Rumah boneka yang selalu dimainkan oleh gadis kecil bernama Mariana merupakan malapetaka bagi sang sepupu, Lucas Nova dan sang adik, Keane Nova.
Kejadian itu dimulai saat keduanya diminta oleh paman dan bibi mereka untuk menginap selama liburan sekolah dan menemani sang gadis kecil bermain.
Liburan untuk menemani Mariana berubah menjadi bencana karena teror dari rumah boneka kecil dan makhluk halus yang mencoba membunuh mereka.
Apakah liburan itu akan menjadi hari kematian ketiganya yang harus terjebak dengan teror dan kutukan dari rumah boneka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Pencarian bag. 1
Saat berhasil keluar, Edwin menenangkan gadis kecil yang menangis dengan memeluk rumah bonekanya.
"Jangan menangis, Mariana. Ingat dengan apa yang aku katakan padamu? Cari bantuan. Apapun yang terjadi jangan pernah melepaskan rumah boneka itu darimu dan carilah bantuan sebanyak-banyaknya."
"Aku akan melakukan apapun untuk membawa kedua kakak sepupumu itu. Jika memang diperlukan, panggil semuanya. Pendeta, polisi, orang dewasa, siapa saja. Mengerti kan?"
Mariana hanya menangis pelan dan mengusap air matanya. Edwin memeluk gadis kecil yang gemetar itu, "Aku mungkin akan menyarankan kedua orang tuamu untuk pindah setelah ini."
"Selain itu, gadis kecil asing itu juga harus dikembalikan ke orang tuanya. Kita tidak tau siapa dia jadi kita harus memastikan dia aman."
"Kau harus kuat."
Mariana menangis, "Hiks...paman bagaimana? Paman akan pulang juga kan? Paman akan keluar dengan Lucas dan Keane dengan selamat kan? Hiks...Mariana takut..."
"Aku akan keluar dan semua akan baik-baik saja. Tolong jangan takut."
Memang terdengar seperti kebohongan belaka, tapi hanya itu yang bisa dilakukan oleh Edwin. "Pergilah dan jangan lupa dengan apa yang aku katakan padamu, gadis kecil!"
Edwin melepaskan pelukannya dan segera masuk ke dalam. Ini bisa disebut sebagai tindakan bunuh diri. Mariana yang menangis hendak mengejarnya namun tiba-tiba pintu tertutup kembali dengan sendirinya dan terdengar suara pintu terkunci.
-Braaak
-Ckreeeek
"Paman!!!" teriak Mariana.
Di dalam rumah yang baru saja nyaris membuatnya terbunuh dengan cepat, Edwin berlari sekuat tenaga sambil bergumam dalam hati, "Siapa yang menyangka bahwa keluar dari sini seperti baru tersesat di sebuah labirin."
Itu tidak salah karena dia seperti mengantarkan dirinya sendiri ke dalam kematian lebih cepat.
Edwin menyadari bahwa pintu yang ada di belakangnya telah terkunci dan semua kondisi rumah itu sama sekali tidak berubah. Bau amis, darah yang masih sering muncul dari dinding rumah, tulisan aneh itu memang nyata adanya.
Tidak ada yang bisa dipungkiri bahwa dia memang sedang berada di kondisi nyata dengan banyak ketakutan yang tepat di depan mata.
"Lupakan soal berkebun dan pergi bekerja. Aku rasa umurku akan cukup sampai di sini."
"Bagaimanapun juga aku harus menemukan kedua remaja itu dan keluar dari sini. Keluarga Nova harus pindah atau setidaknya membakar rumah besar ini agar tidak terjadi teror yang sama."
Edwin melihat sekelilingnya. Tidak seperti sebelumnya, dia yang telah berhasil menemukan jalan keluar pasti sudah mempersiapkan beberapa hal, salah satunya adalah mental.
Melihat kondisi dalam rumah yang sama sekali tidak pasti dan penuh dengan tipu muslihat, Edwin hanya bisa mencoba peruntungannya.
"Aku tidak perlu ragu mengambil jalan yang manapun, kan?" pikirnya.
Saat Edwin menaikki tangga ke atas sekali lagi, dia mendengar suara keras.
-Baang!
-Braaak!
Suara besar itu berasal dari bawah. Entah apa yang menyebabkan suara itu terdengar begitu keras, tapi arahnya berasal dari lorong yang mengarah ke dapur.
"Ini tidak baik, harus segera mencari tau dimana keberadaan Lucas dan Keane."
Baru dia berpikir demikian, tiba-tiba sesuatu seperti mendorong Edwin ke belakang yang membuatnya terhempas seketika ke belakang dan nyaris terguling ke tangga menuju bawah.
"Huwaaa!!!" teriaknya.
Edwin sempat menahan tubuhnya dengan memegangi kayu penyanggah di samping tangga namun hal tersebut memang membuat lengannya seperti terkilir.
"Sakit..." rintihnya pelan.
Memang sakit, tapi selagi masih hidup tampaknya tidak akan masalah. Edwin mencoba untuk berdiri dan merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Aku yakin ada yang mencoba menghalangiku ke depan. Artinya kedua remaja itu ada di sana. Aku harus bertaruh untuk membawa mereka keluar."
Edwin berlari sekali lagi dan kali dia benar-benar merasakan sesuatu mendekatinya dari arah belakang.
**
Keadaan Keane yang saat ini masih menahan lukanya tidak benar-benar terlihat baik-baik saja.
"Ini…liburan yang sangat tidak menyenangkan. Jika ayah dan ibu bertanya, katakan kalau kita baru saja masuk ke rumah hantu ya…" ucap Keane sedikit bercanda.
"Aku sudah katakan jangan mengatakan hal seperti itu, Keane. Kita akan keluar dari sini dan saat keluar, aku akan mengatakan pada paman dan bibi untuk segera pindah dari sini."
"Aku rasa idemu itu bagus sekali, Lucas. Ukh!"
"Keane!!" Lucas menjadi panik. Sang adik merasakan kakinya gemetar dan lemas. Tubuhnya juga mengeluarkan keringat dingin dan wajahnya semakin pucat.
Kekhawatiran itu tampak jelas di wajah Lucas, "Aku mohon bertahanlah, Keane!!"
Tidak mungkin Lucas tidak panik di saat seperti itu. Kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah depan mereka dan suasana panik mungkin yang menghampiri.