TAHAP REVISI.
Pria idaman seluruh wanita adalah, kaya dan tampan. Seluruh kehebatan itu ada dalam diri seorang Davin sang Trillioner tampan dengan sejuta karisma. Pengusaha muda terkaya di Dunia. Tidak ada apapun yang tak bisa ia dapatkan dalam genggamannya. Tak hanya di luar, di dalampun pria ini sangat-sangat menakutkan.
Namun apa yang terjadi jika seorang Davin, dibuat resah dan kebingungan oleh seorang gadis sekolah menengah yang pertama kali ia temui dan langsung menarik perhatiannya. Seorang gadis dengan surai rambutnya yang panjang, terurai dengan indah di tengah kerumunan siswa yang sedang tawuran.
Peringatan : percayalah kalian tidak akan bisa berhenti memikirkan cerita ini setelah kalian membacanya. 😏
SEGALA BENTUK PLAGIAT DILARANG MENDEKAT💣💥
Ayok mampir 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23 - Davin's Side
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Davin POV
*Flashback On*
"Dave bangun!" Kurasakan tubuhku berguncang dengan suara lembut kekasihku.
"Dave, ayo bangun!" Kurasakan sebuah ciuman di rahangku, lalu mengecup kedua mataku bergantian.
"Bangun! " Aku terusik, namun tersenyum senang dalam hati.
Pagi hari yang cerah dimulai dengan ciuman manis orang yang kau cintai? Hari ini akan berjalan dengan indah. Mataku terbuka dengan perlahan, menatap kekasihku dengan senyuman.
"Good. Sekarang cuci muka terus sikat gigi dan turun ke bawah setelahnya okey." Aku menggangguk lemah, sedangkan Vania langsung beranjak dengan cepat keluar dari kamar. Aku mengambil ancang-ancang untuk beranjak, hingga akhirnya tertunda saat mendengar ponselku berdering.
Mataku menatap diam id caller di layar ponselku. Nama ini, nama yang sudah lama ini bahkan tak pernah kupikirkan setelah berhubungan dengan Vania. Dia Stacey. Dengan berat hati aku mengangkat telfon tersebut.
"Halo."
"Hai, sayang. Aku di kantor kamu sekarang, kamu kok belum datang?"
"Aku tidak bekerja hari ini." Jawabku mencoba dengan nada selembut mungkin.
"Kata Steve kamu lagi istirahat, kamu sakit, aku ketempat kamu ya? Kamu di rumah yang mana?" Tanya seseorang dibalik sana dengan panjang lebar dan nada khawatir.
Sial, bagaimana sekarang? Dia wanita yang nekat, bisa-bisa dia datang kesini dan Vania akan mengetahuinya.
"Aku akan datang ke kantor sekarang, kamu tunggu di ruanganku saja, okay?" Ucapku sangat lembut.
"Kamu yakin? Aku harus melihat kamu hari ini, aku sangat merindukanmu sayang." Ucapnya dan aku yakin sebentar lagi aku akan muntah mendengarnya.
"Aku akan menemuimu, aku juga sangat merindukanmu. Tunggu aku dan diamlah disana!" Jawabku lalu menutup panggilanku dan langsung beranjak mandi dengan cepat.
Aku menuruni anak tangga dengan balutan seragam kerja. Kutatap Vania yang baru saja selesai menata makanan di meja, menatapku dengan pandangan heran. Aku tau dia heran menatapku berpakaian rapi, padahal aku sudah janji untuk tidak bekerja.
"Morning." Aku menghampirinya dan mengecup singkat pelipisnya.
"Kau bekerja?" Tanya Vania.
"Ya, aku mendapat telfon kalau client penting akan datang. Mau tak mau aku harus datang bekerja hari ini." Jawabku. Kutatap dirinya dengan wajah kecewanya. Aku tau dia telah merancang hari ini dengan indah.
"Baiklah, jangan terlalu lelah." Ujarnya lemas dan aku hanya bisa mendehem, tak sanggup melihat wajahnya yang sedih.
"Maafkan aku, aku berjanji akan menyelesaikan ini semua secepat mungkin. Aku akan mengganti hari ini dan membuatmu bahagia selamanya. Tunggu aku sayang." Batinku menatap kekasihku lembut, lalu memakan sarapanku dalam diam dan berangkat
***
Aku melangkah cepat ke dalam ruanganku, lalu masuk ke dalam setenang mungkin. Kudapati Stacey duduk dan menatapku dengan senyum gembiranya. Ia beranjak dan berlari memelukku.
"Aku merindukanmu."
"Urusanmu sudah selesai di Jepang?" Tanyaku menatapnya. Aku melepas pelukan kami dan duduk di kursi kebesaranku.
"Udah. Aku menyelesaikannya secepat mungkin supaya bisa bertemu denganmu." Ucapnya menatapku dengan senyum manisnya yang tak luntur.
"Papamu?" Tanyaku lagi.
"Papa, masih di Jepang. Papa memutuskan tinggal di Jepang selamanya dan menyerahkan perusahaan padaku." Jawabnya.
"Lalu?"
"Papa ingin bertemu denganmu untuk membahas pernikahan kita. Kapan kita akan ke Jepang bersama untuk bertemu Papa?" Tanyanya dengan nada cemberut, sedangkan aku mencoba menahan diri untuk tidak muak dan menatapnya dingin.
"Sabar ya, tunggu semua hal aku beresin." Ucapku lembut.
"Terutama kamu dan Papamu." Tambah batinku kejam.
"Kau selalu bilang begitu, kapan itu akan terjadi?" Tanyanya dengan wajah kesal.
"Secepatnya." Jawabku dingin dan menatapnya lekat, memberikan jawaban bahwa secepatnya aku akan menyingkirkanmu dan Papamu.
Stacey melangkah ke arahku, lalu duduk di atas pangkuanku sambil merangkul leherku. Kutatap wajahnya yang masih cemberut memuakkan, namun semua kutahan dalam diriku.
"Kau merindukanku?" Tanyanya.
"Ya, aku merindukanmu." Jawabku lembut dengan tatapan penuh cinta andalanku.
"Kau bohong, kau tidak merindukanku."
Ucapnya kesal dan aku mencoba untuk membujuknya dengan menahan diriku yang menggejolak ingin melemparnya dari hadapanku, membiarkan ia menciumku dengan liar. Lalu Randy datang menginterupsi kegiatannya dan aku bersyukur senang dia datang dan wanita itu pulang setelah berbincang sebentar.
Aku melakukan pekerjaanku di kantor dengan cepat untuk bertemu dan meminta maaf pada kekasihku yang pasti masih kecewa dengan janji yang kubatalkan.
Hingga, Steve datang dan memberitahu bahwa Vania datang saat makan siang dan melihat aku dan Stacey di ruangan.
Tubuhku terdiam kaku saat itu juga dan bersumpah serapah. Tidak jangan secepat ini, aku belum selesai membereskan ini semua. Aku belum siap dia mengetahui bahwa aku seorang iblis berdarah dingin. Sedikit lagi sayang, kumohon jangan membenciku.
***
Namun, aku terduduk rapuh di dalam kamarku dengan wajah menyesal. Aku hampir membunuhnya dengan tanganku sendiri, menamparnya dengan mudah, menyakitinya hingga ia membenciku.
Aku yang menyakiti wanitaku sendiri, menyakiti hati lembutnya, menghilangkan senyum di wajahnya dan mematahkan kepercayaannya. Membuatnya menangis sepanjang hari dan sepanjang malam. Mempertahankannya dengan alasan yang membuatnya semakin membenciku, mengatakan bahwa dia sudah kubeli oleh ayahnya, tanpa sadar menekankan bahwa dia adalah barang yang sudah kubeli.
Aku benar-benar tak siap menceritakan padanya, bahwa aku menggunakan Stacey untuk dapat merebut kekuasaan Papanya. Memusnahkan ia dan papanya dan mengalihkan kekuasaan mereka padaku. Aku benar-benar tak siap dia menatapku dengan wajah ketakutan mengetahui aku adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Namun langkah yang kuambil, membuatnya sangat membenciku. Membuatnya menangis dan kecewa hingga membuang cincin pemberianku. Lambang cinta yang kupikirkan sampai gila saat itu.
Tunggu sebentar lagi jangan membenciku terlalu dalam. Walau dia membenciku, aku tak akan membiarkannya pergi dari hidupku. Karna dia adalah hidupku, aku tak akan sanggup hidup tanpanya.
Aku sadar karma sudah memainkan perannya. Kutukan yang diucapkan si tua itu juga sudah memulai permainannya. Aku yang berdosa dan Tuhan menarik Vania dari sisiku.
Tuhan untuk pertama kalinya aku meminta padaMu. Untuk pertama kalinya aku mengakui keberadaanMu selama hidupku yang hancur ini. Tolong jangan rebut dia dariku, Dia satu-satunya hartaku. Hartaku yang paling berharga, nafasku dan hidupku.
Flashback off
bersambung....
semoga kalian bisa memahami yang dialami Dave dari sisi dirinya. Dan semoga kalian memahami dan dapat menebak apa yang akan selanjutnya terjadi pada dave melalui otak author dan pemikiran yang sudah author telepati kepada kalian.
Apa kita tetap harus balas dendam pada dave? 🤔 Menurut kalian gimana?
Jangan lupa like, share dan komen.
bye.. 😘💕*