Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK PUNYA RASA MALU
Pagi akhirnya tiba. Setelah melewati malam yang panjang, Nafisa kini sudah bersiap untuk berangkat ke perusahaan. Ia merapikan tasnya, lalu berjalan menuju pintu kamar.
Namun, begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti.
Damar sudah berdiri di depan kamar. Tatapan laki-laki itu langsung tertuju kepadanya, tetapi Nafisa tak berniat bertanya ataupun membuka percakapan lebih dahulu. Pandangannya justru turun ke leher Damar yang kembali dipenuhi tanda kemerahan.
Nafisa mengulum senyum miring. Rupanya, laki-laki itu masih belum puas bermain api bersama ibunya.
“Mas mau mengambil baju-baju Mas, Naf,” ujar Damar, memecah keheningan.
“Oh, tunggu sebentar, Mas.”
Tanpa menunggu jawaban, Nafisa berbalik dan berjalan menuju sudut kamar. Di sana sudah ada sebuah koper besar berisi pakaian Damar yang ia bereskan sejak semalam.
Nafisa menarik gagang koper itu, lalu membawanya kembali ke hadapan suaminya.
“Enggak perlu repot-repot, Mas. Baju-baju Mas sudah aku bereskan.”
Ia mendorong koper tersebut sedikit ke arah Damar.
Laki-laki itu menatap koper di hadapannya dengan kening berkerut. “Kapan kamu—”
“Semalam, Mas,” sela Nafisa tenang.
Ia melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Damar tanpa senyum.
“Kapan Mas akan pergi dari rumahku?”
Damar langsung mengangkat wajah. “Rumahmu? Ini rumah kita, Naf!”
Nafisa mengembuskan napas pendek. Ia sudah menduga Damar akan mempermasalahkan hal itu.
“Jangan lupa perjanjian pranikah kita, Mas. Kamu maupun aku yang berselingkuh, jadi harta bersama menjadi milikku atau milikmu sesuai perjanjian. Sekarang kamu berselingkuh dan hartamu jadi milikku.” Nafisa menunjuk koper di antara mereka. “Mas boleh pergi membawa pakaianmu. Selebihnya, jangan harap bisa membawa apa pun dari rumah ini.”
“GAK BISA GITU!” bentak Damar. Wajahnya memerah menahan amarah. “Rumah ini juga dibeli pakai hasil jerih payahku, Naf!”
Nafisa justru tersenyum miring mendengar protes itu.
“Hanya lima puluh juta, Mas. Kamu bangga?” tanyanya, menatap Damar lekat-lekat.
Rahang laki-laki itu mengeras.
Nafisa keluar dari kamar, lalu menutup pintunya. Setelah memastikan tidak ada barang miliknya yang tertinggal di dalam, ia mengunci kamar tersebut dan memasukkan kunci ke dalam tas.
Namun, saat berbalik, ia kembali berhadapan dengan Damar yang masih berdiri sambil menatap koper di sampingnya.
“Lima puluh juta?” ulang Damar.
“Iya. Masih kurang?”
“Naf, waktuku tersita karena menikah denganmu. Seharusnya kamu juga mengganti kerugian ku!”
Nafisa terkekeh mendengar tuntutan itu. Ia melangkah mendekati Damar hingga berdiri tepat di hadapannya, lalu mendongak untuk menatap wajah laki-laki tersebut.
“Pria yang gak tahu diri seperti kamu memangnya punya waktu yang begitu berharga?”
Damar mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Nafisa mendorong dada Damar pelan hingga laki-laki itu mundur selangkah.
“Kalau begitu, bisa gak Mas mengganti keperawananku?”
Damar terdiam.
“Bisa gak Mas mengobati kerusakan mentalku setelah melihat suamiku sendiri berselingkuh dengan ibu kandungku?” Nafisa tertawa hambar. “Bisa gak Mas mengganti waktuku yang terbuang hanya untuk melayani dan mengurus Mas selama kita menikah?”
Nafisa menarik napas, berusaha menahan emosinya yang kembali meluap.
“Bahkan, semua itu gak akan bisa dihitung dengan jari, Mas. Selama ini, aku juga mengorbankan banyak hal demi pernikahan kita. Mikir dong mas, dimana otakmu?”
Ia mengangkat tangan, lalu menunjuk dada Damar dengan telunjuknya.
“Dan sekarang, Mas justru meminta aku mengganti kerugian karena waktumu tersita selama menikah denganku?”
Nafisa menggeleng pelan, tak habis pikir dengan cara laki-laki itu memandang dirinya sendiri sebagai korban.
“Kalau begitu, kembalikan diriku seperti semula, menjadi seorang gadis lagi.”
Suaranya bergetar di akhir kalimat. Nafisa segera mengatupkan bibir, menahan perasaan yang kembali mengaduk dadanya.
“Bisa, kan?” Ia menatap Damar tajam. “Kalau Mas gak bisa mengembalikan semua itu, jangan pernah menuntut ganti rugi dariku seolah-olah Mas satu-satunya orang yang dirugikan dalam pernikahan ini.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi meninggalkan Damar beserta koper pakaian laki-laki itu.
. . .
Setibanya di ruang tamu, Nafisa mendapati ibunya baru saja masuk sambil membawa beberapa kantong belanjaan. Langkahnya sempat melambat, tetapi ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ia masih kecewa. Sangat kecewa, sampai-sampai menatap wajah ibunya saja terasa menyakitkan.
Nafisa melanjutkan langkahnya, berniat melewati wanita itu tanpa banyak bicara. Namun, baru saja dirinya berada di dekat pintu, suara Yulia terdengar memanggilnya.
“Naf, mau berangkat?”
“Iya,” jawab Nafisa singkat tanpa menghentikan langkahnya.
“Masih pagi, ini, Naf. Ibu buatkan sarapan dulu, ya. Tunggu lima menit.”
Nafisa tak menjawab. Ia bahkan belum sempat mengatakan apa pun ketika ibunya sudah lebih dahulu melangkah menuju dapur.
Nafisa terdiam sejenak di tempatnya berdiri. Jemarinya mengerat pada tali tas yang tersampir di bahu.
Nafisa mengembuskan napas panjang. Ia pun kembali melangkah menuju pintu tanpa menunggu sarapan yang dijanjikan ibunya.
.
Di dapur, Yulia sibuk menyiapkan sarapan. Setelah mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kantong belanjaan, ia mulai memasak sambil sesekali melirik jam dinding.
Namun, suara langkah sepatu pantofel yang terdengar dari belakang membuat gerakannya terhenti sejenak.
Belum sempat menoleh, sepasang tangan sudah melingkar di pinggangnya.
“Dam—”
“Ada apa? Takut Nafisa tahu?” bisik Damar di dekat telinganya. “Nafisa sudah tahu hubungan kita.”
Yulia mengatupkan bibir. “Jangan macam-macam, Dam. Kita masih di rumahnya Nafisa,” tegurnya pelan.
Damar hanya terkekeh.
“Memangnya kenapa? Sekarang kita gak perlu berpura-pura lagi.”
Yulia menghela napas, berusaha mengabaikan tingkah laki-laki itu. Meski Nafisa sudah mengetahui perselingkuhan mereka, bukan berarti keadaan akan langsung menjadi mudah. Terlebih, ia masih harus menghadapi keluarga Damar yang belum tentu menerima hubungan mereka.
“Sudah, sana. Biar aku menyelesaikan sarapan dulu,” pintanya sambil menggeser tubuh sedikit, memberi jarak di antara mereka.
Damar akhirnya melepaskan pelukannya. Yulia kembali mengaduk masakan.
. . .
Beberapa saat kemudian, sarapan yang disiapkan Yulia akhirnya tersaji di atas meja makan. Ia merapikan piring, lalu menoleh kepada Damar yang berdiri tak jauh darinya.
“Dam, panggilkan Nafisa buat sarapan.”
Damar mengangkat alis. “Oh, tadi aku lihat Nafisa sudah berangkat.”
Gerakan tangan Yulia terhenti.
“Sudah berangkat?” ulangnya pelan.
Ia melangkah menuju ruang tamu, berharap Damar hanya salah melihat. Namun, begitu sampai di sana, Yulia mendapati ruangan itu kosong.
“Kita makan sendiri saja. Jangan pedulikan Nafisa,” ujar Damar santai dari belakangnya.
Yulia tak langsung menjawab. Pandangannya masih terpaku pada kursi kosong tempat Nafisa biasanya duduk.
Ia mengembuskan napas pelan, kemudian menarik kursi dan duduk di meja makan.
Di sisi lain, Nafisa baru saja tiba di perusahaan. Setelah merapikan tas di bahunya, ia berjalan menuju ruangan CEO untuk menemui Dewangga, seperti yang direncanakannya semalam.
Langkahnya berhenti tepat di depan pintu ruangan tersebut. Nafisa baru saja mengangkat tangan untuk mengetuk ketika suara dari dalam lebih dahulu terdengar.
“Masuk.”
Bahu Nafisa sedikit terangkat karena terkejut. Ia menurunkan tangannya sambil mengembuskan napas pendek.
“Bikin kaget saja,” gumamnya.
Tanpa berpikir panjang, Nafisa menekan gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Ia melangkah masuk, lalu mendapati Dewangga sedang duduk santai di kursi kerjanya dengan beberapa berkas di atas meja.
Nafisa segera menghampirinya.
“Jadi, yang Bapak katakan semalam itu apa maksudnya?” tanyanya tanpa basa-basi.
Dewangga mengangkat wajah dari berkas yang sedang diperiksanya.
“Surat persetujuan cerai sudah ada di tangan saya. Kamu tinggal meminta suamimu menandatanganinya, lalu saya serahkan kepada pengacara untuk diproses.”
Nafisa terdiam sejenak. Ia kemudian menarik kursi di depan meja Dewangga dan duduk, masih berusaha memahami bagaimana atasannya bisa menyiapkan semuanya secepat itu.
“Apa Bapak sudah tahu semuanya?” tanyanya hati-hati.
Dewangga menyandarkan punggungnya pada kursi, lalu menatap Nafisa dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Menurutmu bagaimana?”
Nafisa mengerutkan kening. “Berarti Bapak memang sudah tahu?”
“Saya sudah membantumu, Nafisa. Tapi, kamu juga harus membantu saya.”
Nafisa langsung mengangkat wajah. “Apa?”
Namun, Dewangga tidak segera menjelaskan maksud perkataannya. Ia justru mengalihkan pembicaraan.
“Sekarang, fokus saja pada tujuanmu. Kamu ingin bercerai dengan suamimu yang brengsek itu, bukan?”
“Iya, Pak.”
Dewangga mengangguk kecil. Ia kemudian membuka salah satu laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Baca ini baik-baik.”
Ia menyodorkan amplop itu kepada Nafisa.
Nafisa menerimanya, lalu membuka bagian atas amplop dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen. Matanya langsung menemukan surat perjanjian perceraian di antara berkas-berkas tersebut.
Ia mulai membaca setiap halaman dengan saksama. Sesekali, keningnya berkerut ketika menemukan poin-poin yang mengatur haknya setelah perceraian.
Kedua sudut bibir Nafisa terangkat setelah selesai membaca isi perjanjian tersebut. Ia merapikan lembaran-lembaran kertas itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop cokelat.
“Setelah saya mendapatkan tanda tangannya, saya akan mengabulkan apa yang Bapak inginkan,” ujar Nafisa sambil menatap Dewangga. “Anggap saja itu bayaran karena Bapak sudah membantu saya.”
Dewangga menyandarkan punggungnya pada kursi, lalu mengangguk singkat.
“Sudah sepatutnya begitu.”
Nafisa terdiam sejenak. Tatapannya tertuju pada wajah atasannya itu, mencoba menebak apa sebenarnya yang diinginkan Dewangga darinya. Namun, laki-laki itu tak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Nafisa akhirnya memutuskan untuk tidak bertanya sekarang.
“Kalau begitu, saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya, Pak.”
“Silakan.”
Nafisa tersenyum tipis. Ia memasukkan amplop cokelat itu ke dalam tas dengan hati-hati.
“Terima kasih atas bantuannya, Pak.”
Dewangga hanya mengangguk.
Nafisa kemudian berbalik dan melangkah menuju pintu. Setelah membukanya, ia keluar dari ruangan CEO tersebut dan menutup pintu perlahan.
.
Suasana di dalam ruangan seketika hening setelah Nafisa pergi. Dewangga masih duduk di kursinya, dengan tatapan yang tak lepas dari pintu yang baru saja tertutup rapat.
Beberapa saat kemudian, ia menunduk dan mengalihkan pandangan ke layar ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
Di layar beranda, terpampang foto seorang gadis berseragam SMA.
Kedua sudut bibir Dewangga tanpa sadar terangkat. Ibu jarinya mengusap layar ponsel itu perlahan, tepat di atas wajah gadis yang sudah lama menarik perhatiannya.
“Tak masalah. Saya tetap menunggu,” gumamnya pelan.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu membuat Dewangga segera mengangkat kepala.
“Permisi, Pak.”
“Ya, masuk.”
Pintu terbuka, menampilkan sekretarisnya yang melangkah masuk sambil membawa beberapa berkas. Setelah berdiri di hadapan meja kerja, perempuan itu menyampaikan informasi yang baru diterimanya.
“Hari ini ada klien yang ingin bertemu dengan Anda. Katanya, mereka sudah membuat janji temu.”
Dewangga mengangguk, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
“Silakan suruh mereka menunggu di ruang pertemuan. Jangan lupa panggil kepala tim desain juga.”
“Baik, Pak.”
Sekretarisnya membungkuk sopan sebelum berbalik menuju pintu. Ia kemudian melangkah mundur sambil menarik kursi yang sempat bergeser hingga kembali ke posisi semula.
Setelah sekretarisnya keluar, suasana ruangan kembali hening.
Dewangga meraih ponselnya sekali lagi. Tatapannya sempat singgah pada foto di layar sebelum ia mematikan layar tersebut dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.
Ia kemudian bangkit dari kursi, merapikan jas yang dikenakannya, lalu berjalan menuju pintu.
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.