Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Toko Pandai Besi I
Kota yang hanya bisa diamati oleh Alexia dari balik kaca kamarnya ternyata lebih besar dari yang ia duga. Banyak orang berjualan dan berlalu-lalang, suara anak kecil yang tertawa juga membuat suasana kota tampak lebih hidup.
Semua orang beraktifitas dengan penuh semangat.
Sementara itu, seorang wanita muda yang mengenakan pakaian pelayan berjalan dengan santai. Tidak ada yang curiga karena lambang keluarga Swan di lengan kirinya.
Tidak perlu dijelaskan, karena pelayan itu adalah Alexia.
"Kota ini jauh lebih ramai daripada yang aku duga."
Alexia lalu meregangkan tubuhnya yang terasa kaku dan berkata, "Aku berjalan cukup lama, tapi pada akhirnya aku bisa keluar juga dari rumah yang pengap dan suram itu."
Dia pergi ke kota dengan menyamar sebagai salah satu pelayan keluarga Swan. Ban lengan berwarna merah dan berlambang naga melingkari pedang yang ia pinjam dari Siria juga menjadi bukti identitasnya. Apalagi, warna asli rambutnya yang perak sekarang berubah menjadi hitam.
Alexia memegang rambutnya yang terurai dan berpikir.
'Cat rambut yang selalu digunakan Siria untuk menyamar ini punya warna yang bagus dan tidak lengket. Aku suka.'
Dan untuk menyembunyikan warna matanya yang merah delima, Alexia memakai lensa mata berwarna biru muda.
Alexia senang karena tidak ada yang mengenalinya, tapi ia tidak tahu arah yang benar untuk pergi ke toko senjata.
"Hmm ..." Alexia berhenti sambil menoleh ke arah kiri dan kanan, tampak seperti orang yang kebingungan. "Kota ini terlalu besar, aku jadi tersesat. Siria tadi bilang aku harus belok kiri setelah bertemu toko roti, tapi aku tidak melihat toko roti di dekat persimpangan. Apakah aku salah arah?"
Semua toko yang dia lihat berjualan bermacam-macam jenis makanan. Ada beberapa toko, namun deskripsi roti yang mereka jual berbeda dengan yang dikatakan Siria.
'Apa sebaiknya aku bertanya pada orang yang lewat?'
Dan di sela-sela kebingungannya, perut Alexia berbunyi.
Krukkk
Alexia memegang perutnya dan berkata, "Bau makanan yang menyengat di sini membuatku jadi lapar. Lebih baik aku makan sesuatu dulu sebelum pergi ke toko senjata."
Karena tidak selera makan sayuran, Alexia hanya makan sedikit sebelumnya. Itulah sebabnya ia begitu kelaparan.
"Siria tadi memberikan aku uang berapa, ya?" kata Alexia sambil merogoh sakunya, dan jumlah yang dia temukan di dalam kantongnya adalah sepuluh koin tembaga kecil.
Makanan di kota rata-rata berkisar tiga sampai tujuh koin tembaga, jadi Alexia dapat memilih makanan sesukanya.
Waktu memilih apa yang ingin ia makan, Alexia menoleh dan tidak sengaja melihat penjual roti yang di dalamnya diisi daging sapi. Harganya yang murah dan terjangkau membuat Alexia tanpa basa-basi langsung membelinya.
Dia pun segera mendekat karena belum ada antrian.
"Bibi, aku beli satu." ucap Alexia sambil mengangkat jari.
"Baik, tunggu sebentar." balas bibi itu dengan ramah.
Bibi itu pun segera membungkus rotinya dengan kertas.
"Nona, apa kau orang baru di sini?" tanya bibi itu sambil memberikan roti yang sudah dihangatkan kepada Alexia.
"Iya, aku baru datang kemarin." Alexia mengangguk dan
mengambil rotinya sambil memberikan bibi itu dua koin tembaga. "Aku baru saja diterima kerja di keluarga Swan sebagai pelayan. Meskipun berat, tapi aku jadi terbiasa."
Bibi itu tersenyum dan berkata, "Aku senang mendengar kamu menyukainya. Kuharap kamu betah tinggal di sini."
"Ya, terima kasih." balas Alexia sambil tersenyum ramah.
Alexia yang ingat pun bertanya, "Oh iya, apa bibi tahu di mana toko senjata berada? Aku sudah mencarinya, tapi tidak ketemu. Apa aku yang salah mengambil jalan, ya?"
"Toko senjata di kota ini ada dua, tapi jika kamu mencari yang berada di dekat sini," bibi itu maju dan menunjuk ke arah timur. "Kamu tinggal mengikuti jalan ini. Toko itu terlihat sedikit bobrok, jadi kamu pasti menemukannya."
Alexia mengikuti arah yang ditunjuk dan mengangguk.
"Terima kasih, bibi. Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Ya, hati-hati di jalan. Sampai bertemu lagi, nona."
Alexia kemudian berbalik dan pergi meninggalkan toko, dan bibi itu yang tersenyum tiba-tiba menekuk bibirnya.
Tatapannya seperti orang yang tampak sangat curiga.
****
Beberapa saat kemudian...
Setelah makan dan mengisi perut, Alexia lanjut mencari toko senjata yang dimaksud. Dan setelah mencari cukup lama, akhirnya Alexia bisa menemukan toko senjatanya.
"Apa ini benar toko senjata yang dimaksud oleh Siria?"
Alexia ragu-ragu, karena dari depan tokonya terlihat tidak terawat dan bobrok seperti yang dikatakan bibi penjual roti. Bau busuk yang entah berasal dari mana membuat Alexia ingin muntah dan pergi meninggalkan tempat itu.
'Apa sebaiknya aku kembali saja?' pikirnya.
Namun saat berpikir ingin kembali, seseorang membuka pintu toko dan keluar. Seorang wanita yang mengenakan baju lusuh dan memegang botol bir menatap ke arahnya.
"Seorang pembeli?" ucap wanita itu dengan nada rendah.
Suasana pada saat itu langsung menjadi hening. Belum lagi, toko senjata itu berada di paling ujung jalan utama.
"Aku hanya melihat-lihat saja." balas Alexia dan berbalik pergi. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa lain—"
Padahal baru mengambil beberapa langkah, tapi wanita itu tiba-tiba berlari dan memegang tangan kanan Alexia.
"Ada apa? Aku sudah bilang hanya ingin melihat-lihat."
"Aku baru ingat." kata wanita itu dengan pandangan yang sayu karena mabuk. "Apa kau orang yang dimaksud oleh Hana dan Siria, orang yang ingin membeli pedang baru?"
Alexia yang tidak bisa kabur pun langsung mengaku.
"Ya, itu aku. Tapi aku belum memutuskan untuk—"
"Ini waktu yang tepat. Ayo ikut aku masuk ke dalam!"
Wanita itu menarik Alexia masuk ke toko dengan paksa.
"Kau mau membawaku ke mana?" Alexia bertanya-tanya.
Dan saat masuk ke dalam toko, suasana di dalam sama sekali berbeda dengan yang di permukaan. Di luar, toko ini tampak seperti rumah yang ingin roboh kapan saja, tapi setelah melihat ke dalam, Alexia sangat terpesona.
Berjejer di dinding, senjata dengan kualitas terbaik yang pernah Alexia lihat. Mulai dari pedang panjang, tombak, kapak, perisai dan baju besi, semuanya luar biasa cantik.
Alexia yang takjub dan masih tidak percaya berpikir.
'Apa dia orang yang membuat semua senjata ini?'
Wanita itu berhenti seraya berkata, "Senjata di sini terlalu berat dan tidak cocok untuk tubuhmu yang ramping, jadi aku membuat senjata dengan desain yang lebih ringan."
Di atas meja, terdapat sebuah pedang panjang dengan kualitas yang lebih baik dari semua senjata di sekitarnya.
Alexia berjalan ke meja itu dan melihatnya lebih dekat.
"Apa aku boleh menyentuhnya?" tanya Alexia.
"Sentuh saja, aku juga ingin mendengar pendapatmu."
Ketajaman pedangnya tepat dan tidak berlebihan. Berat dan panjangnya juga sudah diatur ke tingkat yang lebih cocok dengan pemakainya. Tidak diragukan lagi, bahwa senjata yang dia pegang saat ini adalah senjata terbaik.
"Bagaimana, apa kamu suka?"
Namun, entah kenapa pedang itu tidak sesuai seleranya.
"Aku akui ini pedang yang bagus, tapi aku sedikit tidak menyukainya. Apa kamu membuat pedang yang lain?"
Wanita itu meneguk bir dan berkata, "Tidak, aku hanya membuat satu. Hana tidak bilang mengenai seleramu, jadi aku membuatnya sesuai dengan bentuk tubuhmu."
'Bentuk tubuhku ...?' batin Alexia, sedikit kebingungan.
Alexia tidak ingin tahu lebih jauh dan tidak mau mencari tahu, jadi dia langsung meletakkan pedang di atas meja.
Tidak ada senjata yang cocok. Dan sekalipun ada yang cocok, tapi itu tidak sesuai dengan selera yang dimiliki oleh Alexia. Inilah yang membuat Alexia sangat pusing.
"Jadi, apa kamu ingin aku membuat yang baru?"
"Itu tidak perlu," Alexia menggelengkan kepalanya.
'Apa aku harus kembali dengan tangan kosong?'
Namun ketika Alexia menghela nafas, ia tidak sengaja melihat ke arah tong di sebelah rak baju besi. Di dalam tong itu, banyak senjata yang telah bengkok dan patah.
Dan salah satu di antara mereka menarik minat Alexia.
Senjata seperti apa yang membuatnya sampai tertarik?