NovelToon NovelToon
Pemilik Hati Ku

Pemilik Hati Ku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Tamat
Popularitas:174.1k
Nilai: 5
Nama Author: shalsyalala

Follow Ige author : Shalsyala


"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.

"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama

Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.

Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?



Yuuuk merapat langsung baca yaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Matahari bergerak semakin naik hingga sinarnya terasa semakin terik, panas menyengat kulit. Begitupun suasana ruang meeting yang baru saja selesai mengadakan pembahasan, penuh dengan ketegangan dan menguarkan hawa panas dari amarah Livi yang memimpin meeting siang itu.

Disaat semua staff yang terlibat sudah keluar dari ruangan, Livi masih tak beranjak dari tempat duduknya. Ia memijit pangkal hidungnya yang terasa begitu lelah, padahal baru setengah hari ia bekerja.

"Anda bisa beristirahat lebih dulu Nona." Suara Vero memecah keheningan. Laki laki itupun sama, masih setia menunggu Livi.

"Apa cara ku terlalu keras dalam meeting barusan?" Livi memandang sekilas pada Vero lalu menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya diatas meja.

"Anda sudah sangat baik Nona, hanya saja hati anda belum sekuat itu untuk melihat ekspresi menghiba mereka." Jawab Vero.

"Kenapa mereka bekerja tidak becus, padahal aku tahu jika Papi sudah menerapkan gaji di atas rata rata juga tunjangan yang tidak main main untuk seluruh karyawannya. Harusnya mereka berkontribusi dengan baik untuk perusahaan ini. Aku tidak tega melihat ketakutan di wajah mereka tadi saat aku marah." Livi menghela nafas lelah.

Vero yang diam mendengarkan keluh kesah Livi hanya menahan senyum. "Anda terlalu baik Nona Livi, bahkan Pak Gunawan akan sangat mengerikan jika sedang menangani karyawannya yang lalai dalam perkejaannya." Ucap Vero.

"Aku tahu itu." Lagi lagi Livi menghela nafas. Hatinya begitu terbebani dengan pekerjaannya. "Padahal hanya 30% dari total perusahaan Papi yang aku tangani, belum juga selanjutnya Mami yang akan memaksaku untuk juga turut andil dalam perusahaannya. Sepertinya aku tidak mampu." Keluhnya dengan suara lemah.

"Anda hanya perlu...."

"Heeeyyy!!! Bisakah kau tidak perlu bicara formal seperti itu saat ini? Aku semakin pusing mendengar ucapan mu Ver!" Livi mengangkat kepalanya sambil menatap ke arah Vero. Tampak laki laki itu tersenyum mengangguk.

"Sudah jam makan siang, sebaiknya kita istirahat dulu. Disekitar sini ada Cafe dan Resto yang enak." Ajak Vero.

"Baiklah." Tanpa membantah, Livi pun segera beranjak dari duduknya dan berjalan satu langkah di depan Vero.

...💮💮💮💮...

Cafe yang terletak di kawasan elit itu terlihat cukup ramai di jam istirahat. Mengingat tempatnya juga tak jauh dari gedung perkantoran. Livi dan Vero yang baru sampai, memilih tempat duduk yang agak sepi dari pengunjung lain. Keduanya duduk berhadapan.

Seorang pelayan datang dan memberi buku menu pada keduanya, setelah mengucapkan pesanan mereka, pelayan itu segera undur diri.

"Kau menunggu telfon dari suami mu?" Vero melempar pertanyaan pada Livi yang sibuk dengan ponselnya.

"Aku tidak sedang menunggu, dia sudah berulang kali mengirim pesan." Jawab Livi sambil tetap fokus pada layar ponselnya.

"Semakin kesini aku semakin melihat kau tidak bahagia Liv? Aku tau pernikahan mu hanya sebuah keterpaksaan, dan aku juga tidak melihat cinta di mata suami mu."

Duughhh!!!

Aarrghh!!!

Mendengar ucapan Vero, Livi dengan sengaja menendang kaki Vero dibawah meja. Ia menyipitkan mata geram pada Vero. Laki laki itu kembali berucap sembarangan padanya.

"Hey! Kenapa kau menendang kaki ku?" Vero menahan suaranya agar tak menarik perhatian pengunjung lain. Laki laki itu menggosok kakinya yang terasa ngilu tepat dimana Livi menendangnya.

"Kau seperti dua orang berbeda. Jika dikantor kau sangat pendiam, sok berwibawa dan kharismatik. Tapi saat di luar jam kerja, sikap slegek an juga mulut mu itu benar benar tidak bisa dikontrol. Lebih tepatnya gak ada rem!" Geram Livi.

"Kau sendiri kan yang menyuruhku untuk tidak terlalu formal saat kita tidak berada di jam kerja. Lalu kenapa sekarang kau yang mengomel?" Timpal Vero.

"Bisakan kita duduk dengan tenang sambil menunggu makanan kita datang, atau aku akan menimpuk mu." Livi sudah mengangkat tasnya yang tergeletak di meja.

"Baiklah aku diam." Vero menyerah pasrah.

Keduanya pun kembali duduk, dan tak lama ponsel Livi berdering. Bukannya di angkat malah ia biarkan terus berbunyi hingga lama kemudian nama si pemanggil menghilang dari layar ponselnya.

"Kenapa tidak kau angkat? Itu suami mu kan?

"Biarkan saja."

"Pagi tadi kalian sangat mesra di dalam mobil. Kenapa sekarang kau tak ingin menjawab telfonnya."

Livi memandang ke arah Vero. Hatinya menimbang nimbang. Sebenarnya ia butuh seseorang untuk bercerita tentang beban hatinya akhir akhir ini.

"Apa aku tidak cukup kau percaya untuk mendengar cerita mu? Aku tahu banyak beban yang kau tanggung dalam hati mu." Vero seolah mampu membaca apa yang di pikirkan Livi.

"Ver.." Nada suara Livi sudah bergetar. " Benarkah orang lain bisa melihat jika suami ku tidak mencintai ku?"

Senyum berkedut di bibir Vero namun dengan cepat ia menyembunyikannya lalu segera menampilkan wajah iba atas apa yang akan diutarakan Livi. "Mungkin aku selama ini seperti yang kau bilang, aku slengek an dan gaya bicara ku ceplas-ceplos. Tapi sungguh, sebenarnya aku dapat melihat itu dari segi pandang ku sebagai laki laki. Mata laki laki akan berbinar penuh rasa bahagia jika sedang menatap wanita yang di cintainya. Dan aku tidak melihat itu pada suami mu, ditambah aku tahu pernikahan mu serba mendadak, jadi aku berani menyimpulkan jika suami mu sama sekali tidak mencintai mu hingga sekarang."

Ucapan Vero membuat air mata Livi merebak, meski terkesan blak blakan, tapi yang di katakan Vero benar adanya. Hatinya begitu sakit mendengar kebenaran itu.

Bahkan orang lain dapat melihat itu. Aku memang yang bodoh, kembali berharap pada cinta yang tidak pernah mengharapkan ku."

"Apa aku terlihat menyedihkan Ver?"

Dengan berat Vero mengangguk juga. "Kau wanita sempurna Livi. Kau sungguh cantik, menawan, mempesona, segalanya kau punya, kau mendekati kata sempurna sebagai wanita. Lalu kenapa kau bertahun tahun hanya menyiksa hati mu dengan cinta yang tak bersambut?" Vero menatap ke dalam bola mata Livia yang terlihat sudah berlinangan air mata yang sesaat lagi mungkin akan jatuh.

"Memang kita tidak bisa memilih, pada siapa kita jatuh cinta. Seperti mu, kau tidak bisa memilih karena cinta mu hanya melihat suami mu. Laki laki yang sama sekali tidak mencintaimu, tapi perlu kamu tahu Livi, meski kita tidak bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta, tapi kita bisa memilih dengan siapa kita harus bahagia."

"Cukup Ver, ucapan mu mungkin benar, tapi terlalu menyakitkan aku dengar." Livi menyela dengan lirih, suaranya tercekat di tenggorokan bersamaan air mata yang mulai berlomba untuk keluar dari bola matanya.

"Liv, jangan menangis!" Vero berdiri dari duduknya, lalu tangannya terulur mengusap buliran bening yang akhirnya jatuh juga di pipi Livi.

Dengan cepat Livi menarik mundur kepalanya, menghindari sentuhan Vero yang sempat mengenai pipinya. "Aku tidak apa apa Ver..!" Kembali ia menghapus sendiri buliran air matanya.

Vero yang menerima penolakan segera kembali duduk,menikmati kesedihan wanita cantik di hadapannya ini terasa sungguh menyenangkan baginya.

Hingga tak lama pelayan datang membawa menu makanan yang dipesan.

...💮💮💮💮...

Siapa yang menyangka jika kedatangan Livi dan Vero tertangkap sepasang mata yang terus mengawasi keduanya sejak memasuki Cafe.

Akbar yang lebih dulu berada dalam Cafe. Laki laki itu tengah bertemu dengan salah satu client nya. Saat menyelesaikan meeting dengan client nya, Akbar bersiap untuk meninggalkan Cafe itu, namun matanya menangkap sosok Livia.

Akbar yang semula hendak menyapa Livi, ia urungkan saat melihat laki laki yang tidak ia kenali duduk berdua dengan Livi. Ia melihat ada sesuatu yang janggal ketika melihat interaksi Livi dan Vero saat ini, untuk itu ia memilih diam ditempatnya sambil terus menatap ke arah Livi.

Jarak Akbar dan Livi cukup dekat, namun Akbra tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan Livi dan laki laki itu, tak lain adalah Vero. Akbar juga tak bersembunyi seperti biasanya penguntit yang sedang mengamati targetnya. Ia duduk dengan tenang sambil menikmati kopi yang tersisa di cangkirnya.

Akbar menempelkan ponsel di telinganya. "Kau ada di mana?" Ia bertanya saat panggilan telfonnya tersambung dan mendapat jawaban dari sebrang sana.

"Aku sedang di kantor kak, kenapa?"

"Tidak apa apa. Apa kau tahu dimana istri mu sekarang berada?"

"Livi? Memangnya kenapa kak? Livi saat ini sedang makan siang. Aku baru saja berkirim pesan padanya. Kenapa kak?"

"Apa Livi bilang dengan siapa dia sedang makan siang?"

Hening.

...💮💮💮💮...

1
senja indah
torrr...apa g ada pgn bikin cerita ank kembar mereka hhh
senja indah: penasaran kisah mereka...LunaYumi
total 3 replies
Kaira Caem
aku yg gc nyambung apa cerita nya yaaa,,,kok tiba2 uda nikah aja gimana sih
AZura Hasan
👍👍👍👍👍
AZura Hasan
makin seru aj
AZura Hasan
perasaan gk bisa di paksakan
Regita Regita
kita tidak bisa menghujat atau menyalahkan Angga,karena kita ridak bisa memaksa atau mengatur perasaan oranglain.Angga yang sudah sangat lama berada dalam zona persahabatan dan menganggap Livi sebagai adiknya yang selalu ingin Angga lindungi,mesti merubah perasaannya menjadi cinta kepada Livi sementara Angga sangat mencintai Alya walaupun Angga juga sadar kalau sudah tidak mungkin untuk memiliki Alya.Angga ada pada titik bingung memastikan perasaannya pada Livi. seperti apa yang Akbar bilang pada Alya,seandainya Akbar jadi menikah dengan Livi,mungkin keaadaannya akan sama seperti Angga,Angga akan tetap mencintai Alya walaupun sudah menikah dengan Livi. ya...akhirnya kembali bahwa kita tidak bisa mengatur atau memaksa perasaan orang lain untuk memilih.kita kembalikan kepada Allah yang Maha membolak balikan hati manusia. karena ini dunia halu,kita kembalikan pada AUTHOR yang mengatur segalanya.semangat Author...ceritamu The Best.tetap semangat,semoga makin banyak yang baca.bunga dan kopi meluncur....💖💖💖
Shalsyalala: Huuu terharuuu kalau ada pembaca kayak kakak giniiii❤️❤️
total 1 replies
Regita Regita
sepertinya Vero,Nisya dan Dipta berkomplot untuk mengahancurkan rumahtangga Angga dan Livi...
Regita Regita
ceritanya bagus,tapi yang baca masih sedikit padahal udah lama ya? apa belum banyak yang menemukan judulnya,sama kaya aku yang baru menemukan dan langsung mampir.semangat kak...semoga makin banyak yang baca.
senja indah
ini cerita super keren tpi kok like y g ada ratusan....oh no...tetap semangat berkarya otor soleha
senja indah: aku.baca udah 2 kli torr...superrr keren...tpi sedih bgt...knpa readers y dikit bgt yaaa
total 2 replies
ani suchaeni
bagussss, alur ceritanya
Shalsyalala: makasih kak udah mau baca😍😍
total 1 replies
Fransiska Siba
makan itu kebodohan mu Livia, coba kau tidak memberi cela Vero dlu maka tidak akan sepeti itu
Fransiska Siba
itulah Alya ga peka perasaan org lain, pengen dia yg dimengerti terus
Shalsyalala: Jangan lupa baca kisah Alya juga ya kak 😘
total 1 replies
Fransiska Siba
untung Livia tidak salah dalam pergaulan di luar negeri ya krn tidak mendapat sandaran hidup. ini yg aku suka dari Livia dia bisa membatasi diri dalam bergaul dan dia mempunyai cita2 sederhana yaitu menjadi ibu yg baik dan istri yg baik, dia tidak mau mengulangi kesalahan org tuanya dikemudian hari, dia tidak mau menjadi seperti org tuanya, dia tidak mau anak2 nya merasakan apa yg dirasakan olehnya dlu.
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
Fransiska Siba
tp jujur aku lebih suka Livia dibandingkan dengan Alya, Alya banyak teman tp kesan murahan dan kurang peka perasaan org sekitarnya.
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
Mega Chai
ortua yg keras n memaksa anak untuk jadi no 1 seperti ortua livia adalah ortua yg akan membuat anak nya frustasi, didunia nyata utk org2 yg sudah jadi ortua,semoga kita semua tidak menjadi ortua seperti ortua livia,mw prestasi anak seperti apa pun kita harus ttp memberikan anak semangat utk menjadi lbh baik lagi bukan malah memaksa anak,krn sebagai anak pun mereka sudah berusaha utk mendapatkan prestasi yg terbaik,kita pun pernah diposisi anak kita dulu sebagai pelajar,
Shalsyalala: hai kakak salam kenal. Makasih ya sudah mau baca karyaku🤗
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Shalsyalala: makasih dukungannya kak
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!