Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.
Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.
"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Pintu yang Tak Disangka
Mobil meluncur pelan menjauh dari gerbang kediaman utama, lalu berbelok masuk ke jalan yang lebih sepi, menepi di tepi trotoar yang remang. Mesin dimatikan. Keheningan kembali menyelimuti, namun kali ini disertai detak jantung yang tak kunjung tenang. Vano membuka pintu, melangkah keluar ke udara malam yang sejuk, lalu duduk di bangku kayu tua di bawah cahaya lampu jalan yang redup — tempat yang sepi, tempat di mana ia tak perlu menyembunyikan apa pun.
Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan ponsel dan sebungkus rokok. Ia menyalakan sebatang, asapnya perlahan terangkat ke udara, menyatu dengan kegelapan. Layar menyala, menampilkan halaman kanal yang selalu ia tonton sendirian, di saat dunia terasa terlalu berat untuk dihadapi.
Video mulai diputar. Gitar mulai terdengar — melodi yang penuh kekuatan sekaligus kepedihan, setiap nada seakan merobek keheningan malam. Di layar, sosok itu tampak memetik senar dengan perasaan yang begitu dalam, Laudys. Satu-satunya pelariannya, satu-satunya cahaya di tengah hari-hari yang kelam.
Vano menghela napas panjang, mengembuskan asap perlahan. Matanya tak lepas dari layar, seakan wanita di sana mampu mendengar segala beban yang ia pikul.
Andai kau tahu… batinnya bergumam getir.
Betapa aku menginginkanmu, padahal aku sendiri tak mengerti... Tapi kenapa aku sangat terobsesi, dan menimbulkan petaka besar ini.
Langkah kaki terdengar mendekat — pelan, teratur, tak bergegas. Vano tak menoleh, mengira itu sekadar orang yang lewat. Namun langkah itu terhenti tak jauh dari tempatnya duduk.
"Tuan Vano…?"
Suara itu lembut, sedikit terkejut, namun tak menolak.
Vano mendongak perlahan. Di sana, berdiri Meloudy — tas kain tersampir di bahu, pakaian kerjanya sederhana, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, wajahnya tampak lelah namun tetap teduh. Baru saja pulang kerja.
Ia buru-buru mematikan layar ponselnya, menyembunyikan apa yang sedang ia tonton — tak ingin wanita sederhana ini tahu siapa yang menjadi pelariannya. Baginya, Laudys dan Meloudy adalah dua dunia yang tak akan pernah bertemu. Satu adalah bayangan yang sempurna di layar, satu lagi adalah kenyataan yang tulus di hadapannya.
"Meloudy…" suaranya terdengar serak, sedikit canggung.
Meloudy melangkah mendekat, menatapnya lekat — melihat sebatang rokok di jemarinya yang belum habis, wajahnya yang pucat dan penuh keresahan. Ia tidak menjauh, tidak pula menatapnya aneh. Hanya menatapnya dengan pandangan yang penuh pengertian.
"Tuan sedang apa di sini?" tanyanya pelan, berdiri di samping bangku itu.
"Tuan belum pulang?"
Vano mengangguk pelan, membuang sisa rokok ke tanah dan menginjaknya perlahan.
"Belum. Aku… Aku hanya sedang membenahi pikiran ku." Ia menatap lurus ke arah jalan yang sepi, tak berani menatap mata wanita itu.
Meloudy diam sejenak, lalu perlahan duduk di ujung bangku itu, memberi jarak yang sopan namun tetap dekat.
"Di manapun… Tuan boleh beristirahat sejenak" ucapnya lembut.
"Tuan bebas membenahi pikiran. Tak ada yang akan menuntut apa pun. Itu hak tuan"
Kalimat sederhana itu membuat dada Vano terasa sesak. Ia menoleh perlahan, menatap wanita di sampingnya — wanita yang bekerja keras setiap hari, yang hidup sederhana namun tetap tulus, yang tak pernah meminta apa-apa darinya.
"Kau… tidak bertanya apa-apa?" suaranya bergetar halus.
"Tidak heran melihatku duduk sendirian di kegelapan, merokok, menonton hal-hal yang tak seharusnya ditonton orang sepertiku?"
Meloudy tersenyum tipis, menatapnya tulus — tanpa ia sadari, di balik senyum itu tersembunyi hal yang tak pernah ia ketahui.
"Setiap orang punya tempat pelariannya masing-masing, Tuan. Ada yang mencari di keramaian, ada yang mencari di tempat sepi seperti ini. Tak ada yang salah dengan itu. Selama itu membuat Tuan sedikit lebih tenang… saya tak berhak menilainya."
Vano terdiam. Kata-katanya begitu ringan, begitu damai — persis seperti nada-nada yang selalu ia dengar dari video-video itu. Ia menggeleng pelan, menepis pikiran yang tak masuk akal itu. Suara yang terdengar serupa bukan berarti mereka sama. Laudys tak akan pernah berdiri di tempat seperti ini, tak akan pernah memanggilku 'Tuan'.
"Kau… sungguh berbeda dari mereka yang aku kenal," gumamnya pelan. "Di mana semua orang melihat gelar dan kekayaanku… kau melihatku saja. Kau mengingatkanku pada seseorang yang tak pernah bisa kutemui."
Meloudy menunduk sejenak, menyembunyikan kilatan di matanya, lalu mendongak kembali.
"Karena Tuan adalah manusia, sama seperti kami. Bukan sekadar jabatan, bukan sekadar nama keluarga. Tuan juga punya hati dan bisa lelah juga, bukan?"
Punya hati dan bisa lelah juga...
Kalimat itu meresap perlahan, meluluhkan pertahanan yang ia bangun begitu tinggi. Vano menunduk, menatap tanah yang dingin, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa matanya tak lagi perih menahan tangis.
"Meloudy…" panggilnya pelan.
"Ya, Tuan?"
"Terima kasih." Ia mendongak, menatapnya lekat — tak menyadari bahwa wanita di hadapannya memegang kunci segala kerinduannya.
"Terima kasih… karena melihatku. Bukan siapa sebenarnya aku, tapi siapa aku sebenarnya."
Meloudy terdiam sejenak, lalu tersenyum lembut — senyum yang begitu mirip dengan yang ia kagumi dari balik layar, namun ia tak pernah menyadarinya.
"Sama-sama, Tuan Vano. Dan jika Tuan butuh tempat beristirahat… saya ada di sini. Kapan pun."
Di bawah cahaya lampu jalan yang samar, di antara heningnya malam yang mulai merayap, mereka duduk berdampingan — tak banyak bicara, namun kehadiran satu sama lain sudah cukup untuk menenangkan badai yang berkecamuk di dada masing-masing.
Vano tak menyalakan ponselnya lagi. Ia tak tahu. Ia belum tahu. Bahwa dua sosok yang ia cari di dua dunia berbeda itu sedang duduk bersamanya, dan ia masih belum menyadarinya.
Meloudy memperhatikan Vano yang masih menunduk, bahunya tampak tak sanggup menahan beban sendirian. Ia menghela napas pelan, lalu berdiri perlahan.
"Tuan…" suaranya lembut memecah keheningan.
"Kalau Tuan tidak keberatan… ikut saya sebentar, boleh?"
Vano mendongak, bingung.
"Ke mana?"
"Ke tempat persembunyian saya. Di sana sepi, tenang… tidak ada siapa-siapa. Tempat di mana saya pergi saat lelah atau pikiran terlalu berat."
Vano menatapnya ragu sejenak, lalu perlahan bangkit berdiri.
"Baiklah."
Namun langkah yang diambil Meloudy justru menuju gedung perkantoran tempat ia bekerja — gedung yang Vano kenal betul. Ia mengerutkan kening, langkahnya melamban tak sadar.
"Meloudy…" panggilnya pelan, tak yakin.
"Kau membawa saya ke kantor?"
"Ya, Tuan," jawabnya tenang tanpa menoleh, langkahnya tetap mantap.
"Di jam begini?" Vano menatap pintu kaca utama yang sudah terkunci, ragu-ragu mengikuti wanita itu masuk lewat pintu samping yang masih terbuka.
"Bukankah sudah sepi? Apa yang ada di dalam?"
Meloudy hanya tersenyum tipis, memberi isyarat agar ia mengikuti.
"Nanti Tuan tahu sendiri."
Vano mengikuti di belakang, masih penuh keheranan. Ia mengenal setiap sudut gedung ini — ia yang mengesahkan pembangunannya, ia yang menandatangani peresmiannya. Namun saat Meloudy menuntunnya melewati lorong belakang yang sepi, menaiki tangga darurat yang jarang digunakan, hatinya mulai berdebar tak menentu. Semakin tinggi mereka naik, semakin ia merasa tak mengenal tempat ini.
"Kita… mau ke mana?" tanyanya lagi, suaranya terdengar pelan di tangga yang kosong.
"Ke atas," jawab Meloudy singkat namun lembut.
^^^Bersambung...^^^