Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bocornya Dua Rahasia
Hari sudah semakin siang. Indy sudah melewati beberapa babak pertandingan. Seperti janjinya, Angga selalu menunggu Indy di garis finish.
Cowok itu menepati janjinya dan membuat Indy semakin bersemangat. Tinggal satu babak lagi yang harus Indy lewati untuk sampai di tahap akhir pertandingan.
Di babak akhir inilah yang akan menjadi pertarungan paling sengit untuknya. Sebab, Dia akan berhadapan dengan Siksa. Cewek yang menganggapnya sebagai musuh bebuyutan.
Indy sudah memikirkan strategi apa yang akan dia pakai untuk bisa mengalahkan Siska. Dia telah menyusunnya sejak semalam. Angga pun tidak luput dari strategi-strategi yang akan Indy lancarkan. Cowok itu lebih mengenal Siska dari pada Indy. Angga mengetahui berbagai jenis kelicikan yang akan Siska gunakan untuk meraih kemenangan.
Suara panggilan yang di tujukan untuk Indy dan Siska, berkoar-koar di seluruh pengeras suara di sana. Indy kembali bersiap. Memakai kembali pelindung siku dan lututnya. Serta melengkapinya dengan helm full face untuk melindungi kepalanya.
Gadis itu mulai berjalan mendekat ke arah motor yang akan dia gunakan untuk beradu kecepatan dengan lawannya.
Dengan tenang dia menunggangi motor racing itu dan mulai menyesuaikan diri dengan menggeber pedal gas.
Lawannya yang berada tak jauh di sampingnya pun tak mau kalah. Siska bahkan sempat melihat ke arah Indy dengan sorot mata tajamnya.
Sorot mata itu tidak sedikitpun menggoyahkan Indy. Dia sangat yakin bisa sampai di garis finish lebih dulu dari Siska.
Lampu tanda bersiap telah menyala, hanya menunggu beberapa detik lagi untuk Indy bisa melesat membelah lintasan sepanjang 201M. Lampu hijau menyala, raungan dari kedua knalpot motor racing saling beradu.
Siska dengan licik mencuri start. Gadis itu dengan berani melakukan hal sedemikian riskan untuknya. Dia bahkan bisa di diskualifikasi saat itu juga jika kamera menangkap basah perbuatannya.
Indy sudah menduga hal ini akan terjadi, dan dia bisa mengatasinya. Tepat sedetik sebelum Siska sampai di garis finish, Indy sudah berhasil mendahuluinya.
Sorak-sorai penonton yang memberikan dukungan dari kedua kubu yang berlawanan terdengar riuh sepanjang lintasan balap.
Belum di ketahui pasti siapa yang berhasil menjadi pemenang di babak final balap motor racing saat ini. Sebab juri perlu menelaah lebih lanjut dari banyak sisi.
Butuh waktu berapa jam lagi untukk mengetahuinya. Tapi Indy sudah tidak bisa menunggunya lebih lama lagi. Gadis itu khawatir akan tiba di rumah larut malam jika harus menunggu hasil pengumuman.
Maka dari itu dia memutuskan untuk pulang lebih awal dari yang lain. Angga pun menyetujuinya. Namun, cowok itu tidak bisa mengantar Indy pulang. Sebagai ketua team, Angga harus berada di sana sampai akhir. Indy tidak keberatan jika harus pulang tanpa di antar oleh Angga. Dia sangat mengerti Angga yang memang harus tetap berada di sana untuk mengetahui siapa yang menjadi pemenang event balap kali ini.
"Kamu udah cukup baik hari ini. Aku bangga sama kamu. Aku juga berterimakasih, karena nggak ada lecet sedikitpun di tubuh kamu. Hati-hati pulangnya, Sayang. Kalau udah sampai di rumah, kabarin aku. Oke?" ucap Angga setelah mengantar Indy sampai di halte yang letaknya tidak jauh dari tempat balap tadi.
"Iya. Udah sana, nanti kamu di cariin sama crew."
Angga tidak menunggu Indy sampai mendapatkan bis. Cowok itu harus segera kembali untuk menunggu keputusan.
Tiba-tiba, tak berapa lama setelah Angga pergi. Sebuah mobil berwarna hitam mengkilap berhenti di depan Indy yang sedang duduk di bangku halte.
"Ngapain lo di sini?" tanya gadis itu dengan lantang saat si pengemudi mobil membuka kaca jendela yang membuat wajahnya terlihat dengan jelas.
"Buruan masuk, nggak akan ada bis lewat. Ini hari libur, lo bakalan lumutan di halte buat nungguin bis lewat," balas cowok itu yang ternyata adalah Rio.
Indy menurut dengan ucapan Rio dan masuk ke dalam mobil itu. Dia tidak lagi ragu pada cowok itu, pikirnya membenarkan ucapan Rio tadi. Di hari libur seperti ini memang hanya sedikit bis yang beroperasi.
"Lo belum jawab pertanyaan gue," ucap gadis itu memecah hening di dalam mobil.
"Apa?" tanya Rio padanya.
"Lo ngapain ada di tempat tadi? Kebetulan lewat aja, atau …."
"Atau nonton lo balap," ucap Rio kemudian senyum kecil tersungging di bibir cowok itu.
"Lo nonton?" tanya Indy dengan was-was.
"Tadinya sih, gue nggak sengaja lewat daerah situ. Gue tau ada event balap karena di depan gerbang ada spanduk yang nunjukin lagi ada perlombaan. Ya udah, iseng aja gue nonton," jelas Rio.
Indy tidak langsung percaya dengan ucapan cowok itu. Nampak dengan jelas Rio tengah membohonginya.
"Lo emang udah tau di situ ada event balap. Dan lo tau, gue ada di sana. Ngaku deh, lo."
Rio tertawa melihat mimik serius di wajah Indy. Cowok itu merasa geli melihat Indy yang berhasil menangkap basah aktingnya.
"Kok, lo tau sih. Iya, gue emang tau. Ternyata cowok lo ganteng juga ya," ucap Rio meledek Indy.
Indy hanya melotot pada Rio saat cowok itu mengatakan hal yang sangat mengejutkan. Indy tidak tahu jika Rio juga mengetahui Indy punya pacar.
"Lebih baik lo tutup mulut aja deh, dari pada buat masalah sama gue," ucap Indy mengancam.
"Bisa aja. Tapi, lo harus janji," balas Rio tak mau kalah.
"Ribet. Janji apa?"
"Jangan sampe lo lecet sedikitpun karena ikut balap. Kalau gue tau, lo jatuh atau apapun yang buat lo luka. Lo harus siap, gue akan bilang semuanya sama bapak lo," ucap cowok itu dengan serius. Bahkan, matanya tidak melihat ke arah Indy sedikitpun.
"Oke. Lo bisa pegang janji gue," ucap Indy menyetujui.
"Nggak usah merasa terancam. Gue ngomong kayak gitu, demi kebaikan lo. Apa lo selamanya mau bohongin orang tua lo?"
"Iya, gue tau. Suatu saat, gue juga bakalan berhenti kok."
Obrolan itu terus terngiang menghantui pikiran Indy. Dia selalu was-was karena Rio telah mengetahui kedua rahasia terbesarnya.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!