Zhefinca yang dua tahun telah menikah dengan Giovano, ia hanya bertemu satu kali saat pernikahan, dan setelah itu keduanya hidup dengan masing-masing namun status tetap menjadi suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membantu Zhefinca
Zhefinca keluar dari ruangan suaminya dengan lipsticknya yang sudah memudar. Ia mendapat tatapan mencurigakan dari staff Giovano karena penampilannya setelah keluar begitu berbeda dengan penampilannya saat ia datang.
Zhefinca tidak peduli dengan tatapan ataupun gosip di luar sana, karena apapun ceritanya ia adalah istri sah dari Giovano.
Sementara di rumah sakit, Sanaya masih terbaring lemah selama tiga hari ini. Perselingkuhannya dengan produser terkenal itu sudah membanjiri laman media sosial. Bahkan istri dari Roy juga sudah mengetahuinya.
Sanaya begitu terpuruk dengan keadaannya saat ini, ia bahkan tidak ada keberanian untuk menghubungi Kevin meskipun kondisinya begitu memprihatinkan.
Kevin benar-benar menghilang dari kehidupan Sanaya, ia bahkan sudah meminta maaf kepada orangtua Sanaya jika dia tidak bisa melanjutkan hubungan itu dengan Sanaya.
Ting! Ponsel Kevin berdering.
“Pak Kevin, saya harap Pak Kevin selalu baik-baik saja. Maaf jika selama ini banyak yang saya tutupi dari Pak Kevin” – Zhefinca
“Terimakasih Zhe, masih peduli dengan saya” – Kevin
“Hanya ini yang bisa saya lakukan Pak” – Zhefinca
Kevin menatap layar dan mencerna kalimat Zhefinca dengan baik. Seolah pesan itu menyampaikan jika dia tidak bisa menemuinya seperti biasanya. Jika dulu Kevin sedang dalam masalah, Zhefinca yang akan datang menghiburnya.
Tapi kali ini berbeda, Kevin sendirian bertemankan kesedihannya.
“Semoga Pak Kevin baik-baik saja disana” batin Zhefinca yang turun dari mobil kemudian masuk ke dalam apartemennya.
Ting! Pintu lift terbuka.
Kevin keluar dari lift, dan Zhefinca berdiri di depan pintu lift tersebut. Mata keduanya bertemu, senyum manis Zhefinca terlihat seolah dia sedang menyapa Kevin.
“Dari mana Zhe?” tanya Kevin.
“Dari kantor Giovano, Pak. Pak Kevin ma uke kantor juga?”
“Iya, ada launching buku punya Aldi. Selamat Zhefinca untuk pernikahannya, kamu berhasil membuat Pak Gio jatuh cinta”
“Terimakasih Pak. Kalau begitu saya naik dulu, mari Pak”
“Iya Zhe”
“Aku sendiri tidak tahu apa Gio memang sudah mencintaiku” batin Zhefinca
Sampai di unit apartemen milik Giovano, Zhefinca masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Matanya menatap ke seluruh penjuru ruangan, tempat itu begitu sepi nyaris tidak ada aktifitas.
“Kenapa hampa banget disini” ujar Zhefinca.
Ceklek! Pintu apartemen dibuka.
Zhefinca menoleh kearah pintu dan melihat Giovano telah kembali. Zhefinca mengernyit menatap kedatangan suaminya.
“Kok sudah pulang?” tanya Zhefinca heran.
“Selama ini aku sudah terlalu rajin bekerja sampai lupa waktu. Jadi apa salahnya sesekali menikmati waktu, sampai lupa kerjaan”
“Hahaha, baiklah. Mau minum?”
“Gak, aku cuma mau kamu”
Zhefinca hanya tersenyum menatap suaminya yang semakin mendekat, dalam benaknya ia berfikir sebenarnya apa yang membuat suaminya berubah, obsesi atau memang karena perasaan.
Keduanya duduk bersama, dan sedikit bercerita tentang hari ini. Tentang pekerjaan, dan membahas tentang masa depan Zhefinca sebagai penulis.
“Hm, Ro-sa?” tanya Zhefinca ragu.
“Sudah berakhir”
“Secepat itu?”
“Tidak ada toleransi untuk laki-laki lain”
“Oh”
“Jadi jangan coba-coba, sayang”
“Memangnya kamu lihat akua da laki-laki lain?”
“Ada Kevin yang begitu setia menunggu kamu di luar sana”
Zhefinca hanya diam, dia tidak merespon kalimat suaminya. Dia tahu jika Kevin memang menyukainya, tapi Kevin bukan seseorang yang gila bahkan sampai nekat.
“Kenapa diam?” Tanya Giovano
“Tidak ada. Hanya memperhatikan, supaya gak di buang lagi sama kamu”
“Lagi?”
“Kamu usir aku dari rumah”
“Kamu tahu kenapa?”
“Harusnya apapun alasannya tidak diperbolehkan. Tapi aku mau dengar”
“Karena ternyata kamu Ariel, kamu bisa survive sendiri tanpa aku. Uang bulanan itu, memang rencanaku, dan aku berharap kamu akan bergantung sama aku.” Jelas Giovano dengan tenang.
Zhefinca menaikan alisnya, dia masih berusaha mencerna kalimat Giovano tentang ‘bergantung’.
“Kenapa kamu berharap aku bergantung? Bukannya kita hanya sebatas kontrak?” tanya Zhefinca.
“Karena kamu masih terlalu muda untuk berjuang sendiri di kota ini, aku hanya mau kamu nurut, dan tetap bisa di kendalikan. Ternyata aku salah, kamu sangat liar sayang”
“Kamu gak suka yang liar?”
“Tadinya aku gak suka, ternyata setelah dicoba jadi candu”
Zhefinca menarik dasi Giovano sehingga tubuhnya mendekat kearah wanita itu, Zhefinca mendaratkan ciumannya di bibir Giovano. Begitu lembut, tidak seperti biasanya.
Setelah itu Zhefinca meninggalkan Giovano dan mengangkat telepon dari teman lamanya. Sementara Giovano masih sibuk dengan ponselnya untuk mengontrol pekerjaannya.
“Zhe, aku di dekat rumah kamu” – Tyara
“Aku di apartemen sekarang Ty. Sudah lama gak tinggal disana. Kamu berapa hari disini?” – Zhefinca
“Lama Zhe, aku ada pekerjaan disini. Kita bisa bertemu?” – Tyara
Sreekk!
Giovano memeluk tubuh istrinya, lalu mencium tengkuknya membuat Zhefinca meremas pergelangan tangan suaminya.
“O-oke Ty, telpon aja nanti” – Zhefinca
“Thanks Zhe” – Tyara
Tut! Panggilan telepon dimatikan.
Sementara Giovano masih menjelajah leher jenjang istrinya dengan lidahnya dan membuat Zhefinca mengerang kecil.
“Triak sayang, jangan ditahan” ucap Giovano.
“Ahhhkk” pekik Zhefinca ketika Giovano menggigitnya pelan.
“Siapa yang telepon?”
“Tyara”
“Tyara? Siapa dia? Bukannya selama ini kamu gak ada teman”
“Teman sekolahku dulu”
“Hmm, ada pria lain yang menghubungi kamu?”
“Gak ada”
“Oke”
Giovano melepaskan pelukannya dan mencium pundak Zhefinca. Kemudian Giovano memilih untuk naik dan mengganti pakaiannya agar lebih santai.
Sementara di rumah sakit, istri dari Roy tengah membuat onar, dengan menyerang Sanaya yang masih dalam proses pemulihan.
Kehebohan itu begitu ramai di media sosial, sementara film yang di gadang-gadang akan meledak kini mendapat penilain negatif oleh publik karena produser film tersebut tersandung skandal yang begitu besar.
Dengan kehebohan media, Roy benar-benar tidak memiliki keberanian untuk muncul di hadapan media, meski hanya menjelaskan pembelaan dirinya.
Garapan film tersebut mandek, tidak di lanjutkan karena terancam rugi. Sedangkan Zhefinca hanya bisa mengikuti keputusan apapun yang akan di tempuh untuk film tersebut.
Namun berbeda dengan Roy, Giovano justru tengah bergerak membantu istrinya.
“Kalau mereka begitu menyukao Zhefinca, harusnya dengan munculnya Zhefinca dengan mengatakan ini kisahnya, itu tidak akan mempengaruhi meski Roy tersandung skandal” ujar Giovano.
Ia mengambil ponselnya, lalu meminta Arka menyiapkan semua termasuk konferensi pers besok pagi. Dan film itu akan diambil alih oleh Giovano untuk menggantikan posisi Roy sebagai produser.
Ting! Ponsel Zhefinca berdering.
“Besok ada konferensi pers, diminta semua kru, pemain dan Ariel selaku pemilik cerita ini hadir dalam acara tersebut”
“Apapun hasilnya, aku sudah siap” batin Zhefinca.
Giovano turun dari tangga, Zhefinca menatap suaminya dengan lekat kemudian tersenyum manis.
“Mau keluar?” tanya Giovano
“Kemana?”
“Terserah kamu, mungkin kamu butuh udara segar”
Tidak menjawab dengan kalimat, namun Zhefinca justru mengangguk cepat menandakan jika ia menerima tawaran dari suaminya untuk mencari udara segar. Karena beberapa hari ini begitu banyak kekacauan yang ada dalam kehidupannya.