Lintang adalah seorang gadis cantik, cerdas, mapan serta berasal dari keluarga terpandang.
Namun, segala kesempurnaannya tak lantas membuat sang Kekasih hati segera mengikatnya dalam tali suci pernikahan.
Hingga sebuah kecelakaan membawa seseorang dari masa lalunya menawarkan cinta tak yang tak bisa ia tolak.
Akankah akhirnya ia benar-benar melabuhkan cintanya pada sang Lelaki dari masa lalu? Ataukah ia akan tetap mempertahankan cintanya pada sang Kekasih?
Temukan jawabannya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candy Tohru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Hari-hariku berjalan seperti biasa. Tak ada yang berubah. Tapi akhir-akhir ini aku merasa ada di titik jenuh. Pekerjaan yang bertumpuk, ditambah dengan padatnya aktifitas di luar pekerjaan membuatku penat.
Kuambil gawaiku, mengecek sosial media. Berharap mendapat jalan keluar dari kebosananku ini. Dan.. yess!! Salah satu komunitasku akan mengadakan travelling ke Kawah Ijen dan Gunung Bromo.
Segera kutelpon Papa untuk meminta izin. Namun...
Lagu Kesempurnaan Cinta milik Rizky Febian menyapa telingaku, saat aku menekan namanya.
"Assalamu 'alaikum," sapa sang Penerima Telpon.
"Wa 'alaikum salam," jawabku. "Lagi sibuk, Man?"
"Nggak juga, kenapa Lin?"
"Gini, aku kan mau travelling sama temen-temen. Aku udah izin sama Papa. Eh, Papa malah nyuruh aku izin dulu sama kamu," cerocosku.
"Kenapa?"
"Kok kenapa? Ya karena Papa tahunya kita serius, makanya aku harus izin dulu sama kamu kalau mau pergi-pergi."
"Emang kita nggak serius ya, Lin?"
"Udahlah, Man. Nggak usah dibahas. Jadi boleh nggak aku pergi?" desakku.
"Emangnya kamu mau kemana?" tanyanya dari seberang sana.
"Kawah Ijen sama Bromo," jawabku.
"Ada ceweknya selain kamu?"
"Ya ada, lah. Yang sekeluarga juga ada."
"Kalau aku nggak izinin, kamu masih mau berangkat?" tanyanya.
Aku diam.
"Ya, pergilah. Aku izinin. Sekalian kamu kirim nomor rekening kamu. Biar aku transfer buat transportasi sama akomodasinya," katanya.
"Nggak usah, aku nelpon kamu cuma buat minta izin. Bukan minta jajan," sahutku.
"Oya, uang jajannya belum."
Ih, ni orang nyebelin banget sih. Bertele-tele.
"Satu lagi, Lin. Mulai besok aku masuk kantor lagi," ujar Firman. "Jadi aku balik lagi ke Jakarta."
Hah? Apa?
"Emangnya kaki kamu udah sembuh? Udah bisa jalan sendiri? Kenapa udah masuk kerja lagi? Kan kamu masih harus terapi juga," aku memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Aku udah nggak ngantor hampir tiga bulan, Lin. Ini waktu terlama aku diem di rumah. Biasanya paling lama dua minggu."
"Tapi kan kamu belum sembuh benar," selaku.
"Aku udah terbiasa pake kruk. Lagian bentar lagi juga sembuh. Aku udah banyak latihan."
Entah kenapa aku tidak rela dia berangkat kerja secepat ini. Dua bulan lebih aku bersamanya, meskipun tidak setiap hari, aku mulai terbiasa.
"Lalu kesepakatan kita?" tanyaku.
"Ya jalan terus, dong. Tiap kamu mau ke panti asuhan atau panti jompo, kasih tahu aku. Nanti aku transfer."
Aku diam lagi. Malas untuk menjawab.
"Lin? Kamu masih disitu?"
"Ya."
"Jadi kapan kamu berangkatnya?"
"Nggak jadi," ujarku sambil menekan tombol merah di layar.
Kulempar handphoneku ke atas sofa. Kutinggalkan turun ke studio.
"Mas Dewo, kemana aja? Kok beberapa hari ini aku nggak liat, sih?" tanyaku pada Mas Dewo yang sedang duduk di ruang editing.
"Aku kan baru pulang dari Raja Ampat, abis moto prewed. Kan ada di whiteboard di atas," jawabnya. "Kamu lagi kurang aqua atau cuma basa basi nih?"
Aku nyengir. Aku baru menyadari bahwa Mas Dewo tidak ada beberapa hari ini, tepat ketika aku membuka pintu ruang editing lima detik yang lalu, saat aku melihat wajahnya.
Aku duduk di kursi tepat di samping pria yang sudah kuanggap kakak itu.
"Kamu lagi sibuk banget, ya, Lin?" tanya Mas Dewo.
"Iya, Mas. Makanya aku jenuh banget. Pengen travelling," aduku.
"Ya udah, pergi aja. Raja Ampat, keren tuh," saran Mas Dewo.
" Tahu. Aku udah beberapa kali kesana," jawabku.
"Ya udah, nunggu apa lagi? Travelling pake kamera baru. Mantap tuh."
"Kok Mas Dewo tahu?" aku langsung mendelik ke arahnya.
"Iyalah. Kan aku yang rekomendasiin kamera itu ke Firman. Tadinya aku iseng, ditanyain kamera apa yang bagus. Sebenernya kan yang kisaran 15-18 juta juga banyak yang bagus. Tapi aku tawarin yang itu. Kirain dia bakal nanyain yang lain. Ternyata beneran langsung dia beli yang itu," Mas Dewo tertawa terbahak-bahak. "Rejekimu, Lin."
"O, ternyata yang Firman bilang 'teman' itu Mas Dewo?"
"Dia bilang gitu?"
"Iya, dia bilang ada teman yang mengerti photography yang nolongin dia milih kamera itu. Kok Mas bisa deket sama dia?" tanyaku heran.
"Ya waktu lamaran kamu itu," jawabnya. "Dia laki-laki baik, Lin. Dia sayang banget sama kamu."
Tiba-tiba aku ingat rasa kesalku pada Firman.
"Dia...."
"Mas Dewo! Ayo makan siang dulu. Ada yang ngirimin makan siang, nih," Sasa dengan gembiranya memanggil Mas Dewo.
"Eh, Kak Lintang disini juga. Kirain di atas. Ratry baru aja naik mau ngasih tahu Kakak," senyumnya.
"Siapa yang ngirimin makanan, Sa?" tanya Mas Dewo.
Sasa hanya menggulum senyum.
"Kalau buat Kak Lintang, nggak cuma dikirimin makan siang. Tapi ada ekstranya," dia tertawa cekikikan membuatku penasaran dan langsung berdiri.
"Ekstra apa?" aku langsung keluar.
"Ekstra yang ngirimnya, Kak," Sasa menutup mulutnya yang belum bisa berhenti cekikikan. "Kalau Kak Lintang nggak mau, buat aku aja, Kak. Aku dengan senang hati menampungnya."
Ni bocah ngomong apaan, sih?
Aku mulai berkeliling, mencari yang Sasa maksud.
Di halaman, tidak ada siapa-siapa. Begitu juga di area kassa. Tinggal satu tempat, ruang tunggu.
Benar saja. Seorang pria dengan kemeja putih dan jas semi formal sedang duduk di sofa putih ruang tunggu.
"Kamu gercep banget ya, Man," ujarku membuat pria itu menengok.
Dia tersenyum.
Dia berusaha berdiri sendiri. Aku segera mengambil langkah panjang untuk memegang lengannya, membantu dia berdiri.
"Aku pikir kamu marah sama aku," katanya.
"Kenapa aku mesti marah?" tanyaku sedikit ketus.
"Tadi kamu matiin handphone kamu tiba-tiba. Abis itu aku telpon berkali-kali nggak kamu angkat."
"Handphoneku di atas. Akunya di bawah," alasanku.
"Syukurlah kalau kamu nggak marah," dia mengambil sesuatu di samping kursi yang didudukinya.
Sebuah buket bunga mawar putih.
"Tanda maaf dariku," sodornya.
Ada selaput bening yang menutupi mataku. Aku berusaha tidak berkedip agar selaput itu tidak pecah dan berubah jadi aliran air di pipiku. Rasa sesal menyelimuti hatiku. Aku terlalu egois. Aku hanya mementingkan perasaanku sendiri.
"Ko malah nangis?" tanya Firman panik. Dia segera menghapus air mata yang ternyata sudah nekat keluar dari mataku.
Aku menggelengkan kepala berkali-kali. Aku seperti anak kecil yang merajuk.
"Kamu masih marah? Kan aku udah izinin kamu pergi," hiburnya.
"Nggak, aku nggak marah. Maaf, aku yang terlalu kekanak-kanakan," kataku akhirnya.
Ditariknya tubuhku ke dalam dekapannya. Tangannya mengelus rambutku pelan.
"Aku pengen kamu seneng. Kalau mau pergi, pergilah."
"Bukan itu...," isakku.
"Terus?"
Apa yang harus kukatakan? Aku saja tidak mengerti apa yang kurasa.
"Cieeee.. Kak Lintang!!" suara cempreng Sasa dan Ratry mengagetkanku.
Buru-buru kudorong dada Firman yang bidang dan melangkah mundur.
"Ngapain sih kalian? Ngagetin orang aja!" seruku.
"Nggak apa-apa. Cuma mau ngajakin makan siang bareng. Sama mau bilang makasih ke Kak Firman," sahut Ratry sambil menggoyang-goyangkan minuman berwarna ungu dengan boba di dalamnya. Minuman favoritku.
"Iya, iya. Nanti Kakak nyusul," kataku.
"Makasih ya, Kak Firman," ujar dua gadis itu bersamaan.
"Sering-sering aja kirimin kita," kata Sasa sambil berlari diiringin tawa Ratry.
"Dasar, bocah!" teriakku.
Untung saja ini jam makan siang, jadi studio tidak sedang dalam keadaan ramai.
"Kalau kamu besok udah mulai kerja lagi, kerjalah. Yang semangat, ya! Mudah-mudahan kalau sering dipake jalan, kakimu cepet sembuh," kataku.
Diambilnya tangan kiriku, dimana cincin pemberiannya tersemat. Dikecupnya sebentar.
"Tunggu aku ya, nggak lama kok. Tiap week end aku pasti kesini," janjinya.
Aku mengangguk.
"Maaf ya, aku nggak akan nganter kamu," ucapku.
"Nggak apa-apa. Jakarta-Bandung deket kok. Kayak mau kemana aja," senyumnya. "Aku berangkat besok pagi. Sering-sering main ke rumah, ya. Kasian Arum nggak ada temen. Akhir-akhir ini dia udah terbiasa rumah rame, sekarang harus balik lagi kayak dulu."
"Iya," jawabku singkat. "Kamu hati-hati disana."
Sekali lagi dia mengelus kepalaku, dan keluar dengan kruknya.
Melihatnya pergi, terasa ada sesuatu yang kosong di hatiku. Seperti ada sesuatu yang dia bawa pergi dariku. Apakah aku sudah jatuh cinta padanya?
ceritanya selalu seru seperti biasanya