NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKTI PENGKHIANAT.

Angkot yang ditumpangi Nafisa akhirnya melambat sebelum berhenti tepat di depan gang menuju rumah ibunya.

“Sudah sampai, Neng,” ujar sopir angkot sambil meliriknya melalui kaca spion.

Nafisa yang sejak tadi duduk dengan pikiran berkecamuk segera tersadar. Ia merogoh tasnya, mengambil beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya kepada sopir angkot tersebut.

“Ini, Pak.”

“Wah, kembaliannya, Neng.”

“Sudah, Pak. Ambil saja,” jawab Nafisa singkat.

Tanpa menunggu lebih lama, ia turun dari angkot dan membenarkan posisi tas di bahunya. Setelah mengucapkan terima kasih sekadarnya, Nafisa berjalan. Langkahnya semakin cepat menyusuri gang tersebut. Pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan yang sejak tadi menghantui benaknya. Ia berharap semua kecurigaan itu hanyalah kesalahpahaman.

Namun, keinginan untuk mengetahui kebenaran membuatnya tak sanggup berlama-lama menunggu.

Tak lama kemudian, rumah ibunya mulai terlihat di ujung gang. Nafisa mempercepat langkahnya, nyaris tak memedulikan orang-orang yang berpapasan dengannya.

Beberapa saat kemudian, Nafisa akhirnya tiba di halaman rumah sederhana yang kini ditempati oleh ibunya.

Ia melangkah mendekati pintu, lalu beralih ke pot bunga yang berada tak jauh dari sana. Nafisa mengangkat pot itu sedikit dan menemukan kunci rumah yang tersimpan di bawahnya. Ia masih ingat betul tempat ibunya biasa menyimpan kunci cadangan tersebut.

Tanpa berpikir panjang, Nafisa mengambil kunci itu dan segera membuka pintu. Tangannya mendorong daun pintu sedikit kasar hingga terbuka lebar.

Nafisa melangkah masuk. Pandangannya menyapu setiap sudut rumah, memastikan tidak ada orang lain selain dirinya.

Setelah memastikan keadaan aman, ia melangkah menuju ruang tengah, tempat kamar ibunya berada.

Sesampainya di depan kamar yang pintunya masih tertutup. Dengan hati-hati, Nafisa menekan gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Pintu itu terbuka sedikit demi sedikit, hingga suasana di dalam kamar mulai terlihat jelas.

Langkah Nafisa terhenti di depan pintu kamar yang baru saja dibukanya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan teliti.

Hingga akhirnya, pandangannya tertuju pada sebuah laptop yang tergeletak di atas kasur.

Nafisa terdiam sesaat. Rasa penasaran kembali mengusik pikirannya. Ia tak tahu apa yang akan ditemukannya di dalam laptop itu.

Tanpa membuang waktu, ia menghampiri kasur, lalu meraih laptop tersebut. Nafisa membawanya ke pangkuan dan membuka layarnya.

Beberapa saat kemudian, layar laptop itu menyala. Nafisa menatapnya lekat-lekat, menunggu hingga tampilan di layar muncul sepenuhnya.

Jari-jarinya gemetar halus saat membuka aplikasi CCTV yang terinstal di perangkat tersebut. Setelah beberapa detik menunggu, layar akhirnya menampilkan berbagai sudut rumah, termasuk kamarnya.

Jemarinya menggeser kursor, menekan ikon segitiga untuk memutar ulang rekaman. Napasnya tertahan di tenggorokan.

‘Tanggal empat belas bulan sepuluh. Aku masih penasaran apa yang terjadi, bahkan tiba-tiba saja aku mengantuk berat.’

Rekaman itu muncul. Tanggal 14 Oktober 2026, pukul sebelas lebih malam.

Nafisa menahan napas saat melihat adegan berikutnya.

Dengan tangan yang dingin, Nafisa membesarkan volume speaker laptop. Ia tidak penasaran dengan desahan menjijikan mereka, melainkan ingin mendengar ucapan-ucapan sepasang pengkhianat itu.

“Damarrrhhh, kamu milikku,” rengek Yulia, suaranya penuh klaim kepemilikan.

“Kamu juga, sayang. Kamu sungguh legit. Beda sama Nafisa yang kaku,” balas Damar, nadanya penuh penghinaan terhadap istri sahnya.

“Damar, Damar, kamu harus melakukannya denganku, jangan sama Nafisa, jangan menyentuhnya!” teriak Yulia, nafasnya memburu.

Mata Nafisa terpejam rapat, air mata panas mengalir deras membasahi pipinya. “Selama ini aku dibodohi oleh mereka.”

Ia menutup laptopnya dengan keras, lalu menghela napas panjang yang bergetar.

Nafisa beranjak dari kursi. Sebelum pergi, ia memutuskan untuk merapikan kamar itu sekali lagi.

Namun, saat ia hampir menutup pintu lemari, sebuah kotak kecil terjatuh dari rak bagian dalam, mendarat di lantai dengan bunyi

 duk.

Pandangan Nafisa terhenti. Keningnya mengernyit tajam. “Apa ini?” gumamnya pelan.

Ia membungkuk dan meraih kotak tersebut. Kotak itu berwarna hitam polos, tanpa label. Dengan jari-jari yang gemetar hebat, ia membuka tutupnya.

 Di dalamnya tergeletak selembar kain tipis transparan, mirip saringan teh namun dengan tekstur sutra yang mahal. Ia membentangkannya, dan bentuk aslinya terlihat jelas.

Lingerie.

“I-inikan baju yang pernah Ibu pakai, karena bilangnya Ai salah edit foto.”

Pandangannya beralih kembali ke dalam kotak. Di samping lingerie, terdapat aksesori lain yang membuatnya mual; borgol rantai, kalung dengan gembok kunci, ekor palsu, dan stoking jaring.

Tangannya gemetar tak terkendali. “Ternyata bukan salah edit, tapi memang salah kirim,” gumamnya.

Nafisa terkekeh pendek, suara yang kering dan penuh jijik. Rasa muak itu begitu kuat hingga membuatnya sulit bernapas. Dengan gerakan kasar, ia memasukan kembali kain-kain menjijikkan itu ke dalam kotak dan menutupnya rapat-rapat.

Ia sudah menemukan jawaban yang  ia cari, meskipun jawabannya menghancurkan seluruh dunianya.

. . .

Siang perlahan berganti sore.

Nafisa duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong mengarah ke depan. Sejak tadi, ponsel yang tergeletak di atas meja terus berdering, menampilkan panggilan masuk dari beberapa orang. Namun, ia memilih membiarkannya.

Suara deru mobil tiba-tiba terdengar dari luar, disusul suara pintu kendaraan yang dibuka dan ditutup. Tak lama kemudian, suara tawa dua orang yang sangat dikenalnya terdengar mendekat.

Damar dan ibunya sendiri.

Nafisa mengangkat wajah. Jemarinya yang semula bertaut di pangkuan perlahan mengepal, tetapi ia segera melonggarkannya kembali. Ia berusaha mempertahankan ekspresi datar saat suara langkah kaki mendekati pintu.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.

“Eh, Nafisa, sudah pulang, Nak?” sapa Bu Yulia begitu memasuki ruang tamu.

“Sudah,” jawab Nafisa singkat tanpa menoleh.

“Oh, tadi Ibu minta Damar jemput untuk mengambil pesanan katering. Untung saja Damar mau menjemput,” jelasnya santai.

Sudut bibir Nafisa terangkat tipis. Bukan karena merasa senang, melainkan karena ia tak habis pikir melihat ibunya masih bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

“Begitu, ya, Bu,” sahutnya datar.

“Iya, Naf. Oh ya, acaranya jam berapa?” tanyanya.

“Sehabis Magrib.”

“Ya sudah, Ibu mau mindahin sayuran matangnya dulu. Ayo, Dam. Bantuin Ibu.”

“Iya, Sa—”

Kening Nafisa berkerut saat mendengar ucapan Damar yang mendadak terhenti.

Namun, Damar segera mengubah ucapannya.

“Ayo, Bu. Aku bantu,” katanya.

Nafisa terdiam. Tatapannya mengikuti punggung mereka yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik dinding.

‘Hampir saja, Mas. Kamu mau memanggil Ibu dengan sebutan sayang, bukan? Begitu sadar ada aku, kamu langsung mengubah ucapanmu.’

Perlahan, Nafisa bangkit dari sofa. Ia melangkah menuju dapur dengan hati-hati, memastikan langkahnya tidak menimbulkan suara yang bisa menarik perhatian mereka.

Setibanya di dekat dapur, ia berhenti dan bersembunyi di balik dinding. Dari celah sempit itu, pandangannya tertuju pada Damar dan Bu Yulia yang berdiri berdekatan.

Namun, beberapa saat kemudian, Damar mendekat dan tiba-tiba memeluk Yulia dari belakang.

Nafisa membeku.

Dadanya memang terasa seperti di hantam oleh batu, tetapi ia segera mengangkat ponsel yang sejak tadi digenggamnya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka kamera dan mengarahkan lensa ke arah mereka.

‘Bagus. Teruslah bersikap seperti itu. Aku akan mengumpulkan bukti sebanyak mungkin.’

“Dam, jangan di sini,” bisik Yulia.

 Meski suaranya terdengar pelan, Nafisa masih bisa mendengarnya dari tempat persembunyiannya.

 “Nanti malam saja, ya. Takutnya Nafisa tiba-tiba datang. Bagaimana kalau kita ketahuan?”

“Enggak bakalan, Sayang,” jawab Damar santai.

Nafisa menggigit bagian dalam bibirnya. Mendengar panggilan itu secara langsung membuat hatinya kembali teriris.

Sekiranya cukup mengambil beberapa detik rekaman tersebut. Nafisa menurunkan ponselnya. Ia memeriksa sekilas foto-foto dan rekaman video yang berhasil diambilnya, lalu menyimpan perangkat itu kembali.

‘Cukup untuk sekarang.’

Ia tak ingin mengambil risiko tertangkap basah sebelum memiliki bukti yang lebih kuat.

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!