NovelToon NovelToon
I Will Go To Your Destiny

I Will Go To Your Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: M.Khaidar Ali Fathan

Perjalanan celah dimensi antar ruang angkasa, seorang pangeran kerajaan menjadi pengamat takdir dari sang Penjaga cahaya dari kegelapan absolute yang terus melahap semuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Khaidar Ali Fathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengorbanan Sang Ayah Demi Putri Tercinta

Matahari bersinar terik, menyinari perkebunan luas di pinggiran Central. Alexius menyeka keringat di dahinya, tangannya memilah buah-buahan segar yang siap dipanen untuk dikirim ke luar wilayah. Namun, kesibukannya mendadak terhenti ketika Franc Detern, sahabat karibnya sejak kecil, berjalan tergesa-gesa menghampirinya dengan raut wajah cemas.

"Hei, Alexius! Kau dipanggil Bos sekarang," panggil Franc. "Katanya ada sesuatu yang mendesak yang ingin dibicarakan. Cepat sana temui dia. Kau tahu sendiri kan, kalau keinginannya tidak dituruti, kau akan dihabisi dengan hinaannya."

Alexius menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Oke. Franc, tolong bawa buah-buah dan sayuran ini ke gudang belakang dulu, ya?"

"Sudah, taruh saja di situ, biar aku yang urus. Cepat pergi sana!" desak Franc setengah mendorong bahu sahabatnya.

Alexius pun bergegas menuju gedung kantor utama. Di sepanjang koridor, pikirannya dipenuhi pertanyaan.

(Apa yang sebenarnya ingin dia bicarakan? Apakah aku berbuat kesalahan akhir-akhir ini? Ah, tidak mungkin... aku selalu bekerja keras sesuai arahannya. Atau... ini tentang dokumen perjanjian itu?)

Begitu pintu ruang kerja yang mewah itu diketuk dan dibuka, bentakan keras langsung menyambut pendengaran Alexius.

Govaro Gyle, sang pemilik perkebunan, sudah duduk bersandar di kursi dengan tatapan mata keangkuhan.

"Woi! Kau punya kaki tidak, hah?! Lama banget cuma jalan kesini doang! Dasar rendahan!" semprot Govaro, melemparkan pandangan jijik.

Alexius menundukkan kepalanya. "Maafkan saya, Tuan Govaro."

"Cih! Aku memanggilmu kesini untuk membicarakan tentang dokumen perjanjian itu," ucap Govaro sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kaca. "Sudah lumayan lama semenjak perjanjian hutang itu dibuat. Hebat juga mentalmu, terus-menerus bekerja di bawah tekananku. Berhubung sisa hutangmu akan lunas dalam tiga bulan lagi, aku memutuskan bahwa khusus bulan ini, kau tidak akan kubayar. Jadi, seluruh hutangmu yang tersisa tiga bulan itu langsung kuanggap tertutup semua pada bulan ini! Itu ada di dalam klausul perjanjian kita. Kau sudah menandatangani bahwa di akhir-akhir masa pelunasan, aku berhak merubah cara pelunasannya, bukan?"

Mendengar kata-kata itu, ingatan Alexius langsung melesat kembali ke masa lalu, ke titik di mana semua beban ini dimulai.

*Kilas Balik: Satu Tahun yang Lalu*

Di ruangan yang sama, Alexius berdiri dengan tubuh gemetar, memberanikan diri menghadap sang bangsawan kaya demi masa depan putri semata wayangnya.

"Sebelumnya, maafkan kelancanganku, Tuan Govaro... Apakah... apakah boleh aku meminjam sejumlah uang kepadamu untuk persiapan biaya masuk anakku ke Sekolah Kerajaan?" tanya Alexius dengan suara bergetar. "Anakku sangatlah pintar, Tuan.

Cita-citanya sejak kecil adalah ingin menimba ilmu di Sekolah Kerajaan Central, dan biaya pendaftarannya tidak sedikit. Oleh karena itu, aku ingin meminjam beberapa uang..."

Saat mengucapkan kalimat itu, Alexius mendadak teringat akan sebuah sore yang indah di Taman Timur Central, ketika ia berjalan-jalan menggandeng tangan mungil Alexa.

“Lihat tumbuhan itu, sangat subur ya, Alexa?” tunjuk Alexius bangga.

“Ya, Ayah! Karena tumbuhan itu mempunyai cukup ruang untuk mendapatkan cahaya matahari yang bebas untuk berfotosintesis,” jawab Alexa kecil dengan cerdas.

“Coba lihat tanaman kecil di bawahnya, Ayah. Mereka layu karena tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup... Oh ya, Ayah! Cita-citaku kalau sudah besar nanti, aku ingin menjadi salah satu Menteri Kerajaan Central! Maka dari itu, aku harus belajar dengan sangat giat agar bisa keterima di Sekolah Kerajaan. Aku ingin di masa depan nanti, aku bisa menjadi jembatan cahaya antara masyarakat kecil dan pihak kerajaan, agar kita semua bisa sama-sama bersinar!”

Kata-kata mulia yang keluar dari bibir putrinya saat itu membuat Alexius terperangah sekaligus terharu luar biasa. Tekad emas sang anak menjadi bahan bakar utama bagi Alexius untuk melakukan apa pun, termasuk menggadaikan kebebasannya sendiri.

“Alexa... Ayah akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat mimpimu itu menjadi kenyataan. Ayah sangat sayang kepadamu...” bisik Alexius kala itu, memeluk erat tubuh putrinya.

Kembali ke momen peminjaman uang, Govaro Gyle tersenyum licik mendengar permohonan Alexius. Ia mengeluarkan selembar kertas berisi poin-poin hitam di atas putih.

"Aku bersedia meminjamkan uang itu kepadamu, Alexius. Tapi, tentu saja dengan beberapa syarat," ujar Govaro.

(Surat Perjanjian Pelunasan Hutang)

Perkebunan Gyle:

*Pertama: Selama kau masih berhutang kepadaku, kau dilarang keras keluar dari pekerjaan ini.

*Kedua: Kau hanya bisa melunasi hutang ini melalui mekanisme potongan yang tertulis di poin ketiga.

*Ketiga: Aku akan memotong langsung 50% dari total gaji bulananmu untuk cicilan hutang.

*Keempat: Jika hutangmu sisa beberapa bulan lagi, aku sebagai pemilik modal berhak penuh mengubah cara kau membayar sisa hutangmu (dan hal itu harus berupa uang tunai).

*Kelima: Jika kau mati di tengah masa pelunasan—dengan catatan jika dalang kematianmu adalah aku sendiri, Tuan Govaro, maka seluruh peraturan ini akan hangus dan diperbolehkan dibayar dengan cara lain—namun jika kau mati karena hal lain, hutangmu akan otomatis diwariskan kepada salah satu keluargamu, dan mereka wajib bekerja di perusahaanku untuk melunasinya.

*Keenam: Jika kau nekat keluar atau kabur dari pekerjaan ini secara sepihak, kau wajib membayar denda sebanyak lima kali lipat dari sisa hutangmu, serta menyerahkan anakmu, Alexa, kepadaku sebagai denda pelanggaran perjanjian.

"Bagaimana? Apakah kau bersedia menandatanganinya?" tanya Govaro.

Alexius mengepalkan tangannya di bawah meja. (Apa pun... apa pun akan kulakukan demi masa depan dan senyuman Alexa!)

"Aku... aku bersedia, Tuan Govaro."

"Bagus! Cepat tanda tangani perjanjian ini, dan ambillah uang tunai ini!"

"Terima kasih banyak, Tuan Govaro..." ucap Alexius tulus sembari menerima kantong uang tersebut, lalu melangkah keluar dengan perasaan lega bercampur cemas.

Sepeninggalan Alexius, asisten pribadi Govaro melangkah. "Bukannya nominal akhirnya akan tetap sama saja jika Anda memotong gajinya secara mendadak seperti itu, Tuan?"

Govaro tertawa terbahak-bahak, menyandarkan tubuhnya. "Tentu saja tidak, bodoh! Dengan klausul itu, aku bisa dengan mudah memanipulasi dan membuat masa hutangnya menjadi jauh lebih lama di masa depan. Aku bisa menurunkan standar gaji pekerjaku sewaktu-waktu dengan alasan klise seperti menurunnya permintaan pasar. Itu akan membuat bayarannya tetap rendah namun dengan jangka waktu ikatan yang jauh lebih lama! Yang terpenting sekarang... kita lihat saja seberapa lama tikus itu bisa bertahan menerima hinaan hinaanku, haha!"

Sejak hari itu, kehidupan Alexius berubah menjadi neraka kecil. Hampir setiap hari, tiada hari tanpa makian, cacian, dan hinaan kasar yang keluar dari mulut Govaro serta para tangan kanannya di area perkebunan.

Namun, Alexius tidak bisa membalas atau keluar karena tubuhnya terikat erat oleh rantai perjanjian hukum. Ia hanya bisa menunduk, menahan seluruh rasa sakit di hatinya sambil terus membisikkan satu nama di dalam hatinya:

Alexa... Ini semua demi Alexa.

(Kembali ke Masa Sekarang)

Mendengar keputusan sepihak dari Govaro yang tidak akan membayarnya sama sekali pada bulan ini demi menutup sisa hutang tiga bulan, Alexius hanya bisa mengangguk pasrah. Otaknya langsung berputar keras, memikirkan bagaimana caranya agar dapur rumahnya tetap bisa mengepul bulan ini.

"Tidak masalah, Tuan Govaro," jawab Alexius dengan suara tenang. (Aku harus memutar otak dan mencari pinjaman lain agar keluargaku bisa makan bulan ini. Tapi... di sisi lain, sebenarnya bagus juga jika seluruh rantai hutang ini bisa benar-benar terbayar lunas bulan ini...)

"Lihat, bukan?! Aku ini malah jauh lebih baik dan murah hati daripada bos-bos lain di luar sana!" puji Govaro pada dirinya sendiri. "Yaudah, sana pergi, tikus rendahan! Ruangan kerjaku ini nanti bisa berubah jadi bau pembuangan kotoran kalau kau tetap berdiri di sini!"

"Baik, Tuan," ucap Alexius, lalu membungkuk dan melangkah keluar dari ruangan yang menyesakkan tersebut.

Tepat setelah pintu tertutup, asisten Govaro kembali bertanya dengan heran. "Maafkan kelancanganku, Tuan Govaro... Tetapi kenapa Anda malah mempercepat pelunasan hutangnya? Bukankah lebih menguntungkan jika menahannya lebih lama?"

Govaro mendengus, meminum minumannya.

"Aku harus mengakui kalau dia mempunyai ketebalan kesabaran yang luar biasa, dan itu mulai membosankan. Lagipula, aku memang sudah berniat untuk memberhentikannya dari perkebunan ini setelah semua hutangnya lunas bulan ini. Tenang saja, sudah ada pekerja pengganti baru yang berhutang kepadaku dengan skema yang sama persis seperti dia."

Sementara itu, Alexius berjalan kembali ke area perkebunan dengan langkah yang terasa sedikit lebih ringan namun dipenuhi beban finansial baru. Ia menghampiri Franc yang sudah menunggunya dengan cemas di balik pohon buah.

"Bagaimana, Alexius? Apa yang terjadi di dalam tadi?" tanya Franc.

Alexius memaksakan sebuah senyuman tipis. "Ah... aku hanya diberitahukan soal performa kerjaku yang dinilai agak menurun akhir-akhir ini oleh Tuan Govaro. Konsekuensinya... gajiku bulan ini harus dipotong habis. Maaf, Franc... Apakah aku boleh meminjam sedikit uangmu pada akhir bulan nanti? Hanya untuk membeli bahan makanan pokok."

Franc menepuk pundak sahabatnya dengan berat hati. "Yah... mau bagaimana lagi, si brengsek itu memang selalu mencari celah.

Yaudah, jangan cemas, nanti akhir bulan kupinjamkan beberapa uang tabunganku.

Tapi jangan lupa untuk dikembalikan kalau kau sudah ada uang ya, Hahaha!"

Alexius ikut tertawa kecil, sedikit terhibur. "Haha, tenang saja, Franc. Kita kan sudah bersahabat dekat sejak kecil."

"Eh, iya, omong-omong bagaimana kabar Alexa di Sekolah kerajaan?" tanya Franc penasaran. "Dia sudah sejauh mana sekarang? Kalau misal nanti anakmu sudah sukses jadi orang besar, jangan lupakan aku yang di kebun ini ya, wkwk!"

Mendengar nama anaknya disebut, sorot mata Alexius melembut, dipenuhi rasa bangga yang luar biasa. "Dia baik-baik saja di sana, Franc. Dia sangat pintar di sekolahnya. Ditambah lagi... ketika dia mengabarkan kepadaku bahwa dia berteman baik dengan Tuan Putri Kirana. Aku sendiri sampai sekarang hampir tidak mempercayainya."

"Wah! Berarti anakmu sudah punya 'orang dalam' dong di jajaran atas! Hebat betul si Alexa!" puji Franc kagum. "Oh ya, anakku, Fridan, juga rencananya akan mendaftarkan diri menjadi Prajurit Kerajaan. Sekarang anakku itu terus berlatih fisik dengan sangat keras di rumah agar bisa keterima!"

"Cocok sekali kalau begitu dong!" sahut Alexius dengan tawa riang. "Anakku nanti jadi Menteri Kerajaan, dan anakmu jadi Prajurit Kerajaan. Siapa tahu... di masa depan nanti anakmu bisa naik pangkat menjadi Jenderal besar, wkwk!"

"Semoga saja... Semoga impian mereka semua terwujud," doa Franc tulus.

Setelah Franc pamit untuk melanjutkan pekerjaannya, Alexius berdiri menyendiri di tepi perkebunan. Ia menengadahkan kepalanya, Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia terus berdoa dan harapan terbaik untuk Alexa... putri tercintanya yang sangat ia banggakan.

Sebuah kenyataan pahit yang tidak pernah diketahui oleh sang ayah yang malang... bahwa sosok putri kandungnya yang asli sebenarnya sudah tiada di dunia ini, dan raganya kini telah direnggut serta digantikan oleh entitas mata-mata asing dari luar angkasa yang berhati dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!