NovelToon NovelToon
Sentuhan Hangat Sahabat Putriku

Sentuhan Hangat Sahabat Putriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Duda
Popularitas:45.3k
Nilai: 5
Nama Author: Escendol94

Dewangga tak menyangka di usianya yang menginjak 42 tahun, dia harus menikahi sahabat putrinya karena kesalahan pahaman. Pernikahan mereka pun harus dirahasiakan dari sang putri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Escendol94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21~Jacuzzi

Sebelum makan malam Nura membacakan rangkaian kegiatan yang akan mereka lakukan malam ini.

Riri langsung mengangkat satu tangan. Ekspresinya sedikit serius. "Berendam malam di ruang terbuka apalagi di atas kapal beresiko masuk angin," ucapnya memberi pendapat.

"Tenang aja. Kita berendam air hangat." Nura mengedipkan mata.

Riri mengerucutkan bibir, lalu melirik cepat ke arah Dewangga serta Dirga sebelum kembali menatap Nura.

“Apa harus? Kan malu, Nur. Masa mandi bareng-" Kalimatnya menggantung, merasa malu saat akan meneruskan.

Sarah tertawa pelan, bahunya sampai ikut bergetar. "Kamu polos sekali, Sayang. Kita nggak mandi bareng, tapi berendam bersama. Seperti kalau kita ke kolam renang umum," timpal Sarah.

Riri masih terlihat ragu, tanpa sadar matanya kembali melirik ke arah Dewangga. Tiba-tiba kedua pipinya memanas. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain, takut Dewangga menyadari tatapannya.

Nura menatap Dewangga dengan serius. "Papa harus ikut! Awas kalau banyak alasan!"

Dewangga mengangguk singkat. Ekspresinya tetap datar, seolah tak terganggu sama sekali. Padahal di dalam hati, senyumannya sudah mengembang lebar.

Nura lalu mengalihkan pandangan ke arah Dirga. “Om juga harus ikut!"

"Baiklah. Om selalu terdepan." Dirga tersenyum sambil mengedipkan mata.

Nura langsung tersenyum lebar, mengangkat kedua jempolnya dengan bangga. Ia menatap semua orang bergantian.

“Oke, sudah diputuskan. Sekarang kita ganti baju." Tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Riri menuju kamar.

Begitu sampai di dalam kamar, Nura membuka koper lalu mengeluarkan dua set baju renang--satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk Riri.

Riri mengangkat alis. "Kamu udah nyiapin semua ini?"

Nura tersenyum santai. "Tentu saja. Aku ingin Papa sama Mama bisa makin deket."

Mendengar itu, hatinya seperti tercubit. Meskipun hatinya tidak nyaman, tapi ia tidak bisa berbuat banyak.

Nura melirik Riri dengan senyum usil. “Dan kamu... bisa dekat dengan Om Dirga."

Riri langsung melotot. "Nura...!!"

Nura terkekeh pelan, pura-pura sibuk melipat pakaian. Dalam hati menghela napas pelan.

Tuhan... aku udah baik banget jadi peri jodoh buat orang lain. Kapan giliranku?

Riri mengangkat baju renang pemberian Nura dengan ekspresi horor. "Ra, kamu nyuruh aku pakai baju kayak gini?"

“Emang kenapa? Bajunya bagus kok. Biar kamu kelihatan lebih seksi."

Riri langsung bergidik. Ia buru-buru mengembalikan baju itu ke dalam koper. "Aku pakai kaos aja."

Nura mendecak pelan, lalu mengambil kembali baju dari koper. "Pakai ini aja, Riri. Bagus kok. Masih sopan juga."

Riri mengernyit, matanya menatap ragu. "Baju kayak gini kamu bilang masih sopan, Nur?",

"Kan bukan bikini, Ri...," jawab Nura santai.

"Iya sih, bukan bikini. Tapi...." Riri bergidik kecil, lalu menggeleng cepat. "Aku nggak mau pakai itu."

Baju yang tadi ditunjukkan Nura adalah model tankini--atasannya seperti tanktop, tapi tetap memperlihatkan lekuk tubuh dengan jelas. Apalagi bagian bawahnya, rok super pendek.

Nura menghela napas panjang, nampak mulai kehabisan kesabaran. Ia merogoh koper lagi, lalu mengeluarkan baju lain.

"Kalo ini?" tanyanya, kali ini ia mengeluarkan swimdress.

Riri menatapnya lebih lama. Modelnya memang lebih tertutup, panjangnya juga sedikit di atas paha--tidak terlalu terbuka, tapi tetap membuatnya ragu.

Tanpa menunggu jawaban, Nura langsung meletakkan baju itu di atas pangkuan Riri. "Ini masih sopan, Riri. Percaya deh."

Riri menghela napas pelan, menimbang sejenak sebelum akhirnya menyerah. "...Baiklah."

"Aku pakai dulu," ucapnya, lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.

Begitu pintu tertutup, Riri perlahan melepas pakaiannya. Ia mengenakan swimdress itu dengan hati-hati, seolah masih belum benar-benar yakin.

Beberapa detik kemudian, ia berdiri di depan cermin.

Tatapannya turun ke bawah, kebagian paha yang sedikit terekspos. Tangannya refleks menarik ujung dress itu, berusaha menutup lebih banyak.

Meski tidak terlalu pendek, tapi tetap saja ia merasa tidak nyaman. Riri menghela napas kemudian ke luar dari kamar mandi.

"Ra...," panggilnya pelan.

Nura menoleh, lalu matanya langsung menulusuri penampilan Riri dari atas sampai bawah. "Kamu cocok pakai itu."

Riri menggigit bibir bawahnya. "Tapi aku ngerasa kependekan. Aku nggak nyaman."

"Udah, kamu cantik kok. Bajunya juga nggak kependekan," balas Nura ringan, seolah itu bukan masalah besar. "Lama-lama juga terbiasa."

Nura lalu berdiri. "Aku mau ganti baju dulu."

Riri kembali menunduk, menarik ujung baju itu. Perasaan tidak nyaman itu masih ada.

Ia mengalihkan pandangan pada Nura yang baru saja ke luar dari kamar mandi. Gadis itu memakai baju model tankini.

"Ayo, Ri. Kita ke luar." Nura mengapit lengan Riri, mengajaknya ke luar.

Mereka naik ke deck atas kapal. Suasananya masih sepi --hanya suara ombak pelan dan angin malam yang menyapu lembut.

"Ri, kamu tunggu di sini dulu ya. Aku mau nyamperin Mama," ujar Nura sebelum pergi.

Riri mengangguk pelan. Ia perlahan berjalan mendekati jacuzzi, lalu perlahan turun ke dalam air hangat itu. Tubuhnya langsung rileks.

Ia menyenderkan punggung, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Bulan menggantung tenang, memantul di permukaan laut.

"Hem....".

Riri langsung menoleh. Matanya melebar saat melihat Dewangga sudah berdiri di sana. Jantungnya langsung berdebar tidak karuan.

Ia buru-buru menggeser duduknya, memberi jarak saat pria itu turun ke dalam jacuzzi.

"Kenapa menjauh?" tanya Dewangga, nadanya terdengar tidak suka.

Riri menelan ludah. "Takut ada yang lihat, Om...." Suaranya pelan, nyaris berbisik.

Dewangga melirik sekitar, lalu kembali menatapnya. “Belum ada yang datang."

Tanpa peringatan ia menarik tangan Riri.

Riri tersentak. "Om!" Ia refleks menahan dada Dewangga dengan kedua tangan.

Jarak mereka terlalu dekat.

Tatapan Riri tanpa sadar turun--ke dada Dewangga yang terbuka, garis ototnya terlihat jelas karena air yang membasahi kulitnya. Wajahnya langsung memanas. Ia mendorong pelan.

"Nanti ada yang lihat."

Bukannya menjauh, Dewangga malah menahan pinggangnya. "Tenang saja," ucapnya rendah. "Aku sudah minta Dirga cek dokumen."

Riri mendecak kesal. "Masih ada Nura sama Tante Sarah."

Dewangga hanya tersenyum tipis. "Sarah masih bersiap."

"Kalau Nura tiba-tiba ke sini gimana?"

"Nura masih menunggu ibunya."

Sebelum Riri sempat bereaksi, Dewangga mencondongkan tubuh dan meng3cup bibirnya singkat.

Riri membeku. Detik berikutnya, jantungnya seperti berhenti sesaat.

"Om...," protesnya, tapi suaranya melemah. Ia semakin gelisah.

Bagaimana kalau ada yang melihat?

Bagaimana kalau semuanya ketahuan?

Ia benar-benar belum siap menghadapi semua orang. Terutama Nura.

Riri kembali mencoba mendorong. "Aku nggak mau Nura, Tante Sarah, atau Om Dirga lihat kita kayak gini...." Nada suaranya memelas.

Dewangga menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan. "Baiklah."

Tangannya naik, menyelipkan rambut Riri ke belakang telinga dengan lembut --gerakan yang kontras dengan sikapnya tadi.

Namun sebelum Riri benar-benar bisa menjauh--tangannya berpindah ke tengkuk, menarik pelan. Dan kali ini, ia m3nc1um Riri lebih dalam.

Riri terdiam. Matanya mulai terpejam. Tangannya yang sempat menahan dada Dewangga, kini melemah.

Ia tidak lagi mendorong. Sebaliknya... membiarkan.

Membiarkan pria itu mendekat, menguasai jarak di antara mereka.

Beberapa saat berlalu, sebelum akhirnya Dewangga menjauh.

Napas mereka sedikit tidak teratur.

Dewangga mengusap bibir Riri dengan ibu jarinya, pelan. "Kamu sangat cantik," gumamnya.

Tatapannya turun sekilas ke pakaian Riri. "Tapi aku tidak suka kamu pakai baju ini."

Riri mengernyit, belum sempat mencerna --

"Setelah ini... aku akan memberimu hukuman."

Mata Riri langsung membulat. Ia mendorong dada Dewangga dengan kesal. "Om!"

*,*..

1
NN
knp lama up thor
Kp kandang wo Suka wo
👍
D_wiwied
part yg ditunggu2, sayangnya krg hott thor 😁🤭
D_wiwied: masa sih kaaak, pdhl kalo bikin part dewa nyosor riri feel nya udah dapet lho, menggebu gebu gitu tp giliran pas mp koq anyep 🤭😁
total 3 replies
Sri S
ahirnya terjadi jg mlm pertamanya thor
MbakDipa: hihii, iya kak
total 1 replies
sundusiyah86
lanjut Thor lanjut....semoga cepetan hamil...
MbakDipa: siap kak
total 1 replies
💞Putri Chania💞
akhirnya up juga Thor...lama banget nunggu bab baru nya... semangat Thor..
MbakDipa: makasih kwk🙏
total 1 replies
NN
lanjut
Sri S: suka sekali
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya susul sana. biar bebas berduaannya
💞Putri Chania💞
akhirnya up juga yg d tunggu"
NN
jgn lama² thor
MbakDipa: maaf ya kak. kemarin ada masalah sama mataku jadi rehat sembari pengobatan 🙏😄
total 2 replies
Sri Rahayu
lanjut thor
MbakDipa: siap kak
total 1 replies
NN
lanjut
💞Putri Chania💞
kepergok Dirga ya...baguslah..
💞Putri Chania💞
curiga euui sama Sarah...ga mungkin sama Dirga kan Thor..??
MbakDipa: hehee enggak kak😁
total 1 replies
💞Putri Chania💞
lanjut up nya thor
NN
lanjut thor
MbakDipa: makasih kak sudah mampir 🤭
total 1 replies
💞Putri Chania💞
wow.. pengakuan yg buat Dirga jantungan..😄
Reni Anjarwani
doubel up
MbakDipa: makasih kak sudah mampir 🤭
total 1 replies
Bunga
good
Karo Karo
sepertinya bukan anaknya deh 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!