Setelah perceraian kedua orang tuanya, Dion diharuskan tinggal bersama sang ayah. Kehidupan Dion pun berubah drastis manakala sang ayah menikah lagi. Dion yang kala itu hanya seorang anak kecil, selalu merindukan sosok ibu kandungnya namun tidak bisa melakukan apa-apa.
Setelah bertahun-tahun kehilangan kontak dengan sang ibu, Dion yang beranjak dewasa mulai mencari tahu tentang keberadaan ibunya. Dengan sedikit petunjuk yang didapat Dion akhirnya pergi mencari keberadaan sosok wanita yang selama ini dirindukannya. Berhasilkah Dion bertemu kembali dengan sosok sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Pergi Bersama Teman
Mirna pulang ke rumah setelah ke luar entah kemana. Ia masuk ke dalam rumah dan kebetulan Maya duduk di ruang tamu sedang membaca majalah. Sekilas Maya melihat gelang emas yang melingkar di pergelangan tangan Maya. Mirna mendekat dan duduk di samping Maya.
Mirna: "Lagi baca apa sih, May?"
Maya: "Majalah."
Mirna: "Majalah artis, ya? Ada gosip terbaru apa?"
Maya: "Bukan, Bu! Ini majalah fashion bukan gosip artis."
Mirna: "Oh, Ibu kirain ada gosip artisnya."
Maya tidak menanggapi ocehan Mirna. Ia merasa agak risih tiba-tiba mertuanya banyak tanya.
Mirna: "Ngomong-ngomong.... Maya, gelang yang kamu pakai bagus ya? Emas asli itu?"
Maya: "Ngapain Ibu tanya soal gelang aku?"
Mirna: "Eh... Hehehe..."
Maya: (Membatin) "Malah ketawa gak jelas gitu. Kayaknya ini ada maunya deh."
Mirna: "May, em... Ibu pinjam gelangmu itu sebentar boleh ya?"
Maya: "Pinjam? Buat apa?"
Mirna: "Ya buat dipakai. Minggu nanti Ibu ada acara ketemuan sama teman-teman Ibu. Ibu pinjam sebentar gelangmu buat pakai ke acara itu. Boleh ya?"
Maya: "Enggak. Ibu pakai perhiasan punya Ibu sendiri dong!"
Mirna: "Ibu mana punya perhiasan. Ibu pinjam ya! Sebentar saja. Habis pulang dari acara langsung Ibu kembalikan."
Maya: "Enggak ya enggak."
Mirna: "Ih, kamu jadi menantu pelit banget sih! Itu juga belinya pakai uang Baron kan?"
Maya: "Mau pakai uang Baron atau enggak, Ibu juga gak bisa seenaknya maksa aku buat pinjamin gelang ini. Lagian Ibu kan acaranya ketemuan sama teman-teman Ibu. Bukan buat ajang pamer perhiasan atau kekayaan. Jadi ngapain mesti pinjam perhiasan dari orang lain buat dipakai? Apa biar Ibu diakui orang berada gitu?"
Mirna: "Kamu ini... Setidaknya beri muka buat Ibu dong! Kalau Ibu kelihatan gak punya apa-apa kaya gembel yang dicap jelek juga kan anak Ibu. Kan kamu sebagai menantu juga kena imbasnya. Dicap sebagai menantu yang tidak berbakti."
Maya: "Sudahlah... Omongan Ibu makin ngawur. Pokoknya aku gak mau pinjamin gelang ini. Mau dicap menantu jelek kek, gak berbakti kek, buruk kek, aku gak peduli. Gak ada urusan sama mereka. Kenal juga enggak. Buang-buang waktu aja."
Maya menutup majalahnya kemudian bangkit meninggalkan Mirna yang cuma bisa melongo melihat kepergiannya.
Mirna: "Huh... Keras kepala sekali sih. Beda sekali dengan Rita."
Mirna teringat saat dulu Rita masih menjadi menantunya. Meskipun sebenarnya Mirna kurang suka dengan Rita. Tetapi setiap kali Mirna meminjam barang milik Rita, wanita itu tidak keberatan selalu meminjamkannya. Bahkan Mirna pernah menghilangkan kalung emas milik Rita. Rita pun tidak mempermasalahkannya dan memaafkan kecerobohan Mirna. Walau sebenarnya kalung emas itu dijual diam-diam oleh Mirna. Mirna juga tidak pernah merasa bersalah sama sekali telah membohongi Rita. Mirna menghela nafas.
Mirna: "Gagal pinjam perhiasan. Apa aku gak usah pergi aja ya? Tapi nanti jadi bahan omongan."
Sedangkan Maya di kamarnya menggerutu sendiri.
Maya: "Apa-apaan nenek peot itu? Berani-beraninya mau pinjam gelang emasku. Dikiranya gampang apa ngumpulin uang buat belinya. Kere ya kere aja sok-sokan pinjam perhiasan orang cuma buat pamer. Duh, amit-amit punya mertua modelan begitu."
...⚜️⚜️⚜️...
Benny sedang menonton di rumahnya. Selama liburan Benny hanya menghabiskan waktu dengan menonton film kesukaannya di rumah. Ponsel diatas meja berbunyi. Benny langsung melihatnya.
┌────────────────────────┐ ✉️ Stella: Ben, besok ke rumahku ya! Ajak Dion!└────────────────────────┘
┌────────────────────────┐ ✉️ Benny: Jam berapa? Alamatnya mana?└────────────────────────┘
┌────────────────────────┐ ✉️ Stella: Jam 5 sore. Jalan Abc. Komplek Def no. 23B └────────────────────────┘
┌────────────────────────┐ ✉️ Benny: Oke. Tapi aku gak tahu rumah Dion. Gimana aku ajak dia pergi? Sedang hape aja dia gak punya. └────────────────────────┘
┌────────────────────────┐ ✉️ Stella: Pandai-pandai kamu cari lah! Pokoknya harus bawa Dion. Kalau gak aku gak kasih kamu masuk ke rumahku! └────────────────────────┘
┌────────────────────────┐ ✉️ Benny: Yah, tega banget sih Stell... ☹️ └────────────────────────┘
┌────────────────────────┐ ✉️ Stella: Wkwkwk... Dah ya aku mau suruh Tamara datang juga. └────────────────────────┘
┌────────────────────────┐ ✉️ Benny: Iya deh. Aku usahakan bawa Dion demi bertemu Tamara. └────────────────────────┘
Sekarang Benny berpikir bagaimana caranya mencari alamat rumah Dion. Sebab selama ini ia tidak pernah mengantar Dion pulang sampai ke depan rumahnya. Biasanya Dion selalu minta diturunkan di depan komplek saja lalu berjalan kaki sampai ke rumah.
Benny: "Oh iya... Aku tanya sama salah satu penghuni rumah di komplek itu saja. Harusnya mereka kenal dong dengan Dion. Besok aku coba."
...⚜️⚜️⚜️...
Siang menjelang sore, motor Benny melaju di jalanan beraspal. Tujuan pertamanya ialah mencari alamat rumah Dion untuk mengajaknya pergi ke rumah Stella. Benny akhirnya sampai di depan komplek perumahan tempat tinggal Dion. Nampak warung di depan komplek masih buka meskipun sepi tanpa pembeli. Dion menepikan motornya. Ia masuk ke dalam warung.
Benny: "Permisi..."
Ibu warung: "Iya. Mau beli apa, Dek?"
Benny: "Maaf, Bu. Ini saya mau tanya, kenal dengan anak laki-laki seumuran saya yang bernama Dion gak ya? Saya tahunya dia tinggal di komplek ini tapi gak tahu rumahnya yang mana."
Ibu warung: "Oh Dion... Kenal. Adek lurus saja, rumahnya kalau gak salah nomor A15. Yang cat dinding biru muda."
Benny: "Oke. Terima kasih, Bu. Saya permisi."
Ibu warung: "Iya."
Benny menghidupkan motornya meninggalkan warung. Ia mengendarai motornya dengan pelan sambil memperhatikan setiap rumah yang ada di komplek tersebut. Akhirnya ia melihat rumah seperti yang dikatakan oleh pemilik warung. Benny menepikan motornya dan turun. Pintu rumah terbuka namun terlihat sepi.
Benny: "Permisi... Bapak, Ibu..."
Mirna muncul dari dalam rumah.
Mirna: "Ada apa, ya?"
Benny: "Permisi, Nek... Apa benar ini rumah Dion?"
Mirna menatap Benny dari atas kepala hingga kaki.
Mirna: "Iya. Kamu siapa?"
Benny: "Saya teman sekolah Dion. Dion nya ada, Nek?"
Mirna mengangguk.
Mirna: "Sebentar."
Mirna kembali masuk ke dalam rumah.
Mirna: "Dion... Dion..."
Maya: "Apa sih, Bu? Teriak-teriak?"
Mirna: "Itu di depan ada temannya Dion."
Maya: "Teman?"
Dion: "Ada apa, Nek? Nenek panggil aku?"
Mirna: "Ada yang cari kamu di depan. Katanya teman sekolah."
Dion baru hendak pergi.
Maya: "Eh, kerjaan sudah beres belum?"
Dion: "Sudah."
Dion ke luar dengan terburu-buru. Sampai di teras ia melihat Benny.
Dion: "Benny... Ngapain kamu ke sini?"
Benny: "Ya ampun, Dion... Teman datang bukannya senang."
Dion: "Kok kamu bisa tahu rumahku?"
Benny: "Aku tadi tanya sama ibu di warung depan. Untung rumahmu gak susah carinya."
Dion: "Terus?"
Benny: "Yah, aku mau ngajak kamu ke rumah Stella. Tuh anak kemarin kirim pesan ke aku suruh kita ke rumahnya hari ini. Dia ngotot suruh aku ajak kamu. Kamu gak sibuk kan sekarang?"
Dion: "Enggak."
Benny: "Kalau gitu yuk pergi."
Dion: "Sekarang?"
Benny: "Iyalah. Masa tahun depan?"
Dion: "Bentar ya!"
Pas Dion masuk ke dalam ada Mirna di ruang tamu yang sengaja menguping pembicaraan kedua remaja itu.
Dion: "Nenek, aku ijin ke luar sama temanku ya!"
Mirna: "Oh, iya."
Dion pun pergi bersama Benny. Benny menyodorkan helm yang sudah ia siapkan untuk Dion. Dion memakai helmnya dan motor pun melaju pergi. Mirna masih mengintip dari balik jendela. Kemudian Maya muncul melihat Dion telah pergi bersama temannya.
^^^Bersambung...^^^
Mirna tipe ibu yg ga bener.. dia suka Rita krn bs dimanfaatin ternyata.. toh tetep aja dibuang suaminya dia oke" saja
bu Mirna sdh tua ga bs jd teladan buat yg muda