Kinan, seorang gadis cantik yang berusia 23 tahun. Bekerja sebagai seorang pembantu disalah satu kediaman milik pemuda tampan. Dibekerja menggantikan Ibunya yang sudah pensiun.
Gilang, seorang pemuda tampan yang kehilangan tunangannya tiga bulan yang lalu. Hidupnya bagaikan berhenti. Dia melihat dengan jelas, bagaimana kondisi mobil yang dikendarai sang tunangan yang masuk kedalam jurang. Tidak ada Valeri, tunangannya membuatnya enggan untuk melakukan aktivitas.
Jantung yang berdebar saat berada didekat Valeri hilang. Ia hanya merasakannya saat didekat Valeri. Saat didekat perempuan lain? Tentu saja tidak ada debaran.
Tapi, entah bagaimana. Kinan yang baru bekerja selama seminggu, berhasil membuat jantungnya berdebar. Perasaan yang sama muncul kembali.
Apa arti semua ini? Siapa sebenarnya pembantu ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorine M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbincang Hal Yang Menyakitkan Hati
Imel tampak berpikir.
"Tentu," jawab Imel.
Lalu Imel kembali ke panggung.
Kinan menunggu Imel dimeja paling pojok dekat jendela.
Entah kenapa Kinan memikirkan kembali perkataan perkataan Wiliam.
"Itu sudah kewajiban ku Valeri. Kau adalah tunangan sahabatku, dan sudah menjadi kewajiban ku untuk melindungi kebahagian temanku itu. Kebahagiannya hanya ada pada satu orang gadis, yaitu kamu" ucap Dokter Wiliam.
"Dia bilang, dia mulai membuka hatinya kepada seseorang," jawab Wiliam yang membuat Valeri menciut.
Perkataan Wiliam terus terngiang di kepalanya.
"Pertama dia bilang hanya aku yang bisa membuat Gilang bahagia. Tapi sekarang dia bilang Gilang mulai membuka hati kepada seseorang. Apa mungkin ini yang terbaik? Tapi apa hatiku sanggup melihatnya bersanding dengan gadis lain? Apa aku tidak akan hancur? Di satu sisi pernikahan Devina yang akan menghancurkan masa depannya. Tapi disisi lain, cintaku mencintai gadis lain. Oh Tuhan, sungguh sulit cobaan yang Engkau berikan. Jika aku memilih Devina maka aku akan kehilangan Gilang. Lalu jika aku memilih Gilang, maka aku akan merasa bersalah karena telah membiarkan kebahagian dua sahabatku hancur didepan mataku sendiri," batin Kinan bimbang.
Tidak terasa se bulir air jatuh dari pelupuk matanya.
"Kinan," Ucap seseorang dibalik punggung Kinan. Orang itu menyentuh bahu Kinan.
Dengan kasar Kinan menghapus sisa air yang ada diwajahnya. Lalu ia membalikkan badannya melihat seseorang yang memanggilnya..
"Tu-Tuan Gilang," gumam Kinan saat mengetahui siapa yang memanggilnya.
"Boleh aku duduk disini?" tanya Gilang.
"Ya, tentu" jawab Kinan.
"Hari ini kenapa tidak bekerja?" tanya Gilang.
"Ibuku sedang sakit, jadi aku menjaganya. Tapi aku lupa minta izin," jawab Kinan asal.
"Dasar Wiliam," gerutu Kinan dalam hati, karena Wiliam tidak meminta izin kepada Gilang atas ketidak izinnan nya.
"Bi Sri sakit apa?" tanya Gilang.
"Hanya tekanan darah rendah," jawab Kinan.
Jujur hatinya sakit mengingat Gilang mulai mencintai seseorang yang dia sendiri tidak tahu siapa orang itu.
"Oh," balas Gilang.
Hening.
Gilang memulai makan dengan pesanan yang Kinan tidak tahu kapan ia pesan.
"Emm, Tuan" panggil Kinan.
"Tidak perlu terlalu formal. Panggil saja aku Gilang," ucap Gilang.
"Gilang, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Kinan.
"Silahkan," jawab Gilang.
"Usiamu sudah cukup untuk menikah. Apa kamu sudah memiliki calonnya?" tanya Kinan.
"Dulu aku memiliki kekasih, tapi sayangnya dia sudah tiada," jawab Gilang tersenyum paksa.
"Lalu, apa kamu tidak memikirkan mencari penggantinya? Nona Berlyn cocok denganmu. Dia sudah cantik, seksi, kaya, baik pula," Ucap Kinan. Walau sebenarnya hatinya sakit saat menjodohkan kekasih dengan wanita lain.
"Aku tidak suka Berlyn. Aku hanya menganggapnya teman. Tapi aku memang mulai memikirkan untuk mencari penggantinya," ucap Gilang.
Deg
"Saya doakan semoga Anda mendapat kebahagian itu," ucap Kinan berkata formal.
"Saya pergi sekarang. Ada yang harus saya kerjakan," ucap Kinan.
Tanpa menunggu jawaban Gilang, Kinan langsung pergi menuju toilet.
Didepan cermin, Kinan membasuh wajahnya menyembunyikan kesedihan.
Kinan menggigit bibir bawahnya agar suara isakan tidak terdengar.
"Kenapa hidupku se menyedihkan ini. Apa salahku Tuhan?" batin Kinan bertanya tanya.
Kinan kembali membasuh wajahnya. Membiarkan air matanya mengalir bersamaan air kran.
Setelah merasa lebih tenang, Kinan mengelap wajahnya menggunakan tisu.
Kinan melangkah kan kakinya keluar toilet. Saat berjalan ingin ke parkiran, Imel menghampiri Kinan.