NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Algoritma yang Tak Pernah Tidur

​Singapura terasa gerah, namun bagi Elena, udara panas ini jauh lebih jujur daripada dinginnya fasilitas bawah laut Lazarus.

Mereka menginap di sebuah apartemen safe house di kawasan Geylang—tempat yang cukup berisik dan kumuh untuk membuat siapa pun yang mencari mereka kehilangan jejak.

​Elena berdiri di balkon, menatap lampu-lampu neon kota yang tidak pernah tidur.

Di tangannya ada secangkir kopi hitam pahit—permintaannya yang dikabulkan Reza.

​"Kau mikirin apa?" tanya Reza, muncul dari balik pintu geser sambil mengeringkan rambutnya.

​"Lazarus," jawab Elena pendek.

"Kakek bilang aku adalah kunci. Tapi kalau aku kuncinya, kenapa dia nggak langsung pakai biometrikku waktu aku pingsan di helikopter kemarin? Kenapa dia harus nunggu aku buat milih?"

​Reza terdiam. Ia bersandar di pagar balkon.

"Mungkin karena dia masih punya sedikit hati nurani sebagai kakek?"

​Elena tertawa sinis.

"Nggak, Rez. Orang kayak Adiwangsa nggak punya hati nurani. Dia punya algoritma. Dan aku rasa, kekalahan kita di anjungan minyak kemarin... itu terlalu mudah."

​Tiba-tiba, laptop Dante yang ada di ruang tengah berbunyi nyaring.

Suaranya bukan notifikasi biasa, melainkan suara alarm peringatan tingkat tinggi.

​"EL! REZ! CEPAT KE SINI!" teriak Dante.

​Elena dan Reza berlari masuk.

Di layar monitor Dante, muncul sebuah video yang sedang berputar secara otomatis.

Video itu menunjukkan sebuah ruangan kantor yang sangat mewah dengan pemandangan Central Park, New York.

​Seorang pria duduk di sana.

Wajahnya tidak asing lagi bagi mereka. Itu adalah Adrian Adiguna.

Ayah Elena yang seharusnya sudah mati di tangan Elena sendiri di awal perjalanan dendamnya.

​"Halo, Elena," ujar Adrian di video tersebut. Ia tampak lebih tua, dengan bekas luka jahitan di lehernya.

"Kalau kau melihat video ini, artinya kau sudah menghancurkan anjungan minyak ayahku—kakekmu yang kolot itu. Terima kasih sudah melakukan pekerjaan kotor itu untukku."

​Elena merasa dunianya berputar. "Dia... dia masih hidup?"

​"Adrian selalu punya rencana cadangan, El," bisik Paman Han, wajahnya tampak sangat pucat.

​"Lazarus bukan tentang menghapus genetik, Elena," lanjut Adrian di video.

"Itu cerita bohong yang dipakai ayahku buat memotivasi orang-orang tua yang takut mati.

Lazarus adalah sebuah AI (Kecerdasan Buatan).

Dan sekarang, AI itu sudah pindah dari server bawah laut yang kau ledakkan, langsung ke... otakmu."

​Elena merasa mual.

Ia meraba tengkuknya, tempat di mana ia pernah dioperasi di Swiss.

​"Ingat operasi bedah plastikmu?" Adrian tersenyum di layar.

"Kami nggak cuma ganti wajahmu. Kami menanamkan sebuah neural-link yang sudah disinkronkan dengan kesadaranmu selama dua tahun ini. Semua pengalamanmu, taktik tempurmu, bahkan perasaanmu... semuanya adalah data yang melatih AI Lazarus menjadi sempurna."

​"DANTE! CEK SCANNER!" perintah Elena panik.

​Dante segera mengambil alat pemindai medis portabel dan mengarahkannya ke kepala Elena.

Layar alat itu seketika berubah merah.

Ada sebuah titik kecil yang berdenyut tepat di dasar otak Elena, memancarkan sinyal frekuensi sangat tinggi yang hampir tidak terdeteksi.

​"El... ini bukan cuma chip," suara Dante bergetar. "Ini adalah parasit digital.

Dia mulai mengambil alih fungsi sarafmu setiap kali kau tidur."

​"Jadi itu sebabnya aku sering mimpi buruk soal kode-kode komputer?" tanya Elena, napasnya mulai tersengal.

​"Adrian ingin menciptakan 'Pemimpin Sempurna'," Paman Han menjelaskan.

"Bukan manusia yang punya perasaan, tapi manusia dengan efisiensi mesin. Dan dia menggunakanmu sebagai wadahnya."

​Tiba-tiba, kaca jendela apartemen mereka pecah berkeping-keping.

​"TIARAP!" teriak Reza.

​Sekelompok tim taktis dengan seragam serba hitam meluncur masuk dari atap.

Mereka tidak membawa senjata peluru tajam, melainkan senapan kejut listrik. Mereka ingin membawa Elena hidup-hidup.

​"Mereka nggak mau bunuh aku, Rez! Mereka mau ambil 'aset' mereka!" Elena berteriak sambil menendang meja makan untuk dijadikan tameng.

​Baku tembak pecah di dalam apartemen yang sempit itu.

Elena bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal—bahkan lebih cepat dari biasanya.

Ia merasa seolah-olah otaknya sudah tahu dari mana peluru akan datang sebelum peluru itu ditembakkan.

​"El! Kau bergerak terlalu cepat!" teriak Reza kaget melihat Elena melumpuhkan tiga orang hanya dalam waktu lima detik.

​"Aku nggak tahu, Rez! Rasanya... otaknya kayak lagi kasih tahu aku apa yang harus aku lakuin!"

​Ini adalah kekuatan Lazarus yang mulai aktif. AI itu sedang melindungi "rumahnya".

​Mereka berhasil keluar dari apartemen dan melompat ke dalam sebuah van yang sudah disiapkan Paman Han.

​"Kita harus ke mana, El?" tanya Reza sambil memacu mobil dengan gila-gilaan di jalanan Singapura yang macet.

​"Kita ke pusat riset neuroteknologi terbesar di sini," jawab Elena sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya.

"Kita harus keluarkan benda ini sekarang, atau aku akan kehilangan diriku selamanya."

​"Tapi itu bunuh diri, El! Itu tempat yang paling dijaga ketat di Singapura!" protes Dante.

​"Lebih baik aku mati sebagai Elena daripada hidup sebagai mesin Adrian!" balas Elena tajam.

​Di dalam van, Elena mulai merasakan "suara" di kepalanya.

Suara itu dingin, tanpa emosi, memberikan kalkulasi statistik tentang rute pelarian mereka.

'Belok kiri di depan, probabilitas selamat 87%.'

​"Diam kau!" Elena memukul kepalanya sendiri.

​Mereka berhasil menyelinap ke laboratorium bawah tanah milik sebuah universitas teknologi terkemuka, menggunakan kode akses lama milik Paman Han.

Di sana, Elena langsung naik ke atas meja operasi robotik.

​"Dante, kau harus operasikan robot ini. Cabut benda itu dari otakku," perintah Elena.

​"El, aku hacker, bukan dokter bedah!" Dante panik.

​"Sistem robotik ini otomatis, Dante! Kau cuma perlu arahkan kursornya ke titik merah di scannernya. Cepat! Aku bisa ngerasa dia mulai nutup kesadaranku!"

​Reza berjaga di pintu dengan senapan serbu, menahan gelombang pasukan keamanan yang mulai mendekat.

Suara ledakan terdengar di lorong, membuat ruangan itu bergetar.

​"Dante, LAKUKAN!" teriak Elena.

​Dante mulai menggerakkan lengan robotik yang sangat tipis itu.

Elena menahan teriakannya saat jarum laser mulai menembus kulit tengkuknya.

Rasanya seperti ribuan jarum api yang menusuk langsung ke jiwanya.

​Di layar monitor, AI Lazarus mulai melakukan perlawanan.

Muncul tulisan: 'UNAUTHORIZED REMOVAL DETECTED. INITIATING HOST NEUTRALIZATION.'

​"Dia mau bunuh Elena dari dalam!" teriak Dante.

​"El! Tetap sadar, El! Jangan biarkan dia menang!" Reza berteriak dari ambang pintu sambil terus menembak.

​Elena melihat bayangan Adrian di kepalanya.

"Kau tidak bisa lari dariku, Elena. Kau adalah mahakaryaku."

​"Aku... bukan... milikmu..." bisik Elena dalam hati.

​Dengan satu sentakan terakhir, Dante menarik keluar sebuah chip emas kecil yang berlumuran darah.

Di saat yang sama, seluruh sistem di laboratorium itu meledak karena overload data.

​Elena jatuh pingsan. Semuanya menjadi gelap.

​Ketika ia membuka mata, ia berada di sebuah kapal kargo kecil yang sedang bergerak menjauh dari pelabuhan Singapura.

Sinar matahari pagi menerpa wajahnya. Rasanya berbeda.

Suara "mesin" di kepalanya sudah hilang. Ia merasa... ringan. Namun sangat lemah.

​Reza duduk di sampingnya, memegang tangannya yang terbalut perban.

Wajah pria itu tampak sangat lelah namun penuh syukur.

​"Kita berhasil, El," bisik Reza.

"Dante sudah menghancurkan chip itu. Dan dia juga sempat ngirim virus balik ke server Adrian sebelum sistemnya meledak. Adrian mungkin masih hidup, tapi semua datanya... semua riset Lazarus-nya... sudah jadi sampah."

​Elena mencoba duduk, meski kepalanya masih terasa seperti dihantam palu.

Ia menatap ke arah laut lepas.

​"Paman Han? Ibu?"

​"Mereka aman di kabin bawah," jawab Reza.

"Dante lagi sibuk hapus semua jejak digital kita dari internet Singapura. Mulai sekarang, kita bener-bener jadi 'hantu'."

​Elena menatap pergelangan tangannya. Tidak ada lagi angka, tidak ada lagi kode.

Hanya ada dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar memiliki otaknya sendiri.

​"Rez," panggil Elena.

​"Ya?"

​"Nanti kalau kita sampai di gunung... aku nggak mau cuma tanam lili."

​Reza tersenyum. "Terus mau apa?"

​"Aku mau bangun sekolah. Buat anak-anak yang nggak punya siapa-siapa. Aku mau kasih mereka pilihan yang nggak pernah aku punya."

​Reza mencium dahi Elena. "Kedengarannya kayak rencana yang hebat, Bu Guru."

​Kapal kargo itu terus melaju, membelah ombak biru menuju masa depan yang tidak lagi diprogram oleh algoritma, melainkan ditulis oleh keberanian dan cinta.

Elena Adiguna, Sang Nyonya yang Terbuang, akhirnya telah memenangkan perang yang paling sulit: perang melawan dirinya sendiri.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!