Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Modus yang Sama
“Berapa orang yang udah jadi korbannya?” tanya Gilang.
“Aku nggak tahu, Kak. Tapi katanya ada beberapa sih. Emang sinting tuh orang. Makanya sekarang kita nggak berani tutup salon terlalu malam. Paling telat habis maghrib udah tutup.”
Gilang mengangguk pelan. Keterangan pegawai tadi cukup berharga untuknya. Bisa jadi, orang yang menculik Alma adalah pria mesum itu atau komplotannya.
Sementara itu, pegawai yang sedang mencari foto Ruben di ponselnya segera menghampiri Gilang begitu berhasil menemukan apa yang dicarinya.
“Ini fotonya Ruben, Kak.” Pegawai itu memperlihatkan foto Ruben bersama Alma.
“Tolong kirim ke nomor saya, ya,” pinta Gilang.
“Baik, Kak,” jawab pegawai itu sambil tersenyum.
Setelah tidak ada lagi yang perlu ditanyakan, Gilang pun berpamitan. Pria itu segera melajukan motornya.
Tujuannya kali ini adalah kediaman Nelly. Dia harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Siapa tahu, dia bisa menemukan kesamaan dari korban sebelumnya.
Karena rumah klien selanjutnya masih berada satu kecamatan, tidak butuh waktu lama bagi Gilang untuk tiba di sana.
Baru saja Gilang memarkir motornya, dia mendengar suara pertengkaran kencang disusul suara barang-barang jatuh.
Gilang bergegas masuk ke dalam rumah. Ternyata di dalam, Nelly sedang bertengkar dengan mantan suaminya, Jeje.
Mengetahui anak gadisnya yang tinggal bersama mantan istri hilang, pria itu segera datang dan melampiaskan kemarahannya.
“Kamu itu nggak becus jaga anak! Kenapa Lita sampai hilang? Apa yang kamu lakukan, hah?!” berang Jeje.
“Terus aja kamu salahkan aku! Dari dulu kamu bisanya cuma menyalahkanku! Apa kamu peduli sama Lita? Apa kamu peduli gimana kecewanya dia saat tahu kamu selingkuh!” balas Nelly.
“Berhenti mengalihkan pembicaraan. Aku mau kamu cari Lita sampai ketemu!”
“Tanpa kamu suruh, aku sudah mencari Lita. Kalau kamu peduli dan sayang dia, harusnya kamu ikut mencari, bukan marah-marah seperti ini!”
“Lalu, kenapa kamu masih di rumah? Sana cari Lita!”
Secara kasar, Jeje mendorong tubuh Nelly hingga wanita itu jatuh tepat di bawah kaki Gilang. Dengan cepat, pria itu membantu Nelly berdiri.
“Bagus, sekarang berondong peliharaanmu ikut datang juga. Dasar perempuan laknat! Di saat seperti ini, kamu masih sempat bermain gila dengan laki-laki lain!”
“Eh … sebentar, Pak. Saya bukan siapa-siapanya Bu Nelly,” sangkal Gilang cepat sebelum suasana makin memanas. Pria itu segera mengeluarkan kartu nama, kemudian memberikannya kepada Jeje.
“Saya orang yang diminta Bu Nelly mencari keberadaan Jelita. Kedatangan saya ke sini, mau menanyakan lebih banyak soal Jelita. Informasi sekecil apa pun berguna untuk pencarian.”
Jeje langsung terdiam begitu mendengar penjelasan Gilang yang diperkuat dengan kartu nama yang diberikan pria itu.
“Bu Nelly, bisa kita bicara sebentar? Saya mau menanyakan beberapa hal,” ujar Gilang sambil melihat Nelly.
“Tentu aja. Silakan duduk. Maaf kalau sambutannya kurang menyenangkan.”
Nelly mempersilakan Gilang untuk duduk, kemudian menatap tajam Jeje. “Kenapa kamu masih di sini? Sana pergi! Cari Lita kalau kamu memang pedul!”
“Aku mau di sini. aku mau lihat, Apa orang ini becus menemukan anakku!”
“Tentu aja dia lebih becus dibanding kamu!”
“Bilang aja kamu mau berduaan dengan—“ ucapan Jeje terhenti saat ponselnya berdering. Saat melihat nama sang pemanggil adalah kekasihnya, tanpa pikir panjang, pria itu langsung menjawabnya.
“Iya, sayang. Ada apa?” tanya Jeje sambil berjalan keluar rumah.
Nelly hanya tersenyum sumbang melihat tingkah mantan suaminya. Baru saja dia bilang peduli kepada Jelita.
Namun begitu mendapat telepon dari kekasihnya, pria itu seketika melupakan anaknya. Nelly segera duduk di hadapan Gilang.
“Mohon maaf atas keributan yang kamu saksikan.”
“Nggak apa-apa, Bu. Saya ke sini cuma mau menanyakan beberapa hal. Sebelum Jelita menghilang, apa dia pernah mengalami kejadian aneh? Seperti ada yang mengikuti atau didekati seseorang?.”
“Ehm … nggak ada sih. Lita nggak punya pacar. Teman dekatnya juga perempuan semua. Mungkin dia masih trauma dengan perselingkuhan suami saya.”
“Atau mungkin pernah dengar dari tetangga sekitar, ada kejadian yang mencurigakan sebelumnya?”
“Sebenarnya udah sebulan ini, di sekitar rumah kami ada kejadian nggak mengenakkan. Ada laki-laki yang sering mengikuti perempuan muda dan memperlihatkan maaf … kemaluannya.
Tapi, warga di sini belum berhasil menangkapnya. Dia selalu beraksi pada malam hari dan saat keadaan sepi.”
Gilang langsung terdiam. Dia juga mendengar kasus serupa dari pegawai Alma tadi. Dugaan bahwa hilangnya para korban penculikan berkaitan dengan orang itu semakin menguat.
“Apa Lita pernah jadi korban juga? Maksudnya, dia diikuti lalu diperlihatkan alat kelaminnya?”
“Iya, pernah. Waktu itu dia baru pulang jalan-jalan dengan teman-temannya. Dia sempat berhenti untuk membeli martabak di kios yang ada di depan kompleks.
Pulangnya, dia jalan kaki. Saat pulang itu, Lita bilang seperti ada yang mengikutinya dan waktu dia berbalik, ternyata laki-laki yang mengikutinya menurunkan celana dan memperlihatkan alat kelaminnya.”
“Apa di sekitar sini ada kamera CCTV, Bu?”
“Ada beberapa sepertinya,” jawab Nelly setelah mengingat sebentar.
“Baik, Bu. Terima kasih atas informasinya.”
“Tolong temukan Lita,” mohon Nelly.
“Tentu aja, Bu. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menemukan Jelita.”
Gilang segera berpamitan kepada Nelly. Setelah meninggalkan kediaman Nelly, pria itu berkeliling dulu. Dia menuju kios penjual martabak yang tadi disebutkan Nelly.
Gilang mengendarai motornya perlahan menyusuri jalan yang kemungkinan dilalui Jelita saat pulang.
Ada satu ruas jalan yang membuat Gilang curiga. Di jalan itu ada dua pohon besar yang mengapit di kanan dan kiri jalan.
Gilang menduga kejadian itu berlangsung di sekitar sini. Kemudian, dia melihat sekeliling untuk mencari rumah yang memasang kamera CCTV.
Akhirnya dia berhasil menemukan satu rumah yang memiliki kamera CCTV. Dia langsung melaporkan kepada Pradipta.
Menurutnya, akan lebih praktis jika pria itu meretas sistem kamera CCTV yang terpasang daripada meminta rekaman kepada pemilknya.
Gilang mengirimkan video yang menunjukkan lokasi kamera CCTV itu, lengkap dengan alamatnya. Setelahnya, dia melanjutkan perjalanan menuju rumah klien ketiga.
Sesampainya di apartemen tempat Danti tinggal, Gilang langsung menanyakan beberapa hal tanpa membuang waktu.
Sama seperti kedua korban sebelumnya, Anjani juga sempat diikuti pria misterius yang memperlihatkan alat kelaminnya.
Gilang kembali menghubungi Pradipta dan memintanya meretas kamera CCTV di sekitar lokasi saat Anjani melihat pria misterius itu.
***
Sebuah minibus melaju dengan kecepatan sedang di jalan yang di kedua sisinya dipenuhi pepohonan tinggi dan besar.
Di bagian depan, seorang pria duduk di samping pengemudi. Sementara itu, di bagian belakang, ada seorang pria lain bersama empat orang gadis dengan kedua tangan terikat. Mulut mereka juga tertutup lakban.
Salah seorang gadis yang duduk di samping pria di bagian belakang menendang kaki pria di tersebut.
“Apa?” tanya pria itu seraya menoleh.
“Ehm … ehm …”
Gadis itu berusaha berbicara. Namun, karena mulutnya tertutup lakban, hanya suara gumaman yang terdengar.
Karena merasa terganggu, pria itu akhirnya melepas lakban tersebut.
“Aku mau pipis,” ujar gadis itu.
“Tahan aja!” sentak sang pria.
“Nggak bisa! Kalau aku pipis di sini gimana?”
Mendengar ucapan gadis itu, pria tersebut meminta temannya yang sedang mengemudi untuk menghentikan mobil. Dengan kasar, pria itu menarik gadis tersebut dan membawanya masuk ke hutan.
“Tolong buka ikatanku,” ujar sang gadis.
Mau tidak mau, pria itu membuka ikatan tali di tangan sang gadis. Setelah itu, gadis tersebut bergegas menuju sebuah pohon besar dan segera berjongkok untuk menuntaskan hajatnya.
Pelan-pelan, gadis itu mengancingkan lagi celananya. Melihat pria yang membawanya juga sedang buang air kecil, gadis itu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk segera berlari menjauh.
“Hei!! Jangan kabur!” seru pria itu.
***
Yang mau nyulik apa tujuannya ya
semoga neng Giana baik baik aja 🙏