NovelToon NovelToon
Pelakor Merebut Suamiku, Aku Merebut Suaminya

Pelakor Merebut Suamiku, Aku Merebut Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.

Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.

Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.

Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.

Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.

Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.

Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.

Tapi terlambat...

Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelaki diujung jalan

Subuh belum sepenuhnya pergi ketika Hadi membuka matanya.

Kamar masih gelap... gorden tebal yang Monica beli bulan lalu, katanya supaya tidurnya lebih nyenyak, memblokir hampir semua cahaya dari luar. Hadi berbaring sebentar, menatap langit-langit, mendengarkan suara lingkungan yang pelan-pelan mulai hidup. Suara motor di kejauhan. Suara ayam tetangga. Suara kehidupan normal yang berjalan seperti biasa di luar sana.

Di dalam kamar ini, di sebelahnya Monica masih tidur.

Ia miring ke kanan, menatap istrinya dari belakang, rambut hitam lurus yang tergerai di bantal, bahu yang naik turun pelan. Cantik. Monica memang selalu cantik, bahkan tidur pun cantik, dan dulu... dulu sekali, ketika semuanya masih berbeda, Hadi sering terbangun lebih awal hanya untuk menatapnya seperti ini.

Sekarang ia menatapnya dan merasakan sesuatu yang lebih mirip kelelahan.

Ia bangkit, duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Pukul enam pagi, Hadi sudah mandi dan duduk di tepi kasur lagi, kali ini sudah berpakaian. Perutnya kosong, ia tidak menemukan apapun di dapur selain air mineral dan sisa kerupuk dalam toples yang sudah melempem. Monica belum belanja sejak tiga hari lalu.

Ia menoleh ke istrinya yang masih tidur.

"Mon." panggilnya lembut, sambil menepuk pelan bahu istrinya.

Tapi tidak ada respons.

"Monica." Ia memanggil kembali. Kali ini bukan hanya menyentuh bahunya pela .Tapi sedikit ia goyangkan.

Monica bergerak, hanya menggeser badannya menjauhi sentuhan Hadi, menarik selimut lebih tinggi ke dagunya.

Hadi menarik napas, lelah. Selalu seperti ini, Monica ketika dibangunkan. "Mon, bangun. Aku belum sarapan."

"Hmm." jawabnya hanya dengan deheman saja.

"Masak dulu, ya. Atau minimal bikin nasi goreng..." pinta Hadi, yang hampir... bahakan bisa dihitung menggunakan jari. Berapa kali Monica memasakkan nya sarapan.

"Hadi." Suara Monica keluar dari balik selimut, berat dan tidak ramah. "Jam berapa sekarang?"

"Enam."

"Masih pagi."

"Tapi aku mau kerja."

Monica akhirnya berbalik, menatap Hadi dengan mata yang setengah terbuka dan ekspresi yang tidak menyembunyikan ketidaksukaannya. "Lalu?"

"Tolong masak dulu." pintanya memelas.

Hening tiga detik.

Kemudian Monica mendorong selimutnya dan duduk. Bukan pelan, tapi sedikit keras.

"Kamu minta aku masak?" serunya dengan suara meninggi.

"Iya, Mon. Sarapan. Sederhana saja..." pintanya lagi. Berharap kali ini Monica mau memasak untuknya.

"Aku bukan pembantu kamu, Hadi." sinisnya.

Kata-kata itu keluar datar, bukan berteriak, tapi justru karena itu lebih membekas.

Hadi menatap istrinya. "Aku tidak bilang kamu pembantu. Aku minta tolong dimasakkan sarapan. Itu hal biasa antara suami dan istri."

"Masak sendiri kalau mau makan." Monica berbaring lagi, menarik selimutnya.

Hadi berdiri dari kasur. Ia berjalan ke jendela, membuka gorden sedikit agar cahaya pagi masuk, Monica mendesis pelan tapi tidak berkata apa-apa. Ia berdiri di sana sebentar, menatap jalanan Griya Asri yang mulai bergerak, dan menenangkan sesuatu yang bergetar di dadanya.

"Kamu pulang jam berapa semalam?"tanyanya tanpa menoleh.

"Tidak tahu." jawabnya cuek. Tanpa peduli dengan perasaan suaminya.

"Mon." Hadi memanggil lagi.

"Kenapa?"

Hadi berbalik, menatap istrinya. "Aku serius bertanya. Jam berapa kamu pulang? Waktu aku tunggu sampai jam sebelas, kamu belum ada."

Monica menatapnya dari balik selimutnya, malas. "Itu bukan urusan kamu."

"Tapi kamu istriku." sahut Hadi menekan jelas kata istri untuk mengingatkan Monica tentang hubungan mereka.

"Dan kamu suamiku. Lalu kenapa?" Nada suaranya naik satu oktaf, bukan marah, tapi semacam tantangan. "Mau apa? Mau marahi aku? Mau larang aku keluar?"

"Aku hanya ingin tahu kamu di mana." Hadi ikut menaikkan intonasi suara.

"Tidak perlu tahu."

Sesuatu di dalam dada Hadi mengencang. Ia sudah mengenal perasaan ini... sudah terlalu sering ia rasakan dalam dua tahun terakhir, sejak Monica berubah menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenali sepenuhnya. Ia biasanya berhasil menahannya. Biasanya... tapi kali ini...

"Monica." Suaranya kembali rendah sekarang, tapi lebih berat. "Kamu makin keterlaluan. Ini bukan pertama kali kamu pulang larut, tidak bilang ke mana, tidak mau bicara. Aku ini suami kamu. Minimal hargai itu."

Monica duduk lagi. Kali ini ia benar-benar duduk tegak, rambut berantakan tapi wajahnya tidak terlihat malu atau bersalah sedikitpun. "Mau dihargai?" Ia memiringkan senyumnya, sinis.

"Iya." Hadi mengangguk. karena itulah yang ia harapkan.

"Kasih aku uang." sahut Monika enteng.

Hadi terdiam.

"Semudah itu," lanjut Monica. "Kamu mau aku hormat kamu sebagai suami, kamu mau aku tanya kabar kamu, kamu mau aku ada di rumah tiap malam... kasih aku uang yang layak. Bukan recehan."

"Aku sudah kasih semua yang aku punya, Mon."

Monica tertawa pendek, tidak ada senangnya. bahkan terlihat sangat meremehkan. "Semua yang kamu punya." Ia mengulang kalimat itu seperti mengulang sesuatu yang lucu. "Tiga ratus ribu seminggu. Itu yang kamu bangga-banggakan sebagai nafkah?"

"Itu hasil kerja kerasku. Hasil keringatku!" tegasnya.

"Itu recehan, Hadi." Suaranya tajam sekarang, tidak lagi datar. "Kamu mau tahu kenapa aku tidak menghargai kamu? Karena laki-laki yang menghargai istrinya tidak akan membiarkan istrinya hidup seperti ini. Rumah biasa, uang pas-pasan, tidak bisa beli apa-apa..."

"Kita tidak kekurangan... "

"Aku kekurangan!" Monica berdiri dari kasur, melipat kedua tangan di dada. "Aku ingin lebih dari ini, Hadi. Aku menikah untuk hidup enak! bukan hidup susah bahkan melarat!"

Krak!

Kepalan tangan Hadi mendarat di pintu lemari, bukan tamparan, tapi pukulan penuh dari seseorang yang sudah menahan terlalu banyak, terlalu lama. Pintu lemari retak di sudutnya, engsel bawahnya terlepas.

Kamar menjadi hening.

Hadi berdiri dengan tangan masih menempel di permukaan lemari yang rusak, bahunya naik turun. Monica menatapnya...tidak takut, tidak kaget, hanya menatap dengan ekspresi yang lebih mirip bosan daripada apapun.

"Sudah?" tanya Monica cuek bahkan tak peduli.

Hadi menutup matanya sedetik. Lalu membukanya lagi. "Mon!" ia masih berusaha untuk sabar.

"Mau dihargai," potong Monica, suaranya kembali datar seperti sebelumnya, "kasih aku dua puluh juta sebulan. Itu baru bisa kita bicara soal menghargai."

"Dua puluh juta." Hadi mengulangnya pelan, seperti memastikan ia mendengar dengan benar.

"Minimal." Monica melangkah ke meja riasnya, duduk, mulai membuka kotak perhiasannya. "Selama kamu tidak bisa kasih itu, jangan harap aku anggap kamu sebagai suami. Kamu cuma orang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama denganku."

Hadi menatap punggung istrinya di cermin rias. Wajah Monica di pantulan cermin terlihat tenang... benar-benar tenang, tidak ada getaran, tidak ada rasa bersalah.

Sesuatu di dalam dirinya bergolak, tangan kirinya mengepal, naik setinggi pinggang Monica...

Lalu berhenti.

Ia menurunkan tangannya.

Selangkah mundur.

Kemudian dua langkah.

"Kamu..." suaranya keluar patah di tengah. Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Monica tidak menoleh.

Hadi duduk di sofa ruang tamu, menatap lantai.

Dari balik pintu kamar yang tertutup ia mendengar suara laci dibuka tutup, suara semprotan parfum, suara yang familiar... suara Monica sedang bersiap pergi ke suatu tempat.

Dua puluh menit kemudian pintu kamar terbuka.

Monica keluar dengan gaun pendek bercorak bunga, tas kulit cokelat di bahunya, rambut diurai rapi, bibir merah muda. Ia melangkah ke arah pintu depan tanpa memperlambat langkahnya, tanpa menoleh ke arah sofa.

"Mau ke mana?" tanya Hadi.

Langkah Monica tidak berhenti.

"Mon."

Pintu depan dibuka, kemudian ditutup keras.

Hadi tinggal sendirian di ruang tamu.Ia menatap tangannya sendiri... tangan yang tadi nyaris terangkat, yang berhasil ia tahan setengah detik sebelum menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Dua puluh juta sebulan.

Minimal.

Hadi mengenal Monica sejak lima tahun lalu... perempuan sederhana dari kampung sebelah, yang dulu tertawa karena hal-hal kecil, yang dulu bilang tidak butuh banyak asalkan ada cinta. Ia memperjuangkan Monica ketika keluarganya tidak setuju, ketika teman-temannya bilang terlalu terburu-buru, ketika semua tanda menunjukkan ia harus berpikir ulang.

Tapi ia tetap memilih Monica.

Dan perempuan yang ia pilih itu baru saja berjalan keluar tanpa menganggapnya ada.

 

Hadi keluar dari rumah dua puluh menit kemudian.

Ia tidak naik motor, tangan di saku jaket, kepala sedikit menunduk. Berjalan ke ujung blok, berbelok ke kiri, terus sampai ke jalan kecil di belakang perumahan yang jarang dilalui orang... di antara tembok belakang perumahan dan kebun kosong yang sudah lama tidak terurus, ditumbuhi pohon-pohon besar yang akarnya mulai merayapi trotoar.

Tempat yang sepi.

Ia berhenti di bawah pohon besar di ujung jalan itu, mengeluarkan ponselnya, dan mengetik sesuatu.

Tidak lama sekitar lima menit sebuah motor matic berhenti di ujung jalan. Pengendaranya perempuan tiga puluhan, berpakaian rapi dengan rompi hitam tipis. Ia melepas helmnya dan berjalan menghampiri Hadi.

"Pagi, Pak Hadi."

"Pagi, Laras." Hadi memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Ada update?"

Laras membuka tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tipis. "Laporan minggu ini. Tim sudah cek semua poin yang diminta. Termasuk yang dari Surabaya."

Hadi mengambil amplop itu, membukanya, menelusuri isinya dengan cepat, matanya bergerak profesional, bukan seperti orang yang sedang membaca surat biasa.

"Proyek Timur bagaimana?"

"Sudah on track. Pak Reza minta konfirmasi langsung dari Pak Hadi untuk finalisasi kontrak minggu depan. Nilainya naik dari estimasi awal, sekarang di angka empat belas miliar."

"Bilang oke. Aku akan telepon beliau sore ini."

"Siap." Laras mencatat sesuatu di ponselnya. "Rekening operasional bulan ini juga sudah disiapkan. Mau ditransfer ke nomor yang biasa?"

"Iya."

*Baik, Pak!" Laras berhenti sebentar. Kemudian, dengan nada yang sedikit lebih hati-hati: "Pak Hadi Hadi baik-baik saja?"

Hadi menutup amplop itu. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Wajah Bapak terlihat..." Laras tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Aku baik." Ia melipat amplop itu dan memasukkannya ke dalam jaket. "Ada lagi?"

"Untuk sekarang tidak ada."

"Oke." Hadi mengangguk. "Hati-hati di jalan."

 

Di balik pohon besar dua meter dari tempat mereka berdiri, Raina tidak bernapas.

Ia pulang dari pasar pagi itu... beras setengah kilo yang ia beli dengan uang simpanan kecilnya yang hampir habis, segenggam cabai, dua butir bawang, sabun cuci piring. Kantong plastiknya tidak terlalu berat, tapi ia jinjing dengan kedua tangan seperti sesuatu yang berharga.

Ia mengambil jalan belakang karena lebih dekat dari warung bu Eti yang ada di balik blok... jalan yang jarang ia lewati, jalan yang pagi ini rupanya membawanya ke tempat yang salah waktu atau justru tepat waktu, tergantung cara memandangnya.

Ketika ia membelok ke jalan kecil itu dan melihat Hadi berdiri di ujungnya, Raina hampir memanggil... wajar saja, tapi ada sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.

Lalu perempuan itu datang. Dan Raina mundur dua langkah ke belakang dan berdiri di balik batang pohon besar yang cukup untuk menyembunyikannya.

Ia mendengar semuanya.

Raina menatap celah di antara daun-daun, mengintip ke arah dua orang yang berdiri di ujung jalan. Hadi yang setiap hari ia lihat duduk lesu di teras rumah nomor 9, Hadi yang kata orang-orang kerjanya serabutan, Hadi yang istrinya meremehkan uang pemberiannya...

Berdiri di sini, di jalan sepi ini, berbicara tentang kontrak miliaran dengan seorang asisten yang memanggilnya Pak Hadi dengan nada hormat yang tidak bisa dibuat-buat.

Motor Laras pergi.

Hadi berdiri sendirian sebentar, menatap amplop di tangannya. Kemudian ia mendongak... dan untuk sepersekian detik, arah pandangannya hampir tepat ke pohon tempat Raina berdiri.

Raina tidak bergerak. Tidak bernapas.

Hadi menunduk lagi, memasukkan tangannya ke saku jaket, dan berjalan ke arah yang berlawanan.

Raina berdiri di balik pohon itu sendirian, kantong plastik berasnya menggantung di tangannya, jantungnya memukul lebih keras dari yang ia harapkan.

Ia menatap jalan kosong di depannya.

Di kepalanya, kepingan-kepingan yang sudah berserakan sejak kemarin pagi mulai bergerak, bergeser, saling mencari tempat, membentuk sesuatu yang belum sepenuhnya jelas tapi sudah cukup untuk membuat perutnya terasa aneh.

Monica yang tampil seperti orang kaya meski suaminya kerjanya serabutan.

Transfer sepuluh juta dari Robby ke Monica.

Dan suami yang kata semua orang miskin itu... ternyata memiliki asisten pribadi dan berbicara tentang proyek empat belas miliar di jalan belakang perumahan.

1
sunaryati jarum
upnya jangan lama- lama Thoor
sunaryati jarum
Robby nanti tahu- tahu dapat surat cerai jika yang mengurusi perceraian asisten Hadi,Mbak Laras.Sekaligus dapat anak hasil celap- celup dengan Monica.Setelsj hidupnya

Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang
partini
kenapa ga langsung bilang Monica sih
Surati Dewi
Thor kamu di mana
Bunda SB: lagi sakit kak, tapi Nenti diusahakan untuk up
total 1 replies
sunaryati jarum
Mana upnya
sunaryati jarum
Kok Robby to yang meninggalkan Monica itu Hadi,plong saat Hadi meninggalkan Monica.Kutunggu Rania meninggalkan Robby,dan ibunya Robby ,jadi sakit.
sunaryati jarum
Nah benar jangan kebablasan , segera pisah dari Pasangan kalian .Rania jangan pikirin ibunya Robby.Robby saja tidak memikirkan
Iam Just
up lagi thor
Surati Dewi
kapan up thor Pumpung lagi jadi pengangguran biar bisa baca malah gak muncul muncul thor
sunaryati jarum
Semoga orang tua Hadi langsung tertarik pada Raina.Dan Robby juga ingin segera menikahi Monica.
sunaryati jarum
Semoga lancar Hadi , untuk menerima Monika begitu pula Robby juga lancar
Iam Just
up tiap hari lah thor🤧
Bunda SB: diusahakan ya kak
total 1 replies
Surati Dewi
kenapa gak up thor
Titien Prawiro
Waktu mau berangkat kekantor Robby masuk kedalam mobil, knp pulang naik motor?
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Segera cerai dari pasangan kalian dulu jika sudah mantap melanjutkan hubungan antara pria dan wanita
Surati Dewi
dabel up thor
sunaryati jarum
Tak usah lama -lama Hadi dan Rania segera mengajukan cerai jangan balas selingkuh ,jalin hubungan setelah sama- sama bebas tak terikat pernikahan
Surati Dewi
kapan up kak
sunaryati jarum
Semoga cepat terwujud ,Hadi telah menyebut kamu yang sangat dicintai ,Rania.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!