NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Di Medan Perang

Lahir Kembali Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Prajurit!" bentak Komandan, "Saya ingatkan, kita baru saja berhasil memukul mundur serangan Belanda dari jarak ini..."

"Itu cuma serangan percobaan mereka, Komandan Joko!" potong sang mayor cepat, "Pasukan mereka belum turun penuh!"

Komandan itu terdiam, tidak berani membantah.

"Siapa namamu, Prajurit?" tanya sang mayor sambil menoleh ke arah Surya.

"Eh... Surya, Pak Mayor!" jawabnya tegas.

"Baik, Surya!" sang mayor menatapnya dalam-dalam, "Menurutmu, pada jarak berapa kita sebaiknya menghadang musuh?"

"500 meter, Pak!" jawab Surya tanpa ragu, "Itu jarak maksimal mortir ringan KNIL. Senapan mesin ringan mereka juga nggak bakal efektif kalau kita bertahan di luar jangkauan itu!"

Sang mayor mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. "Bagus, Surya. Akan kupikirkan saranmu."

Sambil berkata begitu, sang mayor menepuk bahu Surya, lalu beranjak pergi.

Komandan masih menatap Surya dengan mata tajam, seolah mencari-cari alasan buat menghukum dia lagi. Tapi akhirnya ia menghela napas dan mengurungkan niatnya.

Begitu komandan menjauh, seorang prajurit berjanggut yang duduk di tanah menghela napas lega. "Kamu sadar nggak, Surya, betapa beruntungnya kamu barusan?"

Surya menoleh, bingung. "Maksudmu apa, Bung?"

"Mengantar amunisi..." kata pria berjanggut itu lirih, "Artinya kamu bakal jadi sasaran empuk pesawat-pesawat Belanda."

Mendengar itu, Surya langsung paham. Jadi posisi mereka sekarang masih lebih aman dibanding misi berikutnya.

Setelah diam sejenak, Surya bertanya dengan suara rendah, "Mayor itu... siapa sebenarnya?"

Ia sengaja merendahkan suara karena khawatir kalau sang mayor ternyata tokoh besar, dan bakal aneh kalau ia bertanya terang-terangan.

Untungnya, pria berjanggut itu tetap tenang. Ia berjongkok sambil menggulung rokok klembak menyan dengan kertas koran bekas. "Itu Komandan Resimen ke-44, Pak Mayor Galang. Dialah yang mengorganisir pasukan kita untuk melawan serangan Belanda."

Mendengar nama itu, kepala Surya seperti meledak. Galang... nama yang pernah ia dengar di masa modern. Sosok legendaris. Saat banyak pasukan Republik kocar-kacir dihajar Belanda, Galang memimpin sisa-sisa prajurit mempertahankan benteng di garis depan Zogyakarta sampai sebulan penuh.

"Ini... ini benteng pertahanan Zogyakarta, kah?" tanya Surya terkejut.

Pria berjanggut itu menatapnya dengan heran. "Surya! Jangan bercanda, masa kamu lupa siapa aku?"

Surya terdiam. Ia sama sekali tak mengenali pria itu.

Namun cepat-cepat ia mencari alasan dalam pikirannya mungkin karena kepalanya pernah kena serpihan peluru, jadi ada ingatannya yang hilang. Dari potongan samar, Surya akhirnya tahu kalau pria itu bernama Okta, sahabatnya sendiri yang sama-sama masuk laskar rakyat untuk dilatih menjadi prajurit infanteri.

Sedangkan dirinya sendiri... bisa ia pastikan lewat kartu prajurit yang ia bawa.

Surya merogoh saku bajunya. Ia mengeluarkan sebuah kartu tanda prajurit Republik buklet tipis berwarna cokelat, dengan lambang bintang merah di sampulnya.

Menurut Okta, kartu itu diberikan setelah seorang pemuda selesai menjalani pelatihan dasar, dan wajib dibawa ke mana pun.

Surya membuka halaman pertama kartu itu. Di sana tertulis:

Penunjukan: Batalyon Infanteri ke-1, Resimen ke-131 TNI

Pangkat: Prajurit

Yang aneh dari kartu tanda prajurit Surya adalah kotak kecil untuk foto di halaman depan itu kosong.

Ia menatapnya lama, lalu tersenyum miris. Rupanya wajar saja. Administrasi tentara Republik saat itu masih kacau. Banyak pemuda laskar yang bahkan tidak sempat difoto, apalagi dicetak resmi. Sampai perang usai pun, belum tentu semua orang punya dokumen yang rapi.

Surya menghela napas, menatap kartu itu linglung. Bentuknya mirip kartu identitas modern, tapi jauh lebih sederhana, tipis, dan rapuh. Tak heran kalau Belanda mudah menyusupkan mata-mata mereka ke tengah pasukan rakyat.

Yang lebih mengguncang hati Surya adalah kenyataan pahit ia benar-benar ada di tubuh seorang prajurit sungguhan, dengan segala risiko perang yang nyata. Bukan mimpi, bukan ilusi. Dan kali ini, ia tak punya jalan untuk lari.

Tiba-tiba terdengar teriakan membelah udara:

“Pesawaaaat! Siap siaga! Sireneee!”

Suara sirene meraung panjang di atas parit, memekakkan telinga. Sebelum Surya sempat bereaksi, deru pesawat pembom Belanda muncul dari balik awan. Moncongnya menukik rendah, meraung seperti serigala lapar, suara mesinnya menekan jantung siapa pun yang mendengar.

BOOOM!

Ledakan pertama menghantam tanah tak jauh dari parit. Getaran hebat mengguncang bumi, membuat gumpalan tanah beterbangan. Panas ledakan menyapu wajah Surya, membuatnya meringis ketakutan.

Ternyata sasaran utama mereka bukan parit. Pesawat-pesawat itu menjatuhkan muatan ke sebuah gedung besar di belakang garis pertahanan.

Gedung itu memang dijadikan titik tembak. Jendela-jendelanya dipasangi senapan mesin, disangga karung pasir, menyerupai benteng darurat. Dari sana, prajurit Republik menahan serangan darat Belanda sejak pagi. Wajar jika gedung itu jadi incaran utama.

Bom-bom berjatuhan silih berganti. Sebagian bukan bom murni, melainkan drum minyak yang dilempar dari udara. Drum itu pecah saat tertembak atau menyentuh api, meledak jadi kobaran raksasa. Dalam hitungan detik, gedung besar itu sudah berubah jadi lautan api.

Jeritan manusia langsung pecah di segala arah. Prajurit yang terjebak di dalam gedung menjerit histeris, sebagian nekat melompat dari lantai dua, tapi jatuh ke kobaran api yang lebih besar. Ada yang berlari sambil tubuhnya terbakar, sosoknya seperti bayangan hitam yang menari liar sebelum akhirnya tumbang kaku di tanah.

Pemandangan itu terlalu brutal. Surya merinding ketakutan. Api terasa seperti iblis yang menyeret tubuh-tubuh manusia ke neraka dunia.

Belum sempat ia menghela napas, sebuah pesawat kembali menukik. Bomnya menghantam sisi gedung dengan suara memekakkan telinga. Balok penyangga patah, kaca-kaca pecah beterbangan, pintu-pintu kayu terpental, tembok hancur berhamburan.

Bangunan itu bergetar hebat, seperti orang tua yang kehilangan tongkat penopang. Lalu, dengan suara gemuruh panjang, seluruh gedung ambruk ke tanah, ditelan asap dan api.

“Bersiaaap! Mereka akan menyerbuuu!” teriak seorang prajurit dari ujung parit.

Saat itulah Surya sadar bom-bom yang baru saja dijatuhkan hanyalah pemanasan belaka. Pembukaan sebelum badai sesungguhnya. Serangan darat Belanda sebentar lagi akan menghantam mereka, dan ia harus memilih bertahan, atau mati.

1
RUD
terima kasih kak sudah membaca, Jiwanya Bima raganya surya...
Bagaskara Manjer Kawuryan
jadi bingung karena kadang bima kadang surya
Nani Kurniasih
ngopi dulu Thor biar crazy up.
Nani Kurniasih
mudah mudahan crazy up ya
Nani Kurniasih
ya iya atuh, Surya adalah bima dari masa depan gitu loh
Nani Kurniasih
bacanya sampe deg degan
ITADORI YUJI
oii thor up nya jgm.cumam.1 doang ya thor 3 bab kekkk biar bacamya tmbah seru gt thor ok gasssss
RUD: terima kasih kak sudah membaca....kontrak belum turun /Sob/
total 1 replies
Cha Sumuk
bagus ceritanya...
ADYER 07
uppppp thorr 🔥☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!