Nama saya Yuda, Saya siswa SMA tahun ke 2. Kehidupan sekolah saya tidak ada yang istimewa. Tetapi ada seseorang yang sangat saya sukai dari tahun pertama sekolah, saya mengejar cintanya selama 2 tahun, namun tidak mendapatkan respon dan berujung penolakan yang menyakitkan. Sampai suatu saat saya mulai membuka mata saya, berapa banyak waktu yang saya buang sia-sia hanya untuk wanita yang tidak mencintai saya. Namun ini hanya permulaan dari cerita tahun ke 2 saya di sekolah. Dimana saya akhirnya memilih untuk melangkah maju dan berhenti membuang waktu, saya memutuskan untuk berhenti mengejar cintanya dan menjalin hubungan pertemanan dengan teman-teman lainnya. Berusaha mengupgrade diri dan mencoba membuka hati untuk orang baru walau rasa trauma dari orang lama masih membekas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dame Dha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 Tarik Nafas Sejenak
sudut pandang Yuda -
Tidak terlalu banyak yang aku dan Raphtalia obrolkan. Mungkin sudah saatnya aku pulang. Aku juga ga enak kalau terlalu lama.
"Terima kasih udah ijinin aku mampir Raph, udah waktunya pulang kaya nya" ucapku pada Raphtalia
"Oh iya, sekali lagi terima kasih Yuda" jawab Raphtalia
"Iya sama-sama, aku pulang ya. Terima kasih juga sama kak Hesty" ucapku sambi berterima kasih
"Iya, nanti aku sampein" jawab Raphtalia
Aku pun pulang ke rumah. Sesampainya dirumah aku akan istirahat total.
- sudut pandang Raphtalia -
Setelah Yuda pulang, aku membereskan cangkir bekas teh. Setelah itu aku ke ruang kumpul keluarga.
Di sudah ada kakak ku. Dia menanyakan sesuatu yang tidak-tidak.
"Jadi udah sejauh apa kamu sama Yuda" tanya kak Hesty
"Apa sih kak, kami cuma teman doang" jawabku dengan sedikit kesal
"Jangan begitu, Ini pertama kali kamu ngajak teman laki-laki mampir kan" jawab kak Hesty
"Iya sih, tapi memang nya kenapa" tanyaku
"Artinya kamu percaya sama dia kan" ucap kak Hesty
"Iya, tapi bukan berarti seperti yang kakak pikirkan" jawabku
Aku tidak terlalu menganggap serius perkataan kakak ku. Aku langsung masuk ke kamar ku untuk istirahat.
Hari sabtu.
- sudut pandang Yuki -
Hari ini aku bangun pagi untuk olahraga ringan. Sudah lama aku tidak joging.
Tujuan ku kali ini sama seperti biasa aku joging, yaitu stadion kota.
Dari rumahku ke stadion kota kalau berjalan kaki biasanya sekitar tiga puluh menitan.
Aku berjalan kaki sendirian sekitar sepuluh menit, kemudian dari belakang ada yang tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
"Kak Yuki" Aku menoleh ke arah belakang dan di situ berdiri seorang gadis.
"Andini, kamu biasa joging juga" tanyaku
"Biasanya cuma di sekitar komplek saja kak" jawab Andini
Singkatnya kami joging beriringan menuju stadion kota, sepanjang jalan aku sesekali melirik ke arah Andini.
Rambut dengan panjang sebahu ketika sedang berlari dan tertiup angin, wajah yang sangat manis dan sifatnya yang pemalu.
Andini adalah orang yang belakangan ini cukup membuatku penasaran. Tidak lain karena rasa khawatir ku yang berlebihan.
Ini menyangkut hubungan antara dia dan Yuda. Tapi aku sendiri merasa tidak punya hak untuk tau lebih dalam tentang hubungan mereka.
Aku berkaca pada diriku sendiri, aku bukan siapa-siapanya Yuda dan semua orang punya hak yang sama untuk menjalin hubungan dengan Yuda.
Aku lebih baik melupakan kekhawatiranku yang tidak berdasar ini.
"Kak Yuki, bagaimana ujian khusus kakak dan tim kakak?" tanya Andini padaku
Andini membuka obrolan tentang ujian khusus yang baru saja kali jalani.
"Lancar, semua bisa di handle. Apalagi ketua tim kami Yuda yang sudah berpengalaman" jawabku
"Jadi kak Yuda yang jadi pemimpin, sepertinya tim kami tidak ada peluang unggul dari tim kakak, hehe" jawab Andini sambil tertawa kecil
"Apa kamu punya target di ujian tengah semester nanti Andini" tanyaku
"Target?. Aku hanya melakukan yang aku bisa, tapi setidaknya nilaiku tidak menurun. Itu sudah cukup buatku" jawab Andini
"Aku punya target. Dan targetku peringkat 1 mengalahkan kamu dan Mai" ucapku dengan tegas
"Kak Yuki sangat ambisius ya, aku juga ga akan kalah" jawab Andini dengan Ramah
"Ngomong-ngomong aku sempat kerumah kamu" ucapku pada Andini
"Iya, kakakku sudah cerita kok" jawab Andini
Aku berusaha menggali sedikit informasi tentang dia dan Yuda. Tapi Andini sangat rapat sekali. Aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Setelah mengobrol sepanjang jalan, kami akhirnya sampai di pusat kota.
"Apa kakak sendirian aja, kalau sendirian gimana kalau ikut aku, aku udah janjian sama kak Siva dan kak Jun" tanya Andini
"Aku sepertinya akan langsung putar balik aja" jawabku
"Oh, yaudah kak, aku kita pisah disini berarti" ucap Andini
"Iya, kamu duluan aja" jawabku
Sebenarnya itu hanya alasanku saja. Aku tidak ingin menemui Siva dan Jun karena mereka berdua sepertinya tidak terlalu menyukai ku.
Apalagi setelah kejadian aku menolak Yuda dihadapan seluruh murid dikelas.
Aku tidak menyalahkan mereka, mereka adalah sahabat Yuda.
Sudah selayaknya mereka benci padaku. Apalagi setelah sekarang aku malah menjilat ludah sendiri dengan berusaha kembali mendapatkan perhatian Yuda.
~ Sudut pandang Jun ~
Saat ini aku dan Siva sedang berada di pusat kota.
Siva mengajakku untuk keluar, dia bilang aku harus sesekali melihat dunia luar. Dia juga mengajak Andini.
Kami saat ini sedang duduk di bangku taman setelah jalan kaki dari rumah kami masing-masing.
Selagi menunggu kedatangan Andini kami mengobrol beberapa hal.
"Kamu tahu Jun. Andini selalu menonton band kita di pentas seni" tanya Siva padaku
"Iya. Tapi sepertinya dia hanya melihat ke arah Yuda" jawabku
"Iya. Jadi kamu juga sadar itu" tanya Siva
"Jelas sekali. Dari cara dia menatap dan gesturnya. Andini suka sama Yuda kan" Jawabku
"Menurutmu gimana?" tanya Siva
"Tidak tau, aku tidak terlalu berminat dengan cerita percintaan" jawabku
"Hah, dasar wibu" ucap Siva
Setelah beberapa saat Andini datang menghampiri kami.
"Maaf kak, apa udah lama nunggu" ucap Andini
"Nggak kok, sanjai aja" jawab Siva
Singkat cerita Andini bergabung dengan kami. Aku sendiri hanya menyimak obrolan Siva dan Andini.
"Tadi aku kesini bareng kak Yuki, tapi dia ga mau aku ajak kesini" ucap Andini
"Yuki?. Apa dia ngomong sesuatu sama kamu" tanya Siva
"Kami cuma ngobrolin tentang ujian khusus" jawab Andini
Jujur saja kalau Yuki juga datang kesini mungkin aku yang akan pergi.
Aku paling tidak mau kalau harus terlibat sesuatu lagi dengan Yuki, dia adalah sumber masalah di tim kami saat ada ujian kelompok di kelas 1.
Dan sampai sekarang aku masih kesal dengan kata-kata yang dia ucapkan saat itu.
Sifat dia yang sombong dan dengan mudah merendahkan orang lain itu sangat membuatku muak.
Berbeda dengan Citra yang menjadi ketua kelas.
Status dia sebagai wakil ketua kelas dan salah satu dari murid dengan nilai tertinggi sama sekali tidak membuatkan menaruh rasa hormat.
Aku bahkan secara terang-terangan menyuruh Yuda untuk berhenti mengejar Yuki.
Dan pada akhirnya Yuda berujung pada penolakan yang pahit.
Jujur saja saat itu jika bukan karena Siva yang melarang kami, Darius dan aku akan jadi orang pertama yang memberi pelajaran pada Yuki.
Itu karena kami sangat menghormati Siva sebagai leader sekaligus vocalist dan Yuda sebagai otak dari band kami.
-Terima kasih sudah membaca cerita saya. Untuk ilustrasi karakter cerita ini bisa di cek Trending akun-
Jika ada kritik dan saran silahkan DM saya dan jangan sungkan-sungkan :D