kemudian, setelah ia meminta Rama menyelidikinya, Natasha pun tahu Arjuna ternyata mengaguminya.
Malam sebelum kejadian ia meminta dinikahi Arjuna, Adipura meminta Natasha datang ke acara makan malam keluarganya dengan keluarga Jaya Diningrat. Bukannya berpenampilan anggun, Natasha justru sengaja berpenampilan urakan dan terkesan seperti wanita nakal. Natasha juga pergi begitu saja setelah menegaskan bahwa ia tidak akan menikah dengan putra Jaya.
Keesokan harinya, Adipura yang sangat murka menghentikan langkah Natasha yang baru saja turun dari mobil di depan gedung Adipura Land. Adipura sangat marah hingga menampar Natasha. Adipura juga menyalahkan Natasha yang masih syok atas kondisi perusahaan.
Natasha yang merasa sakit hati atas perlakuan ayahnya merasa jengah dan disaat itulah ia melihat Arjuna diantara para karyawan yang menonton pertengkarannya dengan sang Ayah.
"Hai, Kamu! Menikahlah denganku." Permintaan konyol itu pun terlontar begitu saja.