Menikah muda tidak selalu berakhir dengan tragis, meskipun banyak yang berjalan tak manis. Semua itu hanya tentang bagaimana kita menyikapi dan mempertahankannya.
Jadi, tidak perlu takut untuk menikah muda, karena tidak semua pernikahan berakhir dengan kegagalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Penyelesaian
Segala macam ujia, dari mulai ujian praktek, ujian nasional juga ujian sekolah sudah selesai, kini semua kelas tiga hanya tinggal menunggu hasilnya dan bersiap untuk acara perpisahan nanti. Terhitung sudah lebih dua bulan hubungan Pandu, Amel dan Lyra merenggang sejak kejadian tempo hari. Pandu sudah seringkali meminta maaf pada Lyra, menjelaskan alasan pada istrinya, tapi tetap saja Lyra seakan tidak perduli dan sering kali mengabaikannya, meskipun masih tetap menyiapkan keperluan Pandu, membuatkan laki-laki itu makanan dan menjawab ucapan Pandu meski seperlunya.
Tidak jauh berbeda dengan Amel yang juga seringkali meminta maaf pada Lyra juga teman-temannya yang ikut cuek kepadanya. Amel sadar kesalahannya saat ini besar, laki-laki yang waktu itu ia mintai tolong sudah beristri dan saat itu tidak sedikit pun Amel meminta persetujuan pada Lyra. Wajar memang jika temannya itu marah bahkan membencinya.
Amel pun sebenarnya malu masih terus menampakkan diri di hadapan mereka semua, terutama Lyra yang jelas sudah dirinya kecewakan, tapi untuk pergi, tentu tidak bisa Amel lakukan. Ia tidak memiliki siapa pun selain mereka, dan Amel tidak ingin kehilangan sahabat-sahabatnya itu.
Mereka memang masih menghabiskan waktu istritahat di kantin bertujuh seperti biasanya, tapi Amel dan Pandu lebih banyak diam, bahkan untuk sekedar larut dalam percakapan dan tawa temannya yang lain pun keduanya merasa tidak berani. Bukan takut, tapi lebih pada canggung. Amel dan Pandu cukup sadar diri, bahwa keberadaan mereka tidak sama sekali di hiraukan. Namun Pandu maupun Amel bisa apa, selain menyesali perbuatannya beberapa waktu lalu.
🍒🍒🍒
Lyra dan Devi duduk berdua di kursi panjang yang berada di depan kelasnya, menatap ke arah lapang basket yang tengah di isi oleh adik kelasnya yang olahraga.
“Ra, gimana hubungan lo sama Pandu sekarang?” tanya Devi memecah keheningan.
“Gak gimana-gimana.” Jawab singkat Lyra, tanpa menatap sang lawan bicara.
“Dia kayaknya benar-benar ngerasa bersalah banget. Kenapa gak lo coba maafin aja?”
Lyra menghela napas pelan lalu menatap Devi, “Dia pernah bilang rela gue hukum jika dia kembali bikin nangis gue. Dan ini gue lagi beri dia hukuman. Bagus-bagus gue gak ngehukum dia dengan nikah lagi.”
“Tapi ini udah tiga bulan, Ra! Lo lihat sendiri dia tersiksa dengan sikap lo. Kalian sudah menikah, bukan lagi pacaran. Selesaikan dengan dewasa, Ra! Kalau lo diam gini aja, mau sampai kapan masalahnya selesai?”
Lyra terdiam begitu pun dengan Devi. Keduanya sama-sama kembali melihat ke lapangan dengan pikiran masing-masing, hingga sebuah suara berat yang amat di kenalnya mengalihkan tatapan kedua wanita cantik itu.
“Kamu ada waktu 'kan buat ngobrol sebentar sama aku?”
Lyra melirik ke arah Devi, melihat sahabatnya itu mengangguk, barulah Lyra bangkit dari duduknya mengikuti Pandu yang lebih dulu berjalan. Setibanya di atap, Lyra dapati Amel sudah berada di sana, berdiri membelakangi. Pandu mengunci pintu tersebut dan menuntun Lyra untuk mendekat ke arah Amel. Senyum tipis wanita cantik itu berikan meskipun tidak dapat balasan dari Lyra.
“Ra, aku bawa kamu ke sini karena ingin meluruskan masalah diantara kita.” Pandu memulai pembicaraan. Lyra mengangguk-anggukan kepalanya menatap Pandu dan Amel bergantian. Dari tatapannya Pandu tahu, bahwa sang istri masih begitu marah juga kecewa, bahkan Lyra seakan jijik menetap Amel yang kini menunduk.
“Kamu masih ingat dengan statusmu?” tanya Lyra pada Pandu dengan dingin. Pandu mengangguk. “Apa selama ini kamu menganggapku sebagai istri?”
Kembali Pandu mengangguk. “Tentu saja aku mengakuinya.”
“Lalu apa yang kamu lakukan beberapa waktu lalu itu wajar? Aku tahu niat kamu baik, mau merawat mantan tercinta kamu yang sakit. Aku tahu bagaimana keluarga Amel yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, tapi apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan aku?” tanya Lyra dengan sorot mata terluka.
“Ra, ak…”
“Aku sadar kamu lebih mencintai dia dari pada aku, tapi aku istri kamu, Pan! Aku berhak tau kamu dimana. Kamu wajib menghubungi aku, memberi tahu alasan kamu pergi. Kamu gak tahu kan gimana cemasnya aku saat Leo bilang kamu gak masuk kelas? Kamu gak tahu bagaimana khawatirnya aku nunggu kamu, sampai tidak mampu hanya untuk memejamkan mata. Kamu tidak tahu lelahnya aku menghubungi kamu yang sama sekali tidak mendapat jawaban, mencari kamu kesana kemari sampai harus berbohong pada semua keluarga …!”
Kali ini Lyra tak sanggu lagi diam, emosinya benar-benar ia kelurkan, dan kekecewaan tidak lupa Lyra pelihatkan.
“... dan saat aku mendapati keberadaan kamu, apa yang aku dapat? Kembali pada sebuah kekecewaan atas penghianatan. Dulu aku melihat kalian pelukan, lalu ciuman, dan beberapa waktu lalu..." Lyra menggelengkan kepalanya. "... Kalian kembali menggoreskan luka lebih parah dari sebelumnya. Pandu, apa benar kamu mencintai aku? Atau hanya perasaan sesaat yang di timbulkan dari rasa kasihan, maka dari itu kamu berkali-kali menyakiti aku, mengecewakanku, dan mengkhianatiku?"
Amel yang berdiri di samping Pandu terkejut mendengar ucapan Lyra. Ia tidak menyangka bahwa yang di lakukannya bersama Pandu waktu itu di lihat oleh Lyra, sedangkan Pandu menundukan wajahnya menyesal.
“Ra, Gue minta maaf, waktu itu gue yang mulai bukan Pandu,” ucap Amel pelan, mengakui kesalahan sekaligus kebodohannya.
“Iya, gue tahu, kok, karena gue lihat itu secara langsung, tapi dia balas. Jadi, apa gak berhak untuk gue marah?” Lyra menaikan sebelah alisnya, menatap Amel yang kembali menunduk, karena tidak berani melihat mata Lyra yang menyiratkan luka, kekecewan, dan bahkan mungkin kebencian.
"Selama ini gue diam, Mel. Selama ini gue biarin lo, tapi apa lo gak sedikit pun sadar dengan posisi lo saat ini? Oke, gue ngaku, gue kalah karena lo yang berhasil dapatkan hati Pandu, tapi dia suami gue, Mel! Mau di apain juga Pandu sudah terdaftar secara resmi jadi suami gue, lo yang sebagai mantan gak bisa seenaknya minta Pandu berada di samping lo!" murka Lyra, yang baru kali ini meninggikan suara pada sahabatnya itu.
“Yang, aku kan udah minta maaf untuk kejadian itu,” ucap Pandu membuka suara.
“Iya, kamu udah minta maaf, dan bukankah aku juga udah maafin kamu? Saat itu kamu bilang 'kan, siap menerima hukuman apa pun jika kamu kembali bikin aku nangis?” Pandu mengangguk. “Menurut kamu, apa yang pantas aku berikan sebagai hukuman? Surat cerai?”
“Gak Lyra! Sampai kapan pun aku gak akan ceraikan kamu! Dengan kamu mengabaikan aku aja aku udah tersiksa apa lagi pisah dari kamu. Please, jangan pernah lakukan itu, Yang, aku mohon!”
Pandu berdiri mendekat pada Lyra, menggenggam lengan mungil istrinya itu dan meremasnya pelan. Tatapan memelas sarat akan permohonan Pandu berikan, tapi Lyra malah justru membuang muka.
“Maafin gue, Ra. Maaf, karena gue udah merusak rumah tangga kalian. Gue janji gak akan lagi mengganggu kalian. Tolong jangan berpisah hanya karena gara-gara gue. Gue sadar cinta Pandu bukan lagi tertuju untuk gue. Selama seminggu Pandu menenin gue di rumah sakit gue tahu dia mencemaskan lo, mikirin lo. Hanya raganya yang duduk di samping gue, tapi gue tahu hati dia tetap bersama lo. Sekali lagi maafin gue, Ra.”
Setelah berucap panjang lebar, Amel pergi meninggalkan Pandu dan Lyra berdua. Air mata perempuan cantik itu sudah menetes menemani langkahnya menuruni anak tangga setelah sebelumnya menutup kembali pintu kayu bercat coklat itu.
“Ra, kamu mau 'kan maafin aku? Janji ini yang terakhir!”
“Jangan selalu mengucapkan janji jika kedepannya tetap kamu ulangi kesalahan yang sama!”
“Gak akan! Sudah cukup buat aku di abaikan selama tiga bulan ini sama kamu, aku gak sanggup, Ra. Aku kangen kamu yang bawel, yang kadang selalu marah-marah. Aku Rindu celotehan kamu, tawa kamu, manjanya kamu dan semua tentang kamu aku sangat merindukannya. Kamu yang biasa cerewet dan petakilan tiba-tiba diam itu cukup menjadi siksaan terberat buat aku.”
“Lebay!” Lyra memutarkan bola matanya
“Kamu mau 'kan maafin aku?” Pandu meraih dagu Lyra agar menatapnya.
Tatapan mata yang menyiratkan sebuah kejujuran dan kesungguhan itu membuat Lyra luluh dan akhirnya mengangguk. Bukan tanpa alasan Lyra memilih memaafkan suaminya itu, tapi Lyra sadar bahwa dirinya memang merindukan Pandu. Keputusan yang dirinya ambil hari ini pun tentu saja atas pertimbangannya beberapa waktu lalu. Lagi pula benar apa yang di katakan Devi, ini bukan lagi soal pacaran, dirinya dan Pandu sudah menikah, dan itu tentu bukan lagi tentang mereka berdua, tapi keluarga pun ikut terlibat dan perpisahan bukanlah jalan yang terbaik. Lyra tidak ingin sampai kelabilannya malah mengantarkannya pada sebuah penyesalan.
Mendapat anggukan dari wanita di depannya, membuat bibir Pandu melengkung sempurna dan langsung membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, mengecup berkali-kali kening juga puncak kepala Lyra secara bergantian.
“Lepas Pandu, aku sesak ini!” teriakan yang teredam itu membuat Pandu tertawa dan melonggarkan pelukannya, mengecup sekali lagi kening Lyra cukup lama seraya memejamkan matanya.
“Makasih sayang, terima kasih sudah bersedia memaafkan aku, tapi kamu juga maafin Amel 'kan?”
“Tuhan saja maha pemaaf, dan kamu tahu bahwa aku adalah orang baik, jadi sudah pasti aku akan maafin dia juga."
"Terima kasih sayang," ujar Pandu tulus, lalu kembali melayangkan kecupan di puncak kepala Lyra, dan semakin mengeratkan pelukannya.
“Duh yang udah baikan sampai merah gitu mukanya!” ledek suara dari arah samping.
Lyra sedikit terkejut melihat ada Leo, Dimas, Devi, Luna dan juga Amel berdiri di depan sana tersenyum meledek. Lyra yang malu langsung menyembunyikan wajahnya di pelukan Pandu.
"Aku kangen kamu, please jangan ulangi kesalahan kamu lagi, atau aku akan benar-benar pergi." Bisik Lyra dalam pelukan Pandu.
"Aku janji sayang, ku janji!"
@ ank ips jga😎