Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Komandan
Sesko yang di ikuti sudah selesai dan sekarang usia Jeremias Chen Rehata sudah delapan bulan. Ino kembali bertugas di markas besar angkatan laut menunggu jabatan yang baru dengan pangkat yang baru. Cia tetap mengikuti setiap kegiatan yang di lakukan oleh ibu - ibu, istri dari para tentara dalam wadah jalasanastri.
Cia seperti biasa mengelola usaha orangtuanya dari jauh. Dari tempat tinggalnya, sedangkan kantor dan pabriknya ada di Papua. Jadi kesempatan dia merawat kedua anaknya bisa dikerjakan. Meskipun sebagian besar tugas mengurus kedua anaknya di bantu oleh mertua dan iparnya.
Jedah waktu dari selesai sekolah dan kenaikan pangkat Kolonel bagi Ino hanya berjarak dua bulan. Pangkat perwira menengah yang tertinggi. Dan Ino akan mengabdi sampai dia bisa masuk dalam jajaran perwira tinggi jika itu semua di ijinkan oleh Tuhan. Ino dan Cia istrinya hanya bisa berserah kepada Tuhan.
Syukuran kenaikan pangkat Ino, hanya kami lakukan di sebuah restoran favorite kami sekeluarga. Kami mensyukuri setiap berkat Tuhan.
"Sayang, sepertinya kita akan mengabdi ke Papua."
"Kalian akan jauh dari mami dan papi." Mami merespon pemberitahuan Ino saat selesai makan. Sudah berlinang air mata.
"Nuel tinggal sama oma dan opa ya."
"Mi jangan buat anak Ino bimbang dong meskipun dia beru mau empat tahun, dia mengerti."
"Maafkan oma sayang."
"Mi itukan baru kabar burung, belum pasti. Ino dan Cia masih bergumul kalau bisa bertugas di Jakarta saja."
"Amin. Mami juga berharap seperti itu. Kalian tahukan, kami ngak bisa jauh dari kalian terutama Cia dan anak - anak."
"Kalau Ino jauh ngak masalah."
"Kan tugas Ino yang membuat Ino harus jauh. Kemarin papi minta Ino jadi dokter, Ino memilih jalan yang ini."
"Maaf pi, kalau ngak jadi tentara papi belum tentu punya cucu Nuel dan Chan. Kan istri Ino pasti beda."
"Maksud mas apa ya."
"Tetapi benarkan yang mas katakan. Karena mas bertugas di Papua, kita bertemu di pesawat. Istriku yang cantik, mami dari anak - anakku." Ino tidak perna ragu memuji dan mengoda istrinya di depan orang tua dan kakaknya.
Besok harinya Ino mendapat surat perintah dan dilantik sebagai Komandan Lanal di Papua tepatnya di kota kelahiran Gracia Anastasya. Tuhan memberi kesempatan kepada kami lagi melayani di Papua di kesatuan yang sama, hanya jenjangnya lebih tinggi. Dan ini juga kesempatan buat Cia untuk mengurus perusahannya.
Mami dan papi tidak bisa menahan. Karena di Biak ini banyak sekali kenangan Cia dan Ino, terlebih Cia. Pembicaraan keluarga mereka tetap akan saling berkunjung dan ada satu rencana mereka mau ke Yunani.
Cia tidak menyangka akan kembali ke kota kelahirannya. Dan dia tahu, bahwa waktu mereka disana paling lama itu hanya dua tahun lebih. Menurut Cia itu lebih dari cukup.
Ino bersama istri dan kedua anaknya sudah di bandara Soekarno Hatta, jam sepuluh waktu Jakarta pesawat akan membawa mereka ke Papua dengan terlebih dahulu transit di kota Maros di bandara Hasanudin. Kali ini Ino dan Cia membawa satu orang suster yang di cari mamim untuk membantu Cia dalam mengurus dua jagoannya.
Sebelum mereka ke Papua mamim Nuel dan Chan sudah merayakan ulang tahun kedua anak ini. Chan satu tahun dan Nuel empat tahun. Orangtua Ino tidak mau serakah, mereka tahu, bahwa Cia juga butuh bersama keluarganya. Makanya keberangkatan mereka kali ini, mami dan papi tidak menahan.
Saat ini bulan Desember kami sudah harus ada di kesatuan sebelum tanggal serah terima. Semua serba mepet pelaksaannya. Recana Ino dan Cia akan menginap dirumah keluarga dulu, setelah ibadah di rumah dinas baru mereka menempati. Sri susternya Nuel dan Chan juga ada dalam penerbangan ini.
Berita tentang penempatan tugas Kolonel Laut (Marinir) Martinus Revelino Rehata sebagai komandan daerah Angkatan Laut Biak. Semua orang di kompleks sampai warga jemaat gereja dimana Gracia Anastasya bertumbuh imannya.
Lima jam penerbangan sudah dilaksanakan. Dari ketinggian terlihat kota kelahiran Cia. Dia sangat merindukan suasana di kota ini. Pukul tujuh pagi, pesawat mendarat dengan sempurna di bandara ini. Jemputan VIP sudah ada. Ino dan Cia disambut bersama kedua anak laki - laki dengan tarian khas kota ini. Setelah beristirahat sejenak, keluarga Cia sudah datang menjemput. Mama Ice dan papa Buce. Begitu Chan dan Nuel bertemu dengan opa dan oma mereka, langsung di peluk satu persatu. Bersama Sri, Nuel dan Chan di bawa kerumah mereka.
Didepan gerbang kesatuan Ino dan Cia di giring ke gedung Hang Tua. Karena disana akan ada acara lepas sambut. Kalau pelantikan sudah di lakukan di Jakarta. Sambutan dari komandan lama sudah dilaksanakan. Kolonel Laut (Marinir) Martinus Revelino Rehata bersama Nyonya Gracia Rehata di persilahkan menyampaikan sambutan. Semua bertepuk tangan. Karena kegiatan hari ini kedepan adalah reuni antar warga jemaat. Kegiatan diakhiri dengan acara rama tamah makan dan canda gurau. Jam enam, Komandan yang lama sudah diantar ke hotel dan besok pagi jam sepuluh akan terbang ke Ibu kota propinsi Papua dengan jabatan barunya.
Cia sudah kembali ke rumah di Jemput oleh papa Buce, sedangkan Ino masih di kantornya.
"Satu jam lagi, baru mas pulang ya."
"Iya, adek tunggu di rumah ya mas. Kasihan anak - anak."
"Iya sayang." Ino mesih mengantar istrinya waktu mobilnya yang di supiri oleh papa Buce tiba di teras depan kantor komandan.
"Pa, Ino titip Cia ya."
"Iya sayang. Kamu pulang papa jemput lagi."
"Ngak pa, satu jam lagi baru Ino pulang. Nanti Gerson yang antar."
Cia sudah bersama papa Buce di mobil. Banyak hal yang di ceritakan tentang kedua anaknya.
"Mereka berdua anak yang hebat seperti mami dan papinya. Tidak rewel. Tadi selesai main langsung tidur. Opa papinya tadi ajak jalan - jalan mereka dan mereka suka sekali." Cia sampai di rumah kedua buah hatinya sudah selesai mandi. Dirumah ada kedua adik kandung mamanya.
"Mami senang sekali, kamu dan Ino kembali bertugas disini."Cia langsung memeluk maminya.
"Cia rindu mi." Melihat anak kakaknya memeluk kakak nomor dua. Papi langsung memeluk kami berdua menjadi satu.
Mami dan papi ke rumah karena mau buat acara pertemuan Cia dengan karyawannya. Juga ketering buat acara pengucapan syukur di rumah dinas sebelum mereka menempati rumah dinas.