Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 028 : WABAH DAN TANAMAN OBAT PEGUNUNGAN ES
Nazar bergerak secepat kilat menuju Kerajaan Bulan Perak, bayangannya menyapu halaman istana sebelum kakinya menyentuh tanah. Para pengawal yang mengenalnya langsung menunduk hormat, mengenali aura tenang namun kuat milik penasihat setia kerajaan.
"Dimana Ratu Lira?" tanya Nazar singkat.
"Ratu sedang di ruang pembuatan obat, Beliau sedang meracik ramuan untuk rakyat yang terserang wabah," jawab pengawal dengan hormat.
Tanpa menunggu, Nazar melangkah menuju ruang itu. Di sana, udara penuh aroma rempah dan uap ramuan. Ratu Lira berdiri di meja batu, tangannya bergerak lincah mencampur bahan.
"Salam Ratu," ucap Nazar sambil menunduk hormat.
Lira menoleh, wajahnya tampak cemas namun tegas. "Nazar… Kamu sudah mendengar tentang wabah yang menyerang rakyat kita?"
"Ya, itulah sebabnya aku datang. Biarkan aku membantu," jawab Nazar mantap. "Jelaskan bagaimana penyakit itu."
Lira terdiam sejenak, lalu berkata pelan namun berat: "Mereka menggigil hebat, muncul bercak merah menyebar di seluruh tubuh… Ini Demam Merah Bayangan. Penyakit yang langka namun sangat menular."
"Apakah Ratu sudah menemukan cara menghentikannya?"
"Aku hampir selesai meracik obatnya, hanya kekurangan satu bahan utama: Bunga Es Bulan, tanaman yang tumbuh puncak Pegunungan Es Bersalju," ucap Lira dengan nada prihatin.
"Biarkan aku yang mengambilnya. Aku berjanji, sebelum matahari terbit, aku akan kembali membawa Bunga Es Bulan itu," ucap Nazar tegas.
"Terima kasih, Nazar. Semoga Dewi Bulan melindungimu," ucap Lira tulus.
Nazar lenyap seketika, bergerak menembus malam menuju pegunungan yang tertutup salju abadi. Angin dingin menderu, namun ia tak peduli. Sesampainya di puncak, ia melihat Bunga Es Bulan bersinar pucat di antara bongkahan es. Namun saat tangannya hampir menyentuhnya…
"Halt!" Suara berat menggema. Seekor naga bersisik putih perak muncul dari balik bayang batu, matanya menyala seperti api biru. "Kembalikan tanaman itu, atau kau tak akan pergi dari sini."
"Tanaman ini dibutuhkan untuk menyelamatkan ribuan nyawa. Aku tak akan mengembalikannya," jawab Nazar tenang namun tegas.
"Kalau begitu, terimalah akibatnya!" Naga menyemburkan api biru yang membakar segalanya, namun Nazar bergerak lincah menghindari setiap semburan. Ia lalu mengangkat tangan, memancarkan cahaya perak, Jurus Cahaya Bulan Perak, tanda pengawal setia kerajaan.
Naga berhenti seketika. Matanya melebar. "Kau… dari Kerajaan Bulan Perak?"
"Ya. Rakyat kami terserang Demam Merah Bayangan. Tanaman ini satu-satunya harapan mereka," jawab Nazar jujur.
Naga menunduk rendah. "Maafkan hamba, Tuan. Aku tak menyadari kedatangan utusan Kerajaan. Bawalah Bunga Es Bulan itu, semoga bisa menyelamatkan rakyatmu."
Nazar berterima kasih kepada Naga penjaga, lalu segera memetik Bunga Es Bulan yang bersinar pucat keperakan itu. Tanaman itu terasa dingin menyengat di tangannya, namun ia menyimpannya dengan hati-hati di dalam kantong kain khusus agar tidak kehilangan khasiatnya. Tanpa menunda lagi, ia berbalik dan melesat turun dari puncak Pegunungan Es Bersalju, menembus kabut tebal dan angin yang menderu kencang. Langit mulai menampakkan tanda-tanda fajar ia harus kembali secepat mungkin sebelum matahari terbit sepenuhnya.
Sementara itu, Seraphina yang baru saja menerima kabar tentang wabah itu segera berpamitan pada Alaric.
"Ayah, aku harus pergi ke Kerajaan Bulan Perak. Rakyat kita butuh bantuan."
"Pergilah, Nak. Hati-hati," ucap Alaric penuh kasih sayang.
Di perjalanan, Seraphina melihat rakyat yang berbaring di pinggir jalan, tubuh menggigil, kulit penuh bercak merah. Hatinya teriris. Seberapa parah penyakit ini… Aku harus segera tiba di kerajaan bulan Perak.
Malam semakin larut, namun harapan belum padam, Nazar membawa obat, dan Seraphina membawa kekuatan. Bersama, mereka berharap dapat menyelamatkan Kerajaan Bulan Perak dari bayang-bayang kematian.