Ferdi Nichol Aditya Atmaja, seorang pria tampan berusia 27 tahun. Sangat suka meledek temanya Nova, yang kecanduan membaca novel online.
Bagi Ferdi cerita novel online yang dibaca oleh Nova sangatlah basi. Berbicara seputar perempuan miskin yang dinikahi oleh CEO dengan jalur di lecehkan terlebih dahulu.
Ferdi menilai itu semua adalah sebagai bentuk merendahkan kaum wanita. Ia mengkritik hampir semua novel online yang Nova baca. SAMPAI KEMUDIAN HIDUP FERDI BERUBAH SEPERTI CERITA NOVEL ONLINE.
Ya, ia diminta oleh ayahnya untuk menyelamatkan perusahan keluarga mereka. Dengan menikahi seorang janda kaya beranak tiga. Tentu saja Ferdi menolak, namun keadaan semakin hari semakin menghimpit.
Hingga akhirnya memaksa Ferdi untuk menempuh jalan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Axel
Setelah mendorong beberapa saat, mobil Clara akhirnya bisa diposisikan agak jauh dari bibir tikungan. Clara pun berterima kasih pada Ferdi karena sudah mau menolongnya.
Entah mengapa hari ini ia rindu memakai mobil tersebut. Padahal hari-hari biasa ia menggunakan mobil Bentley nya yang cukup anyar.
"Makasih ya, Fer. Tau begini mbak nggak pake ini mobil, karena ternyata nyusahin." ucap Clara.
Ferdi tersenyum lalu ia pun meminta izin memeriksa mesin mobil tersebut. Clara menyetujui, sebab rata-rata laki-laki lumayan mengerti mesin mobil. Tak seperti dirinya yang hanya bisa memakai, tanpa tau seluk-beluk yang ada di dalamnya.
Ferdi sendiri sejatinya hanya berniat menolong. Jika ia paham akan kerusakan yang dialami dan bisa memperbaikinya, kenapa tidak pikir pemuda itu.
Namun jika hal tersebut tak dapat dilakukan, Clara terpaksa harus menggunakan jasa bengkel mobil. Sebab itu satu-satunya cara yang dapat membantu.
Mungkin mobil tersebut hanya butuh di tarik oleh mobil Ferdi, untuk mencapai bengkel terdekat. Ferdi pun mulai berkutat, sementara Clara menunggu di pinggir jalan, sambil memperhatikan.
"Mbak kalau panas, ke mobil saya aja tuh."
Ferdi menyerahkan kunci mobilnya pada Clara. Clara sedikit terdiam, sebab Ferdi terasa begitu perhatian. Bisa dilihat bagaimana didikan orang tuanya terhadap pemuda itu.
Clara meraih kunci mobil tersebut, namun ia masih tetap menunggu di pinggir jalan. Toh ia belum begitu merasa kepanasan dan kasihan Ferdi jika harus dibiarkan sendirian.
"Itu kira-kira rusaknya apa ya, Fer?" tanya Clara pada Ferdi.
"Ini masih saya cek, mbak." jawab pemuda itu.
Maka Clara kembali menunggu, sementara Ferdi terus memeriksa. Selang beberapa saat Ferdi menghidupkan kembali mesin mobil Clara. Clara yang sejak tadi tak beranjak dari tempat dimana ia berdiri itu pun, takjub.
Ia tak menyangka selain bisa memukuli mantan suaminya, Ferdi juga bisa memperbaiki mobil yang ia miliki.
"Udah bener, Fer?" tanya Clara pada Ferdi.
"Udah, tapi ini nggak akan bertahan lama mbak. Paling jauh sepuluh kilometer. Mending mbak langsung bawa ke bengkel terdekat, daripada ngadat lagi." ucap Ferdi.
"Oh gitu?"
"Iya."
"Ya udah deh, mbak mau bawa ke bengkel aja. Toh masih ada mobil lain." ucap Clara.
Ferdi mengangguk, Clara memberikan kembali kunci mobil yang dipakai oleh Ferdi, dan begitupun sebaliknya.
"Mbak rumahnya masih jauh nggak?" tanya Ferdi lagi.
"Nggak terlalu sih, sekitar 10 menitan lah dari sini."
"Ya udah saya iringi dari belakang. Takutnya mogok lagi." ucap Ferdi.
"Emang nggak apa-apa?" tanya Clara.
"Nggak, santai aja." jawab Ferdi.
"Lagian saya cuma di suruh mama ambil laundry-an, karena orangnya lagi nggak bisa nganter." imbuhnya.
"Oh." Clara tertawa.
"Rajin juga kamu ternyata ya." lanjut perempuan itu.
Fedi hanya menarik sedikit kedua sudut bibirnya, dan tak lama mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing.
***
"Clara itu sudah mau dikenalkan sama cowok yang dimaksud oleh Glenca."
Adrian berujar pada Jeffri, yang kini bersiap menyantap makan siang di rumahnya.
"Gimana-gimana?" tanya Jeffri bingung. Lo ngomong apaan sih?. Kayak judul sinetron tontonan bini gue tau nggak." lanjutnya kemudian.
Adrian melebarkan bibir sampai kuping, sambil menghela nafas kesal.
"Gini ya Bambang. Si Glenca calon menantu gue kan gue suruh deketin si Clara. Supaya dia menjodohkan Clara dengan Ferdi."
"Iya, terus?" tanya Jeffri lagi.
"Nah, si Glenca ini kan bilang ke Clara kalau dia mau mengenalkan Clara sama cowok. Cowoknya itu ya Ferdi."
"Terus?" lagi-lagi Jeffri bertanya.
"Clara bilang, dia mau."
"Ribet banget lo ngomong. Bilang aja kalau Clara udah ready mau ketemu Ferdi."
Jeffri mengambil suapan pertamanya dengan sewot.
"Ya pokoknya gitu deh, intinya si Clara udah mau. Tinggal Ferdi-nya aja yang dipersiapkan.
"Maksudnya?"
"Jeff, lo biasanya cepat tanggap kayak tim SAR. Ini koq mudengnya lama banget. Dari tadi maksudnya-maksudnya mulu. "
Adrian kesal, sementara Jeffri tertawa kecil.
"Lo kan tau gue lagi banyak pikiran. Ini aja nasi udah nggak rasa nasi lagi di mulut gue." ujarnya kemudian.
"Terus rasa apaan?" tanya Adrian.
"Rasa keju."
"Ya kan emang nasi daun jeruk keju, Jeffri." Adrian tampak ingin mengirim Jeffri ke luar angkasa.
Lagi-lagi Jeffri tertawa. Bukan karena beban yang menghimpitnya tidak membuat down, tetapi ia tengah berusaha agar pikirannya selalu positif ditengah gempuran persoalan yang datang bertubi-tubi.
"Jadi si Clara mau dikenalkan sama Ferdi." tanya Jeffri kemudian.
"Iya, mau. Tapi kita persiapkan dulu si Ferdi-nya, biar nanti kalau ngobrol sama Clara bisa nyambung. Ferdi kan nggak ngerti banyak tuh soal perusahaan kita, kerjanya dia cuma bikin konten sosial media dan programmer." jawab Adrian.
"Dia harus diajarkan dulu mengenai seluk beluk perusahaan, biar bisa melobi Clara nantinya. Istilahnya kayak sales yang lagi mau mempromosikan produk, dia mesti tau produk knowledge-nya dulu." lanjut pria itu lagi.
Jeffri terlihat menarik nafas.
"Oke, kalau begitu lo atur aja. Suruh si Ferdi belajar sama John."
Jeffri menyebut salah satu petinggi sekaligus mentor dikantornya. John terkenal galak dan disiplinnya sangat tinggi.
Wujudnya seperti percampuran antara Sirius Black dan Sauron The Lord of the Rings. Ia memiliki otak matematika melebihi Jerome Polin serta kritis seperti mbak Nana.
Saat ini saja ia membantu Jeffri meredam karyawan yang protes akibat diadakannya kebijakan baru, untuk menanggulangi permasalahan yang ada.
"Yakin sama John?" tanya Adrian.
"Siapa lagi coba selain dia. Kalau sama gue ntar ngebantah mulu itu anak." jawab Jeffri.
"Ya udah kalau emang lo maunya gitu." ucap Adrian.
Tak lama Adrian pun menghubungi John melalui sambungan telpon.
***
"Ma, Axel malu tau."
Anak bungsu Clara yang berusia 12 tahun berujar pada sang ibu, ketika Clara telah berada di rumah dan mengawasinya dalam belajar.
"Mau kenapa?" tanya Clara heran.
"Teman-teman Axel bilang kalau daddy nikah sama ani-ani pelakor."
"Heh mulutnya, Axel."
Clara benar-benar kaget anaknya bicara demikian.
"Itu temen Axel yang bilang, soalnya mereka kan liat daddy di akun lambe curah. Waktu yang mama labrak di hotel sama itu cewek."
Clara jadi merasa bersalah, sebab saat itu saking kesalnya teman-teman Clara yang ikut melabrak, mereka sengaja merekam kejadian dan mengupload hal tersebut ke sosial media hingga di repost salah satu akun gosip.
Nando mantan suami Clara bersikeras jika ia dan si pelakor tidak sedang berselingkuh. Sebab Clara menemui mereka di depan hotel, dan bukan dikamar hotel.
Nando beralasan jika di hotel tersebut sedang ada seminar dan memang tengah ada seminar di hari itu. Ia ingin datang kesana dan tiba-tiba dilabrak. Saat itu Clara di bully oleh publik dan dikatakan telah menuduh suaminya macam-macam.
Padahal sebelum itu Clara menemukan riwayat chat mesra antara Nando dan si pelakor. Serta terdapat riwayat transfer sejumlah uang di rekening milik Nando kepada wanita itu.
Nando jugalah yang awalnya mengirim direct message duluan dan mendekati perempuan bernama Ninis tersebut.
Clara membiarkan saja publik menyalahkan dirinya. Terbukti setelah sebulan bercerai, Nando menikahi perempuan itu.
Barulah publik terdiam dan membentuk spekulasi baru. Bahwa memang benar Nando dan Ninis telah berselingkuh sebelumnya.
"Pokoknya, mama nggak mau Axel ngomong kayak tadi. Itu omongan kotor, nggak boleh kamu sebut."
"Ya Axel cuma malu aja. Bahkan salah satu musuh Axel di sekolah bilang ke Axel gini : Xel, kasihan ya nyokap lo cantik tapi ditinggalin. Itu bukti kalau yang murahan lebih hot. Dia sampe Axel tonjok mukanya dua kali."
Clara benar-benar miris, bahkan ia baru mengetahui soal itu. Terbukti jika sosial media memang merusak, bahkan untuk anak yang masih terbilang dibawah umur. Dan terbukti pula jika dalam perselingkuhan dan perceraian, anaklah yang selalu jadi korban.
s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
😍😍😍😍😍😍