Suyitno merubah namanya menjadi Alex, semua bermula dari ketidak sengajaan yang terjadi disebuah persimpangan jalan.
Seiring berjalannya waktu Suyitno menemukan jati dirinya yang sebenarnya, rahasia yang tidak pernah dia ketahui sepanjang umurnya. Bahkan ibunya yang selalu menutup cerita darinya tentang masa lalu yang terjadi sehingga dirinya hadir di dunia ini.
"Kamu bukan orang lain untuk diriku, tapi ada hubungan darah yang lebih dari itu" kata tuan Ali suatu hari pada Alex.
"Ibu bukannya tidak mau bercerita yang sebenarnya, tapi ada hal yang harus ibu lakukan untuk melindungi dirimu" ucapan ibu Suyitno semakin membuat Suyitno penasaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Mungkinkah Suyitno adalah takdir dan karma lain dari kehidupan dimasa lalu, mampukah Suyitno menerima segala hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya?
Lalu ke mana cintanya akan berlabuh setelah semua terbuka dan mengetahui siapa dirinya ?
"Cinta tidak memandang dari apa yang ada, tapi lebih dari sebuah rasa untuk selalu ada bagaimana pun keadaanya."
Siapa yang berkata demikian saat Suyitno tidak mempercayai cintanya?
Mirna, Meilan atau mungkin mis Lina?
Waktu memang membuat rahasianya sendiri untuk kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Sebenarnya
Hari-hari berlalu seiring waktu yang terus berjalan, mengikuti alurnya. Semuanya sudah ada takaran dan porsi masing-masing.
Setiap pertemuan ada perpisahan, ada yang harus dipertahankan tapi harus ada yang rela untuk dilepaskan juga.
Namun kadang manusia tak sadar bahwa keinginannya adalah ketamakan yang nyata. Menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.
*****
Alex masih saja disibukkan dengan urusan kantor meskipun sedang ada dirumah. Seperti hari Minggu ini, sedari tadi dia sibuk dengan laptopnya saja setelah menyelesaikan sarapan.Tuan Ali tampak mengeleng melihat kesibukan Alex yang sedang serius dan tak menyadari kehadirannya.
"Persis" guman tuan Ali untuk dirinya sendiri kemudian melanjutkan langkahnya searah teras samping rumah saat hape disaku celananya bergetar tanda ada panggilan yang masuk .Setelah mendudukkan diri di kursi teras tuan Ali segera menjawab panggilan tersebut dan tampak mulai membicarakan hal yang serius dengan seseorang diseberang sana.
"Hallo "
"....."
"Ya, segeralah datang dan lakukan sesuai rencana" kata tuan Ali
"....."
"Jangan terlalu lama, nanti buruan cepat sadar dan kabur entah kemana."
"....."
"Haha... tak perlu repot bawa oleh-oleh, kamu datang dengan selamat aja aku sudah sangat senang."
"....."
"Baiklah, aku tunggu kedatanganu secepatnya." Tuan Ali pun mengakhiri percakapannya tersebut dan menyimpan kembali hape disaku celananya.
"Pa..." Alex memangil pelan takut mengagetkan dan membuat terkejut .Tuan Ali pun menoleh dan tampak tersenyum meskipun terlihat dipaksakan.
"Papa ada masalah?" tanya Alex setelah dipersilahkan duduk di kursi bersebelahan dengan tuan Ali. " Tidak ada, papa baik-baik saja" jawab tuan Ali datar.
"Papa tidak mau cerita denganku?" tanya Alex sekali lagi dengan tatapan sayu, dia sadar jika dirinya bukan siapa-siapa.
Tuan Ali mengambil nafas panjang dan membuangnya kemudian berkata, "belum saatnya Lex, suatu waktu nanti kamu akan tau semuanya tanpa kecuali."
Alex hanya diam dan tidak bertanya lagi. Tuan Ali beranjak dari duduknya dan menepuk bahu Alex kemudian berlalu kembali masuk ke dalam rumah.
*****
Dua hari berlalu seperti biasa dengan kesibukan yang biasa juga, tidak ada yang spesial bagi Alex. Pagi-pagi sibuk persiapan ke kantor dan sarapan, sampai kantor sibuk cek email, tanda tangan surat-surat serta laporan yang sudah menumpuk di meja.
Untunglah, Meilan sekretarisnya itu sangat cekatan dan membantunya dengan baik. Meilan tentu saja sangat profesional dan mengesampingkan perasaannya jika sedang ada dikantor untuk bekerja, dan itu sangat dihargai Alex.
Tapi ada yang berbeda pagi ini, biasanya sebelum berangkat kekantor dengan papanya, Alex dan tuan Ali sarapan berdua saja.Tapi kali ini ada satu sosok laki-laki seumuran papanya yang sudah ikut duduk menunggu kedatangannya.
"Ini Alex, dan Alex... ini om Tio, baru datang dari Semarang." Tuan Ali memperkenalkan keduanya. Alex dan om Tio pun bersalaman, namun Alex merasa sedikit bingung saat om Tio berkata tentang dirinya.
" Sungguh tidak ada yang bisa membedakan, bahkan aku yang terbiasa mengawalnya saja terkecoh."
Tuan Ali terkekeh menanggapinya dan menepuk bahu om Tio.
"Jangan heran, kamu tahu yang sebenarnya." Om Tio hanya menangapi dengan tertawa kecil dan akhirnya tersenyum yang sedikit misterius bagi penglihatan Alex.
"Sudah, ayo sarapan dan kita bahas semuanya setelah ini." Tuan Ali berkata memberi instruksi.
Mereka pun sarapan dengan diam, dan Alex masih dengan segala pertanyaan. yang ada dalam hati serta pikirannya .
*****
"Kita mulai semua dari club malam yang biasa Alex datangi." Kata om Tio mengawali pembicaraan mereka bertiga diruang kerja tuan Ali yang berada di lantai atas bersebelahan dengan kamar tuan Ali sendiri.
Tuan Ali dan Alex tidak masuk kantor pagi ini, mungkin setelah makan siang baru berangkat saat pembicaraan ini selesai.
"Apa kamu yakin?" tanya taun Ali dengan serius.
"Hai, tentu saja. Bukankah semua berawal dari sana." Kata om Tio mempertahankan pendapatnya.
Alex hanya mendengar dan mengamati mereka berdua bicara dan sesekali mencoba mengangguk mengerti saat mereka bertanya padanya. Alex akhirnya paham siapa om Tio dan apa maksud dari kedatanganya sekarang.
Mereka bertiga akhirnya memutuskan segala hal yang akan mereka lakukan setelah ini. Mengingat kejadian itu sudah lama, hampir dua tahun berlalu. Om Tio sendiri harus mengingat segalanya dengan baik, dan harus teliti. Dia tidak ingin semuanya kembali kacau dan tidak ada hasil sesuai yang diharapkan.
*****
Malam berikutnya tampak Alex berada disebuah Club, membiasakan diri dengan suasana Jakarta dengan tempat yang belum pernah dia rasakan. Dia sedikit gugup tapi berusaha sewajar mungkin menampakan wajah datar sesuai yang diajarkan om Tio.
Dua hari sekali Alex datang membiasakan diri dan mempelajari situasi agar tidak merasa kaku dan gugup. Malam pertama datang dia ditemani om Tio sekedar pengenalan karena dia datang dengan menyamar sedang yang kedua Alex datang sendiri tapi tetap saja dipantau dari jauh oleh om Tio.
Om Tio sendiri harus kembali mengali informasi dan mengenali siapa aja yang sering berinteraksi dengan Alex di club. Seperti siapa nantinya yang pertama menyapa dan mengenali Alex setelah sekian lama tak terlihat, mungkin dari situ om Tio bisa mengambil kesimpulan awal penyelidikannya.
Alex harus tetap waspada karena dia sendiri tak tahu mana yang teman dan lawan diclub. Kadang manusia bisa menutupi dirinya dengan segala topeng untuk melakukan segala sesuatu sesuai keinginannya.
*****
"Wahhh... baru kelihatan bro!" teriak Toni yang tentu saja kaget melihat keberadaan Alex setelah sekian lamanya. Alex hanya tersenyum menanggapi dan duduk didepan bar seraya memesan sesuatu.
"Biasa." Pesan Alex pada Toni sang bartender. Dia harus terlihat biasa meskipun sebenarnya sangat gugup, apalagi club malam dengan segala hal yang tidak pernah terduga.
Alex sedikit kaget saat pesanan 'biasa' yang dia sebut adalah minuman beralkohol kualitas terbaik. Mana mungkin dia minum, dipastikan dia akan langsung mabuk setelah meminumnya. Tapi Alex tidak hilang akal, diapun mengedarkan pandangan seakan akan melihat ke arah panggung dan mencari mangsa.
Pranggg....
Gelas tequila milik Alex jatuh saat tangannya dengan sengaja menyenggol agar dia tidak harus meneguk minuman tersebut.
"Ahhh sial ... "Teriak Alex pura-pura kaget dan kesal dengan kejadian tadi.
"Mau diganti?" tawar Toni melihat kejadian tersebut tidak menyadari jika itu sebuah kesengajaan .
"Tidak usah, gue mau keluar bentar." Tolak Alex dengan wajah masih dibuat jengkel. Toni menangapi dengan mengacungkan jempolnya kearah Alex yang berlalu keluar Club.
Om Tio masih setia didalam mobil, menunggu Alex dengan segala peralatan yang dia bawa. Sebuah laptop dengan kamera menyala yang ternyata berhubung dengan alat kecil semacam kamera cctv yang dijepitkan disela-sela kancing atas kaos Alex.
Semua harus waspada agar tidak ada sesuatu yang terjadi diluar rencana karena itu bisa mengacaukan penyelidikannya.
*****
Di rumah saat tengah malam.
"ini Toni, bartender yang biasa menyapa dan tau sejak awal kebiasaan dan kesukaan Alex." Jelas om Tio menunjuk ke layar laptop miliknya yang menayangkan suasana Club tadi saat Alex datang.
Om Tio tentu tahu jika Alex sangat gugup tadi sehingga dia buru-buru keluar menghindari situasi yang mungkin Alex tidak bisa kendalikan sendiri.
Memang perlu penyesuaian yang memerlukan waktu akan kebiasaan Alex ini, apa lagi sekarang Alex bukanlah yang dulu. Semua hal ini masih asing dan tabu baginya, tapi om Tio yakin semua bisa diatasi secara perlahan dan penuh perhitungan.
"Sepertinya kamu harus sering-sering ke Club untuk menyesuaikan diri Lex." Ujar om Tio memberi penjelasan. Tuan Ali yang diam sedari tadi hanya memperhatikan sikap Alex dan perubahan wajahnya setelah mendengar apa yang dikatakan Tio.
"Alex perlu pembelajaran soal wanita malam juga, mungkin dari salah satu orang yang bermain dengan Alex bisa memberi sedikit informasi." Lata tuan Ali sedikit mengoda Alex, dan tersenyum saat Alex membelalakkan mata kaget.
"Hahaha... santai Lex... papa bukan mengajari dirimu mesum, hanya sekedar keahlian untuk menggali informasi saja dari mereka." jelas tuan Ali dan terdengar tawa om Tio setekshnta. Suasana yang tadi terlihat kaku dan tegang sedikit mencair hanya dengan sedikit perkataan tuan Ali yang sengaja menggoda Alex.
"Bener-bener, biar bisa naklukin Meilan lebih cepat." Ujar om Tio diantara tawanya.
Alex yang merasa jadi bulan-bulanan para pria dewasa itu hanya tersenyum kecut dan sedikit kesal tentunya, dia merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengalaman mereka berdua tentunya.
30-10-2023 | 14.40