"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"
Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.
misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Kenzo terisak, darah masih menetes dari sudut mulutnya. Matanya berkaca-kaca saat menatap wajah lelaki tua itu—wajah yang mirip ayahnya, tapi lebih tua, dengan garis-garis keras yang menceritakan perjalanan panjang.
"Kakek...?" gumannya, suaranya serak.
Lelaki tua itu mengangguk pelan, tangannya yang berurat mengusap debu dari bahu Kenzo. "Aku sudah mengawasimu dari jauh, Nak. Tapi sekarang, waktunya kau tahu kebenaran."
Azura dan Srini (yang sudah kembali ke wujud biasa) mendekat dengan hati-hati. Azura menyipitkan mata. "Kau... Dukun Agung Surya? Aku pikir kau sudah mati dibunuh Nyi Roro Kidul 20 tahun lalu."
Kakek Kenzo tersenyum pahit. "Dunia gaib penuh dengan tipu daya, Azura. Kematianku hanyalah sandiwara untuk melindungi keluarga."
Srini menggaruk-garuk kepala yang masih putih. "Jadi ini alasan kenapa Nyi Roro Kidul benci banget sama keluarga Mas Kenzo? Karena kakeknya nipu dia?"
"Bukan cuma itu," kakek Kenzo menghela napas. "Ayah Kenzo—anakku—adalah satu-satunya manusia yang berhasil menolak lamaran Nyi Roro Kidul. Dia memilih ibu Kenzo, seorang manusia biasa. Itu menghancurkan harga diri sang Ratu Laut."
Kenzo mencoba berdiri, tapi lukanya terlalu parah. "Orang tuaku... mereka masih hidup?"
"Ya, tapi terjebak di Kerang Abadi di dasar Laut Selatan," jawab kakeknya. "Nyi Roro Kidul sengaja menyimpannya sebagai umpan... untuk memancingmu."
Udara mendadak berat. Gawandra yang dari tadi diam, akhirnya bersuara. "Jadi... sekarang kita harus nyelam ke laut buat nyari orang tua si Bos?"
"Tidak semudah itu," kakek Kenzo menggeleng. "Istana Nyi Roro Kidul dijaga oleh ribuan siluman, dan dia sendiri punya kekuatan setara dewa. Kita butuh Senjata ghaib."
Azura mendadak tegang. "Jangan-jangan kau maksud... Keris Terkutuk Karang Hyang?"
Kakek Kenzo mengangguk. "Satu-satunya senjata yang bisa membunuh Nyi Roro Kidul. Tapi lokasinya dijaga oleh Kakak-beradik Jin Api dan Jin Angin di Gunung Merapi."
Srini langsung melompat. "Wah, berarti road trip nih! Aku mau dong jadi navigator!"
Maya yang dari tadi diam tiba-tiba nyletuk. "Dasar kunti peot, mau jalan-jalan aja. Itu kan bahaya!"
"Biarin! Aku kan sekarang punya mode Sri Murni—"
" Diam!" Kenzo tiba-tiba bersuara keras. Semua terdiam. "Kakek... apa ayah dan ibuku akan bertahan sampai kita dapatkan senjata itu?"
Kakek Kenzo menatapnya dalam-dalam. "Mereka sudah bertahan 20 tahun, Nak. Tapi... kita tidak punya banyak waktu. Nyi Roro Kidul semakin kuat, dan dia tahu kau sekarang punya sekutu berbahaya."
Kenzo mengepalkan tangan. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang."
Gunung Merapi – Kawah Dua Jin
Kabut belerang menyelimuti lereng Gunung Merapi, membuat sulit bernapas. Kenzo dan rombongan—kakeknya, Azura, Srini, Maya, Gawandra, serta beberapa prewangan lain—berjalan pelan menuju puncak.
"Jin Api dan Jin Angin adalah saudara kembar yang saling bertolak belakang," bisik kakek Kenzo. "Satu menguasai lahar, satu menguasai angin topan. Tapi mereka punya satu kelemahan..."
Srini yang berjalan sambil loncat-loncat tiba-tiba tersandung. "Aduh! Batu apa ini—"
*BRANGGG!*
Batu itu ternyata gong raksasa. Suaranya menggema ke seluruh gunung.
Semua membeku.
"Srini... kamu brengsek," desis Maya.
Tiba-tiba, tanah bergetar.
"SIAPA BERANI MENGANGGU KEDAMAIAN KAMI?!"
Dua sosok raksasa muncul dari kawah—satu tubuhnya dari batu merah menyala, satu lagi dari angin berputar.
Jin Api dan Jin Angin.
Kenzo maju ke depan, tangan terangkat. "Kami hanya ingin mengambil Keris Karang Hyang! Bukan untuk perang, tapi untuk menyelamatkan keluarga!"
Jin Api tertawa menggelegar. "MANUSIA LEMAH! KERIS ITU TIDAK UNTUK TANGAN KOTOR SEPERTIMU!"
Jin Angin menambahkan, "KALIAN AKAN KAMI HANCURKAN!"
Azura bersiap, tapi kakek Kenzo tiba-tiba melangkah. "Aku kenal kalian... dulu kita pernah bertarung di lereng ini, ingat?"
Jin Api mendadak diam. "Surya...? Kau masih hidup?"
"Bukan waktunya berkelahi," kata kakek Kenzo. "Nyi Roro Kidul sudah melanggar hukum alam dengan menyiksa manusia selama 20 tahun. Keris itu satu-satunya cara menghentikannya."
Jin Angin berputar-putar. "Tapi harga nya mahal, Surya. Harus ada pengorbanan."
Srini langsung bersembunyi di belakang Kenzo. "Aku nggak mau dikorbankan, lho ya!"
Kakek Kenzo menghela napas. "Aku yang akan membayarnya."
Kenzo terkejut. "Kakek, tidak—"
Tapi kakeknya sudah melompat ke tengah kawah, tangan terentang. "AMBIL TENAGAKU SEBAGAI GANTI!"
BOOOOM!
Cahaya menyilaukan memenuhi puncak gunung.
Ketika Kenzo membuka mata lagi, kakeknya sudah hilang... dan di tanah terbaring sebilah keris tua berkelir hitam-merah.
Keris Karang Hyang.
Jin Api dan Jin Angin menganggung hormat. "PERJANJIAN TELAH DIPENUHI. SEMOGA KALIAN SIAP MENGHADAPI MALAPETAKA YANG AKAN DATANG."
Kenzo mengambil keris itu dengan tangan gemetar. "Kakek..."
Azura meletakkan tangan di bahunya. "Dia memilih ini, Kenzo. Sekarang, waktunya kita ke Laut Selatan."
Srini mengangguk, wajahnya jarang-jarang serius. "Buat kakek... dan buat orang tua kamu, Mas."
Mata Kenzo berapi-api. "Ayo kita selesaikan ini."
Hutan Wingit – Markas Kumpulan Pasukan
Udara malam di Hutan Wingit terasa lebih dingin dari biasanya. Kenzo berdiri di atas batu besar, dikelilingi oleh puluhan makhluk gaib yang berkumpul—prewangan setianya, pasukan Sri Murni, dan sekutu-sekutu lain yang pernah berhutang budi padanya.
Srini, dengan rambut putihnya yang masih belum pudar, melayang di samping Kenzo sambil memandangi kerumunan makhluk gaib di bawah. "Wah, baru kali ini aku liat anak buahku pada kumpul semua. Biasanya pada ngumpet!"
Maya—yang berdiri di sebelah Gawandra—mencibir. "Dasar kuntilanak centil. Pasukanmu aja pada gemeteran liat kau pakai baju baru."
Srini memamerkan gaun merahnya yang berkilau. "Ini bukan baju baru, Maya. Ini armor api peninggalan Sri Murni. Kalau kau iri, bilang aja~"
Gawandra menggaruk kepala. "Bosan deh liat kalian ribut mulu. Kapan kita berangkat?"
Kenzo mengangkat tangan, dan semua langsung diam. "Kita tidak bisa sembarangan menyerang Istana Laut Selatan. Nyi Roro Kidul punya ribuan siluman, dan kita harus punya strategi."
Azura Mayang melangkah ke depan, matanya yang biru bersinar dalam gelap. "Srini, sebagai Kuntilanak Pertama, kau pasti punya pasukan yang bisa mengalihkan perhatian mereka."
Srini mengangguk, tiba-tiba serius. "Aku bisa panggil Legion Kuntilanak merah dari Gunung Merbabu. Mereka ahli dalam pertempuran jarak jauh."
Kenzo menoleh ke arah Gawandra. "Kau dan para genderuwo kuat di medan darat. Kalian yang akan memimpin serangan frontal."
Gawandra menggeram, memamerkan otot-ototnya. "Siap, Bos! Bakal kuhancurin semua yang berani hadang!"
Maya mengangkat tangan. "Kalau aku dan pocong-pocong lain? Kita nggak bisa berenang, lho."
Azura tersenyum tipis. "Kalian akan jadi pasukan cadangan. Jika ada yang mencoba kabur dari pertempuran, kalian yang menghabisi."
Kenzo menghela napas, lalu menatap mereka semua. "Ini mungkin pertempuran terberat kita. Nyi Roro Kidul bukan lawan biasa... dan aku nggak janji kita semua bakal selamat."
Suasana mendadak hening.
Srini tiba-tiba tertawa kecil. "Ah, masa iya kita kalah sama nenek-nenek laut? Aku aja nggak mandi 100 tahun lebih, bau ku pasti lebih kuat dari dia!"
Maya memukul bahunya. "Dasar nggak ada moodnya!"
Tapi candaan itu sedikit mengendurkan ketegangan.
Kenzo tersenyum. "Baiklah. Besok subuh, kita berangkat. Siapkan semuanya."
Pemanggilan Terakhir
Ketika yang lain sudah bubar, Kenzo duduk sendirian di tepi sungai kecil di tengah hutan. Keris Karang Hyang tergeletak di sampingnya, memantulkan cahaya bulan.
Azura muncul dari balik pepohonan, mendekatinya dengan langkah pelan. "Kau ragu?"
Kenzo menggeleng. "Nggak. Cuma... aku nggak mau ada yang mati karena urusanku."
Azura duduk di sebelahnya. "Mereka memilih untuk ikut, Kenzo. Bukan karena terpaksa, tapi karena mereka percaya padamu."
Kenzo menatapnya. "Termasuk kau?"
Azura diam sejenak, lalu menjawab, "Aku sudah memilihmu sejak kau lahir. Dan aku nggak akan berhenti sekarang."
Senja mulai merekah di ujung langit.
Srini tiba-tiba muncul dari balik semak, wajahnya ceria seperti biasa. "Mas Kenzo! Aku udah panggil Legion Kuntilanak Api! Mereka pada bilang siap tempur besok!"
Kenzo menganggak. "Bagus."
Tapi Srini mendadak diam, lalu duduk di sebelah Azura. "Aku... aku punya firasat aneh."
Azura menatapnya. "Apa?"
Srini mengusap rambut putihnya. "Seperti ada yang nggak beres dengan kekuatan Sri Murni ini. Aku nggak yakin bisa kontrol lagi kalau dipakai terlalu lama."
Kenzo mengerutkan kening. "Berarti kau nggak boleh paksain diri."
Srini menggeleng. "Nggak bisa, Mas. Ini pertempuran terakhir. Aku harus pake semuanya."
Azura menatap langit. "Besok... mungkin segalanya akan berubah."
Kenzo berdiri, mengambil kerisnya. "Tapi selama kita masih bersama, kita bisa lawan apa aja."
Srini langsung nyengir. "Wih, Mas Kenzo jadi puitis! Nanti kalo menang, traktir aku ceker ayam sepuasnya, ya!"
Maya yang tiba-tiba muncul dari belakang pohon nyletuk, "Dasar tukang makan!"
Gawandra ikut nongol. "Ayo tidur! Besok pagi kita berangkat!"
Kenzo tersenyum, melihat mereka semua.
Besok... mungkin segalanya berakhir.
Tapi setidaknya, aku nggak sendirian.
Pesisir Laut Selatan – Fajar Berdarah
Langit berwarna jingga kemerahan, seolah memantulkan pertumpahan darah yang akan segera terjadi. Ombak bergulung-gulung tinggi, menghantam karang dengan suara menggelegar. Di atas tebing, Kenzo berdiri gagah di atas batu besar, dihadapannya ribuan makhluk gaib dari berbagai penjuru Jawa telah berkumpul.
Legion Kuntilanak merah di pimpinan Srini berbaris di udara, gaun merah mereka berkibar seperti nyala api. Gawandra dan pasukan genderuwo menghentakkan kaki, membuat tanah bergetar. Maya bersama batalion pocong melayang di belakang, kain kafan mereka berkibar seperti bendera perang.
Kenzo mengangkat Keris Karang Hyang, suaranya menggelegar:
"HARI INI KITA TIDAK HANYA BERPERANG UNTUKKU! TAPI UNTUK SETIAP MAKHLUK YANG PERNAH DIINJAK OLEH KESOMBONGAN NYI RORO KIDUL!"
Sorakan bergemuruh.
"KALIAN ADALAH PASUKAN TERHEBAT YANG PERNAH KU PIMPIN! MAKA BERTARUNGLAH SEPERTI BINTANG JATUH—CEPAT, PANAS, DAN TINGGALKAN KEHANCURAN!"
Srini melesat ke depan, rambut putihnya berkilauan. "UNTUK KENZO! UNTUK KELUARGA KITA!"
Maya menambahkan, "DAN UNTUK CUKA YANG BAKAL KITA MAKAN KALAU MENANG!"
Tawa riuh terdengar, tapi seketika berubah jadi teriakan perang saat gerbang air raksasa terbuka di tengah laut.
"MEREKA DATANG!" teriak Azura.
Dari dalam laut, ribuan siluman muncul—ikan-ikan raksasa bertaring, manusia duyung bersenjata tombak, dan ular laut sebesar pohon kelapa. Di belakang mereka, Nyi Roro Kidul muncul dengan gaun hijau tua, matanya menyala bagai kilat.
"AKU TUNGGU KALIAN DI DASAR LAUT, KENZO!" suaranya menggema sebelum ia menghilang ke dalam gelombang.
"SERBUUU!!!"
Pasukan Kenzo bergerak.
- Srini dan Legion Kuntilanak merah menyerbu ke barisan musuh, mencakar siluman laut yang mencoba mendekat.
- Gawandra dan genderuwo menerjang seperti badai, menghancurkan segalanya dengan pukulan raksasa.
- Maya dan para pocong bergerak lincah, mencekik musuh dengan kain kafan mereka.
Kenzo dan Azura maju ke garis depan, Keris Karang Hyang bersinar semakin terang.
"AZURA, SEKARANG!"
Azura mengangkat tangan, membuka jalan dengan energi gelap. "IKUTI AKU! KE ISTANANYA!"
Tapi tiba-tiba—
"KENZO, AWAS!" Srini menjerit.
Sebilah tombak air melesat dari dalam laut, tepat menembus dada Azura.
"Tidak... AZURA!"
Darah biru pekat mengalir dari mulut Azura. "Aku... tidak bisa ikut lagi..."
Nyi Roro Kidul tertawa dari dalam laut. "IBLIS TINGKAT TINGGI SEKALIPUN TAK AKAN BISA MELAWAN KUASA LAUT!"
Kenzo menggigit bibir sampai berdarah. "SRINI, GAWANDRA! TAHAN MEREKA! AKU HARUS TEMBUS KE ISTANA!"
Srini mengangguk, matanya mulai memerah. "AKU AKAN TAHAN... SAMPAI TITIK DARAH TERAKHIR!"
Wujud Sri Murni bangkit sepenuhnya, api membakar seluruh tubuhnya.
"SEKARANG, KENZO! PERGI!"
Dengan langkah berat, Kenzo menyelam ke dalam laut, Keris Karang Hyang bersinar seperti bintang di kegelapan.
Pertempuran Terakhir... Baru Dimulai.
feed back la yaa😍