Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Jujur
Seorang wanita berdiri dengan wajah yang resah. Sekujur tubuhnya dingin. Dia masih harus berpikir alasan yang akan ia kemukakan di hadapan kakaknya, dr. Rasya.
Rasya yang baru saja selesai mandi segera menemui adiknya yang selalu bertandang ke rumah kapan pun dia mau.
"Lis kamu kok mondar-mandir gitu? Bikin sakit mata tahu." Tegur Rasya sambil memakai arlojinya.
Lisa menggigit bibir bawahnya. Seraya mendekati kakaknya.
"Kenapa lagi? Kakak curiga pasti ada sesuatu sampai deket-deket gini." Rasya melirik adiknya yang mulai bergelayut manja.
Lisa tersenyum getir. Ia tidak mau kakaknya tahu kecerobohannya memberi kunci pada orang yang tidak dikenal. Yang ada nanti ia akan diceramahi sampai perut kelaparan.
Kejadian kemarin sungguh membuat Lisa menjadi sangat menyesal sudah meminta tolong pada laki-laki yang baru ditemuinya. Entah mengapa ia begitu spontanitas menyerahkan kunci motor kakaknya kepada laki - laki tersebut yang tidak diketahui identitasnya.
"Kakak mau kemana nih?" Tanyanya masih bergelayut dengan hati yang masih ketar-ketir.
"Mau ke jalan Manggis mau ikut? Tapi ga usah deh, kalau kamu ikut bakalan rese. Iparmu aja lagi bobo cantik. Udah gih kamu temani teh Resa aja. Sambil nunggu pesanannya datang."
"Memangnya bumil pesan apa?"Tanya Lisa melepaskan pegangan tangannya.
"Asinan Bogor. Aneh-aneh aja tuh bumil minta asinan harus buatan orang Bogor asli. Ga mungkin kan kalau sengaja ke sana beli asinan doang?"
"Yah si Kak Rasya perhitungan amat sih jadi suami. Dia begitu kan karena ulahmu juga." Lisa geleng-geleng kepala namun hatinya masih tidak karuan pasalnya sang kakak menuju garasi.
Beberapa saat kemudian terdengar teriakan Rasya yang begitu terdengar jelas oleh sang adik.
"Lisaaaaaaa!"
Deg
Deg
Lisa menarik nafas dalam lalu menelan salivanya dengan susah payah. Ia pun membalikkan badannya, wajahnya seketika pucat melihat sorot mata elang Rasya. Apalagi Rasya berjalan mendekatinya. Badannya panas dingin seolah sedang tertangkap basah karena telah melakukan kejahatan.
"Eh iiiya kak ada apa?" Tanya Lisa gugup.
"Kamu kenapa pucat gitu? Katakan yang jujur mana motor kakak?"
"Tuuuh kan ketahuan. Duh aku harus ngomong apa nih? Masa bohong sih. Kalau aku jujur pasti akan merembet kemana-mana." Monolog Lisa bergeming sambil menetralkan perasaan hatinya.
"Lisa. Bukannya jawab malah melamun!"
"Iya Kak anu Kak motor Kakak aku titipin ke orang." Jawabnya jujur.
"Titipin, ke siapa?" Tanya Rasya dengan suara tinggi.
"Anu ke..." Jawab Lisa dengan suara tercekat.
"Pokoknya kakak ga mau tahu motor itu harus ada sekarang, kakak mau pake!" Jelas Rasya.
"Pake mobil aja dulu, kak." Tawar Lisa.
"Ga mau. Naik motor lebih cepat apalagi sore begini biasa macet di jalan. Gih ambil dulu motornya. Lisaaa kenapa diam?"
Lisa masih bergeming tiba-tiba ia mendekati kakaknya berharap kakaknya bisa menahan emosi setelah ia menceritakan kejadian yang sebenarnya karena kebodohannya.
"Kak maafkan Lisa. Lisa tahu kakak pasti akan marah."
"Tunggu kamu kenapa, ada apa?" Rasya memicingkan matanya. Sepertinya ada yang tidak beres.
Lisa menceritakan kejadian yang menimpanya. Ia tidak berani menatap Kakaknya yang sedang menahan marah. Seraya menunduk.
"Ya ampun Lis, kamu pintar tapi keblinger tahu engga? Jadi ingat si Alhan. Untung kamu ga berjodoh sama dia. Kalau berjodoh bisa gawat, sama-sama ceroboh. Terus apa tindakan kamu selanjutnya?"
Kejadian yang dialami Lisa hampir sama dengan cerita yang pernah dialami sahabatnya yang meminta tolong orang yang tidak dikenal untuk mencoba cincin tunangan, terus dibawa kabur oleh orang tersebut. Tidak tahunya cincin tersebut bertengger di jari manis wanita yang sangat Rasya cintai. Kejadian tersebut tidak pernah bisa dilupakan Rasya karena ia harus mengorbankan cintanya untuk sahabatnya.
"Entahlah kak, aku juga bingung. Mau kuambil ke rumahnya tapi aku ga tahu alamatnya. Tapi...oh ya aku ingat aku kemarin kasih kartu namaku kak." Jelas Lisa benar adanya.
"Terus apa dia menghubungimu?"
Lisa menggeleng lemah. Ia tidak menyangka laki-laki itu tidak menghubunginya, ia pikir laki-laki itu orang baik-baik tapi ternyata...
"Huft! Maafkan Lisa Kak Rasya."
"Berjuta maaf yang kau ucapkan tidak akan bisa mengembalikan motor itu Lisayesha. Kecuali orang itu baik, tanpa diminta motor tersebut akan kembali pada kita."
"Iya kak maaf."
"Maaf lagi. Lebaran udah lewat juga. Yang terpenting sekarang, kamu harus menjadikan kejadian kemarin pelajaran yang tidak boleh terulang lagi."
"Iya Kak. Itu artinya Kak Rasya memaafkanku, kan?"
"Enak saja. Untuk membentuk rasa tanggung jawab kamu terhadap kesalahanmu maka kamu harus mengganti motor kemarin dengan motor yang baru. Terserah prosesnya seperti apa yang penting motor itu diganti."
"Punya kakak kok perhitungan banget sih." Lisa cemberut.
"Bukan perhitungan. Hal ini mendidik kamu agar kamu mau bertanggung jawab atas kesalahan yang kamu perbuat."
"Yaaah kak membeli motor baru ke show room itu membuat uang gajianku habis buat bayar."
"Resiko orang ceroboh." Rasya mengambil minuman dari dispenser, kemudian meneguknya hingga tandas.
Dreet
Dreet
Senyum Lisa seketika mengembang manakala seseorang meneleponnya. Setidaknya dia terselamatkan dari kemarahan kakaknya.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..