Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Awas Ada Kael!
Pagi harinya, setelah sarapan pagi Sael bergegas keluar, bersiap untuk pergi ke kantor.
Ketika kakinya baru saja melangkah didepan pintu garasi, terdengar suara mobil yang familiar berhenti didepan gerbang rumahnya.
Sael mendapati Aeros dengan senyum kecil yang menghiasi wajah tampannya.
"Masuklah, biar aku antar," ajak Aeros setelah menurunkan kaca mobilnya.
Sael terlihat ragu. Namun sebelum ia sempat menolak—
"Buruan masuk El!!" Suara toa Kael menggelegar.
Sael tersentak kaget. Ia menoleh sekilas dan mendapati kepala Kael sudah menyembul dari balik pagar balkon lantai dua.
"Buruan masuk, Sael! Jangan gengsi! Lumayan kan! tumpangan gratis!" teriak Kael lagi tanpa tahu malu, sengaja mengeraskan suaranya agar Aeros juga bisa mendengar.
"Kael! Diam atau aku jambak rambutmu!" ancam Sael, dengan volume suara ditekan, menahan malu.
Bukannya takut, Kael malah tertawa puas dari atas balkon. Ia menopang dagunya di pembatas balkon, lalu melambaikan tangan dengan heboh ke arah mobil Aeros. "Kak Aeros! Tolong bawa ini anak ya! Kalau di jalan dia tiba-tiba diam atau mukanya merah kayak udang rebus lagi, langsung pinggirin aja ke tukang es cendol, dia cuma butuh didinginkan!"
"Kael, bener-bener ya kamu...!" Sael mengepalkan tangannya gregetan.
Aeros yang menyaksikan drama pagi hari itu hanya bisa terkekeh pelan dari balik kemudi. Ia menurunkan kaca mobilnya sepenuhnya, lalu menatap Sael dengan pandangan jenaka. "Masuk aja, Sael. Keburu siang, nanti kamu telat ke kantornya. Lagian... kasihan suara Kael kalau harus teriak-teriak terus dari atas."
Ia membuka pintu mobil Aeros dan masuk ke dalam, berusaha mengabaikan suara tawa kemenangan Kael yang masih menggema dari lantai atas.
Begitu pintu mobil tertutup. Aroma parfum maskulin milik Aeros yang lembut langsung menyapa indra penciuman Sael.
Aeros mulai menjalankan mobilnya perlahan, membelah jalanan kompleks yang masih sepi.
"Maaf ya, Kak. Kael emang suka nggak jelas kalau pagi," ujar Sael membuka suara, berusaha memecah kecanggungan sembari membetulkan posisi tas kerjanya di pangkuan.
"Nggak apa-apa, udah biasa, justru seru," sahut Aeros santai. Satu tangannya mengemudikan setir dengan lihai, sementara tangan satunya lagi bergerak mengecilkan volume radio. "Rumah jadi kedengaran hidup. Di rumahku sepi banget kalau pagi."
Sael hanya tersenyum tipis, diam-diam melirik Aeros dari samping. Pemuda itu terlihat rapi dengan kemeja kasual yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Fokus Aeros tertuju pada jalanan di depan, namun senyum tipis tidak lepas dari sudut bibirnya.
"Oya, Sael," panggil Aeros, Ia menoleh ke arah Sael, tatapannya melembut. "Makasih buat katsu karinya semalam. Enak banget. Bumbunya pas, dagingnya juga empuk."
"Ah... iya? Syukur deh kalau Kakak suka. Aku takutnya kemanisan atau malah keasinan." ujar Sael.
"Enggak, pas kok. Pas banget malah sampai habis nggak bersisa," Aeros terkekeh pelan, mengingat bagaimana ia melahap habis 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰 𝘣𝘰𝘹 itu semalam suntuk sambil merapikan laporan keuangan kafe. "Kapan-kapan kalau kamu masak lagi, aku siap jadi tim penguji rasa."
"Bisa diatur, Kak. Tapi asal nggak ada Kael yang rusuh aja," canda Sael, yang langsung disambut tawa renyah dari Aeros.
*****
"Sudah sampai," ucap Aeros lembut, menatap Sael yang masih melamun di tempat duduknya.
"Ah, iya." Sael mengerjapkan mata, buru-buru melepas sabuk pengamannya. "Makasih banyak ya, Kak, udah repot-repot."
"Sama-sama, Sael. Anggap saja ini imbalan balik buat katsu karinya," Aeros tersenyum manis,
"Nanti malam... mau aku jemput lagi?"
Pertanyaan itu sukses membuat gerakan tangan Sael yang hendak membuka pintu mobil langsung terhenti. Ia menoleh, menatap Aeros yang kini sedang menopang dagu di setir mobil, penuh harap.
Sael mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Eh? Nanti malam?" Sael berdehem pelan, "Nggak usah, Kak, merepotkan. Lagian jalanan pulang kantor jam lima sore itu kan macetnya parah banget."
Aeros justru terkekeh pelan melihat reaksi Sael. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu mengetuk-ngetuk setir mobil dengan santai. "Kebetulan nanti malam aku ada jadwal ngecek kafe yang cabangnya nggak jauh dari daerah sini. Jadi sekalian jalan pulang. Gimana? Sekalian janji kita yang kemarin, aku mau traktir daging premium."
"Ya... kalau emang nggak merepotkan Kak Aeros, boleh lah," jawab Sael akhirnya,
"Oke, 𝘥𝘦𝘢𝘭 ya," senyum Aeros melebar, terlihat puas dengan jawaban Sael. "Nanti kalau kamu sudah mau balik, tinggal 𝘤𝘩𝘢𝘵 aku saja. Kalau aku belum sampai, kamu bisa tunggu di dalam lobi biar nggak kepanasan."
"Iya, Kak. Kalau begitu aku turun dulu ya. Makasih sekali lagi buat tumpangannya," ucap Sael sambil membuka pintu mobil.
"Sama-sama, Sael. Semangat kerjanya," sahut Aeros lembut.
Sael berjalan cepat menuju lobi kantornya.
Ia merogoh tasnya dan mendapati satu pesan masuk.
[ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐞𝐥 ] 𝘎𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘰𝘣𝘪𝘭? 𝘈𝘮𝘢𝘯? 𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮? 𝘗𝘪𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘸𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘵𝘰𝘮𝘢𝘵 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬? 𝘔𝘪𝘯𝘪𝘮𝘢𝘭 𝘵𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘰𝘣𝘢 𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘤𝘰𝘮𝘣𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘪𝘯𝘪! 😜
Sael memutar bola matanya malas. Ia dengan cepat mengetik balasan singkat sebelum melangkah masuk ke dalam lift.
[ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐞𝐥 ] 𝘕𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘰𝘣𝘢. 𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘶.
*****
Malam harinya di sebuah restoran 𝘒𝘰𝘳𝘦𝘢𝘯 𝘉𝘉𝘘 premium di pusat kota menjadi destinasi mereka. Ruangan private yang telah dipesan Aeros menyajikan atmosfer nyaman, jauh dari hiruk-pikuk pengunjung lain, hanya menyisakan aroma daging panggang yang menggugah selera dan desis panggangan di tengah meja.
Aeros mengambil alih kendali penuh atas alat penjepit. Lengannya yang kekar bergerak cekatan membalik potongan 𝘸𝘢𝘨𝘺𝘶.
"Nih, coba yang ini dulu," ujar Aeros datar, meletakkan sepotong daging lembut yang masih berasap langsung ke atas piring Sael.
Sael tidak menunggu dua kali. Ia membungkus daging itu dengan daun selada, menambahkan sedikit saus 𝘴𝘴𝘢𝘮𝘫𝘢𝘯𝘨 dan bawang putih panggang, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Matanya langsung terpejam.
"Gila, ini enak banget! Lembut parah, Kak," seru Sael dengan pipi yang menggembung, matanya berbinar menatap Aeros. "Kakak nggak makan?"
"Ini mau makan," sahut Aeros. Namun, alih-alih menyuap bagiannya sendiri, fokusnya justru tertahan pada noda saus kecil yang tertinggal di sudut bibir Sael.
Tanpa berpikir panjang, Aeros meraih selembar tisu, ia mengusap sudut bibir Sael. "Makan yang benar. Berantakan kaya anak kecil."
Sentuhan singkat itu menghentikan gerakan mengunyah Sael seketika. Sael terpaku, merasakan sensasi hangat yang menjalar dari pipinya hingga ke dada.
Aeros yang baru menyadarinya segera menarik kembali tangannya, berdeham kaku, dan kembali sibuk membalik daging yang sebenarnya sudah matang sempurna. "Habiskan semuanya"
Sael menunduk, menyembunyikan senyum tipis sekaligus rona merah yang mulai menjalar di kedua pipinya. "Iya," gumamnya pelan.