Kehancuran bagi seorang perempuan yang selalu menjaga kesuciannya, apabila mereka dinodai oleh seorang laki laki secara paksa.
Seorang gadis yang hidup sebatang kara adalah gadis malang yang berusaha untuk hidup hanya demi membuktikan kepada almarhum kedua orangtuanya jika dia bisa sukses.
Tapi suatu ketika, saat dia pergi untuk melamar pekerjaan tapi sayang sekali, hanya karyawan OB yang masih kurang dan Gadis tersebutpun tidak menolaknya.
Soreh hari dimana karyawan sudah pulang, Gadis tersebut masih setia disana, membersihkan satu per satu ruangan, tapi dia memasuki ruangan yang tidak ia ketahui bahwa itu adalah kamar CIO.
Gadis malang tersebut membaringkan badannya di kasur empuk tersebut hingga dia tak sengaja tertidur.
Seseorang masuk dengan keadaan mabuk berat, dia dengan nafsunya melihat wanita yang sedang tidur di tempat tidurnya, dengan mata yang sudah dipenuhi nafsu dan amarah dia memperkosa gadis tersebut dalam keadaan tidak stabil.
"Dasar pria brengsek,!" teriak gadis malang tersebut.
"Aku minta maaf, aku sungguh tidak sengaja," jawab laki-laki tersebut.
"Aku dalam keadaan mabuk berat tadi malam," lanjut pria tersebut.
apakah kisah mereka seperti apa, jika anda penasaran langsung baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thalib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengancam
Ayyan menatap Maminya dengan tatapan panik, dia tidak pernah memandikan seorang anak kecil seumur hidupnya.
Naya datang dan mengambil Dean dari gendongan Ayyan.
“Sini sama aunty,” ucap Naya lembut, membuat Dean hanya diam saat di ambil oleh Naya.
“Sekarang Aunty mandikan Dean sama Zean ya,?” ucap Naya dan hany di angguki oleh mereka berdua.
“Memangnya kamu bisa,?” tanya Ayyan dengan wajah kurang yakin.
“Mami tolong bantu Naya,” ucap Naya yang sebenarnya sama seperti Ayyan tidak bisa memandikan anak kecil.
Singkat cerita Dean dan Zean sudah dipakaikan baju oleh Mami Karla setelah mandi, saat ini mami Karla dan Naya lah yang menyuapi mereka berdua, Gavin dan Ayyanpun sangat antusias memakan masakan yang sangat enak menurut mereka, walaupun makanannya sangat sederhana tapi Lida tidak bisa menolak makanan tersebut.
“Daddy, mau di cuap cama Daddy,” ucap Zean membuat Ayyan langsung mengambilnya tanpa berbicara apapun.
“Om, kenapa kalau om makan, cangat banyak cekali,?” tanya Zean menatap Gavin.
“Masakan Mak mu sangat enak,” jawab Gavin apa adanya.
“Mommy om, bukan Mak,” protes Dean.
“Yah, terserah kalian intinya aku kenyang,” saut Gavin.
“Gavin, bisa bedakan nggak anak kecil sama orang yang seusiamu,?” tanya Mami Karla.
“Ya maaf,” saut Gavin dan melanjutkan makannya.
Ayyan saat ini sedang melajukan mobilnya ke arah kafe dimana Aila bekerja, dia menunggu tidak jauh dari kafe tersebut.
Mata Ayyan terus memandang pintu kafe berharap Aila sudah keluar dari sana.
Tidak lama kemudian Aila keluar membuat Ayyan segera turun dari mobilnya, Ayyan melihat Aila menaiki kendaraan bersama temannya yang tadi menjemputnya.
Davina dan Aila kaget saat seseorang tiba tiba menghalangi jalannya, Davina pun refleks memberhentikan kendaraan yang digunakannya.
“Apa yang kamu inginkan,?” tanya Aila turun dari motor.
“Ikut aku sebentar,” ucap Ayyan menarik tangan Aila tapi Aila memberontak untuk dilepaskan.
“Kamu siapa? Aku bukan siapa-siapa kamu, aku mau pulang,” ucap Aila tegas.
Tidak ada cara lain, selain mengancam Aila, itulah yang dipikirkan oleh Ayyan saat ini.
“Apa perlu aku masuk ke tempat kerjamu dan menggusurnya,?” tanya Ayyan dengan nada serius membuat Aila sangat kesal.
“Apa kamu sudah gila,?” tanya Aila dengan suara gak tinggi.
“Kamu pikir aku hanya bercanda,?” tanya Ayyan muslim melangkah ke arah kafe membuat Aila yang melihatnya langsung menahannya.
“Baiklah,” ucap Aila yang sudah tidak ada pilihan lagi.
“Kamu duluanlah Vina,” ucap Aila dan hanya di angguki olehnya.
Aila membuka pintu belakang membuat Ayyan menatapnya dan mengangkat suara.
“Apa kamu pikir aku supirmu,?” tanya Ayyan membuat Aila kembali menutup pintu mobil tersebut dan membuka pintu depan.
Ayyan melajukan mobilnya entah kemana, Aila hanya diam menatap keluar jendela, begitupun dengan Ayyan yang tidak tau mau berkata sesuatu.
Aila membuka suara karena sedari tadi mereka belum sampai-sampai juga.
“Kamu mau membawaku kemana? aku ingin pulang,” ucap Aila dengan suara dingin.
“Diamlah, aku tidak bakal menculikmu, aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu,” ucap Ayyan membuat Aila diam.
Ayyan memberhentikan mobilnya di sebuah tepi danau yang cukup luas dan sangat indah, udara segar menusuk kedalam hidung mereka.
“Ikutlah denganku,” ucap Ayyan singkat membuat Aila menuruti apa yang dikatakan oleh Ayyan.
Ayyan duduk di Padang rumput tersebut, Ayyan menoleh ke arah Aila yang hanya diam berdiri menatap ke arah danau.
“Duduklah,” ucap Ayyan membuat Aila sedikit menjauh untuk duduk.
“Cepat katakan, apa yang ingin kamu katakan, aku ingin pulang,” ucap Aila.
“Apa kamu sangat membenciku,?” tanya Ayyan.
“Tentu saja, aku bahkan sangat membencimu,” saut Aila dengan suara agak tinggi.
“Apa aku tidak punya kesempatan lagi untuk bisa memilikimu,?” tanya Ayyan membuat Aila menatapnya tajam.
“Aku bahkan sangat membencimu, bagaimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu,?” ucap Aila.
“Jika kamu memang tidak mau, apa aku bisa mengambil salah satu dari mereka,?” tanya Ayyan yang membuat Aila dengan wajah penuh emosi berdiri.
“Kamu jangan berani-berani menyentuh mereka, apa belum puas kamu membuatku sangat hancur, aku tau jika kamu itu orang yang berkuasa tapi ingat, aku tidak bakal pernah rela jika kamu mengambil mereka, kamu hanya datang disaat aku sudah membesarkan mereka, dan apa kamu masih punya otak berkata ingin mengambil mereka,” ucap Aila dengan suara emosi dan air mata yang sudah menetes.
cerita Aina - Ayyan sudah d ujung bahagia.
kukirim vote nya kak bt menemani karya mu.
sehat² selalu.
jangan kecapean ,biar mudah dlm menghasilkan karya
trus buat tulisan beasiswa kyk gini k
bukan biaya siswa