Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepanikan Alessa Melihat Tagihan Rumah Sakit
Aura dingin yang dibawa oleh Giovanni Alberto seolah membekukan uap hangat dari sisa sup ayam Prancis yang baru saja diselesaikan Alessa. Pria itu melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator kasta tertinggi. Setelan jas hitam pekatnya yang baru tampak begitu pas melekat pada tubuh tegapnya, memancarkan wewenang mutlak yang sanggup membungkam siapa saja tanpa perlu mengeluarkan satu patah kata pun. Di belakangnya, Bu Lastri menunduk hormat sedalam mungkin sebelum menarik troli perak keluar kamar dengan gerakan super senyap, meninggalkan Alessa berdua saja dengan sang penguasa dunia malam.
Giovanni berhenti tepat di ujung ranjang medis. Sepasang matanya yang berwarna hitam kelam, sedingin es kutub dan setajam belati, menatap lurus ke arah Alessa yang masih memegang sendok perak. Tatapan itu begitu datar, hampa dari emosi, namun memiliki tekanan psikologis yang luar biasa masif hingga atmosfer di dalam ruang rawat VIP itu mendadak terasa begitu tipis.
Alessa menelan ludah secara perlahan. Rasa hangat dari sup mewah tadi mendadak menguap, digantikan oleh debaran jantung yang kembali berpacu kencang. Kesedihan yang teramat mendalam dan rasa keterasingan sebagai anak yatim piatu kembali mencuat di dasar hatinya. Dia sadar betul, tempat ini bukan dunianya. Dia hanyalah seorang buruh potong roti miskin yang melarikan diri dari neraka pelabuhan tanpa alas kaki, dan kini dia terperangkap di dalam benteng mewah milik seorang pria asing yang namanya terdengar laksana dewa kematian finansial.
“Aku harus keluar dari sini,” bisik batin Alessa, rasa cemas mulai merayap di sela-sela tulang rusuknya yang masih linu. “Tempat ini terlalu indah untuk jadi nyata. Dan di dunia ini, tidak ada satu pun hal indah yang diberikan secara gratis.”
Namun, tepat ketika kepanikan dan rasa rendah diri itu hampir meremukkan garis pertahanan mentalnya, sekring pelindung psikologis anomali di dalam otak Alessa kembali memercikkan api sarkasme radikalnya. Komedi gelap adalah satu-satunya instrumen kewarasan yang dia miliki untuk menghadapi intimidasi masif dari Giovanni.
Alessa meletakkan sendok peraknya ke atas nampan kayu dengan bunyi dentang kecil yang sengaja diperkeras. Dia menegakkan punggungnya yang dibalut perban steril, menatap balik mata dingin sang miliarder kaku dengan seulas senyuman ironis yang dipaksakan.
"Waduh, Mas Bos Giovanni..." kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi, mengabaikan ketegangan yang mengudara di antara mereka. "Masuk kamar pasien gak pakai ketuk pintu lagi. Selera fasyun jas hitamnya sih oke punya, mirip agen rahasia film Hollywood yang siap eksekusi target. Tapi interupsi visualnya bener-bener gak ramah lingkungan buat proses pencernaan sup ayam mewah gue, Mas."
Dahi Giovanni berkerut sangat tipis—sebuah riak kecil yang menunjukkan bahwa dia kembali terganggu sekaligus tertarik oleh ketegaran gila gadis di depannya ini. Kebanyakan orang akan gemetar atau menangis memohon ampun jika berada di bawah tatapannya, namun Alessa justru mengomentari selera fesyennya di tengah kondisi tubuh yang penuh lebam dan jahitan.
Giovanni tidak membalas sarkasme tersebut dengan kata-kata. Sebaliknya, dia mengangkat tangan kanannya, menjentikkan jarinya sekali ke arah pintu yang terbuka.
Detik berikutnya, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas formal berwarna biru navy masuk ke dalam ruangan. Di tangannya, pria itu membawa sebuah papan klip kayu mahoni yang menjepit beberapa lembar kertas bertekstur tebal dengan kop surat berlambang foil emas murni. Pria itu adalah Kepala Administrasi Finansial Mansion, sosok yang bertugas mencatat setiap sen pengeluaran di bawah yurisdiksi aliansi Alberto.
"Tuan muda Giovanni," kata pria berjas navy itu sambil membungkuk hormat. "Ini adalah rincian kalkulasi pengeluaran logistik medis darurat untuk pasien atas nama Alessa, sesuai dengan perintah standar tertinggi yang Anda tetapkan tadi pagi."
"Berikan padanya," perintah Giovanni pendek. Suaranya yang berat, rendah, dan dingin memotong udara kamar, terdengar begitu mutlak tanpa bantahan.
Pria tambun itu melangkah mendekati ranjang Alessa, lalu menyerahkan papan klip tersebut dengan ekspresi wajah yang sangat formal, seolah-olah sedang menyerahkan dokumen nota kesepakatan damai antarnegara.
Alessa menatap lembaran kertas ber-foil emas itu dengan dahi mengernyit. Rasa penasaran bercampur cemas membuatnya meraih papan klip tersebut. Matanya yang cokelat buram mulai menyusuri deretan angka dan istilah medis berbahasa Latin dan Inggris yang tercetak dengan tinta hitam tebal di atas kertas mewah tersebut.
Satu detik... dua detik... tiga detik...
Mata Alessa mendadak melotot hingga hampir keluar dari kelopaknya. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis dalam satu detik linear. Wajahnya yang tadi mulai sedikit merona setelah makan sup, kini mendadak berubah menjadi putih pucat pasi, bahkan lebih pucat daripada warna sprei katun Mesir yang dia duduki.
Kepanikan massal berskala nasional mendadak meledak di dalam dada Alessa. Tangannya yang memegang papan klip mulai bergetar hebat hingga kertas-kertas tebal itu mengeluarkan bunyi berderit yang panik. Vertigo hebat yang tadi sempat mereda akibat dosis analgetik kini kembali menyerang kepalanya dengan kekuatan ganda, murni dipicu oleh syok budaya finansial tingkat akut.
Di atas lembar tagihan rumah sakit pribadi itu, tertera rincian biaya yang sanggup membuat seluruh silsilah keluarga pelabuhannya mengalami serangan jantung massal:
Prosedur Bedah Debridemen & Penjahitan Mikro (Punggung & Telapak Kaki): Rp 45.000.000,-
Penggunaan Ruang Operasi Steril Paviliun Barat (Per Jam): Rp 20.000.000,-
Cairan Infus Antibiotik & Analgetik Spektrum Luas Impor (3 Botol): Rp 15.000.000,-
Transfusi Darah O-Negatif Murni Berfilter Premium: Rp 10.000.000,-
Sewa Kamar Rawat VIP Eksekutif (Termasuk Fasilitas AC Sentral & Kasur Katun Mesir): Rp 25.000.000,- / Hari
Menu Nutrisi Darurat (Sup Ayam Konsome Ganda Koki Prancis): Rp 5.000.000,-
TOTAL TAGIHAN SEMENTARA: Rp 120.000.000,- (Seratus Dua Puluh Juta Rupiah)
"S-Seratus dua puluh juta..." desis Alessa, suaranya bergetar di frekuensi tertinggi, nyaris tidak keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering kerontang.
Angka itu terpampang nyata, berkilau di bawah pendaran lampu kristal. Bagi seorang buruh potong roti yang digaji bulanan dengan nominal yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu ban mobil mewah Giovanni, angka seratus dua puluh juta rupiah adalah sebuah konsep abstrak yang setara dengan harga tiket perjalanan pergi-pulang ke planet Mars. Utang judi Rian yang membuatnya disiksa sepanjang malam saja bernilai dua ratus juta, dan sekarang, baru beberapa jam dia terbangun di tempat ini, dia sudah menumpuk utang baru sebesar seratus dua puluh juta rupiah hanya untuk urusan jahit punggung dan semangkuk sup ayam!
Amarah yang dingin terhadap takdirnya yang selalu menguji batas kemiskinannya berpadu dengan kepanikan yang mencekik batin. Alessa merasa seolah-olah dia baru saja meloloskan diri dari terkaman buaya pelabuhan hanya untuk menceburkan diri ke dalam blender raksasa milik seorang miliarder gila.
Namun, di tengah badai kepanikan psikologis yang sanggup meruntuhkan mental orang biasa tersebut, mekanisme pertahanan absurd Alessa kembali mengambil alih kemudi kesadaran. Tameng sarkasme radikal miliknya terpasang secara paksa, mengubah rasa syoknya menjadi barisan kalimat komedi tragis yang meluncur tanpa filter.
Alessa mendongak, menatap lurus ke arah sepasang mata kelam Giovanni dengan tatapan yang sarat akan ironi radikal.
"Mas Bos Giovanni Alberto yang terhormat..." kata Alessa, suaranya tersengal-sengal namun nadanya dipaksakan setenang mungkin. "Ini... ini lembar tagihan rumah sakit atau nota pembelian pulau pribadi di kawasan Indonesia Timur ya? Itu sup ayam yang baru saja masuk ke perut gue harganya lima juta rupiah?! Lu serius, Mas? Itu ayamnya pas hidup dikasih makan emas batangan atau gimana sih? Apa koki Prancis lu itu merebus kuahnya pakai air suci dari Vatikan, makanya harganya bisa bikin lambung gue mendadak merasa berdosa begini?"
Pria tambun berjas navy terbelalak mendengar kelancangan Alessa yang berani mempertanyakan kalkulasi finansial mansion, namun Giovanni tetap berdiri kokoh tanpa riak emosi, mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah Alessa dengan tatapan sedingin es.
"Harga yang tertera di sana adalah harga standar untuk kualitas terbaik yang kamu terima, Alessa," sahut Giovanni datar, suaranya yang berat menggema pelan di dalam ruangan. "Di duniaku, tidak ada tempat untuk barang murah. Semua yang menyentuh tubuhmu malam ini memiliki harga mutlak."
"Tapi ini malpraktik manajemen keuangan namanya, Mas Bos!" seru Alessa, tangannya melambaikan papan klip itu ke udara dengan panik. "Itu biaya sewa kamar dua puluh lima juta per hari?! Ini kasurnya diisi pakai bulu angsa yang punya silsilah kebangsawanan Eropa atau gimana? Gue beralaskan kasur kapuk tipis di Surabaya saja bisa tidur nyenyak kok, Mas. Kalau tahu tarifnya se-kriminil ini, mending tadi pagi lu biarkan gue pingsan di atas trotoar saja. Lebih hemat biaya dan gak perlu bikin jiwa miskin gue mengalami guncangan gempa tektonik!"
Alessa meringis saat gerakan tangannya yang terlalu ekspresif kembali memicu linu di jahitan punggungnya. Dia menjatuhkan papan klip itu ke atas kasur, lalu memegangi kepalanya yang pening.
"Gila... bener-bener gila," umpat Alessa lirih, air mata keputusasaan yang bercampur lelucon kaku mulai menggenang di sudut matanya. "Utang judi Kak Rian saja belum lunas, sekarang ditambah utang biaya hidup mewah darurat di sini. Ini kalau gue potong roti di toko Ko Alung sampai rambut gue memutih dan berubah jadi abu pun, gak bakal bakal cukup buat melunasi lembar kertas emas ini, Mas Bos Giovanni."
Giovanni melangkah maju satu tapak, mendekati sisi ranjang Alessa. Postur tubuhnya yang tinggi tegap kembali mengirimkan gelombang intimidasi yang kuat, memaksa Alessa untuk menghentikan gerutu sarkasnya sejenak.
"Aku tidak pernah memintamu untuk membayar tagihan itu menggunakan uang sisa gajimu di toko roti, Alessa," desis Giovanni dingin, menatap lurus ke dalam mata cokelat Alessa yang panik. "Seratus dua puluh juta rupiah adalah angka yang terlalu kecil untuk ukuran investasiku. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya... di duniaku, segala sesuatu memiliki fungsi dan konsekuensi."
Pria itu membungkuk sedikit, mendekatkan wajah tampannya yang sedingin pahatan marmer ke arah Alessa, membuat aroma parfum mahal oud-nya kembali mendominasi indra penciuman gadis itu, menyingkirkan aroma kepanikan yang sempat menguasai ruangan.
"Tagihan ini adalah tanda terima resmi bahwa seluruh hak atas sisa hidupmu kini telah beralih ke tanganku," ucap Giovanni dengan nada suara yang sangat rendah namun bergetar dengan otoritas mutlak yang mematikan. "Kamu tidak perlu memikirkan bagaimana cara melunasinya dengan uang. Kamu hanya perlu memastikan bahwa sarkasme gila dan keinginanmu untuk bertahan hidup tetap menyala di hadapanku... karena malam ini, pembersihan besar-besaran terhadap orang-orang yang membuatmu berlari tanpa alas kaki akan segera dimulai menggunakan namamu."
Alessa mematung, menatap kedalaman mata hitam Giovanni yang hampa dari kehangatan namun dipenuhi oleh kalkulasi kekuasaan yang kejam. Di dalam ruang rawat VIP yang dipenuhi aroma sup ayam mewah dan lembar tagihan seratus dua puluh juta rupiah tersebut, Alessa menyadari satu hal: pelariannya dari neraka kecil Rian telah membawanya masuk ke dalam sistem permainan takdir baru yang jauh lebih megah, dingin, dan penuh dengan konsekuensi berbahaya di bawah kekuasaan mutlak Il Miliardario.