REVISI
Ini kisahku dengannya, tentang aku dan dia. Tentang dia yang berhasil merebut hatiku dan membuatku sangat takut kehilangannya.
Tentang dia yang selalu membuatku kesal dan bahagia disaat yang bersamaan. Aku bersyukur Tuhan menghadiahkannya untukku, dan tentunya hanya untukku saja.
Saat hari-hariku penuh warna dibuatnya, entah dosa besar apa yang pernah ku perbuat di masa lalu sehingga dengan teganya Tuhan memisahkan aku dengannya.
Aku bingung mengapa Tuhan seolah mempermainkan aku dengan selalu membuatnya datang, pergi, datang lagi, lalu pergi lagi?
Aku hanya bisa menguatkan diriku sendiri dengan takdir yang diberikan Tuhan padaku.
Satu hal yang aku tahu, selamanya aku mencintainya. Seperti katanya
"Aku mencintaimu, selamanya cinta kamu. Sampai kita menua, memiliki anak, cucu bahkan cicit. Aku akan bersamamu dan mencintaimu sampai rambut kita memutih dan sampai aku menutup mata" Arkana.
Aku harap semuanya bukanlah mimpi indah namun sesaat. Aku bahkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicka Villya Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayam Bakar
Motor Arkana kini tengah melaju dengan kecepatan sedang, menikmati dinginnya malam. Tanpa aba-aba Qania langsung saja melingkari tangannya dipinggang Arkana, membuatnya terkejut namun juga senang luar biasa.
"Tumben" tegur Arkana.
"Diamlah dan fokus saja menyetir, aku hanya ingin seperti ini sebentar saja" ujar Qania.
"Baiklah tuan putriku, pegangan yang erat ya" jawab Arkana kemudian satu tanggannya ia letakkan diatas tangan Qania.
Arkana kembali fokus ke jalan, dengan senyuman yang tak henti-hentinya tergambar di wajahnya. Qania yang memeluknya dengan erat justru merasakan hal yang berbeda. Ia semakin gelisah karena terus saja teringat akan mimpinya.
"Apakah aku bisa menahanmu agar tidak melakukan taruhan itu?" tanya batin Qania.
"Aku sangat takut jika yang ada di mimpiku mungkin adalah pertanda. Aku belum siap jika harus kehilangan kamu lagi" isak Qania dalam hatinya.
"Apakah kamu dudah makan?" tanya Arkana tiba-tiba membuyarkan lamunan Qania.
"Belum, hehe" jawab Qania cengengesan.
"Kenapa belum makan haah? Ini bahkan sudah larut" tegur Arkana kesal.
"Aku tadi ketiduran" jawabnya singkat.
"Ya sudah, ayo kita cari makan dulu" ajak Arkana.
"Oke sayang" turut Qania.
"Apa? Coba ulangi?" pinta Arkana yang tidak dapat menahan rasa senangnya mendengar ucapan Qania.
"Baiklah sayang, sayang, sayaaangg" teriak Qania dengan pipi merona.
"Hehehe, teruslah memanggilku seperti itu, aku menyukainya" ucap Arkana.
Qania tidak menjawab, ia hanya semakin mempererat pelukannya dan Arkana pun semakin fokus menyetir sambil mencari rumah makan yang masih buka.
"*Tuhan izinkan aku bersamanya. Rasanya aku ingin menghentikan waktu saat ini" teriak batin Qania.
"Terima kasih Tuhan, semoga akan terus seindah ini*" batin Arkana.
Arkana menghentikan motornya di salah satu penjual makanan dipinggir jalan. Tempat itu biasanya ramai, namun karena ini sudah larut maka tinggal dua orang pasangan yang terlihat tengah menikmati ayam bakar tersebut. Namun sepertinya akan segera pulang. Ia turun dari motor diikuti oleh Qania dibelakangnya.
"Pak ayam bakarnya masih ada?" tanya Arkana pada bapak yang sepertinya akan segera menutup jualannya.
"Ada nak, tapi tinggal satu" jawab penjual tersebut.
"Yah gimana dong?" desah Qania.
"Kamu saja yang makan, aku masih kenyang" usul Arkana.
"Bikinin aja pak" ucap Arkana lagi pada penjual tersebut.
"Baik, silahkan duduk menunggu" ucap penjual tersebut.
"Permisi pak, ini uangnya. Terima kasih" ucap pria yang tadi sedang makan bersama pasangannya sambil menyodorkan uang.
"Terima kasih kembali" jawab penjual tersebut dengan senyuman.
Arkana menarik tangan Qania agar segera duduk di tempat yang sudah disediakan. Penjual tersebut menggelar tikar untuk para pembeli yang akan menikmati ayam bakar di tempat itu. Qania pun menuruti Arkana dan segera duduk lesahan bersama.
"Sayang kamu kok malah pesan sih, kan cuma satu" akhirnya Qania mengutarakan isi hatinya.
"Ya nggak apa-apa sayang, kamu makan saja. Aku lihat kamu makan aja udah kenyang" ucap Arkana sambil menggenggam tangan Qania, mereka duduk berhadapan diantara keduanya terdapat meja panjang.
"Kamu ya ada-ada aja deh, masa lihat aku makan bisa bikin kenyang. Menyebalkan" gerutu Qania yang kemudian menarik tangannya dari genggaman Arkana kemudian melipat kedua tangannya di atas dadanya serta memanyunkan mulutnya.
"Ya ampun kok pacar aku kalau lagi marah gini tambah ngegemasin ya" rayu Arkana namun dengan nada meledek.
"Kamuuuu!" ingin rasanya Qania berteriak dan menjambak rambut pria di depannya namun malu pada penjual tersebut.
"Kamu apa?" ledek Arkana.
Qania tidak mau melanjutkan kata-katanya, ia lebih memilih diam dan memanyunkan bibirnya sambil terus mengumpat dalam hatinya.
"Untung aku sayang" batin Qania.
"Untung aku disayang ya" ucap Arkana cengengesan.
"Heh apakah dia bisa membaca pikiranku" batin Qania terkejut.
"Kenapa sayang? Aku bukan orang yang bisa baca pikiran kok" tukas Arkana terkekeh.
"Ihh ngeseliiinn" teriak Qania sambil mencubit lengan Arkana.
"Aduuh sakit sayang, ampuuun" bujuk Arkana yang lengannya kini memerah karena cubitan Qania.
"Rasain" ketus Qania.
"Iya deh maaf ya" bujuk Arkana.
"Tau ah" jutek Qania membuat Arkana menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Keduanya kini terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing, sampai akhirnya ayam bakar yang mereka pesan datang dan penjual tersebut meletakkan sepiring nasi, lalapan dan ayam bakar tersebut serta air untuk cuci tangan dalam mangkuk kecil.
"Silahkan dinikmati, saya permisi dulu" ucap penjual tersebit dengan senyuman manis lalu kembali lagi ke bangkunya.
"Terima kasih pak" jawab keduanya serempak.
"Ayo dimakan dong, jangan cuma dilihatin" pinta Arkana.
Namun Qania justru menatap horor kepada Arkana, rupanya kekesalannya belum surut juga.
"Mau disuapin?" tanya Arkana kehabisan akal.
Spontan Qania mengangguk membuat Arkana terkekeh.
"Ih reseee" teriak Qania sambil memukul lengan Arkana.
"Hehehe, tapi sayang kan" timpal Arkana.
"Aku nggak mau makan" ucap Qania.
"Loh kenapa?" Arkana kembali bingung.
"Kalau kita makan berdua baru aku mau" ucap Qania malu-malu.
"Iya sayang, sini aku suapin" setuju Arkana.
Qania mengangguk setuju, ia makan disuapi Arkana begitupun sebaliknya. Sepiring ayam itu mereka habiskan sambil suap-suapan, serasa dunia hanya milik mereka berdua dan penjual ayam bakar tersebut hanya pajangan. Bapak paruh baya tersebut hanya tersenyum melihat tingkah pasangan muda tersebut yang sedari tadi ia dengar terus adu mulut namun saat ini terlihat sangat mesra seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku sayang kamu Qania" ucap Arkana disela-sela menikmati ayam bakar tersebut.
"Uhukk uhuukk" Qania tersedak karena kaget dengan perkataan Arkana tersebut.
Arkana bergegas memberikan gelas air minum pada Qania yang terus saja terbatuk. Wajahnya pucat melihat air mata yanh keluar dari kedua mata Qania.
"Qania kita ke rumah sakit sekarang" ujar Arkana yang berdiri lalu menarik tangan Qania.
Namun Qania menarik kembali tangan Arkana dan memintanya untuk kembali duduk. Arkana menolak namun Qania terus memaksanya hingga ia menurut juga pada gadis kesayangannya tersebut.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Arkana dengan lembut sambil menatap nanar wajah kekasihnya itu.
"Aku nggak apa-apa" jawab Qania lembut.
"Aku khawatir" bisik Arkana namun membuat Qania tersenyum.
"Lain kali jangan ucapkan kata romantis saat aku lagi makan, aku bisa jantungan tau nggak" ungkap Qania menahan malu. "Kamu tahu sendiri aku gimana kalau dekat kamu apalagi saat kamu ngelakuin hal romantis. Aku bisa-bisa serangan jantung tau nggak" lanjut Qania menundukkan wajahnya.
Arkana tersenyum lebar mendengar penuturan Qania, ia mengira Qania tersedak karena menelan tulang atau sesuatu yang buruk. Tapi ternyata kekasihnya tersebut justru malah grogi karena perlakuannya.
"Iya maaf, lain kali aku nggak akan ucapin lagi saat kamu makan" ucap Arkana sambil mengucap rambut Qania.
"Pulang yuk" ajak Qania.
"Iya ayo" jawab Arkana.
Keduanya berjalan beriringan, Arkana menghampiri penjual tersebut dan memberikan selembar uang yang jumlahnya lebih. Penjual tersebut awalnya menolak namun Arkana mengatakan bahwa itu bonus karena telah membuatnya senang sehingga penjual tersebut menerimanya.
semangat💪😘
akhirnya arkana wijaya telah kmbali semoga qania selalu bhagia,,,
dan buat s marsya sadar kalau dia bukn tristan anggara...
jangan terlalu lama ya thor up nya💪😘