Leonardo William Wijaya, dan Alea Albert Stevan adalah dua anak kembar yang terpisah. Keduanya tergabung dalam kelompok mafia yang di takuti di negaranya masing-masing.
Kedua saudara kembar itu bertemu saat mencari kedua orang tua mereka yang ternyata ayahnya sudah di bunuh oleh seseorang. Dia tahu dari cerita pembantu ayahnya tuan Albert kalau kedua orang tuanya di bantai oleh orang terdekat ayahnya.
Mereka menemukan ibunya masih hidup dalam keadaan hilang ingatan dan terganggu kejiwaannya yang tinggal di kampung hutan bersama pembantunya. Dari cerita pembantu ayah dan ibunya di bunuh, Lea dan Leo ingin membalaskan dendam atas kematian Albert Stevan William.
Berhasilkah mereka membalaskan dendam pada orang yang telah membunuh ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Berdebat Di Mobil
Setelah enam belas jam kurang lebih akhirnya pesawat mendarat juga di bandara internasional Halim Perdana Kusuma, semua penumpang pun mengantri turun dari pesawat.
Justin memperhatikan Lea di depan Edward, mereka turun dari pesawat. Laki-laki itu terus memperhatikan Lea dan Edward menuju terminal. Dia pun di sambut oleh seseorang.
"Tuan Justin," ucap laki-laki berpakaian hitam itu memberi hormat dengan menundukkan kepala.
Mata Justin masih mengarah pada Lea, kali ini pandangan Justin berbeda dari awal dia melihat gadis itu.
"Apa orang IT kita bisa menemukan seseorang?" tanya Justin pada anak buahnya.
"Maksud anda apa tuan?" tanya anak buahnya heran.
Justin menoleh pada laki-laki yang membawa tasnya itu, berdecak kesal karena dia salah bicara pada anak buahnya itu.
"Sudahlah, tidak perlu kau tanya lagi. Menyesal aku tanyakan itu," ucap Justin kesal.
Dia kembali mencari kemana Lea dan rombongan itu pergi setelah keluar dari bandara, ternyata dia kehilangan jejak di depan parkiran bandara tersebut. Dia menarik napas panjang, tapi kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah lama menunggunya.
Sementara itu, rombongan Lea dan Leo sudah masuk ke dalam mobil travel khusus bermuatan lebih dari empat orang. Mereka menuju hotel yang sudah di pesan oleh Jhon.
Sejak turun dari pesawat, Lea lebih banyak diam. Itu membuat kakaknya Leo merasa aneh dengan adiknya itu.
"Hei, kenapa kamu diam saja sejak turun dari pesawat?" tanya Leo pada adiknya.
Lea tidak menjawab, wajahnya sedikit lelah dan dahinya berkerut. Membuat Leo berdecih kesal karena adiknya tidak menjawab pertanyaannya.
"Sejak di bandara nona Lea bertemu laki-laki asing, tuan Leo. Mungkin dia sedang memikirkan laki-laki itu," ucap Edward menoleh pada Lea yang memejamkan mata.
Laki-laki berambut pirang itu menatap datar pada Lea, Leo pun melebarkan mata membuat dia kaget karena ucapan Edward.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Leo penasaran.
"Namanya Justin, begitu dia mengenalkan diri sewaktu di pesawat," jawab Edward lagi.
"Hei, dari mana kamu tahu dia bernama Justin?" tanya Lea kaget dengan jawaban Edward pada kakaknya.
"Itu terlihat dari ponselnya, tertera di sana," jawab Edward.
"Hah, kamu aneh. Kenapa bisa tahu dia bernama Justin," ucap Lea.
"Hei, kenapa kalian berdebat sendiri? Apa sebenarnya terjadi denganmu Lea? Apa kamu berkenalan dengan orang asing?" tanya Leo memberondong.
"Aku tidak memperkenalkan diri, laki-laki itu saja yang mengenalkan diri padaku. Tapi aku tidak menanggapinya," ucap Lea membantah tuduhan kakaknya.
"Tapi kenapa Edward tahu semuanya? Dan sejak kapan kamu kenal dia? Tidak mungkin laki-laki itu tahu kamu dan mengajak bicara denganmu, kalau bukan terjadi sesuatu awalnya," ucap Leo lagi.
Lea menarik napas panjang, sungguh memalukan jika di ceritakan pada Leo kalau awal bertemu dengan Justin itu di toilet bandara di London. Tapi bertemu lagi di terminal pemberangkatan lalu di pesawat juga tidak sengaja sejajar kursi duduknya.
"Lea, ceritakan padaku apa sebenarnya yang terjadi denganmu dan laki-laki tak di kenal itu?" tanya Leo mendesak adiknya bercerita.
Karena dia tidak mau kedatangannya ke negara itu di ketahui oleh anak buah pamannya, Demian. Dia tidak mau sebelum mendapatkan sesuatu yang di inginkan harus di ketahui oleh anak buah pamannya, jadi dia harus bersikap hati-hati termasuk berkenalan dengan orang asing.
"Lea, katakan padaku," ucap Leo lagi.
"Awalnya itu nona Lea ...,"
"Diamlah Edward."
Ucapan Edward di potong oleh Lea, dia menatap kesal pada laki-laki itu. Tapi kemudian dia pun menceritakan pertemuan awal dengan Justin, meski memang dia tidak menanggapi ucapan dan ledekan Justin. Lea juga akhirnya berhenti memperhatikan Justin karena Edward sudah memutusnya dengan pindah duduk di sebelah jendela.
"Ya, begitu ceritanya. Aku tidak tahu jika dia itu orang yang memang tidak mencurigakan atau orang asing yang perlu di curigai," ucap Lea.
"Tetap saja kamu tidak boleh bicara sembarangan dengan orang asing, karena kita tidak tahu seberapa banyak anak buah Demian itu yang dia sebarkan untuk mencari tahu keberadaan kita," kata Leo mengingatkan adiknya.
"Ya, aku tahu. Edward yang akan menjagaku dari orang asing dan mencurigakan itu," ucap Lea dengan santai.
"Ish, sebaiknya kalian pacaran saja. Jangan sok-sok jaim menahan diri untuk menjaga hati kalian. Pusing aku melihat kalian yang selalu berdebat hal sepele," ucap Leo lagi.
"Siapa yang sok? Aku tidak sok jaim, memangnya aku suka sama dia?" ucap Lea melirik sinis pada Edward.
Yang di lirik hanya diam saja, wajahnya begitu datar dan tenang mendengar ucapan Lea seperti itu.
Sedangkan Cathy yang sejak tadi diam saja pun hanya tersenyum melihat Lea marah karena kakaknya selalu meledeknya terus.
"Apakah nona baik-baik saja?" tanya Cathy bersuara.
"Apa yang kamu tanyakan Cathy? Aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?" tanya Lea.
"Tidak apa, hanya bertanya," ucap Cathy dengan tersenyum tipis.
"Ed, apakah laki-laki bernama Justin itu tampan?" tanya Leo tiba-tiba.
"Hei, kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Lea kaget dengan ucapan kakaknya.
"Tidak apa, hanya bertanya. Edward mungkin memberikan penilaian lain, agar kamu tahu saja," ucap Leo.
"Ck, kenapa harus di bahas sih. Memangnya penting membahas orang lain? Bukankah kamu melarangku bicara dengan orang asing?"
Leo hanya mengedikkan bahu saja membuat Lea kesal. Edward juga malas menjawab pertanyaan Leo, dia melirik sekilas pada Lea.
"Kita sudah sampai tuan, nona."
"Di mana?"
"Bogor."
_
_
*****
lemah banget
cerita kembar mafia..
tpi g ada yg pinter berkelahi
biasa klw suda mafia maupun cewekl lawanya bnyk dan sangar"
la ini jgn kan bosnya yg di kawal
bodyguardnya pun g bisa apa"
soalnya judulnya mafia kembar tp kok letoy harusnya Badas semua,ini cewenya banyak tanyanya,lemah gemulai lagi,aksinya cm dikit aja
utk cowonya okelah bisalah
🙏🙏🙏