Arini harus menjalani hidup sebatang kara ketika di tinggal neneknya untuk selamanya.
Rintangan untuk bertahan hidup di kota Jakarta yang besar, ditambah dengan rumitnya kisah cinta segi tiga membuat Arini harus menguatkan hatinya.
Kisah masa lalu yang kelam membuat Arini trauma akan percintaan. Namun Radit dan Bayu sepertinya berusaha sekuat tenaga mereka untuk menghancurkan sebuah dinding pembatas di hati Arini.
Lalu pada siapakah hati Arini akan berlabuh nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @pelipena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Dengan langkah tergopoh-gopoh Bayu membawa Arini ke UGD, itu karena ia melihat sepanjang perjalanan Arini terus merasakan sakit pada perutnya. Bayu nampak sangat khawatir ketika dokter dengan perlahan memeriksa keadaan Arini.
"Gimana di?" tanya Bayu yang sepertinya mengenal dokter yang saat ini memeriksa Arini.
"Nggak papa kok yu, tapi nginep ya? dia juga dehidrasi."
"Ya udah lakuin yang terbaik ya di, aku kependaftaran dulu."
Bayu yang saat itu sendiri mengantar Arini dengan sabar mengikuti prosedur rumah sakit, itu semua agar Arini dapat segera mendapatkan kamar inap.
Tentu saja dengan segala yang dimiliki Bayu, ia dengan mudah memesan kamar VVIP agar Arini juga mendapatkan perawatan yang paling baik.
"Calon kamu yu?" tanya dokter Ardi.
"Temen kok di," jawab Bayu.
"Temen tapi khawatirnya sampe begitu." ucap dokter Ardi meledek Bayu.
"Emang harus gimana sih?"
"Kalau temen ya biasa aja dong."
"Ah dasar, gimana keadaannya sekarang?"
"Sudah membaik, tinggal demamnya yang belum turun."
"Syukurlah." nampak Bayu begitu lega mendengar kabar dari temannya itu.
°°°
Dokter Ardi mengajak Bayu untuk ngopi bareng, sudah lama mereka tidak bertemu. Kawan baik semasa menuntut ilmu itu terlihat begitu akrab mengobrol tentang pengalaman mereka.
"Jadi kamu bercerai?" Bayu terkejut mendengar cerita temannya itu.
"Terpaksa yu, dia lebih memilih kekasih bulenya."
"Terus anak kalian gimana? hak asuh sama kamu kan?"
"Iya, sekarang anakku sama ibuku di kampung." ucap dokter Ardi sembari menyeruput kopinya.
"Sayang banget, padahal kalian udah sama-sama sejak SMA."
"Mungkin aku berjodoh sama dia cuma sebentar, seenggaknya sekarang aku sudah lega. Nggak ada sakit hati lagi di bohongi terus."
"Yang sabar di." Bayu menepuk pundak dokter Ardi.
"Lah kamu aja gini-gini aja yu, kapan nikahnya?"
"Kamu ini mau nyaingin ibuku kayaknya, nanya itu mulu setiap ketemu."
"Hehe abisnya kamu sih, semua temen kita udah punya anak semua. Tinggal kamu nih yang belum sold out."
"Do'ain aja tahun depan."
"Beneran tahun depan?"
"Iya tahun depan pokoknya, kalau nggak tahun depan ya tahun depannya lagi."
"Lah nggak jelas tahun depannya kapan juga."
"Ya pokoknya mah tahun depan weh, masa harus tahun kemarin sih." canda Bayu.
"Apa jangan-jangan mau sama yang tadi."
"Ya jodoh nggak ada yang tau di, kita cuma bisa berharap doang. Tuhan yang menentukan."
"Jodoh itu kita yang nentuin yu, cuma Tuhan lah yang merestui."
"Sama wae geblek."
"Hahaha." dokter Ardi tertawa lepas melihat tingkah konyol temannya itu.
Saat sedang hangat-hangatnya mereka ngobrol tiba-tiba dokter Ardi mendapat panggilan darurat. Dengan sigap dokter Ardi langsung bergegas pergi melaksanakan kewajibannya sebagai seorang dokter.
Bayu yang di tinggalkan dokter Ardi, memutuskan untuk kembali ke kamar Arini.
°°°
Waktu menunjukan pukul 17:00 WIB saat Bayu memasuki kamar tempat Arini berbaring saat ini. Hening dan sepi sekali. Sampai suara denting jarum jam terdengar di telinga Bayu.
Dilihatnya Arini yang tengah tertidur dengan selang infus di tangan kanannya. Terlihat lemah dan membuat Bayu merasa sedih.
Orang yang biasanya selalu ceria itu tiba-tiba menjadi tak berdaya di depannya.
Bayu memperhatikan jika sekarang tubuh Arini lebih kurus di bandingkan tempo hari.
Rasa kantuk dan lelah membuat Bayu memutuskan untuk merebahkan badannya di sofa yang tersedia di ruangan itu. Di liriknya layar ponsel miliknya, sebelum memejamkan matanya Bayu memutuskan untuk membalas terlebih dahulu pesan yang masuk di ponselnya.
Dilihatnya Arini sekali lagi, Bayu ingin memastikan jika dia benar-benar sedang tertidur pulas sebelum di tinggalnya terlelap.
....
Rasa pusing yang luar biasa membangunkan Arini, dia ingat jika tadi pagi Bayu yang membawa paksa ia ke rumah sakit.
Sungkan memang, tapi disisi lain Arini juga tak tahan dengan rasa sakit yang menyerang perutnya.
Keringat dingin membasahi nya kala Bayu sedang fokus menyetir saat itu, rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya menangis. Arini menggenggam erat lengan Bayu menahan sakit, untunglah dia tak keberatan di perlakukan seperti itu.
"Ah apa aku melukainya tadi?" gumam Arini.
Dilihatnya sekitar, sampai kedua netranya menangkap pemandangan yang begitu menggetarkan dadanya. Orang asing yang belum lama di kenalnya sedang tertidur di sofa menunggui dirinya.
Dada Arini bergemuruh merasa tak enak hati harus merepotkan dirinya. Ingin sekali ia menghampiri untuk sekedar memberinya selimut. Namun apa daya, kepala Arini terasa begitu berat. Badannya begitu tak berdaya bahkan hanya sekedar untuk menggeser tubuhnya saja.
Arini memandangi wajah pria itu dari atas tempat tidurnya. Wajahnya yang sayu membuat buliran bening terjun bebas dari mata Arini.
"Mengapa dia mau melakukan semua ini?" pikirnya.
Rasa dahaga di tenggorokannya sangatlah menyiksa Arini, mau tidak mau ia harus segera bangkit dan mengambil air minum di meja samping ranjang tidurnya. Susah payah Arini mengangkat tubuhnya sendiri, pusing yang teramat membuatnya hampir menyerah. Tapi sekali lagi ia tak ingin terus menerus menyusahkan Bayu. Dia tak tega jika harus membangunkan dari istirahatnya.
Dengan tangan yang gemetar Arini mengangkat gelas berisi penuh air minum itu. Terlihat air dalam gelas itupun bergejolak sampai tumpah ke lantai.
Prraaanngg.... Sial memang, gelas itu malah memilih untuk lepas dari genggaman tangan Arini.
Bayu yang tengah tertidur pulas sampai terkesiap terkejut mendengar bunyi gelas pecah itu.
"Arini, kau mau minum?" dengan sigap Bayu membawakan sebotol air minum yang sengaja ia beli tadi.
Dengan telaten Bayu meminumkan air mineral itu pada Arini.
"Kenapa kau tak membangunkanku? lebih baik sekarang kau berbaring kembali." Bayu membantu Arini untuk merebahkan tubuhnya kembali.
Di tempelkan telapak tangannya pada dahi Arini "Demam mu belum turun." kata Bayu.
Arini hanya bisa tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, hatinya begitu tersentuh dengan apa yang di lakukan oleh Bayu. Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan pria sebaik dirinya. Sungguh bodoh wanita yang dengan tega meninggalkan pria sebaik dirinya.
Bayu memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Arini. Dia begitu cemas melihat Arini yang tampak begitu tak berdaya saat ini.
"Bagaimana?" tanya Bayu pada dokter Ardi.
"Tak perlu khawatir begitu, tubuhnya sedang merespon obat yang ku berikan tadi pagi. Makanya demamnya belum turun juga. Sebentar lagi juga turun." dokter Ardi menenangkan dengan menepuk pundak Bayu.
Dari sorot matanya saja dokter Ardi pun tau jika Arini sudah menguasai hati sahabatnya itu. Ketulusan hatinya membuat dokter Ardi berharap jika perasaannya untuk Arini tak bertepuk sebelah tangan.
...
"Mas, maafin aku ya?" kata Arini saat Bayu tengah menyuapi nya makan.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
"Sudahlah, kau jangan terlalu banyak bicara sekarang. Sembuhlah terlebih dahulu baru berterimakasih." ucap Bayu sambil terus menyuapi Arini.
"Apa kau mau ganti baju?" tanya Bayu saat telah usai beradu dengan piring di tangannya.
Mata Arini terbelalak mendengar perkataan itu "Mas mau ngapain?" Arini menyilangkan tangannya dan memegangi bajunya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, tentu aku tak bernafsu dengan tubuh yang belum mandi itu." canda Bayu.
"Ku kira mas mau membantuku mengganti pakaian."
"Yang benar saja kau ini." Bayu mengusap lembut kepala Arini.
Dia segera pergi keluar meminta bantuan suster untuk membantu Arini membersihkan badannya dan membantu mengganti pakaiannya juga.
"Kenapa kau terlalu baik padaku mas?" gumam Arini dalam hati.