Dia datang untuk menemui saudara kembarnya tapi kenyataan pahit harus dia terima, saudara kembarnya sudah meninggal dua hari sebelum bertemu dengannya.
Lila meninggal karena kecelakaan, mobil yang dia kendarai masuk ke dalam jurang.
Luna hadir ke dalam keluarga tersebut, dan menyamar menjadi seorang pembantu, dan dia menemukan fakta bahwa saudara kembarnya meninggal tidak wajar. Ada sekelompok orang yang sengaja ingin melenyapkan nya.
Luna marah dan bersiap untuk balas dendam, satu persatu informasi dia dapat dan perlahan dia memberikan hukuman kepada para penjahat tersebut.
Bagaimana Luna membalas mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak bisa
Alvian tak mau kalah, dia terus saja menghujat Miranda dan juga Rena.
Luna yang kesal mendengar pertengkaran mereka memilih pergi kembali ke kamarnya.
Baru saja gadis itu ingin membaringkan tubuhnya, terdengar suara orang memanggil namanya siapa lagi kalau bukan Miranda.
"Lun..Luna..."
"Ya nyonya," sahut gadis itu.
"Mulai malam ini kau tidur di kamar yang ada diatas."
"Diatas?"
"Iya,"
"Kamar yang mana nyonya?" tanya Luna lagi dengan gaya polosnya.
"Kau ikutlah denganku." ucap Miranda dengan wajah kesal tampaknya pertengkaran nya dengan Alvian masih menyisakan kekesalan dan kemarahan di hatinya.
"Maaf nyonya, saya.."
"Ya kau tidur di kamar ini." ucapnya
Deg
jantung Luna seakan berhenti berdetak, dia akan bertemu ayahnya, pria yang sangat dia rindukan, yang diam-diam dia cari walau tanpa sepengetahuan ibunya.
Rasa itu kembali membuncah, bergelora tanpa bisa di tahan, tanpa bisa di redam, semakin bergelora antara rindu yang teramat dalam dan juga rasa marah, kecewa dan entah rasa apalagi, dia sendiri tak mampu mendifinisikan perasaannya.
"Loh kok malah bengong, ayok!" bentak Miranda
"Ya..tapi nyonya." ucap Luna ragu
"Apalagi.."
"Saya..saya punya penyakit nyonya?" ucap Luna beralasan.
"Penyakit? penyakit apa? kenapa kau tidak mengatakan nya sejak awal, apa itu menular?" tanya Miranda, tubuhnya bergidik ngeri, takut tertular penyakit Luna.
"Bu..bukan nyonya, saya sehat, tapi saya suka berjalan saat tidur, saya takut nanti saya malah pergi bukannya menjaga tuan."
'Benar juga ,waktu itu dia juga berjalan sambil tidur, untung dia bilang, jika tidak bisa saja dia datang dan menggedor kamarku.' batin Miranda
"Maaf nyonya, bukannya saya menolak." ucap gadis itu lagi.
'lihatlah dia mulai percaya bukan, enak aja dia mau nyuruh aku, bisa nggak tidur aku, lagipula aku ke sini mau cari info tentang Lila saudara kembar ku, bukan beneran jadi pembantu.
"Ok, sekarang kamu panggil Bik Anne."
"Siap nyonya"
Luna segera berlalu untuk memanggil Bik Anne di belakang. Dan dia kembali bersama wanita paruh baya itu.
"Nyonya memanggil saya,"
"Iya, mulai malam ini kamu tidur di kamar tuan, dan jaga tuan baik-baik. Jangan sampai Alvian masuk dan menemui nya, jika dia maksa kamu segera teriak atau lapor sama saya."
"Baik nyonya,"
Setelah bicara Miranda berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Luna dan Bik Anne.
"Bik, Luna balik ya."
"Eh iya non." sahut bibik
"Bibik enggak apa-apa kan?"
"Enggak,"
Luna hendak berjalan menuju kamarnya, namun di hentikan oleh Alvian.
"Apa yang dia katakan? kenapa dia memanggil mu?"
"Oh itu, nyonya menyuruh saya menjaga tuan,"
"Baguslah, dengan begitu kita bisa leluasa melihat kakak, dan memberikannya obat. AKu ingin kakak ku segera sembuh.
"Tapi om, aku enggak bisa"
"Kenapa?"
"Om lupa siapa aku? aku kesini jadi pembantu pura-pura. Ingat om, pura-pura." tegas gadis itu
"Aku capek, dirumah bahkan aku tidak pernah membuat teh, disini aku tersiksa, belum lagi disuruh ini dan itu, rasanya aku jengkel banget, aku kesal
aku marah tapi sama siapa?"
"Sabarlah sebentar lagi semuanya juga akan terbongkar, aku mohon bertahan lah."
"ok, tapi aku mau secepatnya,"
"Aku janji,"
Luna meneruskan langkahnya menuju kamar, dia berbaring dan memikirkan semuanya.
muncul pertanyaan di kepalanya, apa sebenarnya tujuan Alvian?
Mengapa dia meminta Luna menjadi mata-matanya sementara dia sendiri juga ikut tinggal di rumah itu?
Luna jadi sedikit curiga padanya.
Di dalam kamar, Miranda dan Rena sedang merencanakan sesuatu.
Mereka akan membuat Alvian segera angkat kaki dari rumah.
"Ma, bagaimana ini?"
"Mama juga bingung, Luna tidak sekolah jadi dia tidak bisa meniru tanda tangan Lila."
"Atau kita minta saja dia jadi Lila sementara Ma?" usul Rena
"Benar, tapi bagaimana agar Alvian tidak tau,"
"Atau...kita singkirkan saja si Alvian brengsek itu, mama bisa menyuruh seseorang melenyapkan nya."
"Tidak, Mama tidak setuju."
"Kita jebak saja dia?"
"Caranya?" tanya Rena bingung
"Mama sudah punya rencana, tenang saja." ucapnya tersenyum lebar.
***
Pagi sekali Miranda sudah bangun, dan segera melihat suaminya.
Bik anne masih betah menemaninya tuannya, "Kamu boleh pergi."
"Baik nyonya?"
"Pagi suamiku, apa kabar? aku baik tapi kamu, heheheh" Miranda terkekeh pelan.
"Harusnya kau mati saja menyusul istri dan anakmu, ya kan?"
Setelah bicara Miranda melangkah keluar, di dalam kamar tanpa dia sadari Surya menggerakkan tangannya, merespon apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
othor fokus 1 novel aja spy g salah, yg baca jd bingung & byk typo lho SMP part ini
hpmu jgn lupa diambil, lumayan merekam smua obrolan bs jd bukti
skip" obrolan pas nenek lampir & anak'a
siapa hayo yg kepoin Luna...