Istri Cadangan Sang Mafia
Di hari pernikahan, Selena Kustiono menghilang.
Demi menyelamatkan keluarganya, Serina Kustiono dipaksa menggantikan sang kakak menikahi Vincent Timothy, bos mafia paling berkuasa sekaligus ayah tunggal dari Viren, putra genius yang menolak kehadiran ibu baru.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan.
Tak ada cinta.Tak ada pilihan.
Namun saat Viren mulai memanggil Serina "Mama", Vincent menyadari satu hal—musuhnya kini tak lagi mengincar kekuasaannya, melainkan keluarganya.
Mampukah seorang istri cadangan bertahan di sisi pria yang seluruh hidupnya dipenuhi darah, pengkhianatan, dan rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Ruang makan itu bahkan lebih besar daripada ruang tamu rumah Serina. Meja kayu panjang membentang di tengah ruangan.
Vincent sudah duduk di kursi paling ujung. Jas hitamnya masih rapi, seolah hari yang melelahkan tak meninggalkan bekas apa pun.
Tak lama kemudian, Viren datang. Ia menarik kursinya sendiri tanpa bantuan pelayan.
Soraya meletakkan semangkuk sup hangat di hadapannya. "Nyonya yang membuatnya, Tuan Muda."
Beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan saling berpandangan.
"Berani sekali..."
"Dia tidak tahu kebiasaan Tuan Muda."
"Sup itu pasti ditolak."
Serina mendengarnya. Namun ia memilih diam.
Viren menatap mangkuk sup itu beberapa detik.
Lalu pandangannya beralih kepada Serina. Mata bulatnya begitu tenang. Sangat mirip dengan Vincent. "Apa ini?"
"Sup ayam," jawab Serina pelan. "Kalau tidak suka, kamu tidak perlu memakannya."
Viren tidak menjawab. Perlahan, ia mengangkat sebelah tangannya. Lalu...mendorong mangkuk itu bergeser hingga berhenti tepat di bibir meja. Kuahnya bergoyang, nyaris tumpah.
Serina refleks menahan napas.
Tatapan Viren tak lepas darinya. "Aku tidak makan masakan orang asing." Ia berhenti sejenak. "Apalagi dari seseorang yang datang untuk menggantikan ibuku."
Ruang makan mendadak sunyi. Tak seorang pun pelayan berani bergerak.
Serina menatap mangkuk itu beberapa detik, lalu mengulurkan tangan dan menariknya kembali ke hadapannya. "Kalau begitu..." ujarnya lembut. "...biar aku saja yang menghabiskannya."
Ia mengambil sendok. Menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. Tanpa marah. Tanpa membela diri.
Justru sikap tenang itu membuat Viren mengernyit tipis.
Di ujung meja, Vincent yang sejak tadi menikmati makan malamnya akhirnya mengangkat pandangan. Tatapannya singkat mengarah pada Serina. Lalu kepada Viren. "Makan." Hanya satu kata.
Viren tidak membantah. Ia mengambil sendoknya. Bukan untuk sup. Melainkan menyantap hidangan yang telah disiapkan Chef Rudi.
Ruang makan kembali dipenuhi suara peralatan makan yang beradu pelan. Namun bagi para pelayan, suasana itu terasa jauh lebih menegangkan daripada sebelumnya.
Makan malam yang Mencekam itu akhirnya berlalu tanpa ada satu kata pun yang kembali terucap. Viren menyelesaikan makanannya dengan pembawaan yang terlalu tenang untuk anak seusianya, lalu turun dari kursi dan melangkah pergi begitu saja tanpa pamit.
Serina memperhatikan punggung kecil itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang makan. Ada rasa sesak yang perlahan merayap di dadanya, namun ia buru-buru menekannya.
"Bawa mangkuk sup ini ke dapur," perintah Vincent datar, memecah keheningan. Suaranya yang berat membuat beberapa pelayan tersentak dan bergegas membereskan meja.
Vincent berdiri, mengancingkan satu kancing jas hitamnya yang tampak selalu sempurna. Matanya yang sewarna elang menatap Serina sesaat, tatapan dingin yang sulit diartikan, sebelum pria itu berbalik dan melangkah menuju ruang kerjanya, meninggalkan Serina sendirian di ruang makan yang mendadak terasa semakin luas dan asing.
Serina menghela napas panjang. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya di lantai dua. Namun, rasa cemas dan haus membuatnya tidak bisa memejamkan mata bahkan setelah beberapa jam berbaring.
Jam dinding besar di lorong mansion berdentang dua kali, memecah keheningan malam yang mencekam. Serina melangkah perlahan di atas lantai marmer yang dingin, memeluk tubuhnya sendiri yang hanya dibalut gaun tidur satin tipis. Niat awalnya hanya satu, turun ke dapur untuk mengambil segelas air penenang setelah hari pertama yang melelahkan sebagai istri cadangan.
Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan ruang kerja Vincent.
Pintu kayu jati yang kokoh itu sedikit terbuka, menyisakan celah kecil yang memuntahkan secercah cahaya temaram dari dalam. Insting Serina menyuruhnya untuk terus berjalan, tetapi matanya menangkap selembar kertas tebal yang tergeletak di lantai dekat meja kerja pria itu, seperti sesuatu yang baru saja terjatuh dari sebuah berkas yang berantakan.
Didorong rasa penasaran, Serina menyelinap masuk dengan gerakan seringan kucing. Ia membungkuk, memungut kertas yang ternyata adalah sebuah foto cetak tua.
Serina menahan napas. Di dalam foto itu, Vincent yang tampak sedikit lebih muda sedang merangkul seorang wanita bergaun merah yang sangat anggun. Kedua tangannya tengah mengusap perutnya yang buncit. Wanita itu sedang hamil.
Namun, yang membuat bulu kuduk Serina meremang adalah coretan kasar berwarna merah darah tepat di atas wajah wanita cantik itu. Seseorang telah merusak wajah Jesika di foto itu dengan penuh kebencian.
"Siapa wanita ini? Kenapa wajahnya..."
KLIK.
Lampu ruangan tiba-tiba padam total. Jantung Serina serasa melompat ke tenggorokan. Sebelum ia sempat berbalik, sebuah tangan kekar merebut foto itu dengan sentakan kasar dari belakang.
Dalam hitungan detik, tubuh Serina didorong mundur hingga punggungnya menghantam dinding dengan keras. Sepasang lengan kekar langsung mengunci pergerakannya, memerangkap tubuh mungil Serina di antara dinding dingin dan dada bidang yang keras bagai batu karang.
Itu Vincent.
Aroma maskulin yang pekat bercampur samar wangi whiskey mahal langsung menguasai indra penciuman Serina. Dalam kegelapan yang pekat, Serina tidak bisa melihat wajah suaminya, tetapi ia bisa merasakan aura membunuh yang begitu pekat merayap keluar dari tubuh pria itu.
Vincent menunduk. Rahangnya yang tegas bergesekan samar dengan pelipis Serina saat pria itu berbisik, suaranya sangat rendah, berat, dan bergetar berbahaya tepat di telinganya. "Kamu masuk tanpa izin."
Vincent menjeda kalimatnya, memberikan seringai tipis yang tidak bisa dilihat Serina dalam kegelapan.
Jemari tangan Vincent yang bebas perlahan naik, mencengkeram dagu Serina dengan tekanan yang pas tidak sampai menyakiti, tetapi mempertegas dominasi yang tak terbantahkan. Ia memaksa wajah Serina mendongak, menantang sepasang mata elangnya yang berkilat tajam di balik kegelapan.
Sentuhan Vincent turun dari dagu, merayap perlahan ke leher jenjang Serina. Ibu jari pria itu mengusap urat nadi di leher Serina yang berdentum kencang karena ketakutan. Gestur yang begitu intim, namun terasa seperti seringai sebilah pisau yang siap menyayat.
"Rasa ingin tahu yang terlalu besar bisa membunuhmu di mansion ini," bisik Vincent lagi, embusan napas hangatnya yang berbau alkohol menerpa bibir Serina yang gemetar. "Sekali saja aku melihatmu bertingkah mencurigakan... aku sendiri yang akan memastikan gaun pengantin cadanganmu itu berubah menjadi kain kafan."
Serina membeku, mengunci napasnya rapat-rapat. Jantungnya berdentum begitu kencang, gemetar menghadapi ketegangan magnetis dari Vincent yang mengurungnya.
Siapa wanita itu ? Dan sekencang apa Serina harus berlari agar tidak ikut hancur di dalam kegelapan dunia Vincent Timoty?