Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelang
Gedung lelang keluarga Lin tampak hidup dalam balutan kemewahan yang nyaris menyesakkan mata. Satu per satu tamu berdatangan, semuanya mengenakan topeng, menutupi identitas mereka dengan rapi seolah malam ini bukan hanya soal lelang, tetapi juga rahasia.
Begitu pula dengan Xinyao, Fengyun, dan Qinglan.
Ketiganya mengenakan topeng hitam yang telah disiapkan Fengyun—sederhana, elegan, dan menyatu dengan aura misterius tempat itu.
“Uwah…”
Begitu melangkah masuk ke aula utama, Xinyao langsung terhenti. Langkah kakinya melambat, bahunya sedikit terangkat, kepalanya menoleh ke segala arah.
Lampu-lampu kristal menggantung tinggi di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan yang berkilau lembut. Kilapannya jatuh ke lantai marmer, memantul ke dinding berornamen klasik-modern, menciptakan kesan megah yang sulit diabaikan.
Mulut Xinyao sedikit menganga.
Ia berdecak kagum pelan, matanya berkilau seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk ke istana.
Namun…
di sela-sela kekagumannya, ekspresinya sesekali berubah.
Ck… Ck…
Xinyao mengernyit, kepalanya miring sedikit. Ujung jarinya bergerak pelan, seolah merasakan sesuatu yang tak kasatmata di udara.
“Aura di gedung ini… berat sekali.” gumamnya lirih.
Nada suaranya tetap santai, namun sorot matanya tajam.
Ia menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Orang ini pasti sangat iri dengan kesuksesan keluarga Lin.”
Nada itu terdengar ringan, namun maknanya dingin.
Di sampingnya, Fengyun dan Qinglan saling melirik, lalu tersenyum kecil. Tingkah Xinyao sudah cukup mereka pahami—ceria, santai, tapi mematikan saat dibutuhkan.
“Ayo. Lelang akan segera dimulai.”
Fengyun melangkah setengah langkah ke depan, lalu dengan gerakan alami ia melingkarkan lengannya ke lengan Xinyao. Pegangannya tidak kuat, namun cukup untuk menuntunnya.
“Biar kamu tidak hilang.”
Ujarnya singkat, nada datar, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Xinyao menoleh sekilas, alisnya terangkat tipis, namun ia tidak menolak. Justru langkahnya menjadi lebih santai, mengikuti ritme Fengyun.
Di depan mereka, sebuah pintu besar menjulang kokoh. Dua pria bertubuh besar berdiri di kanan dan kiri pintu, bahu mereka tegap, sorot mata dingin di balik topeng.
“Undangannya.”
Suara pria itu berat dan datar, hampir menyeramkan. Tangannya terulur, telapak terbuka menunggu.
Fengyun melepaskan genggaman sesaat, lalu mengeluarkan undangan dari saku jasnya. Gerakannya tenang, penuh wibawa.
“Tiga orang dari keluarga Li.”
Ucapnya singkat, jelas, tanpa basa-basi.
Pria penjaga itu menerima undangan, menunduk sedikit untuk memeriksa. Pandangannya naik turun menilai Fengyun sejenak, lalu ia memberi kode kecil pada rekannya.
Klik.
Pintu besar itu terbuka perlahan.
“Silakan, Tuan.”
Nada suaranya berubah lebih sopan—tanda undangan itu asli.
Fengyun kembali melingkarkan lengan Xinyao, Qinglan melangkah di sisi lain fengyun mereka Bertiga masuk ke dalam ruang lelang, menuju deretan kursi VIP.
Lelang di mulai
Lampu utama di ruang lelang perlahan meredup.
Sorot cahaya lembut terfokus ke atas panggung.
Seorang MC berjas hitam melangkah maju dengan langkah tenang. Ia berdiri tegak di tengah panggung, senyum profesional terukir di bibirnya. Tangannya terangkat sedikit memberi salam.
“Hadirin terhormat, para tamu undangan yang kami muliakan.”
Suara MC terdengar jernih, tenang, namun memiliki kekuatan yang membuat seluruh ruangan seketika hening.
“Selamat datang di acara lelang malam ini—lelang eksklusif yang diselenggarakan oleh Rumah Lelang Keluarga Lin.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada suasana.
“Malam ini, bukan sekadar tentang nilai dan harga.
Setiap benda yang akan dipersembahkan memiliki sejarah, makna, dan rahasia yang tak ternilai.”
Beberapa tamu tampak menegakkan punggung, ketertarikan mulai muncul di balik topeng mereka.
“Sebagian di antara koleksi ini tidak akan pernah muncul untuk kedua kalinya.
Dan hanya mereka yang berani mengambil keputusan… yang pantas memilikinya.”
MC mengangkat tangan perlahan, gesturnya anggun dan penuh kontrol.
“Sesuai aturan, seluruh proses lelang malam ini bersifat rahasia.
Identitas peserta dilindungi sepenuhnya, dan setiap penawaran adalah komitmen mutlak.”
Nada suaranya sedikit diperdalam, menambah kesan tegang.
“Tanpa berlama-lama lagi…
izinkan kami membuka tirai malam ini.”
Ia menoleh ke samping panggung, memberi isyarat halus.
“Dengan ini, lelang eksklusif Rumah Lelang Keluarga Lin…
resmi dimulai.”
Lampu panggung menyala perlahan, dan tirai pun mulai terbuka.
Langkah sepatu hak terdengar pelan—ritmis dan tenang.
Dari balik tirai, Nona Lin Luoli muncul.
Tubuhnya tegap, gerakannya anggun, seolah setiap langkah telah diukur dengan sempurna. Gaun hitam panjang membingkai sosoknya dengan elegan, sementara wajahnya tertutup topeng tipis berwarna perak. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu berlapis beludru gelap.
Ruangan mendadak hening.
MC melangkah setengah langkah ke depan, suaranya kembali menggema.
“Hadirin sekalian, izinkan kami mempersembahkan… benda lelang pertama malam ini.”
Ia mengulurkan tangan ke arah Luoli dengan gestur hormat.
“Item ini akan diperkenalkan langsung oleh Nona Lin Luoli—putri sulung keluarga Lin.”
Luoli berhenti tepat di sisi panggung. Tangannya sedikit mengencang memegang kotak itu sebelum akhirnya ia membuka penutupnya perlahan.
Udara di dalam ruangan terasa berubah.
MC melanjutkan, nada suaranya diturunkan, seolah ikut menahan napas.
“Benda ini dikenal dengan nama Cermin Jiwa Malam.
Sebuah artefak kuno yang diwariskan turun-temurun sejak lebih dari dua abad lalu.”
Sorot cahaya diarahkan ke dalam kotak.
Di sana terbaring sebuah cermin kecil berbingkai perunggu tua, permukaannya redup, namun sesekali memantulkan kilau dingin yang tak wajar.
“Konon, cermin ini tidak memantulkan wajah…”
MC berhenti sejenak.
“melainkan hati.”
Bisik-bisik pelan terdengar di antara para tamu.
“Bagi mereka yang memiliki tekad kuat, cermin ini akan menjadi berkah.
Namun bagi yang hatinya goyah…”
suaranya sedikit diperdalam,
“cermin ini dapat menjadi kutukan.”
Luoli berdiri tanpa bergerak, wajahnya tenang, namun jemarinya bergetar sangat halus—getaran kecil yang nyaris tak terlihat.
“Harga pembuka untuk benda pertama ini…”
MC mengangkat palu kecil di tangannya.
“lima juta yuan.”
Palu diketukkan perlahan.
Tok.
“Lelang dimulai.”
Di antara para tamu, beberapa kepala menoleh.
Sementara di sudut ruangan VIP, aura di sekitar Xinyao perlahan berubah—seolah sesuatu di dalam cermin itu… telah menyadari kehadirannya.
Xinyao perlahan menegakkan punggungnya di kursi VIP.
Bahunya yang semula santai kini mengeras tipis, napasnya ditarik dalam—perlahan, teratur. Di balik topeng hitam itu, matanya memantul cahaya redup, tajam dan fokus.
Tanpa suara, ia memusatkan energi spiritualnya.
Aliran hangat mengalir dari dantian, merambat naik ke telapak tangan, lalu berdenyut lembut di pelipisnya.
“Cermin itu…” gumamnya nyaris tak terdengar, bibirnya bergerak sangat tipis.
Pandangan Xinyao terkunci pada benda di atas panggung.
Bukan pada bingkai tuanya, bukan pada kilau logamnya—melainkan pada sesuatu yang bersembunyi di balik permukaannya.
Ia menyipitkan mata, berpikir cepat.
“Aku akan menawar…” batinnya berujar tenang,
“tapi kalau harganya melewati tujuh juta yuan, aku akan mundur.”
Belum sempat keputusan itu mengendap sempurna—
Sebuah bisikan lembut tiba-tiba menyelinap ke telinganya, dingin namun penuh keputusasaan.
‘Tidak… Nona, tolong… tawarlah aku…
Aku sudah terlalu lama terkurung di dalam cermin ini…’
Xinyao tidak tersentak.
Tidak kaget.
Tidak gentar.
Sebaliknya, sudut bibirnya justru melengkung samar—sebuah senyum kecil yang hanya dirinya sendiri yang tahu maknanya.
“Tenang,” batinnya membalas singkat,
“aku dengar.”
Dengan gerakan mantap, Xinyao mengangkat papan angka miliknya.
Tangannya stabil, tidak sedikit pun bergetar.
“Enam juta yuan.”
Suaranya terdengar jelas, datar, namun cukup kuat untuk membelah keheningan ruang lelang.
Dalam sekejap, seluruh ruangan bergejolak.
Kepala-kepala menoleh.
Bisik-bisik menyebar seperti gelombang.
“Berani sekali wanita itu…”
“Cermin itu memang punya kegunaan, tapi risikonya—”
“Dia sudah gila.”
Di sampingnya, Qinglan mencondongkan tubuh, menyenggol lengan Xinyao dengan raut khawatir. Ia mendekatkan bibir ke sisi topengnya, berbisik pelan.
“Bukannya… cermin itu sangat berbahaya?”
Xinyao tidak menoleh.
Tatapannya tetap lurus ke depan.
“Tenang saja,” jawabnya ringan, nyaris santai,
“cermin itu… tidak seburuk kelihatannya.”
Nada suaranya begitu yakin hingga Qinglan akhirnya terdiam, lalu mengangguk pelan meski masih ragu.
Di atas panggung, MC mengangkat palu.
“Jika tidak ada penawaran lain…”
suara itu menggema, perlahan namun menekan.
“Satu…”
Ruangan menahan napas.
“Dua…”
Tak ada papan lain yang terangkat.
Tok.
Tok.
Palu diketukkan dua kali, mantap dan final.
“Barang pertama terjual. Selamat kepada nona di sana.”
Tangan MC terulur, menunjuk tepat ke arah Xinyao.
Sorot lampu mengikuti arah itu.
Di panggung, Nona Lin Luoli menarik napas dalam.
Ia menuruni anak tangga dengan langkah anggun, namun di balik ketenangannya tersimpan kelegaan yang nyaris tak terlihat. Begitu tiba di hadapan Xinyao, Luoli menyerahkan kotak beludru berisi cermin itu secara langsung.
Untuk sesaat, ujung jari mereka bersentuhan.
Udara di antara keduanya bergetar halus.
Xinyao menerima cermin itu dengan kedua tangan, senyumnya tipis—tenang, seolah baru saja menjemput sesuatu yang memang sudah menjadi miliknya sejak awal.
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...