Seorang pemuda dari Bumi modern bangun untuk menemukan dirinya di planet Blue star.
Setelah menyeberang ke dunia pararel, dia mengetahui bahwa di dunia ini hidup berdampingan dengan Pokemon.
Tapi, dia sadar dunia ini tidak lah seindah seperti yang kita tonton, karena Di setiap Sudut dunia sesuatu yang gelap sedang mengawasi, dan bagaimana dengan Arceus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Cahaya matahari pagi yang menembus jendela kamar James tidak membawa kehangatan yang seharusnya. Bagi James, cahaya itu terasa seperti lampu sorot interogasi yang memaksanya keluar dari kepompong kegelapan yang aman.
Di tangannya, cangkir porselen putih berisi susu hangat itu terasa panas di kulit telapak tangannya. Uap tipis mengepul dari permukaannya, membawa aroma manis laktosa dan sedikit sentuhan vanila. Itu adalah aroma yang menenangkan bagi siapa pun, aroma masa kecil dan kenyamanan. Namun bagi James, aroma itu memicu alarm bahaya di setiap saraf otaknya.
Jack berdiri di ambang pintu, kedua tangannya terlipat sopan di depan perutnya. Bayangannya memanjang di lantai karpet, seolah ingin menyentuh kaki James. Wajah pelayan itu tenang, dihiasi senyum tipis yang sabar—senyum seorang perawat yang menghadapi pasien rumah sakit jiwa yang sulit diatur.
"Minumlah, Tuan Muda," bujuk Jack dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Itu susu murni. Saya melihat sendiri saat diperah dari Miltank pagi ini. Tidak ada 'ibu' di dalamnya. Tidak ada yang tenggelam."
James menatap cairan putih itu. Dia tahu Jack tidak sebodoh itu untuk menaruh racun dosis tinggi di sini setelah adegan histeris tadi. Jack sedang bermain aman. Dia ingin membangun kembali kepercayaan "tuan muda yang gila" ini agar mau makan lagi. Susu ini kemungkinan besar bersih, atau hanya mengandung dosis yang sangat rendah untuk menjaga level obat di darah tetap stabil.
Namun, James tidak bisa mengambil risiko. Tidak satu tetes pun.
Tangan James gemetar—kali ini gemetar yang dia kendalikan dengan presisi aktor watak. Dia mengangkat cangkir itu ke bibirnya. Bibir cangkir menyentuh bibir bawahnya yang kering.
Jack memiringkan kepalanya sedikit, pupil matanya melebar sepersekian milimeter. Antisipasi.
"Gluk..."
James membuat gerakan menelan di tenggorokan. Jakunnya naik turun. Tapi dia tidak menelan cairannya. Dia menahan satu teguk susu hangat itu di bawah lidahnya, membiarkan rasa manis yang creamy memenuhi rongga mulutnya.
"Enak?" tanya Jack.
James menurunkan cangkir itu perlahan, lalu mengangguk kaku seperti boneka kayu. "Enak... hangat..." gumamnya dengan tatapan kosong.
"Habiskanlah. Anda butuh kalsium."
"Aku... aku mau ganti baju dulu," kata James tiba-tiba, suaranya kembali terdengar gelisah. Dia memeluk cangkir itu di dadanya secara protektif. "Aku tidak mau dia melihatku telanjang."
"Dia?" Jack mengangkat alis.
"Orang di dinding..." bisik James, melirik sekilas ke dinding kosong di sebelah lemari.
Jack menahan napas untuk tidak mendengus tertawa. Racunnya bekerja sempurna, pikir Jack. Paranoia dan halusinasi visual.
"Baiklah, Tuan Muda," kata Jack sambil membungkuk sedikit, menyembunyikan seringai kemenangannya. "Saya akan menyiapkan mobil di depan. Jangan lupa minum susunya sampai habis."
Jack berbalik dan melangkah pergi. Suara sepatu kulitnya yang mengetuk lantai kayu lorong terdengar semakin menjauh. Tap... tap... tap...
Begitu suara langkah itu menghilang di tangga, James melompat dari kasur. Gerakannya yang tadinya lamban dan gemetar berubah menjadi kilat yang efisien.
Dia berlari ke kamar mandi, membungkuk di atas wastafel, dan meludahkan susu yang dia tahan di bawah lidahnya. Cairan putih bercampur air liur itu meluncur turun ke lubang pembuangan, menghilang ditelan kegelapan pipa.
Dia kemudian menuangkan sisa susu di cangkir itu ke dalam wastafel yang sama, menyalakan keran air panas dengan aliran deras untuk membilas jejak susu di keramik putih itu. Dia memastikan tidak ada residu yang tertinggal.
"Bersih," gumam James.
Dia mengambil handuk wajah, mengelap bibirnya dengan kasar untuk menghilangkan rasa susu itu, lalu meletakkan cangkir kosong itu di meja samping tempat tidur. Bukti bahwa dia "patuh".
Sekarang, persiapan yang sesungguhnya.
James membuka lemari pakaiannya. Seragam Akademi Pelatih Nayan tergantung di sana. Kemeja putih bersih, jas biru tua dengan emblem Aliansi di dada kiri, dan celana panjang abu-abu. Itu adalah simbol status. Simbol elit.
James mengenakan pakaian itu dengan mekanis. Saat dia mengancingkan kemejanya, dia melihat pantulan dirinya di cermin besar.
Wajah tampan dengan fitur campuran Barat dan Timur itu tampak pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya (yang dia pertegas dengan sedikit bubuk arang tadi malam) membuatnya terlihat seperti hantu berjalan.
"Sempurna," pikirnya. "Hantu yang tidak berbahaya."
Dia berlutut di tepi tempat tidur, meraba kolong gelap di bawahnya.
"Deino," panggilnya dalam bisikan.
Sepasang mata tak terlihat menatapnya dari kegelapan. Dengusan napas hangat menyapa tangannya. Deino sudah bangun, waspada, tapi rasa sakit di kakinya membuatnya tetap diam.
"Masuk," perintah James, memegang Great Ball.
Cahaya merah menyapu kolong tempat tidur, dan naga kecil itu menghilang ke dalam kapsul penyembuhan portabelnya. James menyelipkan Great Ball itu ke saku dalam jasnya, tepat di atas jantungnya. Dia ingin Deino merasakan detak jantungnya, sebuah ritme yang menenangkan bagi Pokemon buta itu.
Di sabuk pinggangnya, dia memasang Poke Ball standar berisi Magikarp (yang dia pindahkan dari akuarium tadi dengan Net Ball khusus air agar tetap lembab) dan satu bola lagi berisi Ditto.
Tiga Pokemon. Satu ikan yang dianggap sampah, satu lendir peniru, dan satu naga sekarat.
"Ayo pergi ke neraka bernama sekolah," gumam James.
Dia meraih tas sekolahnya, memastikan buku-buku pelajaran menutupi kotak P3K mini dan beberapa berry energi yang dia sembunyikan di dasar tas.
Perjalanan menuju akademi terasa mencekik.
James duduk di kursi belakang mobil sedan hitam mewah milik keluarganya. Jok kulitnya dingin dan licin. AC mobil berdengung halus, menghembuskan udara beraroma pine sintetik yang membuat perut James sedikit mual.
Di kursi pengemudi, Jack menyetir dengan sarung tangan putih. Dia sesekali melirik James melalui kaca spion tengah. Tatapannya tajam, menyelidik, mencari tanda-tanda kegilaan baru.
James membiarkan kepalanya bersandar di jendela kaca yang dingin, menatap keluar dengan pandangan kosong.
Kota Nayan melaju di luar jendela.
Ini adalah kota yang aneh. Perpaduan antara teknologi futuristik sisa kejayaan manusia sebelum bencana, dan alam liar yang mengambil alih kembali. Gedung-gedung pencakar langit dari kaca dan baja berdiri berdampingan dengan pohon-pohon raksasa yang akarnya membelah trotoar beton.
Di jalanan, manusia dan Pokemon hidup berdampingan dalam harmoni yang rapuh.
Seorang wanita paruh baya berjalan dengan Skitty di dalam tas belanjanya. Seorang pekerja konstruksi menggunakan Machop untuk mengangkat balok semen. Di lampu merah, James melihat seorang polisi lalu lintas dengan Growlithe yang duduk tegak di samping motor patrolinya.
Ini adalah dunia yang hidup. Dunia yang bernapas.
Tapi James juga melihat sisi lain. Coretan grafiti di dinding gang yang bertuliskan "Waspada Invasi Abyss". Poster-poster orang hilang yang tertempel di tiang listrik, usang dimakan hujan. Dan tatapan waspada orang-orang setiap kali bayangan besar—seperti Pidgeotto—melintas di atas kepala.
Rasa takut itu nyata. Invasi Jurang (Abyss) bukan sekadar dongeng. Itu adalah bom waktu.
"Kita sudah sampai, Tuan Muda," suara Jack memecahkan lamunan James.
Mobil berhenti mulus di depan gerbang raksasa Akademi Pelatih Nayan. Gerbang itu terbuat dari besi tempa setinggi lima meter, dihiasi dengan patung Charizard dan Blastoise yang saling berhadapan.
"Apakah Anda butuh saya jemput sore ini?" tanya Jack.
James menggeleng pelan tanpa menatap Jack. "Tidak... aku mau jalan kaki. Dokter bilang... jalan kaki bagus untuk mengusir bisikan."
Jack tersenyum simpul. "Tentu saja. Hati-hati di jalan, Tuan Muda."