Perjalan cinta yang tak di sangka sangka, dengan 2 pasangan yang saling bersikap cuek dan dingin, saling mengagumi satu sama lain karena sikap wibawanya
Bibi sosok gus dingin yang memendam rasa dengan santri putri ketua pondok yang sama cueknya dan datarnya pada santri yang selalu membuat kesalahan, dan sama orang yang baru pertama kali dia kenal
kedekatan dari keponakan Bibi menjadi jembatan hubungan mereka, hingga di titik pernikahan yang menjadikan kejutan bagi para idola mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makin kritis
Nasywa masih terdiam dan menoleh ke arah Bibi yang kembali fokus pada setirnya
" Kenapa sayang?" tanya Bibi lagi melirik Nasywa
Dan perlahan isak tangis lirih terdengar dari Nasywa, membuat Bibi semakin heran
" Ning Syifa kok bisa seperti itu ya Gus, padahal 2 minggu yang lalu kita anter masih baik baik saja, dan gak kenapa napa, saya gak tega melihatnya" jawab Nasywa sambil menangis karena gak tega melihat Syifa yang begitu berubah semuanya
Bibi terenyuh mendengar jawaban Nasywa, dan kemudian mengelus kepala Nasywa lembut sembari fokus sama jalanan yang begitu padat
Bibi sudah semakin dekat dan semakin berani mengeluarkan keromantisan pada Nasywa
" Insyaallah baik baik saja, bantu doa ya " Ucap Bibi dan Nasywa hanya mengangguk sebagai jawaban
Kini Helly yang Jihan dan Zain naiki, serta di dampingi petugas kesehatan dari klinik Tadi, sudah mendarat di lapangan rumah sakit Jihan,
Dan saat sudah mendarat sempurnya, petugas dari rumah sakit Jihan langsung bergerak cepat, begitu juga dengan para dokter khusus yang sudah siap menangani Cucu kecil pemilik rumah sakit tersebut
Bangkar langsung bergerak cepat membawa Syifa ke ruangan Privat khusus keluarga yang sudah di siapakan sesuai permintaan Zain tadi
Di sana Jihan juga ikut masuk, tapi tidak untuk Zain, yang di minta untuk menunggu di luar
Sedangkan petugas medis dari klinik tadi langsung di antar balik kembali ke KDR
Di dalam Jihan dan para dokter yang lain mengambil beberapa sample dari darah pipis dan muntah Syifa yang tadi sempat muntah
Setelah selesai Syifa di minta untuk istirahat dan di temani oleh Jihan tentunya
" Nanti Bapak suruh masuk saja ya" Ucap Jihan pada mereka
" Baik dokter" jawab perawat yang hendak keluar
Tak lama mereka keluar dan sudah di tunggu oleh Zain
" Maaf bapak, kata ibu suruh masuk saja " ucap Perawat dan di angguki sama Zain
Kini Zain langsung masuk dan tak lupa mengucapkan salam
Zain berjalan ke arah Syifa yang sedang duduk dan gak mau tiduran
" Gimana sayang?" tanya Zain masih sangat khawatir
Jihan tidak langsung menjawab takut suaminya makin shok tentang keadaan Syifa yang menurut dugaan dari ciri ciri yang di alami Syifa saat ini
" Bobok nak... Ya sayang istirahat dulu" ucap Zain pada Syifa
" Adek mau duduk aja mbah Abah, kalau bobok gak enak, Uhuk uhuk..." Ucap Syifa sambil menata nafasnya yang masih sangat sesak
" Pangku mbah Abah ya, boboknya pangku mbah Abah mau?" tanya Zain dan Syifa mengangguk
Hingga akhirnya Zain naik ke bangkar dan memangku Syifa dengan posisi lebih nyaman lagi
" Sayang...." Panggil Zain lagi
" Nunggu hasil lab dulu ya Bah" ucap Jihan belum mau angkat suara dulu
Karena dia juga gak menyangka kalau Cucunya bisa sakit seperti ini
Sedangkan beberapa hari lalu masih baik baik saja
Padahal kalau hal seperti ini, apa lagi kalau sudah parah dan sampai kritis seperti ini senggaknya Saat di rumah Syifa juga sudah ada tanda tandanya
Dan Jihan sebagai tim medis juga gak akan membiarkan Syifa untuk balik ke pondok
" Ini mendadak sekali sih, " ujar Jihan dalam hati
" Ini gak mungkin juga" tambahnya masih memikirkan dan terus diam memikirkan Hal itu
Zain terus menatap Jihan yang terus terdiam, Zain gak berani bertanya dulu, karena Jihan saat ini juga sedang kena mentalnya karena kaget dan tiba tiba
" Mbah Abah, adek mau muntah" Ucap Syifa pada Zain dan membuat Jihan langsung menoleh padanya
Jihan langsung bergerak cepat dan langsung mengambil penampung muntahan Syifa
Hueek..... Huueekk.... Syifa memuntahkan isi perutnya yang belum di isi sedari pagi
Dan setelah muntah Jihan langsung mengelapnya dan memposisikan Syifa biar lebih nyaman lagi istirahatnya
Dan mepihat itu Jihan makin gak tenang, dengan tanda muntahan barusan itu sudah menandakan kalau Syifa semakin memburuk kondisinya
" Mbah Umi perut adek sakit, " keluh Syifa lagi dan Jihan menengkan Syifa lalu tangannya memencet tombol panggilan pada perawat yang lain
" Mau hajad mbah Umi" ucap Syifa dan Jihan lalu mengangguk tanpa menjawab dan menggendong Syifa untuk di bawa ke toilet
" Bantu ya Bah" ucap Jihan dan Zain mengikuti
Setelah dari toilet petugas rumah sakit sudah menunggu di sana
" Minta tolong siapkan semuanya, oksigennya tolong di ganti, dan alat monitor tolong di pasang" ucap Jihan lagi dan mereka langsung gerak cepat
Memang kalau bos besar yang berkata langsung sat set mereka gak ada yang berani bantah atau melawan
" Kenapa sayang?" tanya Zain pada Jihan
" Doakan cucunya ya Bah" jawab Jihan sambil mengelap air matanya yang hampir saja jatuh
Jihan gak mau nangis di hadapan Syifa dan terus berusaha menenangkan hatinya sendiri
" Abah duduk dulu, Cucunya biar segera mendapat penanganan tepat" ucap Jihan dan Zain kali ini nurut dan gak berontak lagi
Hingga Zain pindah ke salah satu sofa yang tersedia di sana
Melihat Jihan dan para dokter lainnya menangani Syifa dan melepas pakaian Syifa, dan memasang alat alat di dada Syifa dengan beberapa kabel yang nempel pada dada Syifa
Alat monitor sudah mulai aktif dengan menunjukkan angka angka yang berwarna merah
Itu tandanya kondisi Syifa tidak baik baik saja, karena kalau angka dalam monitor hijau itu sudah stabil, tapi kalau merah itu masih sangat kritis
Zain menundukkan kepalanya dan menutup kepalanya dengan kedua telapak tangannya menangis dan terus berdoa , ber dzikir kepada Allah meminta pertolongan pada Allah agar cucunya di beri kesembuhan
Kini Ryan dan Zula sudah menaiki pesawat jet pribadi yang saat ini di sewa, karena miliknya sedang di bawa El untuk bertugas ke luar negri masih dalam pelatihan
Di luar negri El dan Heny juga sudah mengetahui kondisi Syifa yang sedang sakit, tapi belum ada balasan dari Jihan yang masih fokus menangani Syifa
Dan tak lama Kini Bibi sampai di rumah sakit menyusul Umi dan Abahnya, dia gak pulang dulu dan langsung mampir ke sana
Nasywa masih mengikuti Bibi yang langsung menuju kamar privat khusus keluarga Zain
Saat masuk Jihan sedang duduk di sana dan menunggui Syifa yang masih duduk juga, karena terasa masih sangat sesak
" Assalamualaikum...." Ucap Bibi saat masuk
" Waalaikumsalam..." Jawab Jihan dan Zain menoleh ke arah mereka
" Mi Bah" ucap Bibi lirih dan lalu salaman pada mereka di ikuti oleh Nasywa
" Doakan adeknya ya nak, semoga bisa melewati ini semua" ucap Jihan saat salaman pada Bibi dan Nasywa
Nasywa memeluk Umi Jihan sembari menangis karena gak tega melihat kondisi Syifa yang saat ini justru penuh alat alat di badannya
selamat ya wi. semoga menjadi SaMaWa