Bagaimana jika kita bangun tidur sudah ada uang di sebelah kita dan bukan hanya uang, terkadang barang yang kita perlukan juga bisa tersedia. Memang sekilas terdengar enak dan mudah, tapi hampir setiap hari kita mimpi buruk dan berpetualang di dunia yang berkebalikan dari dunia nyata, jika di dunia nyata ada manusia, di dunia mimpi ada zombie yang merepresentasikan sifat sifat manusia di dunia nyata.
Kisah ini adalah kisah seorang pemuda dan adiknya yang sedang menghadapi masalah berat, mulai dari di minta cuti paksa karena belum membayar biaya kuliah sampai kekasihnya hamil oleh sahabatnya sendiri. Dia tidak sengaja "menemukan" sistem ini dan memulai petualangannya di dunia mimpi buruk untuk merubah dunia nyata di sekitarnya dan mengatasi masalah besar yang menimpa dirinya dan adiknya.
Genre : Fiksi, drama, comedy, fantasi, sistem, sedikit horor.
Mohon tinggalkan jejak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mobs Jinsei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Hari sudah semakin sore, mereka semua masih berada di rumah Farah karena Meli menolak pulang ke rumahnya, Farah mengajak semuanya makan malam di luar sekalian, namun Rudi berkata sebaiknya dia keluar membeli makanan menggunakan motor dan membawanya ke rumah Farah, Arya setuju dan berniat menemani Rudi. Ketika Rudi dan Arya sudah keluar untuk membeli makanan, tiba tiba “dring...dring,” telepon Meli berbunyi, begitu melihat layar smartphonenya, wajah Meli langsung berubah, dia menaruh smartphonenya di tengah, semua bisa melihat kalau yang menelpon Meli adalah Doni,
“Angkat ga nih ?” tanya Meli.
“Ngapain, diemin aja,” jawab Rina.
“Iya bener Mel, diemin aja, ga usah di gubris,” tambah Farah.
“Dah silent aja, kalau ga balik layarnya, habis ini lo blok aja nomernya,” tambah Santi.
Akhirnya Meli mendiamkan smartphonenya berdering, kemudian setelah selesai, dia langsung membuat silent smartphonenya. Doni mencoba menelpon Meli beberapa kali, sampai kemudian mengirimkan pesan kepadanya. Meli menekan smartphonenya yang masih tergeletak di tengah dan membuka pesannya.
Rina, Farah dan Santi ikut membaca pesannya, Doni mengirimkan pesan yang sangat panjang berisi keluh kesahnya terhadap mama dan saudara tempat mereka menumpang sementara kepada Meli, kemudian dia bertanya dimana Meli sekarang, dia ingin bertemu dengan Meli. Tentu saja Meli tidak menjawabnya dan mendiamkannya,
“Lo mau ketemu dia Mel ?” tanya Rina.
“Ga, gue benci dia, kehidupan gue jadi kacau gini semua gara gara dia, kerjanya bikin masalah mulu, dia ga tau apa sekarang gue di pihak nyokap,” jawab Meli.
Farah dan Santi diam saja, mereka tidak berani ikut campur karena ini adalah masalah keluarga antara Doni dan Meli. “Brrrm...brm,” terdengar motor berhenti di depan rumah Farah, langsung saja Farah berdiri dan berjalan mengintip keluar dari jendela, wajah Farah langsung berubah dan dia kembali ke tempat duduknya.
“Siapa Far ? Rudi ? kok cepet sih,” ujar Santi.
“Mel, kok dia tau lo ada di sini ?” tanya Farah kepada Meli.
“Hah...siapa kak ?” tanya Meli bingung.
Rina langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu, dia juga mengintip lewat jendela dan berlari kembali masuk ke dalam.
“Kok dia tau lo di sini Mel, abanglo ada di depan tuh,” ujar Rina.
“Dia ga sendiri lagi, ada dua orang lagi tapi pake helm, ga keliatan mukanya,” tambah Farah.
“Coba gue liat,” ujar Santi berdiri.
Kali ini Santi yang berjalan ke arah pintu dan mengintip, kemudian dengan perlahan, Santi mengunci pintunya dan mencabut kuncinya, kemudian dia kembali ke dalam.
“Oi kasih tau Rudi dan Arya...suruh cepet pulang, pintu depan udah gue kunci, kita diem aja jangan keluar,” ujar Santi.
“I..iya, gue kasih tau Arya, kak,” ujar Meli.
“Gue juga kasih tau Rudi dan Arya, Rin bantu kasih tau Rudi juga,” ujar Farah.
“Iya kak, gue kirim pesen sekarang,” balas Rina.
Ke empatnya langsung sibuk mengirim pesan, “tok...tok...tok,” terdengar pagar rumah Farah di ketuk, ke empatnya diam saja dengan hati berdebar berharap tidak terjadi apa apa. “Farah...” terdengar suara Doni berteriak,
“Far, lo udah blok nomor dia kan ?” tanya Santi berbisik.
“Udah, dia ga bakal bisa kontak gue,” jawab Farah.
Santi dan Rina mengendap ngendap berjalan ke arah pintu dan mengintip melalui jendela, mereka melihat Doni sedang berbicara dengan dua orang yang bersamanya dan memakai helm sehingga tidak terlihat wajahnya. Tapi di lihat dari gelagatnya, sepertinya kedua orang itu sedikit mengancam Doni dan menunjuk nunjuk wajahnya, Doni terlihat ketakutan dan mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan kedua orang yang berdiri bertolak pinggang di depannya.
Keduanya melihat dua orang yang bersama Doni pergi dengan motor mereka meninggalkan Doni sendirian di depan rumah Farah, kemudian Doni terlihat memakai kerudungnya dan berjalan meninggalkan rumah Farah. Rina dan Santi langsung menarik nafas lega, keduanya berjalan kembali bergabung dengan yang lain. Baru saja keduanya duduk, “dling,” sebuah pesan masuk lagi ke smartphone Meli. Kali ini yang masuk bukanlah pesan penuh rayu dan curhat seperti pesan sebelumnya.
Pesan yang kali ini masuk adalah pesan penuh caci maki, ungkapan kekesalan dan hancurnya rencana Doni yang berniat memanfaatkan Meli, tangan Meli gemetar membaca pesan itu dan air matanya mulai mengalir keluar, Rina menyambar smartphone Meli dan membaca pesannya, setelah itu dia langsung menutup pesannya dan memeluk Meli yang menangis tersedu sedu. Karena penasaran, Santi mengambil smartphone Meli dan minta ijin kepada Meli untuk melihat pesannya, setelah membacanya,
“Gila banget tuh orang, dia sebenenarnya mau menjodohkan Meli ke orang bernama Jacky yang merupakan bos barunya supaya dia dapat pinjaman untuk usaha ?” tanya Santi.
“Keterlaluan, bener bener keterlaluan, abang macam apa itu, sama aja dia jual adiknya sendiri kalau begitu,” tambah Farah geram.
“Jadi itu maksudnya dia bawa dua orang ke rumah dan masuk ke kamar langsung menemui Meli...gila banget. Dah, lo aman di sini Mel, ama gue,” ujar Rina sambil memeluk Meli.
“Um...kak Farah, kak Santi, Rin, tolong masalah ini jangan bilang ke Arya ya, kita kan tahu Arya pasti akan tersulut kalau baca pesan ini, tolong ya,” ujar Meli sambil terisak.
“Gue ngerti Mel, gue juga kagak bakal bilang ke kak Rudi, bisa gawat urusannya kalau dia sampe tahu soal kayak gini, apalagi dia punya masalah sama abang lo,” ujar Rina.
“Tapi kita ga bisa diem aja kayak gini Mel, orang itu harus di kasih pelajaran,” ujar Santi.
“Gue setuju sama Santi, Mel, gue ngerti banget kalau lo ga mau ngelibatin Arya dalam masalah ini, tapi lo tetep harus kasih tahu ke Arya, lo ga bisa nahan sendirian dan mengatasi semua ini sendirian, walau Arya itu ade gue dan gue juga ga mau dia terlibat, tapi mau gimana lagi,” ujar Farah.
Meli tidak menjawab, dia terus menangis di pelukan Rina, Santi dan Farah juga mulai menghibur Meli. Sementara itu, beberapa menit sebelumnya, di sebuah restoran cepat saji dengan menu khas ayam goreng dari negara paman sam, Rudi dan Arya sedang mengantri di depan counter menunggu giliran, diam diam Neos menceritakan apa yang terjadi di rumah ketika mereka sedang berkeliling mencari makan, mulai dari Meli menerima pesan, Doni datang dan pesan kembali masuk ke smartphone Meli.
“Waduh, beneran tuh ?” tanya Rudi di kepalanya.
[Ya, aku membuat rumah itu seakan tidak ada orang dan sekarang mereka sudah pergi.]
“Kok dia bisa tahu Meli ada di rumah Farah ?” tanya Rudi.
[Doni menginstall aplikasi untuk melacak anggota keluarga di smartphone Meli dan mengaktifkannya tanpa sepengetahuan Meli, aku sudah menghapus aplikasinya, sekarang sudah aman.]
“Belum aman, selama orang itu masih berkeliaran,” ujar Rudi.
[Malam ini kita atasi Eko dulu, kedua orang yang bersama Doni akan hadir.]
“Jadi maksud lo, Doni dan Eko masih saling berhubungan gitu ?” tanya Rudi.
[Secara tidak langsung, nanti malam kamu akan tahu jawabannya.]
“Nice, nanti malam beraksi, gue udah ga sabar,” ujar Rudi.
[Affirmative.]
“Kak...kenapa lo ? kok muka lo aneh gitu ?” tanya Arya.
“Eh...ga apa apa,” balas Rudi menoleh melihat Arya yang berdiri di belakangnya.