Sekuel dari 'Menikah Muda Denganmu' sebelumnya. Klik profil jika ingin membaca cerita yang pertama!
Sofia Putri Anggara, gadis berisik yang penuh ide gila di kepalanya. Gadis muda berusia 19 tahun ini harus extra keras meluluhkan hati seorang
duda tampan dan kaya raya bernama Dilan Danuarta.
Duda yang memiliki sikap dingin, tegas dan tak suka dibantah.
Karena sebuah surat peninggalan adik kesayangannya, Dilan terpaksa harus menikah dengan Sofia gadis pilihan sang adik yang sudah meninggal.
Bagaimana kehidupan pernikahan antara gadis sembilan belas tahun dan pria beranak satu ini?
Usia yang terpaut dua belas tahun dan sikap yang bertolak belakang.
Sofia
"Abang akan jatuh cinta sama Sofi!"
Dilan
"Dalam mimpi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil Kesempatan
Pagi ini James melangkah dengan rasa bahagia ke dalam rumah besar. Pria itu semakin tampan dan gagah. Auranya semakin bersinar secerah matahari pagi yang menyinari kediaman rumah besar.
Tak henti-hentinya ia tersenyum. Menyapa pengawal dan pelayan lainnya dengan deretan gigi putihnya.
Lano sudah siap dengan seragam sekolahnya. Anak itu sedang menikmati
segelas susu di tangannya. Entah kenapa, melihat bekas susu di sudut bibir Lano membuat James ingin membersihkannya.
Tapi sebelum ia melangkah lebih dekat, Dilan dengan sigap lebih dulu melakukan itu.
"Pelan-pelan Lano. Daddy tidak akan merebut susu mu," ucap Dilan sambil mengusap lembut pipi Lano.
Lano membalas senyuman Dilan. "Lano harus segera ke sekolah Dad, pagi ini Lano harus datang lebih pagi. Ada pelajaran olahraga."
"Benarkah? Apa anak Daddy suka olahraga?"
"Sebenarnya Lano lebih menyukai bahasa Inggris Dad, tapi semua murid harus berolahraga." Lano berkata dengan wajah memelas.
"Kamu memang seperti Daddy. Daddy juga tidak suka olahraga. Daddy sangat malas bergerak kesana kemari. Tapi sebagai murid yang baik, Lano harus mengikuti setiap pelajaran di sekolah. Anak Daddy kan anak yang pintar?" Dilan mencubit kecil hidung mancung putranya yang menggemaskan.
James yang melihat adegan di depannya menjadi kesal. Wajahnya berubah sinis.
Seharusnya aku yang berada di situ. Dia anakku Tuan. Kamu tidak pantas memperlakukan anak pria lain seperti itu.
Andai kamu tau yang sebenarnya, bisakah kamu hangat seperti itu Tuan? Aku rasa kamu akan mengusir Lano dari sini, dan itu kesempatan ku untuk membawa Lano pergi.
Tunggu saja sebentar lagi Tuan.
James menyeringai licik. Ia harus bersabar sebentar lagi. Ia tidak ingin gegabah.
"James ...." Panggil Dilan.
James tersentak dari lamunannya. "Iya Tuan." Jawab James.
"Mulai sekarang, carikan Lano olahraga yang cocok untuk anak seusianya. Biarkan Lano menguasai beberapa olahraga agar Lano terbiasa." Suruh Dilan.
"Baik Tuan."
"Tapi jangan sampai Lano terpaksa. Biarkan dia memilih sendiri."
"Lano ingin mencoba Taekwondo Dad, apa boleh?"
"Apa saja asal kamu senang." Dilan mengelus kepala Lano kali ini.
James bertambah kesal. Ingin sekali ia merebut Lano sekarang juga dari tangan Dilan. Tapi itu tidak mungkin. Waktunya tidak tepat. Tapi hatinya sudah panas melihat Dilan bertambah dekat dengan putranya.
Setelah menghabiskan sarapannya, Dilan dan Lano pun pergi melakukan aktivitas masing-masing.
Dan inilah kesempatan James mengambil hati Lano. Setiap hari ia akan berusaha lebih dekat dengan Lano.
* * *
Di dalam mobil ....
"Apa jadwal hari ini padat lagi Boy?"
"Anda memiliki jadwal kosong di siang hari Tuan. Dan saya sarankan Anda pergi membeli cincin pernikahan dengan Nona Sofia."
"Haruskah Boy? Kenapa tidak kamu saja yang pergi?! Saya sangat malas belanja Boy. Itu sangat membosankan."
"Anda harus terbiasa mulai sekarang Tuan. Sisakan waktu Anda untuk anak dan istri Anda walaupun hanya beberapa jam saja dalam sehari." Boy menasehati.
Dilan terdiam sejenak. Mendengar Tutur kata Boy yang memang ada benarnya.
"Saya akan usahakan Boy. Inilah kenapa saya lebih memilih tidak mau menikah. Jika saja ayah masih sehat dan Aurel masih ada mungkin saya masih bisa sedikit bersantai."
"Anda harus menghadapinya dengan ikhlas Tuan. Saya yakin Anda pria yang kuat."
"Untung saja saya memilikimu Boy. Jika tidak, mungkin saya tidak akan sekuat ini."
"Jangan berlebihan Tuan. Saya di gaji, tentu saja saya bekerja dengan baik. Apalagi dengan gaji yang menggiurkan, siapa yang tidak senang," canda Boy.
"Dasar penjilat." Ketus Dilan.
"Hahahaha ...."
Boy dan Dilan turun dari mobil setelah sampai di tempat proyek pembangunan apartemen mewah di pusat kota.
Proyek kerja sama antara beberapa perusahaan besar, termasuk perusahaannya.
"Selamat pagi tuan Dilan." Sapa seorang pria paruh baya, pria berusia sekitar lima puluhan. CEO salah satu perusahaan yang juga bekerjasama di proyek ini.
Dilan membalas jabat tangan pria itu. "Selamat pagi juga Tuan Ar, " balas Dilan.
Tak lama kemudian, datang juga beberapa pria yang juga mengenakan jas rapi menghampiri Dilan dan Tuan Ar. Mereka adalah CEO dari perusahaan lain yang juga turut andil di proyek ini.
Para Pria Konglomerat itupun berkeliling dan berbincang sesaat. Sedangkan para asisten pribadi bos-bos besar itu siaga tak jauh dari para bosnya, termasuk Boy.
Namun penampilan Boy yang paling mencolok dari assisten lainya.
Setelah itu, Boy dan Dilan kembali melanjutkan pekerjaan lainnya. Pekerjaan yang selalu padat setiap hari.
Tak terasa sudah jam satu siang, Dilan hanya punya waktu dua jam untuk istirahat dan itu di manfaatkan Boy untuk menemui Sofia.
"Ayo Tuan, kita pergi membeli cincin! Nona Sofia sudah menunggu, tidak baik menyuruh perempuan menunggu terlalu lama." Ajak Boy.
"Iya Boy, kenapa sekarang kamu cerewet sekali?"
"Ini demi kebaikan anda Tuan."
"Iya iya." Dilan pasrah.
* * *
Sampai di tempat yang sudah di janjikan sebelumnya ....
Sofia yang sudah menunggu di depan mall, bergegas menghampiri Dilan yang baru turun dari mobil.
"Abang ..., "Sapa gadis itu sumringah.
"Hmmm." Balas Dilan malas.
"Abang iih, gemes banget sih." Mencubit pipi Dilan yang manyun. Dan Sofia merasa gemas melihat pria itu dengan wajah dinginnya.
Begitulah Sofia. Tak peduli dengan ekspresi Dilan yang dingin, baginya tetap menggemaskan.
Merekapun masuk kedalam mall, dan
langsung menuju toko perhiasan.
Sofia yang lebih antusias. Saat berjalan, lengan gadis itu selalu merangkul lengan Dilan yang hanya diam saja.
"Abang kenapa sih? Gak suka ya belanja bareng Sofi?" Sofia memanyunkan bibir tipisnya. Dan itu berhasil membuat Dilan jengah.
"Sudahlah. Beli saja yang manapun kamu suka. Cepat! saya lapar, belum makan siang." Ketus Dilan.
"Iya abang ...."
Sofia melihat beberapa cincin di etalase. Dan akhirnya ia memilih cincin couple sederhana yang unik menurutnya.
"Kenapa seleramu kolot sekali? Kenapa tidak yang itu saja!" menunjuk cincin berlian berukuran besar.
"Itu buat emak-emak arisan berlian Abang, masa Sofi mau pake yang itu. Abang yang norak." Sofi tak mau kalah.
"Bilang saja selera kamu murahan." Jutek Dilan.
"Abang tuh, yang seleranya ketuaan wleek ...." Sofia mengejek Dilan.
"Sudahlah Nona, Tuan. Waktu kita tidak banyak, hentikan perdebatan kalian." Boy menengahi dua orang itu, lalu segera mengambil kartu debit di saku jasnya, dan membayar cincin yang Sofia pilihkan.
Perdebatan pun berakhir, mereka segera keluar dari mall dan hendak menuju restoran untuk makan siang.
Buugh ... Sofia menyenggol seorang pria. Paperbag yang ia pegang terjatuh.
"Maaf, Eh ... Kak Lucas?" Kaget Sofia setelah sadar yang ia tabrak adalah Lucas.
Spontan Sofia melepas tautan lengannya dari lengan Dilan.
"Sofi ...." Balas Lucas dengan senyuman lebar layaknya iklan pasta gigi. Tampan dan manis.
Dilan mulai kebakaran jenggot. Entah kenapa ia tidak senang melihat Sofia akrab dengan Lucas. Apalagi Sofia melepas tangannya saat bertemu Lucas.
Tanpa permisi Dilan menarik pinggang Sofia agar mendekat padanya.
"Ayo sayang! masih banyak yang harus kita beli! atau perlu kita beli saja semua yang ada di mall ini beserta penjaganya." Dilan berkata asal. Yang pasti ia tidak senang melihat senyum Lucas, yang menurutnya cukup tampan.
Ciih ... Pria muda akan kalah dengan pria kaya dan berpengalaman. Sombong Dilan.
* * *
Horang kaya kalau cembokur gitu ya🙄🙄
Othor juga mau di beliin bang.
Lucas ... Jangan patah hati ya beib😆
Boy? Tetap setia jadi obat nyamuk😎
Jangan lupa tinggalkan jejak!!!