Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cara mempererat hubungan
Ucapan tajam Victoria yang berniat merendahkan itu seketika menggantung di udara, lenyap ditelan keheningan yang mendadak mencekam.
Sebelum wanita paruh baya itu sempat melanjutkan kalimatnya, sebuah gerakan tenang namun penuh mutlak menghentikan segalanya. Lucian bangkit dari duduknya. Pria itu melangkah melewati Victoria dan Caelia tanpa melirik sedikit pun, lalu menghampiri Celeste yang masih terpaku di dekat tangga.
Dengan kelembutan yang kontras dengan aura dinginnya tadi, Lucian meraih tangan Celeste. Ia menuntun istrinya melangkah bersama, lalu mendudukkan Celeste tepat di sampingnya di sofa utama. Tangan kanan Lucian terulur santai di atas sandaran sofa, jemari panjangnya dengan telaten bergerak memilin lembut ujung rambut hitam Celeste. Sementara tangan kirinya bertumpu tenang di atas pangkuan.
Posisi duduk mereka sangat dekat, bahu Celeste bersentuhan langsung dengan dada bidang Lucian. Perempuan itu duduk dengan sopan, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menunduk kikuk di bawah tatapan tak percaya dari dua tamu di hadapan mereka.
Caelia, yang berdiri menyaksikan keakraban itu, mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. Dalam hatinya, ia dilanda kebingungan hebat. Mana pria yang katanya sangat jijik kepada perempuan? Mana pria yang membenci sentuhan? Yang ia lihat saat ini justru seorang pria berkuasa yang memperlakukan istrinya dengan gestur protektif nan memuja.
"Ada perlu apa kalian datang kemari?" suara lembut Celeste akhirnya memecah sunyi, mencoba menengahi ketegangan.
Caelia mengerjap, lalu tersenyum penuh percaya diri. Dengan gerakan anggun, ia mengeluarkan ponsel bermerek dari tas branded-nya, membuka sebuah aplikasi pesan, dan menunjukkan layarnya ke arah mereka.
"Kakek Vane baru saja mengirimiku pesan," ucap Caelia dengan nada bangga. "Beliau mengajakku main golf akhir pekan ini, dan meminta Lucian untuk ikut serta. Aku dan Lucian adalah pasangan suami-istri di mata Beliau."
Mendengar nama Kakek Vane disebut, Lucian memfokuskan pandangannya membaca teks di layar tersebut. Ya, pesan itu memang benar dikirim oleh sang kakek.
Namun di sisi lain, Celeste mendadak menegang kaku. Jantungnya berdegup liar menghantam tulang rusuknya. Caelia dan kakek suaminya ternyata saling akrab dan rutin bertukar pesan!
Jika Kakek Vane sampai bertemu dengannya, penyamarannya pasti akan terbongkar seketika karena penyakitnya pasti akan kambuh. Kedua tangan Celeste meremas erat kain gaunnya di atas pangkuan.
Caelia menambahkan dengan senyum sinis yang disembunyikan, "Minggu ini beliau akan datang kemari untuk menjemput kita. Bagaimana menurutmu, Lucian?" tanyanya menatap penuh tantangan, seolah ajakan itu adalah titah mutlak yang tidak bisa ditolak.
Celeste melirik suaminya cemas. Apakah Lucian akan tergiur dan menerima ajakan itu demi keluarganya? Apa suaminya juga akan berpaling? Apa semua yang sudah menjadi miliknya, pada akhirnya beralih menjadi milik Caelia?
Tanpa bersuara, Lucian meraih ponselnya di meja, mengetik sebuah kalimat pendek, lalu membalikkan layar benda pipih itu ke hadapan Caelia.
'Celeste yang akan datang menemuinya, tidak perlu dirimu.'
Membaca balasan itu, dada Celeste semakin bergemuruh hebat. Panik langsung merayap naik. Bagaimana bisa ia keluar rumah di siang bolong? Apalagi bermain golf di lapangan terbuka tanpa atap, di bawah paparan sinar matahari langsung?! Jemarinya semakin mencengkeram kuat, napasnya mulai memburu.
Caelia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar palsu dan meremehkan. Sepertinya, kembaran tercintanya ini belum pernah menceritakan hal paling mendasar kepada suaminya.
"Oh, Lucian... kau sepertinya tidak tahu," ucap Caelia sengaja memperkeruh keadaan. "Celeste itu tidak suka keluar di siang hari. Dia takut kulitnya belang." Caelia menambahkan bumbu dusta dengan sengaja, "Tapi kalau aku sih, tidak takut hitam sama sekali."
Celeste tahu persis Caelia sedang menjebaknya.
Namun, respon Lucian di luar dugaan siapapun. Pria itu kembali mengetik dengan cepat di ponselnya, lalu menunjukkan layarnya pada Celeste dan seisi ruangan.
'Kalau begitu, tidak ada permainan golf sama sekali.'
Setelah mengetik kalimat itu, Lucian beralih mengetik satu perintah lagi, lalu mengarahkannya kepada Nathan yang berdiri di dekat pintu.
Suruh pengawal mengantar tamu keluar sekarang juga.
Ekspresi Victoria dan Caelia seketika berubah. Wajah mereka memerah karena marah bercampur kesal, harga diri mereka terasa diinjak-injak, diusir begitu saja dari mansion mewah itu seolah mereka tidak berharga. Dengan geram, keduanya berbalik dan melangkah pergi diiringi kawalan ketat pengawal.
Melihat kepergian ibu dan kembarannya, napas Celeste sedikit longgar. Namun tiba-tiba, tangan besar Lucian melingkar hangat di pinggang rampingnya, menariknya lebih rapat, lalu mengelus punggungnya pelan untuk menenangkan.
Lucian memperlihatkan layar ponselnya sekali lagi kepada Celeste. 'Apa yang sedang kau pikirkan? Jika itu soal ajakan kakek, abaikan saja. Biar aku yang mengurusnya.'
Celeste menatap suaminya dalam-dalam. Di balik ketenangan itu, ia berpikir... apakah Lucian perlahan mulai menyadari tentang kondisi fisik langkanya? jika tahu, apakah dia akan menerima apa adanya?
Celeste menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang menenangkan. "Aku tidak apa-apa, Ian."
Sebelum suasana sempat melunak lebih jauh, langkah kaki Nathan mendekat membawa sebuah iPad berukuran sedang. Asisten setia itu membungkuk hormat, lalu menunjukkan layar iPad yang menampilkan beberapa denah lokasi dan foto-foto kawasan komersial eksklusif di pusat kota.
"Tuan, Nyonya... ini adalah beberapa pilihan lokasi terbaik untuk pembangunan kafe dan galeri seni malam yang Anda inginkan," ucap Nathan profesional.
Binar antusias langsung terpancar di mata hazel Celeste. Ia mencondongkan tubuh, meneliti satu per satu pilihan tempat di layar iPad.
Nathan mulai menjelaskan dengan detail. "Pilihan pertama adalah bangunan bergaya klasik di distrik seni utara, memiliki halaman luas dan pencahayaan temaram yang estetik. Pilihan kedua, sebuah bangunan modern berlantai kaca di dekat kawasan distrik finansial yang tidak pernah tidur."
Celeste menunjuk salah satu gambar dengan penuh semangat. "Aku suka yang pertama! Bangunan klasik itu... suasananya sangat tenang, cocok untuk galeri dan kafe astronomi yang kubayangkan."
Nathan mengangguk setuju. "Pilihan yang sangat luar biasa, Nyonya Muda. Sisanya, serahkan pada saya, saya akan mengurus izin, renovasi, dan interiornya sesuai dengan selera Anda." Nathan menambahkan dengan senyum sopan, "Jika Anda ingin melihat lokasinya secara langsung, kita bisa berangkat sekarang juga."
Mendengar kata berangkat sekarang, Lucian langsung mengetik di ponselnya. 'Aku akan menemanimu.'
Reflek, Celeste berdiri dari sofa. Kepanikannya kembali mencuat. Keluar di siang hari untuk meninjau lokasi? Itu hal paling berbahaya baginya.
"T-tidak usah, Ian!" tolakan Celeste keluar begitu saja dengan nada sedikit tinggi. "Aku... aku benar-benar tidak suka matahari."
Setelah mengucapkan kalimat penolakan yang terkesan kaku itu, Celeste langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruangan menuju kamarnya, meninggalkan Lucian yang tertegun di tempat.
Pria itu mematung sejenak, alis tebalnya bertaut dalam kebingungan. Apa separah itu kebenciannya pada matahari?
Lucian melirik Nathan, lalu mengetik perintah tegas di layarnya. 'Selidiki apa yang sebenarnya disembunyikan istriku.'
Nathan menunduk sejenak, lalu menyanggah dengan sopan, "Maaf, Tuan... tapi menurut saya pribadi, menanyakan langsung kepada Nyonya Muda jauh lebih baik daripada menyelidiki di belakangnya. Itu akan mempererat hubungan kalian."
Lucian terdiam, menatap layar ponselnya dalam-dalam, mempertimbangkan nasihat asistennya.