Warning......
Segala hujatan dan cibiran yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja bebas untuk di lontarkan. Itu akan kami terima sebagai saran untuk karya saya ini.
Jika kalian pernah mendengar kata IBLIS, itu pasti ada kaitannya dengan pembunuhan dan memakan manusia dengan banyak cara. Namun bagaimana jika ada seseorang yang menolong iblis? Dan bersahabat dengannya? Apa itu mungkin? Ini adalah karya saya yang berjudul "Tetangga Iblis" By : Novianingsih Juliani
Veby adalah seorang gadis SMA yang harus berpisah dengan keluarga nya. Karena ia harus bersekolah di sekolah baru dikarenakan adanya sebuah pertukaran pelajar antar kota.
Ia juga harus tinggal di sebuah apartemen dekat sekolah nya yang baru dan hanya bisa pulang saat libur sekolah atau hari raya karena jarak antara kedua kota tersebut sangat jauh
Hal aneh mulai terjadi saat ia baru saja pindah ke apartemen tersebut, yaitu di sebelah apartemen miliknya, yang ditinggali oleh seorang pria tampan yang kira-kira Satu tahun lebih tua darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 22
Malam hari hujan deras kembali mengguyur belahan bumi itu.
"Halo ma? Mama gak papa kan? Keluarga baik-baik aja kan?" Tanya Veby dengan nada cukup panik lewat telepon.
"Kamu kenapa? Mama gak papa, kami disini baik-baik aja kok."
"Claura bilang mama sama papa pergi ke rumah sakit. Yaa aku takut aja maa." Sambil meneteskan air mata.
"Ohh, itu.....Itu kakek kamu sekarang lagi koma sayang."
"Kakek?" Kata Veby.
"Biarin aja, mati sekalian juga gak papa. Jika saja dia bukan orang yang membesarkan ayahku. Sudah ku dorong dia kejurang." Batin Veby.
"Ia sayang, oh ia, liburan musim dingin ini mama jemput yaa?" Usul Ibu Veby.
"Gak usah ma, nanti aku pakek bus aja. Lagian aku juga bakal ngajak temen aku."
"Temen? Emang temen kamu dikasi liburan di rumah kita? Bukannya kamu baru disana?"
"Gak kok ma, dia itu baik banget sama aku. Dan dia juga kepo katanya sama kluarga aku. Dan yaa, lagi satu... Jangan kasi tau kakak sama Jiso yaa!."
"Ya udah, terserah kamu dehhh."
Veby mematikan telponnya, ia tidak sabar akan pergi ke rumahnya minggu depan ini. Dia pun merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya.
"Apa aku boleh ikut bersamamu?" Tanya Mark yang ikut tidur di sebelah Veby.
"Tidak.... Kau tidak boleh ikut. Nanti pembacanya binggung antara Mark kamu dan Mark kakak aku." (Lagian author nya kasian, sulit buat ngetiknya.)
"Aku ingin ikut. Aku yakin author nya bisa."
"Hmm, itu terserah kamu. Kau bisa pergi kemanapun yang kau mau kan? Aku tidak bisa melarangmu sekarang." Kata Veby antara sadar dan tidak sadar karena sudah sangat mengantuk.
Mark melilitkan lengannya di bawah kepala Veby. Dan ternyata Veby merespon dengan memeluk dada bidang Mark. Tentunya dengan hal itu Mark benar-benar suka, ia membalas pelukan itu dengan erat.
***
Pagi yang cukup hangat, Veby bisa merasakan kehangatan yang sangat ia inginkan beberapa hari itu.
Namun ketika ia membuka matanya, ia melihat sebuah lengan yang melilit di pinggangnya.
"Wah sialan....." Batin Veby dan "AaaaAaaaaAaAaaaa....." teriak Veby hingga membuat Mark kaget. Padahal Mark hanya menatap mata Veby dengan ramah penuh kasih sayang.
"Lo.... Lo ngapain?" Sambil liat tubuhnya yang hanya memakai bikini.
"Lo apain gue semalaaaaaaaaaam?" Teriak Veby dengan keras.
"Apaan sihh, aku cuma memelukmu agar kau tidak kedinginan. Lagian hal apa yang ada di pikiran mu? Hah?" Tanya Mark dengan santai.
"Benar juga, kemarin aku mengikat celanaku dengan sampul ini." Batin Veby.
"Sekarang kau keluar, aku mau siap-siap akan kesekolah." Mark kemudian turun dari ranjang Veby menuju keluar kamarnya.
"Apa kau tidak pernah sarapan?" Tanya Mark saat melihat Veby keluar dari kamarnya menggunakan seragam.
"Aku hanya akan makan roto saat di dalam taksi." Jawab Veby.
"Aku akan membuatkannya untuk mu." Kata Mark sambil mengambil beberapa roti. Tetapi Mark tidak bisa mengambil potongan roti tawar tersebut.
Mark memandang tangannya yang mulai teransparan.
"Kau.... Kau kenapa? Kenapa tubuh mu terlihat seperti itu?" Tanya Veby dan menghampiri Mark.
"Aku tidak tau. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya."
"Apa yang harus....." Belum selesai Veby mengucapkan kata-katanya, Mark sudah lenyap dari pandangannya.
"Mark? Maaaaaaark? Lo dimana?" Sambil melihat sekelilingnya.
"Dia.... Dia kenapa? Ada apa dengannya? Tunggu!!! Kenapa aku hawatir padanya? Bukan kah aku ingin dia menghilang? Tapi bagaimana jika dia benar-benar meninggalkanku? Aku marah pada siapa jika dia pergi?" Tanya Veby pada dirinya sendiri.
(Makasi udah kasi saran. Jika pada episode selanjutnya kalian punya masukkan bisa banget komen. Aku akan turuti sebisa aku yaaa. Makasi dan selalu baca kelanjutan karya aku ini.)
sejauh ini aku masih suka alurnya