NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Keheningan melingkupi lorong lantai dua mansion Samudra. Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca membiaskan pendar keemasan di atas pintu kayu mahoni berukir tebal, pintu ruang kerja pribadi Roy Samudra yang telah tersegel rapat sejak malam berdarah beberapa bulan lalu.

Alvan berdiri kaku di depan pintu itu.

Jemari tangan kanannya meremas flashdisk titanium berinisial 'R' di dalam saku kemeja hitamnya. Pengakuan jujur Bi Inah di dapur tentang bagaimana Alvan merawat Andira semalaman masih terasa sebagai denyut hangat di dadanya, namun kebenaran yang tersembunyi di dalam flashdisk ini memanggilnya dengan desakan yang jauh lebih mendesak.

Alvan mengeluarkan kunci fisik master dari dompetnya. Dengan tangan bergetar pelan, ia memasukkan kunci itu ke lubang pintu, memutarnya dua kali hingga terdengar bunyi klik yang bergema dingin.

Pintu perlahan terbuka.

Aroma kertas tua, kayu pinus, dan wewangian maskulin khas Roy yang sudah memudar menyerbak menyambut Alvan.

Ruangan itu tampak diselimuti debu tipis, mematung persis seperti hari saat Roy tewas. Meja kerja kayu jati, rak buku yang berjejer rapi, serta lukisan abstrak di dinding belakang semuanya membisu, menyimpan rahasia seorang pria muda yang bernasib tragis.

Alvan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Langkah kakinya terasa berat saat berjalan mendekati lukisan abstrak besar di dinding utama. Dengan gerak cermat, Alvan menggeser bingkai lukisan tersebut ke samping, menyingkap sebuah brankas baja hitam buatan Jerman yang tertanam kuat di balik tembok beton.

Brankas ini bukanlah brankas biasa. Selain membutuhkan kombinasi angka mekanis, brankas pribadi Roy ini dilengkapi dengan sistem keamanan enkripsi digital ganda yang memerlukan hardware security key khusus, kunci digital yang selama ini dicari oleh tim penyidik dan tidak pernah ditemukan... hingga detik ini.

Alvan menarik flashdisk dari sakunya. Pria itu menatap ukiran huruf 'R' di permukaan titanium perak itu sejenak.

"Roy..." bisik Alvan penuh keharuan yang tertahan. "Izinkan Mas menemukan siapa yang sebenarnya menyakitimu."

Alvan memasukkan ujung flashdisk ke port USB berlapis emas di samping layar digital brankas.

Seketika, layar kecil yang semula mati berkedip menyala terang. Indikator lampu hijau berkedip cepat diiringi bunyi beep halus tiga kali.

ENCRYPTION KEY VERIFIED. ACCESS GRANTED.

KLAK!

Pintu baja tebal brankas membuka secara otomatis dengan desis vakum yang tajam.

Dada Alvan bergemuruh hebat. Otot-otot wajahnya menegang saat ia menarik pintu brankas hingga terbuka lebar.

Di dalam kompartemen brankas yang diterangi pendar lampu LED putih, tidak ada tumpukan batangan emas atau berkas saham triliunan. Hanya ada sebuah kotak kayu hitam kecil dan sebuah jurnal fisik tebal bersampul kulit cokelat tua dengan jilid jahitan benang emas yang elegan.

Alvan merengkuh buku harian itu ke dalam genggamannya. Pria itu bisa merasakan tekstur sampul kulitnya yang halus namun dingin.

Ia membawanya berjalan ke meja kerja Roy, mendudukkan dirinya di kursi putar yang pernah diduduki sang adik. Dengan napas yang tertahan di dada, Alvan membuka halaman pertama buku harian tersebut.

Tulisan tangan Roy yang rapi, tajam, dan khas terhampar di atas kertas krem tebal.

15 Agustus - "Mas Alvan terlalu sibuk dengan ekspansi proyek Singapura. Aku mengaguminya, tapi kadang aku merasa kesepian memikul nama Samudra ini sendirian. Beruntung ada Andira di kantor. Dia tidak memandangku sebagai pewaris kaya raya, melainkan sebagai kawan diskusi yang jujur dan tulus."

Mata Alvan meredup saat membaca nama Andira. Setiap helai kalimat yang ditulis Roy menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang yang murni terhadap Andira, bukan murni sebagai hubungan romantis yang manipulatif, melainkan hubungan persaudaraan dan kepercayaan yang dalam.

Alvan membuka halaman demi halaman berikutnya dengan jemari yang kian dingin.

28 September - "Elena semakin sering datang ke rumah dan kantor tanpa diundang. Dia terus menekan Mas Alvan agar memberinya posisi strategis di anak perusahaan, tapi ketika Mas Alvan menolak, dia mulai mendekatiku. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuatku tidak nyaman. Dia tidak mencintai keluarga ini... dia menginginkan kekuasaan Samudra Group."

15 Oktober - "Aku menemukan transaksi mencurigakan di rekening rekening pasif perusahaan yang diawasi Elena. Jutaan dolar dialihkan ke rekening lepas pantai atas nama perusahaan cangkang. Saat aku mempertanyakannya secara pribadi, Elena tertawa dan mengancam akan membocorkan rahasia masa lalu bisnis Mas Alvan ke media jika aku berani melapor."

Cengkeraman tangan Alvan pada pinggiran buku harian kian mengetat hingga kertas tebal itu sedikit terlipat. Rahangnya mengeras rapat. Darahnya mulai berdesir panas oleh kemarahan yang membakar.

Semua puzzle yang selama ini terpisah perlahan menyatu menjadi sebuah gambaran utuh yang mengerikan.

Alvan membalik halaman demi halaman dengan cepat. Setiap tulisan Roy di bulan Oktober hingga awal November menggambarkan bagaimana Roy terdesak oleh jebakan terencana yang disusun secara halus namun mematikan oleh Elena.

2 November - "Elena tahu aku menyukai kebaikan Andira. Dia mulai memalsukan dokumen untuk menyudutkan Andira, mengancam akan memenjarakan Andira atas tuduhan penggelapan dana jika aku tidak menuruti kemauannya. Wanita itu benar-benar iblis berwajah malaikat."

Napas Alvan memburu parah. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata rapat-rapat seraya menahan gelegar kekejaman yang meledak di pikirannya.

Iblis yang sebenarnya... selama ini berada di sampingnya! Elena... wanita yang menangis histeris di pemakaman Roy, wanita yang menyodorkan bukti-bukti palsu, wanita yang memprovokasinya untuk menghancurkan hidup Andira... adalah dalang utama yang merancang seluruh kejahatan ini!

Alvan kembali membuka halaman buku harian itu, mencari catatan hari-hari terakhir sebelum malam berdarah tanggal 14 November.

Jemarinya berhenti di sebuah halaman yang tampak agak kusam, dengan bekas tetesan air mata kering di sudut kertasnya.

Halaman itu bertanggal 10 November, tepat empat hari sebelum kematian Roy.

Alvan mendekatkan pandangannya ke atas kertas. Pendar cahaya matahari pagi yang menembus jendela menyinari tiap lekuk tinta hitam yang tergores tebal di sana, seolah-olah tulisan itu berteriak menuntut keadilan.

Roy menulis kalimat itu dengan tekanan pena yang sangat dalam, membuktikan keputusasaan dan kemarahan puncak yang dirasakannya saat itu.

10 November - "Dia mengancam akan menghancurkan keluarga Samudra jika aku tidak menikahinya. Aku harus memutuskan hubungan ini sebelum Elena bertindak lebih jauh."

DEGGGG!

Dunia di sekitar Alvan seketika membeku.

Kalimat itu terpatri di dalam otaknya bagaikan coretan takdir yang tak bisa dihapuskan.

Elena tidak hanya memalsukan transaksi keuangan. Elena telah mengancam Roy dengan kehancuran seluruh dinasti Samudra, menuntut pernikahan paksa untuk menguasai harta keluarga, dan ketika Roy menolaknya... tragedy 14 November itu pun terjadi.

Buku harian di tangan Alvan gemetar hebat. Mata pria itu memerah penuh dengan kombinasi emosi yang destruktif, kepedihan mendalam atas nasib adiknya, rasa bersalah yang tak terukur pada Andira, dan dendam membara yang kini beralih sepenuhnya pada satu nama.

Elena.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terburu-buru yang melangkah gontai dari arah lorong terdengar mendekati pintu ruang kerja Roy yang sedikit terbuka.

Alvan menoleh cepat.

Di ambang pintu, Andira berdiri dengan wajah pucat, memegangi dadanya yang memburu, dan matanya yang bening menatap lurus pada buku harian cokelat di tangan Alvan.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!