Menikah atas keinginan orang tua merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh siapapun termasuk Taka Sanjaya. Terlebih ia tidak tahu seperti apa bentuk perempuan yang di jodohkan dengannya. Ia merasa seperti membeli kucing di dalam karung.
Namun, apa jadinya jika kucing tersebut merupakan kucing anggora? Bagaimanakah kisah di antara keduanya?
Follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas Dingin
Tepat jam satu dini hari, Diba merasa sangat kedinginan. Tubuhnya menggigil menahan hawa dingin yang terasa menusuk tulang. Di rumah ia tidak pernah tidur menggunakan pendingin suhu ruangan, sementara di kamar suaminya suhu ruang hanya tujuh belas derajat celcius.
Diba menoleh ke arah suaminya yang tampak tertidur nyenyak dengan selimut sendirian. Pantas saja ia merasakan dingin begitu hebat, ternyata Taka mengambil alih selimutnya sendiri tanpa sadar.
Diba tidak tega jika harus membangunkan suaminya. Akhirnya ia sendiri yang bangun dan berjalan ke arah lemari. Berniat mencari selimut lain di dalam lemari tersebut. Hanya saja lemarinya tersebut di kunci oleh pemiliknya.
Diba kembali ke tempat tidur, ia menggunakan bantal untuk menindih bagian telapak kakinya guna menetralisir hawa dingin. Namun cara itu tidak sepenuhnya merasa hangat. Tidak ada cara lain, sepertinya yang harus ia lakukan adalah memeluk suaminya.
Meski merasa sedikit canggung, Dibantu menggeser posisi tidurnya. Ia menggunakan lengan Taka sebagai bantalan. Wajahnya menyusup ke dada dan tangannya mulai melingkar di perut pria itu.
Sepuluh menit kemudian, Taka merasakan sesuatu menindih area permukaan tubuhnya. Kelopak matanya perlahan terbuka dan ia terkejut mendapati Diba yang tidur memeluk dirinya.
Matanya terbuka sempurna. Dan ia merasa sangat gugup. Jantungnya berdetak tidak karuan. Apalagi saat tiba-tiba kaki Diba ikut naik ke atas tubuhnya. Memeluknya seolah ia adalah guling. Wajah Taka menegang dan napasnya tertahan. Kaki Diba menindih **** ***** nya dan itu cukup membuatnya hampir kehabisan napas. Menahan sesuatu yang perlahan mulai hidup.
Taka berusaha menahan diri. Ia mengatur napasnya. Kemudian memutuskan untuk membangunkan istrinya.
"Diba .." Taka menepok pipi Diba perlahan.
"Diba .. Bangun dulu. Mas mau ke kamar mandi sebentar."
Taka kembali menepok pipi wanita itu sampai akhirnya terbangun.
"Hm, iya mas. Kenapa?" Diba mending akan wajahnya dan melihat suaminya bercucuran keringat.
"Bangun dulu, mas mau ke kamar mandi sebentar," ucap Taka sambil menahan sesuatu di balik celananya.
"Mas kok keringetan?" Alih-alih menggeser posisi tidurnya, Diba justru menanyakan sesuatu yang membuat Taka semakin gugup.
Taka sontak menyeka keringetnya. "Mm .. Ini .. Itu .. Mas mau ke kamar mandi dulu. Diba bisa geser?"
Diba sadar jika posisinya masih memeluk pria itu. "Oh iya, mas. Maaf .."
Diba pun menggeser ke sisi yang masih kosong. Taka bergegas bangun dan turun dari tempat tidurnya. Beranjak menuju kamar mandi dengan langkah tergesa.
"Mas Taka kenapa, ya? Diba kedinginan, justru dia malah keringetan. Apa mas Taka sakit perut, ya? Biasanya kalau mulas sakit perut suka keringetan juga."
Diba merasa ada yang aneh dengan suaminya. Sambil menunggu suaminya keluar, ia membungkus dirinya menggunakan selimut lantaran suhu ruangan benar-benar dingin.
Sementara di kamar mandi. Taka menatap pantulan dirinya di cermin usai membasuh muka. Membiarkan air mengalir begitu saja tanpa di lap. Kenapa ia bisa terlihat begitu boddoh di hadapan Diba. Padahal Diba adalah istrinya sendiri.
Sebisa mungkin, mulai saat ini ia harus benar-benar melupakan Vina. Agar ia tidak terlalu dalam melukai Diba. Membiarkan Diba terlalu lama menunggu menjadi istri seutuhnya. Dan berharap jika Vina tidak pernah datang lagi pada kehidupannya. Agar ia tidak sampai mengalami masalah seperti apa yang di katakan oleh mama Hartati.
_Bersambung_