NovelToon NovelToon
Happy In Sin - Dosa

Happy In Sin - Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Patahhati
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vienbluu

“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”

“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”

•••

Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.

Namun…

Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

•••

"Dari mana kau?" Suara berat nan berwibawa itu membuat langkah Jio berhenti.

"Dari rumah teman, Ayah."

Sosok gagah dengan postur tubuh tinggi itu tengah duduk di sofa ruang tamu, sebuah iPad berada di tangannya membuat fokusnya hanya kesana tanpa perlu repot-repot mengalihkan atensi ke arah Jio berada.

"Bagaimana kuliahmu?"

"Lancar seperti biasa."

"Bagus."

Pertanyaan juga jawaban monoton yang kaku itu menjadi batas hubungan keduanya, kecuali darah yang mengalir di dalam tubuhnya ini. Menjadi penerus PH Group-lah yang membuatnya terikat pada Keenan Pratama–sang Ayah.

"Jio ke kamar dulu, Ayah."

Setelah melihat anggukan samar dari Keenan, Jio berjalan menaiki tangga untuk sampai di kamarnya.

Ketika hendak membuka pintu, Yasmeen menyembulkan kepala dari kamarnya. Jarak yang cukup jauh membuat Yasmeen berlari keluar kamar dan menghampiri Jio.

"Kakak dari mana?"

Jio terkekeh, "Kau dan rasa ingin tahumu itu benar-benar..."

"Jangan bilang kau pergi bersama gadis urakan itu."

"Namanya Giselle, Yasmeen..."

Yasmeen membola, sedang Jio tersenyum mengusap kepala Yasmeen. 

"Dan ya, jangan katakan pada siapapun, ini rahasia. Mengerti?"

"Jadi benar? Kakak, jika Ayah sampai tahu kau berkencan dengannya kau pasti akan dimarahi habis-habisan. Aku tak mau kau dimarahi lagi."

"Ayah tidak akan tahu jika tidak ada yang memberi tahu, bukankah begitu?"

"Iya, iya aku mengerti, aku harus menutup rapat mulutku."

"Adikku yang pintar. Sana pergilah tidur."

"Dasar menyebalkan, selamat malam Jio..." Ujar Yasmeen berlari kembali ke kamarnya.

Jio kembali terkekeh. Sifat usil Yasmeen dan bicaranya yang asal ceplos itu mirip dengan Giselle. 

‘Astaga, kenapa juga aku memikirkan gadis itu sekarang?’

Menggelengkan kepala, Jio masuk ke dalam kamar dan berbaring sejenak di atas ranjang. Menghela nafas lelah, dalam sehari pikiran tentang Giselle memenuhi kepalanya.

Bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut, pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. 

Berjalan membukakan pintu.

"Ibu, kenapa belum tidur?"

Joanna tersenyum, "Boleh Ibu masuk?" 

Jio tersenyum mengangguk, Joanna masuk ke dalam kamar sang putra kemudian duduk di ranjang itu dan menepuk sisinya untuk Jio.

"Kau bertemu Ayah di bawah tadi?"

"Iya."

"Apa kalian sempat bicara? Apa yang Ayahmu katakan?"

"Seperti biasa, hanya menanyakan tentang kuliahku saja. Bagaimana keadaan Ibu, sudah baik-baik saja?"

"Sudah lebih baik."

Tepat setelahnya ponsel Jio berdering, panggilan masuk dari Giselle mengalihkan perhatian keduanya. Joanna menatap ponsel tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.

‘Giselle?’

Joanna melirik Jio kemudian tersenyum kecil, "Kalau begitu Ibu keluar dulu.”

Tangannya mengusap rambut Jio begitu lembut. “Selamat malam, putra kesayangan Ibu.”

Setelah Joanna menutup pintu, Jio meraih ponselnya mengangkat panggilan itu.

"Ada apa?"

/"Aku tidak bisa tidur, sekarang hujan dan aku takut petir."/

Memang sepulang dari restoran tadi langit terlihat lebih gelap dari biasanya karena mendung. Jio beranjak ke sisi jendela kamarnya menyibak tirai, benar saja, di luar sedang hujan sekarang.

"Hanya hujan ringan tidak akan ada petir, tidurlah."

/"Tapi aku takut… jangan tutup teleponnya sampai aku tertidur ya, kumohon..."/

"Kau benar-benar banyak maunya. Aku mengantuk."

/"Kau boleh tidur asalkan jangan menutup panggilannya. Aku benar-benar takut."/

"Terserah."

Hening menyapa beberapa saat sebab Giselle tak mengeluarkan suaranya, Jio sempat mengira gadis itu sudah tidur.

Namun saat Jio hendak mematikan teleponnya terdengar suara memekik ketakutan berbarengan dengan bunyi petir menggelegar.

Hujan ringan itu semakin deras mengguyur permukaan tanah, pun dengan petir yang saling bersahutan. 

"Giselle kau tak apa?"

/"Aku takut Jio..."/ suara Giselle terdengar lirih.

/“Aku tak suka hujan, aku tak suka petir… aku tak suka itu semua…”/

"Tak apa tenanglah.”

“Dengarkan aku, tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan perlahan, pejamkan matamu dan jangan pikirkan apapun, tidurlah agar kau tak mendengar suara petir itu lagi."

Giselle di seberang sana mengangguk meski tahu Jiotak dapat melihat itu.

/“Jangan tutup teleponnya."/

"Tidak, sekarang tidurlah."

/"Emhh..."/

Selang beberapa saat deru nafas tenang beraturan terdengar dari seberang telepon Jio.

Jio yakin gadis itu sudah terlelap. Mungkin ini saatnya baginya untuk tidur juga, perlahan memejamkan mata.

"Selamat malam, Giselle..." Gumamnya.

Gadis di seberang telepon mendengar gumaman samar itu, dia belum sepenuhnya terjun ke alam mimpi. Kini tangan Giselle meraba dadanya, jantungnya kembali berdebar.

'Mengapa kau selalu membuatku begini?'

•••

Joanna menuruni tangga sesaat setelah keluar dari kamar Jio, berjalan mendekati ruang tamu di mana Keenan berada. Pria itu masih setia pada iPad di tangannya tersebut.

"Suamiku... pergilah tidur ini sudah larut sekali, tidak baik begadang setiap hari."

"Sebentar lagi. Kau tidurlah lebih dulu."

Joanna beralih duduk di sebelah Keenan, memijat pelan pundak yang terasa kaku tersebut.

"Bagaimana... kabarnya?"

Pertanyaan itu membuat Keenan mengalihkan perhatian pada Joanna di belakang tubuhnya, menatapnya lekat.

Mengerti kemana arah pembicaraan ini membuat rasa bersalah itu kembali menyeruak, Keenan merasa tak enak hati pada Joanna.

Berdeham sebelum menjawab, "Dia baik-baik saja."

"Maaf karena menanyakan ini secara tiba-tiba, tapi tidakkah sebaiknya membawa dia–“

Keenan mengusap sisi wajah Joanna.

"Joanna tidurlah lebih dulu, bukankah kau masih tidak enak badan? Ingat kata Dokter, jangan terlalu banyak pikiran.”

“Aku akan segera menyusul."

Joanna mengangguk, mengerti jika Keenan tak ingin membicarakannya.

“Baiklah... segera selesaikan pekerjaanmu, lalu istirahat. Mengerti?”

“Iya, baiklah… aku paham.”

Joanna menampilkan senyumannya, kemudian beranjak pergi menuju kamarnya meninggalkan Keenan yang menghela nafas panjang menatap siluet Joanna yang mulai menjauh.

•••Vienbluu (annavienbluu)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!