NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Cinta Yang Tidak Memaksa: Di Balik Wajah Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.

Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dihina

“Loh, Dhea?” ucap seorang gadis saat melihat Dhea di warung bakso itu.

Dhea langsung menoleh.

“Eh, Monica.”

Monica adalah salah satu teman lama Dhea semasa sekolah dulu. Namun hubungan mereka tidak terlalu dekat.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Monica sambil mendekat.

Tatapannya lalu beralih kepada Aren yang duduk di samping Dhea.

“Lalu, siapa pria di sampingmu ini?”

Deg.

Seketika Dhea sedikit gugup. Sedangkan Aren hanya diam sambil menatap Monica sopan.

“E-eh… ini teman aku,” jawab Dhea pelan.

“Teman?” ulang Monica sambil memperhatikan Aren dari atas sampai bawah.

Dan harus diakui.

Aren memang sangat tampan. Hal itu membuat Monica sedikit terkejut.

“Kamu punya teman setampan ini?” ucap Monica tanpa sadar.

Dhea langsung salah tingkah kecil mendengarnya. Sedangkan Aren hanya tersenyum tipis.

“Iya,” jawab Dhea pelan.

Namun beberapa detik kemudian, Monica tiba-tiba tertawa kecil.

“Tumben banget ya.”

Dhea langsung mengernyit bingung.

“Tumben bagaimana?”

“Kamu kan dulu nggak pernah dekat sama laki-laki,” jawab Monica santai. “Makanya aku heran aja. Soalnya setahuku, cowok-cowok juga jarang ada yang mau dekat sama kamu.”

Deg.

Ucapan itu langsung membuat Dhea terdiam. Sedangkan senyum Aren perlahan menghilang.

“Memangnya ada yang salah?” tanya Aren akhirnya setelah melihat Dhea hanya diam sambil menundukkan wajahnya.

Monica langsung menatap Aren.

“Tidak sih,” jawabnya santai. “Aku cuma heran saja. Kok kamu mau berteman sama Dhea yang jelek begini?”

Deg.

Seketika Dhea langsung mengepalkan tangannya pelan di bawah meja.

“Padahal kamu tampan loh,” lanjut Monica sambil tertawa kecil. “Lihat saja dia. Pakaiannya juga lusuh begitu.”

Suasana langsung berubah hening. Dhea semakin menundukkan wajahnya karena malu dan tidak nyaman.

Namun beberapa detik kemudian. Aren perlahan meletakkan sendoknya di meja. Tatapannya kini berubah dingin menatap Monica.

“Sudah selesai ngomongnya?” tanyanya pelan.

Monica langsung sedikit terkejut mendengar nada suara Aren yang berubah.

“E-eh?”

Aren menatap Monica lurus tanpa senyum sedikit pun.

“Kalau sudah selesai, sekarang gantian aku.”

Dhea langsung menoleh ke arah Aren dengan wajah sedikit panik. Sedangkan Monica mulai terlihat tidak nyaman.

“Menurutku,” lanjut Aren tenang. “Dhea jauh lebih cantik dibanding orang yang suka merendahkan orang lain.”

Deg.

Seketika wajah Monica langsung berubah.

“Loh, kok kamu marah?” protes Monica dengan wajah tidak terima. “Aku kan ngomong sesuai fakta.”

Aren langsung tersenyum tipis, tetapi tatapannya tetap dingin.

“Fakta atau tidaknya, aku juga ngomong sesuai fakta,” jawabnya tenang. “Bahwa menurutku Dhea memang jauh lebih cantik dibanding orang yang terus menghina dirinya.”

Deg.

Monica langsung terdiam mendengar ucapan itu. Sedangkan Dhea menoleh ke arah Aren dengan wajah terkejut.

“Dan lagi,” lanjut Aren santai. “Kalau masalah pakaian, aku juga bisa membelikan Dhea pakaian yang layak.”

Tatapannya menatap Monica lurus.

“Bahkan sekalipun yang mahal atau keluaran terbaru.”

“Tapi bedanya…”

Aren berhenti sebentar.

“Dhea nggak pernah menilai seseorang dari penampilannya.”

Seketika wajah Monica langsung berubah malu.

Sedangkan Dhea justru semakin salah tingkah mendengar Aren membelanya seperti itu. Karena selama ini, belum pernah ada seseorang yang berdiri di pihaknya sejelas ini.

“Aku juga selalu menawarkan dia buat beli pakaian baru,” lanjut Aren dengan tenang. “Tapi dia selalu nolak.”

Monica langsung terdiam sambil menatap Dhea.

“Karena dia nggak mau uangku habis,” jelas Aren lagi.

Deg.

Seketika Monica tidak bisa berkata-kata lagi. Sedangkan Dhea langsung salah tingkah dan buru-buru menarik pelan lengan Aren.

“Mas sudah…” bisiknya pelan karena malu.

Namun Aren justru tersenyum kecil sambil menatap Dhea sekilas.

“Memangnya aku salah ngomong?”

Dhea langsung semakin salah tingkah.

Karena semua yang dikatakan Aren memang benar adanya.

Selama ini Dhea selalu menolak saat dibelikan sesuatu terlalu banyak.

Bukan karena tidak suka.

Melainkan karena dirinya merasa tidak enak. Sedangkan Monica kini terlihat mulai malu sendiri. Karena ucapan Aren tadi justru memperlihatkan dengan jelas bagaimana sifat Dhea sebenarnya.

“Jadi” ucap Aren kembali sambil menatap Monica.

“Jangan seenaknya menilai seseorang cuma dari pakaian atau penampilannya saja.”

Monica langsung menundukkan wajahnya pelan karena merasa tersindir.

“Seharusnya kamu butuh kaca yang besar supaya bisa berkaca,” ucap Aren dengan nada dingin. “Lihat dulu dirimu sendiri.”

Monica langsung membelalakkan matanya tidak percaya.

“Dandananmu tebal sekali sampai seperti dempul,” lanjut Aren tanpa ragu. “Kalau mau menghina orang lain, lihat diri sendiri dulu bagaimana.”

“Sudah pantas atau belum buat menghina orang.”

Deg.

Wajah Monica langsung memerah karena malu dan kesal sekaligus. Sedangkan Dhea terlihat panik mendengar ucapan Aren yang mulai semakin tajam.

“M-mas sudah…” ucap Dhea pelan sambil menarik lengan Aren. “A-ayo kita pergi saja.”

Dhea benar-benar tidak ingin suasana menjadi semakin buruk.

Walaupun tadi dirinya memang sakit hati mendengar hinaan Monica. Namun ia tetap tidak nyaman melihat Aren bertengkar gara-gara dirinya.

Sedangkan Aren mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya berdiri dari kursinya. Tatapannya masih terlihat dingin saat menatap Monica untuk terakhir kali.

“Lain kali,” ucapnya tenang. “Belajar menghargai orang lain dulu.”

Setelah mengatakan itu, Aren langsung menggenggam tangan Dhea lalu mengajaknya pergi dari tempat tersebut.

Sedangkan Monica hanya bisa diam dengan wajah menahan malu karena menjadi pusat perhatian beberapa orang di warung itu.

Setelah mereka menjauh dari warung bakso itu, Aren langsung menghentikan langkahnya lalu menatap Dhea dengan wajah sedikit kesal.

“Kamu kenapa cuma diam saja waktu dihina seperti tadi?” tanyanya.

Dhea langsung menundukkan kepalanya pelan.

“Kamu nyuruh aku buat melawan orang-orang yang menghina aku,” lanjut Aren. “Tapi kamu sendiri malah diam saja.”

“M-mereka kan ngomong sesuai fakta…” jawab Dhea lirih.

Tak!

“Awhh, sakit Mas!” rengek Dhea sambil mengelus kepalanya yang baru saja disentil oleh Aren. “Itu sakit tauk!”

Aren justru menatapnya semakin kesal.

“Itu alasannya kenapa aku selalu nawarin kamu beli pakaian baru,” ucapnya. “Tapi kamu malah nolak terus.”

“Tapi nggak harus nyentil juga, ihh,” protes Dhea sambil cemberut.

“Karena kamu bikin aku kesal.”

Aren menghela napas pelan sebelum kembali berbicara.

“Sok kuat di depan orang lain.”

“Tapi pas diri sendiri dihina malah diam saja.”

Dhea langsung memasang wajah cemberutnya lebih dalam lagi. Namun kali ini, ia tidak membantah ucapan Aren.

Karena sebenarnya, ia memang sudah terlalu terbiasa dihina seperti itu sejak dulu. Dan Aren bisa melihat jelas bagaimana Dhea berusaha menahan semuanya sendirian.

“Mulut Mas benar-benar pedas banget kalau ngomongin orang,” ucap Dhea sambil masih mengelus kepalanya yang disentil tadi.

Aren langsung mengangkat satu alisnya.

“Memangnya aku salah?”

“Dandanan juga lebih cantik aku dibanding dia.”

Mendengar itu, Dhea langsung tertawa kecil.

“Iya, iya tahu. Yang ahli dandan.”

“Tapi aku serius, Dhea,” ucap Aren lagi dengan wajah yang kembali serius. “Seharusnya dia berkaca dulu kalau mau menghina kamu.”

Dhea yang mendengar itu justru tersenyum kecil sambil menatap Aren.

“Ternyata… ini ya sifat asli Mas.”

Aren langsung mengernyit bingung.

“Maksudnya?”

“Mas sebenarnya galak juga ternyata,” jawab Dhea sambil menahan tawanya. “Kalau ada yang hina Dhea langsung berubah begitu.”

Aren langsung salah tingkah kecil lalu mengalihkan pandangannya.

“Aku cuma nggak suka ada orang ngomong sembarangan ke kamu.”

Namun Dhea justru semakin tertawa kecil melihat reaksinya.

“Kenapa kamu malah ketawa begitu?” tanya Aren bingung.

Karena sejak tadi, bukannya takut atau marah, Dhea malah terlihat senang melihat Aren membelanya seperti tadi.

1
Dinda Putri
lanjut semangat thooorrr love sekebon deh
Dinda Putri
lanjut thoor 💪💪💪
Dinda Putri
nexs
Dinda Putri
up lagi thoorr jangan lama
Dinda Putri
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!