NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16•Tamu Yang Tak Diharapkan

Naya bangkit dari duduknya. Pintu ditutup pelan oleh Arkan. Langkahnya mendekat, berat dan sengaja.

“Kamu jadi istri gak becus banget,” suaranya meninggi, menggema di seluruh kamar. “Dipanggil Mama buat masak makan malam, gak nyaut.”

Naya mundur selangkah. Lelaki di depannya terasa asing. Bukan Arkan yang ia kenal. Bukan Arkan yang ia pacari selama lima tahun.

“Mas, aku gak ngerti lagi sama kamu. Kamu anggap aku ini apa sih?” Suara Naya bergetar. Ia menahan air matanya. Ia tidak mau lemah. Tidak mau terus diam dan membenarkan semua kesalahan Arkan.

“Nay, kamu harusnya berterima kasih,” bentak Arkan. “Coba aja aku gak nikahin kamu. Kamu masih tidur di kontrakan reot itu.”

Naya jatuh terduduk di pinggir ranjang. Tangannya meremas ujung sprei sampai buku jarinya memucat. “Kalau begitu, tinggalkan aku saja. Biar aku terus tinggal di kontrakan itu.” Suaranya lirih. Kini ia tahu maksud Arkan menikahinya.

“Aku tahu kalau kamu pergi keluar kota bersama Dewi. Dia mantan pacar kamu, kan?” lanjut Naya. Bendungan yang ia tahan jebol. Air mata menerobos keluar.

Rahang Arkan mengeras. Urat di lehernya menegang. Tangannya mengepal kuat. “THANAYA! JAGA BICARAMU!”

Bugh.

Tinju Arkan menghantam dinding. Debu berjatuhan. Ia meluapkan emosi ke tembok, bukan ke Naya.

Refleks, Naya mengangkat lengan untuk melindungi wajahnya. Saat ia menurunkan lengan itu, punggung tangan Arkan sudah memar. Bahkan berdarah.

Naya langsung membuka pintu. Tapi Arkan lebih cepat. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu mendorong tubuh Naya ke atas kasur dengan kasar.

“Jangan mimpi untuk pergi dari aku. Aku gak mau kehilangan kamu, Nay.” Arkan mendekat. Jarinya mengelus pucuk rambut Naya.

Dada Naya sesak. Isak tangisnya tidak bisa lagi dibendung.

“Temanku akan datang malam ini. Ganti bajumu yang rapi dan terlihat cantik. Lalu turun ke bawah,” perintah Arkan. Ia berbalik dan membuka pintu keluar dari kamar, meninggalkan Naya yang masih terisak didalam.

Beberapa menit kemudian, Naya duduk menghadap kaca rias di depannya, matanya masih merah sisa tangisan tadi. Sejak Arkan pulang ia lebih sering menangis.

Naya mencoba tersenyum didepan cermin itu, tapi rasanya tetap sesak dan sulit. Kini piyama tidurnya sudah berubah menjadi dress berwarna biru muda, ia poleskan sedikit lipstik di bibirnya.

Lalu ia keluar kamar, dibawah sudah ramai terdengar suara tawa, suara wanita yang terdengar familiar. semuanya berkumpul di ruang tengah dan asik mengobrol.

Naya menuruni anak tangga dengan langkah malas, tangannya semakin erat memegang besi tangga saat suara wanita asing itu terdengar lagi.

Sampai Bara datang hendak ke pantry, dan berpapasan dengan Naya, ia terlihat berhenti melangkah, lalu memilih mendekati Naya.

"Kamu gak papa?" wajahnya khawatir, wajah Bara sama sekali tak mirip dengan Arkan, bahkan dua orang itu bagaikan langit dan bumi, tapi dulu Arkan juga selembut Bara, mereka satu darah.

Didalam rumah ini bukannya semua orang harus diwaspadai?

Naya tak menjawab, lagi-lagi ia ingat batasan, apa lagi melihat Bara yang semakin hari semakin terlihat peduli dengannya, entah kasihan atau memang dia berpihak kepada Naya.

Naya meninggalkan Bara disana, Bara yang masih diam sambil memperhatikan langkah pelan Naya, sampai hilang di persimpangan ruangan.

"Ehh Mbak Naya ya..?" ujar perempuan itu.

Perempuan yang memakai dress merah diatas lutut, rambutnya lurus, wangi nya tercium dari kejauhan, wajahnya terlihat seperti keturunan China. Dewi, wanita yang terus berputar namanya dikepala Naya.

"Nay, ini temen kerja aku Dewi" ujar Arkan dengan entengnya memperkenalkan mantannya kepada Naya, ia menyambut uluran tangan Dewi, terpaksa.

"Nay, ambilin minum buat tamu kita dong" ujar Ibu Desy, bahkan Naya saja masih berdiri dan baru datang.

Ia langsung mebalik badan menuju dapur tanpa menjawab. Sudah biasa, bahkan Dewi terlihat akrab dengan semua orang.

Bara masih didapur, dia sedang membuat minum dengan telaten menuang gula kedalam tiap-tiap cangkir di nampan, "Biar aku aja yang buatin minum, kamu duduk aja disana" ujar Bara tanpa menoleh kearah Naya.

"Bar..." gumam Naya pelan, lirih nyaris seperti berbisik.

Bara berhenti mengaduk teh dicangkir itu, kedua tangannya meremas ujung meja. Lalu berbalik melihat Naya, "Nay, maaf aku gak bisa berbuat apapun"

Naya tak membalas ucapan Bara, ia berbalik untuk pergi namun segera dicegah oleh Bara, ia menarik tangan Naya pelan dan menghambur ke pelukannya, hangat tapi baru beberapa detik Naya langsung mendorong Bara untuk menjauh.

"Bar, kamu gila!!, jangan melewati batas" suara Naya dibuat lebih rendah agar orang diruang tengah tidak mendengarnya.

Bara mendekat lagi, lalu meraih tangan Naya namun sekuat tenaga Naja juga melepaskannya tapi tidak berhasil. "Kamu bisa datang ke aku kapan aja kalau lagi sedih Nay"

Naya melepaskan tangannya dari genggaman Bara, ia berlari menuju kamarnya lalu mendorong pintu dan menutupnya rapat, Naya berdiri dibelakang pintu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, perasaan yang tak seharusnya ia rasakan.

Diruang tengah, Bara menaruh teh hangat di meja. Ibu Desy meliriknya dengan bingung.

"Lho, kok kamu yang bikinin minum nak, mana Naya?" tanya Ibu Desy.

"Apa dia yang nyuruh kamu bikin minum?" sahut Arkan.

"Enggak, tadi Mbak Naya ngeluh sakit perut terus balik ke kamar, kasian aku suruh dia istirahat" ujar Bara, bohong.

Dewi meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati. Bunyi keramik yang beradu terdengar terlalu nyaring di tengah keheningan ruang tengah.

“Maaf ya Bu, saya kepo,” ujarnya, menatap Ibu Desy dengan senyum manis. “Mbak Naya sakit perutnya parah? Tadi mukanya pucat banget pas salaman.”

Ibu Desy langsung menoleh. “Ah, paling masuk angin. Anak itu kalau capek sedikit langsung tumbang.”

Dewi mengangguk, tapi matanya malah beralih ke Arkan. “Mas Arkan gak lihat ke atas? Kasihan, masa istri sakit dibiarin sendiri.”

Arkan terdiam. Jarinya mengetuk meja sekali, dua kali.

Bara yang duduk di ujung sofa ikut menegang. Ia tahu kemana arah pertanyaan itu.

“Wajar lah Dew,” potong Arkan, suaranya datar. “Tamu lebih penting daripada drama di atas.”

“Drama?” Dewi mengangkat alis. Ia tertawa kecil. “Aku kira kalau istri sakit, suami yang pertama panik. Tapi mungkin aku salah. Zaman sekarang beda ya.”

Nada suaranya ringan. Tapi setiap katanya jatuh seperti batu ke permukaan air. Membuat riak yang tidak bisa diabaikan.

Ibu Desy tersenyum kaku. Bara menunduk, pura-pura menatap ponselnya.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!