NovelToon NovelToon
CASANOVA ARROGANT

CASANOVA ARROGANT

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:57.6k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.

Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.

Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

"Tuan Agam... kita mau ke mana?" Viona bertanya pelan. Lengan kirinya masih berada dalam genggaman Agam meski mereka telah melangkah keluar dari gedung apartemen.

Agam berhenti mendadak. Tatapannya turun, menyadari jemarinya masih mencengkram lengan itu. Seolah tersentak, ia segera melepaskannya dan menarik tangannya sendiri.

"Jangan terlalu banyak bertanya. Ikuti saja." Ucapnya singkat. Tanpa menoleh, ia kembali melangkah, menyebrang menuju sebuah kafe di sebrang apartemen.

Viona terpaku beberapa detik. Pandangannya beralih ke gedung apartemen, lalu ke punggung Agam yang kian menjauh. Ia menghela napas, lalu berlari kecil menyusul.

"Tuan, tunggu!"

Viona mempercepat langkahnya agar sejajar. "Tuan, bagaimana dengan Tuan Hyun dan Nona cantik itu?" lanjutnya sambil berjalan terburu-buru. "Kenapa Tuan meninggalkan mereka berduaan di sana?"

Tidak berniat menanggapi, Agam tetap melangkah cepat hingga melewati pintu kafe dan langsung menuju tangga. Tanpa ragu, ia menaiki anak tangga menuju rooftop.

Viona mengikuti dari belakang. Jarak di antara mereka tetap terjaga, seolah ada garis tak kasatmata yang tidak berani ia lewati.

Udara di rooftop terasa lebih terbuka. Lampu-lampu kota menyala di kejauhan. Sementara angin tipis menggerakkan ujung rambut Viona.

"Tuan," Viona kembali membuka suara setelah mereka berhenti di dekat pagar besi. "Bagaimana dengan Nona cantik tadi?" Sepinya pengunjung di rooftop membuat Viona lebih leluasa bicara.

Agam menghembuskan napas pendek. Tatapannya lurus ke depan, tidak berniat untuk menjelaskan apa pun. "Kau ini berisik," katanya tanpa emosi.

Menoleh sekilas, Agam menjatuhkan pandangannya pada apron yang masih melilit tubuh Viona. "Lepas dulu itu," lanjutnya dingin. "Kau tidak sedang bekerja sekarang."

Viona refleks menunduk, jemarinya meraih tali apron. Gerakannya ragu, seolah baru menyadari keberadaannya sejak awal.

Seorang karyawan kafe menghampiri mereka, membawa buku menu untuk ditawarkan.

Agam memesan beberapa menu camilan ringan dan secangkir kopi, sementara Viona hanya memesan segelas air mineral.

"Seharusnya Tuan tidak meninggalkan nona cantik itu berdua dengan Tuan Hyun," ujar Viona setelah pelayan pergi.

Agam mengangkat sebelah alis. Pandangannya beralih padanya untuk pertama kali sejak mereka tiba di rooftop. Ada kilat tipis di matanya, bukan marah, melainkan heran.

"Kau benar-benar peduli," katanya datar.

Ia kembali menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya mengetuk pada permukaan meja. Menatap Viona yang masih memikirkan Hyun dan Veronica.

"Kau ingin tahu apa yang terjadi di sana?" Agam bertanya tanpa nada ingin tahu.

Viona terdiam sesaat. Ia menautkan kedua tangannya di pangkuan. "Tidak, tapi..."

"Kalau begitu, berhenti bertanya," potong Agam. Tatapannya kembali lurus ke depan, dingin dan tidak terbaca.

Viona menelan ludah. "Saya hanya khawatir," ucap Viona akhirnya. Suaranya lebih pelan. "Seharusnya anda tidak meninggalkan mereka berdua di sana. Tuan Hyun itu kan..."

"Kau mengkhawatirkan mereka?" potong Agam cepat. "Apa kau lupa, sudah berapa minggu kita tinggal berdua di sana," lanjut Agam. Menatap lurus, tenang, namun menyodorkan fakta sederhana.

"Lihat," lanjutnya singkat. "Tidak terjadi apa-apa bukan?"

Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa nada membela atau menyudutkan. Justru ketenangan yang membuat Viona terdiam.

Viona ingin kembali membuka mulut. Namun terpaksa ia urungkan saat dua orang pegawai kafe menyajikan pesanan mereka.

Agam kembali bersandar.

"Jangan lagi mencoba mencampuri urusan orang lain," katanya.

Angin rooftop berhembus dingin, lebih dingin dari biasanya.

"Tapi, Tuan... Tuan Hyun dan nona itu berbeda dengan kita." Viona kembali bersuara, meski lebih ragu dari sebelumnya.

Agam mengerutkan dahi, lalu mengangkat sebelah alis. Tatapannya beralih, menekan tanpa perlu suara keras.

"Apa bedanya? aku laki-laki normal dan kau perempuan dewasa" tanyanya tenang.

Meremas jarinya, Viona kembali terdiam. kata-kata seolah tertahan di ujung lidah.

"Tentu saja berbeda. Saya dan Tuan itu kan pembantu dan majikannya," ucap Viona. "Sementara Tuan Hyun dan Nona cantik tadi... mereka satu level," imbuh Viona pelan.

Agam terdiam sesaat, ucapan Viona justru mengingatkannya pada seseorang yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya.

"Tidak ada yang berbeda. Yang membedakan hanya jenis kelamin. Pria dan Wanita. Bukan status sosial," ujar Agam.

"Tapi tetap saja. Saya khawatir mereka..."

"Kau khawatir mereka melewati batasan?" potong Agam cepat. "Mereka bahkan sudah melewati batasannya sejak dulu," gumam Agam dalam hati.

Viona tertunduk pelan. "Itu..."

"Veronica bukan orang asing bagi Hyun," ucap Agam datar.

Viona terdiam.

"Mereka sudah saling mengenal lama," lanjut Agam. "Lebih lama dari yang kau kira."

Ia meraih cangkir kopi dari atas meja. Uap tipis mengepul, namun ekspresinya tetap beku.

"Jadi... jangan lagi bicara soal mereka," lanjut Agam penuh penekanan.

Sementara Agam dan Viona menghabiskan waktu di kafe.

Di apartemen Agam, suasana terasa ganjil. Hyun dan Veronica duduk berhadapan di meja makan, namun tak ada percakapan. Hanya keheningan menggantung, memanjang bersama waktu yang terus bergerak.

Veronica menghela napas pelan. Rasa jenuh mendorongnya meraih tas, menyampirkannya ke bahu seolah bersiap pergi.

"Apa kau sengaja datang ke sini untuk merayu sahabatku?" tanya Hyun akhirnya, suaranya memecah kesunyian.

Veronica menoleh cepat. Matanya membesar sesaat, lalu mengeras. Rahangnya mengatup, seolah menahan sesuatu yang mendidih di dadanya.

"Kau pikir aku serendah itu?" ucapnya dingin. "Datang ke sini hanya untuk merayu seorang pria?"

Hyun menatap Veronica lekat-lekat. Sorot matanya berlapis, sulit dibaca, ada bara yang belum padam, ada rasa yang belum sempat diakui. Tangannya mengepal di atas meja.

"Lalu apa yang kau lakukan di sini? datang seorang diri ke apartemen seorang pria dewasa." Suara Hyun ditekan rendah, namun getarnya tetap terasa.

"Aku hanya memenuhi undangan rekan bisnisku," balas Veronica cepat.

Hyun mendengus pelan. Pandangannya bergeser sesaat, lalu kembali menusuk. Keraguan jelas terpahat di wajahnya.

"Kau pikir aku percaya?" katanya. "Agam bukan pria yang suka membicarakan urusan pekerjaan di apartemennya." Hyun berdecak keras. "Dia itu..." Kalimat itu menggantung, menyisakan sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan.

"Aku sudah tidak perduli dengan apa yang kau pikirkan tentangku," jawab Veronica.

"Kau memang tidak perduli apapun. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri," ucap Hyun berusaha menyudutkan Veronica.

"Hyun, kau..."

"Kau sengaja membiarkanku pergi setelah berhasil menipuku," potong Hyun cepat.

"Kau bahkan tidak bisa menjaganya," imbuh Hyun.

Veronica menggeleng pelan, sebuah rasa yang tidak bisa ia ungkapkan membuatnya terpaksa menahan segalanya. "Itu tidak benar. Aku...aku sudah berusaha keras menjaganya." Veronica terdiam. Bahunya turun, pandangannya jatuh ke lantai.

"Kau hanya berpura-pura. Andai kau tidak ceroboh. Mungkin sampai saat ini dia..."

"Cukup, Hyun." Veronica memotong. Ia mengangkat wajahnya. Sorot matanya tegas meski lelah.

"Aku tidak ingin membicarakan itu lagi."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik. Langkahnya menjauh, meninggalkan kata-kata yang tak sempat selesai terucap.

****

Angin bertiup makin kencang, menyusup ke sela-sela pakaian. Udara malam semakin terasa menusuk.

"Sebaiknya kita kembali, Tuan. Sudah lebih dari satu jam kita berada di sini," ujar Viona sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Agam melirik arloji di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah bergeser jauh. Ia memberi isyarat pada seorang pegawai untuk membawa tagihan.

Selembar kertas diletakkan di atas meja. Agam merogoh saku celananya sekali, lalu sekali lagi. Tangannya berhenti. Alisnya berkerut tipis.

Viona yang memperhatikan gerak-geriknya ikut menegang. "Jangan bilang... Tuan tidak membawa dompet?" tebaknya pelan.

Agam terdiam. Ia berdehem singkat, seolah menutupi kekakuan yang mendadak muncul. Baru saat itu ia teringat. Dompet dan ponselnya tertinggal di atas nakas.

"Hari ini." Sudut bibirnya terangkat samar, "Aku sengaja membiarkanmu mentraktirku."

Kedua mata Viona membulat seketika.

****

1
Three Flowers
ciee.. Viona ikutan baper. Memang enak kalo mempunyai seorang pelindung
Three Flowers
dia lagi marah, Viona
Three Flowers
kamu terlambat, Damar
Three Flowers
mulai timbul sifat posesif nya nih
Three Flowers
apakah damar naksir viona?😅
Three Flowers
apa yang terjadi semalam?😅
Three Flowers
jadi sedih, ternyata dibikin nyaman untuk viona seorang diri, bukan bersama Agam
Three Flowers
berarti secara tidak langsung, Agam ingin rumah itu terasa nyaman saat ia mudik ke rumah mertua, ya? ciee...berasa nikah beneran, bukan sekedar kontrak 😍
Three Flowers
takut ada yang ngintip, ya Gam?
Three Flowers
perhatian banget Viona sama Agam😍
Three Flowers
Veronica masih cinta Hyun ya?
Three Flowers
ternyata viona berprestasi ya
Three Flowers
enak banget, duit segitu banyak buat pasangan beracun ini
Three Flowers
kenapa pamannya kejam sekali nyebut vio jalang?😭
Three Flowers
mereka mau kemana sih?
Three Flowers
minta ditampol mulutnya si Agam
Three Flowers
enak saja ngomongnya... nggak ikut mengandung malah mau ambil anaknya
Three Flowers
ish ish... yang dipanggil calon suaminya.. wkwk 😂
Three Flowers
daddy siapa ini maksudnya?
Teteh Lia: Daddy Rayyan, ayah angkat Agam. mantan suami bunda alya
total 1 replies
Three Flowers
jangan main jodoh2an saja, bu... Agam udah mau nikah sama cewek lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!