Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21: Nostalgia Mantan Calon Mertua
Ternyata hanya untuk menjaga seorang istri, sampai serepot ini. Adli mengumpat saat pekerja-pekerja yang dia minta malah datangnya besok. Berarti hari ini sampai besok Adli tidak boleh keluar rumah meninggalkan Alma sendirian, memercayakan Alma kepada Yura Adli kurang yakin. Adli melempar ponselnya ke karpet. Dia berbaring di atas sofa krem yang ada di ruang tengah. Lelaki itu mendengus. Aldo yang bunuh diri, dia yang repot. Astaga, Adli kurang suka dipusingkan.
"Sofa ini kurang empuk!" Adli mendumel. Dia turun ke karpet, Alma duduk di sana. Adli langsung meletakkan kepalanya ke pangkuan Alma, tanpa perintah Alma langsung menyisiri rambut Adli yang halus. Telapak Alma mengusap pipi dan kening suaminya, lalu satu kecupan dari Alma mendarat di pipi Adli. Adli bergumam nyaman. Senyumnya terulas. Diciuminya paha Alma yang dia jadikan sandaran kepala. Adli mulai terlelap, astaga mimpi indah akan menyambutnya 'kah?
Alma masih menyisiri rambut dan mengusap kening dan pipi Adli. "Yura ...." Alma memanggil, Yura yang hanya memerhatikan mereka membuang muka. "Bisakah kami gantikan aku untuk meminjamkan pangkuanmu untuk Mas Adli?" Yura meliriknya tajam. "Aku mohon." Saat suara Alma memohon seperti itu, baru dia menurut. Yura menggantikan Alma untuk memangku kepala Adli. Adli masih terlelap di pangkuan Yura, dia bergumam aneh.
"Aku akan mengambil buah-buahan di halaman depan." Alma bangkit pergi. Di halaman depan memang ditumbuhi dengan pohon jeruk dan apel segar. Keduanya sudah berbuah dan matang, Alma akan memetik beberapa untuk persediaan kulkas. Tak ada Bi Uyun tidak ada yang ke pasar, jadi stok dapur sudah berkurang. Alma melirik mobil yang terparkir di pinggir jalan. Alma sudah menebak siapa mereka, masih saja bersikeras. Percuma ganti mobil, Alma peka dan tahu mereka siapa. Alma membawa sekeranjang apel dan jeruk yang dia petik, lalu dengan sendirinya menghampiri mobil itu. Melalui kaca mobil yang terbuka, Alma mengulurkan sebuah apel untuk salah satu dari mereka.
"Kalau kalian menerima buah ini, bawa saja aku. Tapi cepat pulangkan aku, agar suamiku tidak mengamuk." Mata Alma sedikit memerah.
"Tidak ada racunnya 'kan?" Pallo, sekretaris Rehan tersebut menelan ludah takut. Dia pikir mungkin Alma semengerikan Adli. Mereka 'kan sepasang suami-istri, bisa jadi sikap keduanya serasi.
Alma menggigit apel tersebut lalu mengunyahnya. Disodorkannya apel yang sudah digigit itu ke Pallo, Alma menegaskan. "Tak ada racunnya, kok." Pallo dengan yakin menerimanya lalu menggigitnya.
"Tak usah memakai kekerasan, aku akan ikut dengan kalian. Tapi seperti yang kukatakan barusan, pulangkan aku tepat waktu."
Pallo mengangguk-angguk, dikunyahnya buah apel yang diberikan Alma. Ternyata, enak. Mantan pacar tuan muda mereka ternyata cukup baik hati. Saat seorang yang lain menatap angin, Alma ikut memberikannya apel. Lelaki itu menerimanya dengan wajah riang. Alma tanpa diperintah lagi, masuk ke dalam mobil. "Tapi perlu kuulangi, pulangkan aku tepat waktu."
Pallo mengangguk. Meskipun dia kurang yakin. Dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya hendak Rehan lakukan pada wanita ini. Pallo harap, Rehan tidak akan berlebihan. Jika nyatanya Rehan melakukan kekerasan mungkin sebagai pria Pallo harus menepati janji untuk melindungi Alma, meskipun jabatannya yang akan dipertaruhkan. Mobil silver itu melaju. Saat Alma dibawa pergi, Adli masih nyenyak di pangkuan Yura. Yura melakukan persis yang Alma lakukan, menyisiri rambut Adli, mengusap pipi dan keningnya lalu menciumnya sesekali.
Di perjalanan, Alma menghabiskan jeruk dan apel yang dia petik untuk kedua lelaki itu sembari mengobrol. Alma cukup pandai mengakrabkan diri dengan keduanya. "Boleh aku bertanya sesuatu ...?"
Pallo yang terlihat semangat mengangguk. "Tentu, Nona."
"Dengan cara apa Aldo bunuh diri?"
Langsung sunyi. Keduanya ragu, hingga Pallo memutuskan menjawab. "Gantung diri, Nona. Bi Uyun yang melihatnya secara langsung. Tuan Muda mengikat Bi Uyun untuk merekam aksinya, video itu secara otomatis terkirim ke seseorang, data di kamera sudah terhapus. Polisi tengah melacaknya, kemana Tuan Aldo mengirimkan video itu. Karena video ini akan menjadi bukti lain, apa motif Tuan Aldo melakukannya. Bi Uyun yang diinterogasi entah mengapa tidak menjelaskan apa-apa yang dia lihat. Dia terus diam dan memaksa diri untuk pulang, katanya ada amanah dari Tuan Aldo yang harus dia lakukan tapi dia enggan memberitahunya."
Alma terdiam. Hatinya menduga, Aldo bunuh diri pasti karenanya. Menurut Alma Aldo cukup dangkal jika memang begitu. Alma meremas rok yang dia kenakan. Tentu saja berusaha menahan tangis. "Mau biskuit, Nona?" Pallo yang kasihan melihat wanita itu menyodorkan sekotak roti yang sudah dibuka. Alma menerimanya, melirihkan kata terimakasih lalu mengunyahnya.
"Sekarang Bu Uyun masih di kantor polisi ...?"
Pallo mengangguk, "dia masih ditahan sampai bicara sesuatu. Pihak polisi mengatakan, dia seperitnya tahu sesuatu tapi ada yang berusaha dia tutupi. Saat dibujuk, dia selalu diam. Pihak polisi cukup kewalahan, sih."
Tak lama mereka sampai di sebuah rumah megah yang bahkan tidak Alma lirik. Ini rumah kenangan, dulu Aldo sering membawanya kemari. Sudah menjadi tempat yang sering Alma kunjungi bahkan menginap. Sekalipun Rehan kurang suka melihat anaknya akrab dengan seorang wanita. "Tuan Rehan pasti sudah menunggumu, Nona." Pallo membukakan pintu. Untuk meminimalisir kegugupan, Alma meraih buah apel terakhir dan menggigitnya. Dia melangkah sembari masuk. Pallo menuntunya dari depan dan seorang yang lain menjaga Alma dari belakang. Alma menahan napas saat menjadi sorot perhatian, beberapa dari mereka yang menjadi pekerja lama pasti mengenali. Termasuk Pak Hasan dan Pak Asep yang terkejut melihat mantan nyonyanya. Mereka menangis, tentu saja kematian Aldo masih meremukkan hati.
Alma menghabiskan potongan terakhir apel yang dia makan. Memang cukup tidak sopan, makan sambil berjalan di antara banyak orang yang memandangnya dengan sorot penasaran atau terkejut. "Tidak disangka, bisa membawamu semudah ini." Rehan muncul di balik punggung Alma. Tatapan lelaki itu dingin, lalu senyumnya terulas. "Apa kabar mantan calon menantu?"
Alma menjawab canggung, "baik ...."
"Bisakah aku mengajakmu sedikit bernostalgia?"
Alma mengernyit.
"Duduk sebentar. Aku ingin meremas otakku untuk mengingat benar siapa kamu, bagaimana kamu dan seperti kamu yang 10 tahun yang lalu. Sebelum aku memisahkan Aldo darimu." Ada sofa bundar yang begitu empuk dan indah. Alma ikut duduk di sana, Rehan sudah duduk lebih dulu.
"Masih ingat saat aku berniat menyogokmu dengan uang 500 juta agar kamu memutuskan Aldo saat kalian kelas 2 SMA?"
"Ah," Alma ingat betul. "Iya," kepalanya mengangguk.
"Dan kamu menolaknya." Rehan tersenyum miris, "seharusnya saat itu aku sadar, kalau kamulah yang terbaik untuk Aldo. Tapi aku adalah Ayah yang bodoh, dangkal dan tidak berpikir panjang."
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊